Juli 2006
Epilog Pengasingan

Hitung saja jika mampu kau hitung
untaian degub dari dingin keringat malamku
yang berderatan dari setiap dera kereta pengasingan
pongah yang tak pernah berkesudah
dan kau hanya bersiul-siul seperti meminta 
kehangatan
pada api pada kayu pada nyanyian diam
yang meledak di belakang tungku peristiwa.

Hitung saja jika kau ingin melenyapkan
setiap keresahan datang dalam musim hujan di dada
hitung saja jika kau ingin menghapus kepenatan 
gerimis
yang hilang di retap jantung
kemarau kini memanjang
mengeringkan rongga mulut khatulistiwa
panas sisa perang meluncur ke lelubang permukaan 
saraf
lalu nerobos berubah menjadi api dalam bensin atau 
arang dalam gelap
kau temui matahari galau rembulan silau
cuaca serisau kehampaan yang lekat dalam 
kesunyian
saat pria dan wanita tampak begitu jantan di jalanan
beradu domba kembang dengan binatang
mereka inginkan kelamin yang sama pada penguasa
lalu di tepi sepi kau takkan menemuiku lagi
sebab aku telah pergi aku telah terasing di suatu 
negeri
maafkan aku larikan diri
rindu telah purba
dan siasat membusuk dalam sandiwara.

"Puisi Raedu Basha"
PuisiEpilog Pengasingan
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Kepada Sangkuriang

Tak perlu kau benarkan
apakah cintaku mampu memecah bumi
yang senyap

Kau akan tersenyum
malaikat-malaikat menampakkan catatannya;
beberapa kali kau ciumi tanganku
memberiku kata-kata serupa pantun dan balada
sambil menatap mataku di atas perahu
atau menghitung guratan keningku.

Setelah kukembalikan kata-katamu di ranjang
kuruntuhkan langit untukmu
hingga bumi pun tak berpintu
lalu kemana kau bersembunyi, sayang.

“Aku akan mengadu pada dewa yang
menanam mimpi di jantungku
akan kutarik rambutnya
yang menjuntai ke bumi
lalu kujadikan sesaji bagi
tangis kuda-kudaku
mereka pun berkabung demi darahku
sebab mimpiku runtuh dalam kitab,
sejarah, dan syiar-syiar para wali
hampir saja kutemukan ibu
untuk kuajak meminangmu
aku yakin dia sengaja sembunyi
sebab cemburu padamu, cantikku”

Bagaimana jika kuberi sebiji kenangan
untuk kau tanyakan ke Tuhan
siapa perempuan yang ia tuliskan
di pohonmu
di ujung angkasa
siapa perempuan itu
yang membuat ayahmu tergagap
dalam satu kedip mata.

Kau akan tahu, sayang
setelah dunia menelan kisahmu
dan mengunjunginya
di sebuah perahu tangkub

Maka matilah segala mimpi

Kau akan menemukanku di pohonmu
: Tuhan telah mencatatku di situ.

Tegal, 2008
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiKepada Sangkuriang
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Kisah tentang Mei yang Menemu Rembulannya

Dari jauh, Mei memanggilku. Apa yang kau tangisi, Mei? 
Perempuan dengan mata sipit itu memalingkan wajahnya ke 
arah rembulan. Aku sudah tahu jawabmu, Mei, kataku 
gemetar. Kulitnya yang kuning langsat itu tersayat seperti 
layang-layang membelit di kawat.

Saat itu, cuaca seolah-olah 
berderak-derak. Kalender terbakar. Langit menangis untuk 
Mei. Petir dan halilintar menggelegar untuk Mei. Tapi 
kenangan ternyata bagai lipan yang tidak berjejak. Bahkan 
ingatan menggeliat seperti pesakitan untuk Mei.

Di antara 
perasaan tertekan khianat, ia menuliskan kalimat: “ Aku yang 
tak pernah kaumiliki sudah menemu rembulan di lain 
tempat.” Kata-katanya singkat, tak tersendat. Rupanya waktu
telah jadi batu bagi Mei.

Aku pun kehilangan bulan Mei yang 
seperti rembulan di langit pekat, yang hangat dan menawan. 
Mei membeku dalam waktu. Apa lagi yang kautangisi, Mei?

Mei 2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiKisah tentang Mei yang Menemu Rembulannya
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||