loading...
Penunggu Gunung Berapi


Awan sepotong bulan sepotong, rindu dipantulkannya
di tanah tinggi bukit-bukit batu di asing kerja
sebuah perigi meneriakkan derita diri setiap menjenguk muka
(Mengapa harus diteriakkan padanya, tidakkah ia tahu sendirinya?)

Terimpikan papaya ranum, gadis ranum desa bawahnya
tumpah birahi di telapak tangan oleh khayal paha tembaga
atas kemiripan batu-batu gunung, sepotong awan.

Didirikan satu mimpi di tanah batu, burung liar kanan kiri
makin asing ia, makin terpencil desa di bawah, terdesak ke dunianya.

Berbunga pokok randu, pecah-pecah buah mahoni, malam sangat dinginnya
ditatapnya awan lintas, sepi riuh satu kehidupan di tempurung kepala
zaman zaitun, bunga-bunga, angin tiba dibentuknya awan dada berbuah
buah dada bundanya putih, buah dada beledru bundanya sayang.
 
 
"Puisi: Penunggu Gunung Berapi"
Puisi: Penunggu Gunung Berapi
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top