November 2006
Dengan Kasih Sayang


Dengan kasih sayang
kita simpan bedil dan kelewang
punahlah gairah pada darah.

Jangan!
Jangan dibunuh para lintah darat
ciumlah mesra anak jadah tak berayah
dan sumbatkan jarimu pada mulut peletupan
kerna darah para bajak dan perompak
akan mudah mendidih oleh pelor.
Mereka bukan tapir atau badak
hatinya pun berurusan cinta kasih
seperti jendela-jendela terbuka bagi angin sejuk!

Kita yang sering kehabisan cinta untuk mereka
cuma membenci yang nampak rompak.
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka.
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak.
Lahiriah yang terlalu banyak meminta!

Terhadap sajak yang paling utopis
bacalah dengan senyuman yang sabar.

Jangan dibenci kaum pembunuh.
Jangan biarkan anak bayi mati sendiri.
Kere-kere jangan mengemis lagi.
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
pandanglah dari jendela hati yang bersih.

 
 
"Puisi: Dengan Kasih Sayang"
Puisi: Dengan Kasih Sayang
Karya: W.S. Rendra
Penunggu Gunung Berapi


Awan sepotong bulan sepotong, rindu dipantulkannya
di tanah tinggi bukit-bukit batu di asing kerja
sebuah perigi meneriakkan derita diri setiap menjenguk muka
(Mengapa harus diteriakkan padanya, tidakkah ia tahu sendirinya?)

Terimpikan papaya ranum, gadis ranum desa bawahnya
tumpah birahi di telapak tangan oleh khayal paha tembaga
atas kemiripan batu-batu gunung, sepotong awan.

Didirikan satu mimpi di tanah batu, burung liar kanan kiri
makin asing ia, makin terpencil desa di bawah, terdesak ke dunianya.

Berbunga pokok randu, pecah-pecah buah mahoni, malam sangat dinginnya
ditatapnya awan lintas, sepi riuh satu kehidupan di tempurung kepala
zaman zaitun, bunga-bunga, angin tiba dibentuknya awan dada berbuah
buah dada bundanya putih, buah dada beledru bundanya sayang.
 
 
"Puisi: Penunggu Gunung Berapi"
Puisi: Penunggu Gunung Berapi
Karya: W.S. Rendra
Nyanyi Zubo


Nyanyimu hitam, Zubo
derita botak kepalamu.
Dering kaleng di jalan terguling
memberi luka pada malam.

Zubo! Zubo!
Kata-kata darah yang hitam
mengetuki botak kepalamu.
Bergulung-gulung kau, Sayang,
lalu menyerah dalam mimpimu.

Zubo! Zubo!
Menjerit-jerit kandil yang tunggal.
Sinar-sinar kuning mencambuki
dinding-dinding yang sepi.
Bukit-bukit kerontang
Tanah kapur kerontang
Dan tiada perempuan.

Mimpi-mimpi mengendap, Sayang,
menikam dirimu dari belakang.
Dan bulan akan bernyanyi:
- Datanglah, Hujan, datang!
Menyiram atas mayatnya putih.
Datanglah, Hujan, datang!
Si hagoan mampus telentang
dibunuh para mimpi!

Zubo! Zubo!
Pecahan-pecahan gelas kaca
bermukim di dua mata.
Nyanyimu hitam Zubo,
segolek berendam segala mimpi. 
 
"Puisi: Nyanyi Zubo"
Puisi: Nyanyi Zubo
Karya: W.S. Rendra
Tanpa Garam


Aku telah berjalan antara orang-orang tak berdosa
jemari lembut awan, airmata susu bunda.
Telah datang anak putri langit tak berdosa
lenggang gentayang putri lesi tanpa manja.

Ah, kina dalam kuwe manisan!
Kayumanis dan panili pengkhianatan!
Lewatlah yang pucat, kuhindarkan cekikan.
Kata alam tersekat dan menekan pingsan.
 
 
"Puisi: Tanpa Garam"
Puisi: Tanpa Garam
Karya: W.S. Rendra