Agustus 2006
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Api

Tuhan dalam datukku adalah api
dibakarnya ranjang tempatku tidur
dan aku bangun saban detik dalam takut
sebagai bungsu mengharapkan dekapan ayah

Kudaki jalannya lewat asap yang dijaga adat
wangi getah damar, dupa, kulit lokan, kemenyan
di jendela tempat mengintai datangnya leluhur

Kuraih dalam riuh gunjing dan umpat sahabat
betapa keras karsa menyadari ini hidup
adalah perlombaan untuk kemenangan

Jika aku tiba di garis akhir itu
sukakah kau dengar berita ini?
Tuhan adalah api.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiApi
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lidi Kaligrafi

Kapankah kita membuat janji
bersua mengejakan kembali lafal-lafal Qur’an mini
juga melukis kaligrafi dengan sebatang lidi
tangan ini gugup mengukir namaku sendiri
jantung gugup mendegub namamu di hati.

Kau pinta aku menggambar wajah kita
pada dinding-dinding impian
pada tembok-tembok kenangan
“kelak rumah kita adalah benteng terakhir
ketika di luar ada badai” bisikmu
dulu aku tak paham bahwa itulah
bahasa kasih.

Kini cuma rindu kusemayamkan
berteduh di kaki waktu
memandangi lembut awan
dari jauhnya jarak dua ruang
kau dan aku, tersimpan
oleh makna yang rahasia
entah apa, entah apa.

Dari lubang ingatan, kuintip masa lalu
langit keemasan mengilau di kening tuamu senja itu
kini membasahi bumiku, seluruh kenangan luruh
seumpama lirih gerimis, percik-percik perlahan jatuh
rintik rapuh dari mendung jutaan kangen yang mengeluh
petir geram menghantam kalbu
mengharap kunci doa
membuka pintu-pintu sua kita.

Dari lubang ingatan, kuintip masa lalu
masa belia sebatang lidi dan tintamu
kau suruh aku membaca menulis basmalah
aku gemetar, betapa koyak diri menyebut asma Allah
betapa indah ukiran lafal bismillah
dalam kaligrafi perasaan.

Terberkatilah pertemuan kita dulu
seumpama darahmu mengalir di urat-uratku
lewat lubang huruf mim ke mim ke mim
dan alif-lam dengan lidi
melukis kaligrafi bunga-bunga haru
kuresap gaharu, kucium hangat getarmu.

Tapi oh, bagaimana kesempatan kembali berulang
sakit peri obatnya hadirmu ke mari
mungkin pada sepasang cangkir hangat di meja
atau suatu mimpi malam nanti.

Tapi oh, hanya kutahan nyeri
sebab kerinduan menahun tanpa syair selimut Al-Bushiri
walau kumadahkan Kasidah Burdahnya 99 kali
aku di sini tanpamu datanglah walau sekali
walau sejenak membetulkan letak tanganku memegang lidi
melukis kaligrafi basmalah yang belum jua jadi-jadi
pada dinding-dinding tauhid pada tembok-tembok ilmu
“kelak kaligrafi kita adalah benteng terakhir
ketika rindu tak cukup bertahan”
Bisikmu dari jarak bayangan.

"Puisi Raedu Basha"
PuisiLidi Kaligrafi
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||