Januari 2007
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon


Pembangunan telah dilangsungkan,
Di tanah dan di air sedang berlangsung perkembangan.

Aku memberi kesaksian
bahwa di sini
langit kelabu hambar dari ufuk ke ufuk.
Rembulan muncul pucat
seperti istri birokrat yang luntur tata-riasnya.
Sungai mengandung pengkhianatan
dan samudera diperkosa.
Sumpah serapah keluar dari mulut sopir taksi.
Keluh kesah menjadi handuk bagi buruh dan kuli.

Bila rakyat bicara memang bising dan repot.
Tetapi bila rakyat bisu itu kuburan.
Lalu apa gunanya membina ketenangan kuburan,
bila ketenangan hanya berarti kesesakan peredaran darah!

Aku memberi kesaksian
bahwa negara ini adalah negara pejabat dan pegawai.
Kebudayaan priyayi tempoh dulu
diberi tambal sulam
dengan gombal-gombal khayalan baru.
Bagaikan para pangeran di zaman pra-ilmiah
para pangeran baru bersekutu dengan cukong asing,
me-monopoli alat berproduksi dan kekuatan distribusi.
Para pedagang pribumi hanya bisa menjual jasa
atau menjadi tukang kelentong.
Boleh menjadi kaya tetapi hanya mengambang kedudukannya.

Tirani dan pemusatan
adalah naluri dari kebudayaan pejabat dan pegawai.
Bagaikan gajah para pejabat
menguasai semua rumput dan daun-daunan.
Kekukuhan dibina
tetapi mobilitas masyarakat dikorbankan.
Hidup menjadi lesu dan sesak.
Ketenangan dijaga
tetapi rakyat tegang dan terkekang.
Hidup menjadi muram, tanpa pilihan.

Aku memberi kesaksian
bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai
falsafah mati
dan penghayatan kenyataan dikekang
diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.
Kepatuhan diutamakan,
kesangsian dianggap durhaka
dan pertanyaan dianggap pembangkangan.
Pembodohan bangsa akan terjadi
karena nalar dicurigai dan diawasi.

Aku memberi kesaksian, bahwa:
Gajah-gajah telah menulis hukum dengan tinta yang munafik.
Mereka mengangkang dengan angker dan perkasa
tanpa bisa diperiksa,
tanpa bisa dituntut,
tanpa bisa diadili secara terbuka.

Aku bertanya:
Apakah ini gambaran kesejahteraan
dari bangsa yang mulia?

Aku memberi kesaksian
bahwa gajah-gajah bisa menjelma menjadi mastodon-mastodon.
Mereka menjadi setinggi menara dan sebesar berhala.
Mastodon-mastodon yang masuk ke laut dan menghabiskan semua ikan.
Mastodon yang melahap semen dan kayu lapis.
Melahap tiang-tiang listrik dan filem-filem import.
Melahap minyak kasar, cengkih, kopi, dan bawang putih.
Mastodon-mastodon ini akan selalu mebengkak
selalu lapar
selalu merasa terancam
selalu menunjukkan wajah yang angker
dan menghentak-hentakkan kaki ke bumi.

Maka mastodon yang satu
akan melutut kepada mastodon-mastodon yang lain.
Matahari menyala bagaikan berdendam.
Bumi kering.
Alam protes dengan kemarau yang panjang.
Mastodon-mastodon pun lapar
dan mereka akan saling mencurigai.

Lalu mastodon-mastodon akan menyerbu kota.
Mereka akan menghabiskan semua beras dan jagung.
Mereka akan makan anak-anak kecil.
Mereka akan makan gedung dan jambatan.

Toko-toko, pasar-pasar, sekolah-sekolah
masjid-masjid, gereja-gereja
semuanya akan hancur
Dan mastodon-mastodon masih tetap merasa lapar
selalu was-was.
Tak bisa tidur.
Yang satu mengawasi yang lain.

Aku memberi kesaksian
seandainya kiamat terjadi di negeri ini
maka itu akan terjadi tidak dengan pertanda bangkitnya kaum pengemis
atau munculnya bencana alam
tetapi akan terjadi dengan pertanda
saling bertempurnya mastodon-mastodon.
 

Jakarta, November 1973
"Puisi: Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon (Karya: W.S. Rendra)"
Puisi: Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Saya Cemaskan Sepotong Lumpur


Saya cemaskan sepotong lumpur di koral halaman.
Saya cemaskan sepotong daun di koral halaman.
Saya cemaskan kau,
malam yang mengigau dengan gerimis tak kelihatan.

 
1978
"Puisi: Saya Cemaskan Sepotong Lumpur (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Saya Cemaskan Sepotong Lumpur
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Putih Buat Kekasih


Aku datang pergi berharap dan kecewa
Tapi biarlah
Kasih,
Biar kebersamaan kita dengan demikian
Abadi.
 
  
"Puisi: Sajak Putih Buat Kekasih (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Sajak Putih Buat Kekasih
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suwuk Manikcemar


Sang manikcemar
telah tergenggam tangan
nyawamu.

Runduk tunduk
merunduk
tunduk runduk
menunduk.

Merunduk
menunduk
tunduk
runduk
terbentuk!

Tengkukmu paku bengkok
lututmu sikusiku
gagu kaku
kaku gagu.

Tak tidak
tak tak.

Tak tidak - tak tak
tak tak - tak tidak
tak tidak - tak tak

Gagu kaku
kaku gagu
kaku semua
gagu semua.

Semua ya ya ya - ya saja.
Yayaya yayaya yayaya saja.

Yayaya.

Yayaya saja.

Laa Ilaha Illallah Muhammadur Rasuulullah.
 
  
1410 H
"Puisi: Suwuk Manikcemar (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Suwuk Manikcemar
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gerimis Bulan Penuh

I
Langit bening bulan kuning
Jernih air mata udara pun bening.

'Ku lontar langkah di atas jalan berbengkah-bengkah
Sekedar pelipur lara, terlalu kalut di rumah.

Seperti tak bertujuan, aku bersiul tak kupikiri
Apakah ada yang mendengar: karena lemah sekali.

Dan lagunya pun tak dapat-dapat menyesuaikan diri.

II
Jalan yang 'ku lalui terlalulah panjang
Karena itu aku surut ke belakang
Malam pun dingin
Dada 'ku dekap dengan tangan bersilang.

Adakah orang tahu, bahwa di jalan ini
Ada seorang yang berputar-putar
Lalu menuju jalan kembali
Membawa pulang rusuhnya sendiri.

III
('Ku buka pintu aku pun masuk)

Terdengarlah ia
Aba tidur terompet jauh menjerit
Di malam-malam begini, hanyalah ia
Melerai hati dan damai.

IV
Di manakah itu, hatiku bertanya
Entah pun di mana, tapi pastilah ia
Di asrama polisi atau tentara.

(Terdengar lonceng sepuluh kali
Di beberapa tempat sahutannya berdapat-dapat)


V
Ia yang menjerit mati
Jadilah tenang damai seperti tadi.

Sobeklah malam tiada cacat
Apapun yang terjadi di pagi, tak akan 'ku ingat.

VI
Aku lupa mengapa pisau ini terletak di atas meja
Tercerai pula dari sarungnya.
(Seolah akan dipergunakan)

'Ku pikir seorang ibu biasa memakainya di dapur
Seorang anak akan mempermainkannya lalu lukalah ia
Seorang putus asa akan membenamkannya
Ke dasar jantungnya.

Alangkah banyaknya kegunaan sebuah benda
Buat apa ia oleh penemunya
Seperti pisau ini.

'Ku tenyang ketajaman matanya
Dengan kelembutan mataku.

VII
(Angin malam mengantar gerimis)

Janganlah mengetuk-ngetuk juga
Tolakkan saja -
Masih tersedia tempat bagimu.

Janganlah menjenguk-jenguk juga
Kalaupun begini duniaku
Tapi di sini ada sebilah belati!

VIII
(Di jauhan angin menderu)

Janganlah mengembara-ngembara juga
Memanglah memerhangat pelukan pengantin baru
Tapi betapa menggigil yang tidur tidak berbaju.

IX
Janganlah mengetuk-ngetuk juga
Menjenguk ke dalam asingnya duniaku
Kalaulah karena belati ini
Biarlah ia 'ku sarungkan kembali!

X
Betapa tarikan dunia
Olehnya kuhampiri jendela.

Dari jendela malam 'ku tinjau
Semoga lengah hati yang risau.

Gerimis membasah daun menengadah
Berlinang atasnya bulan purnama.

XI
Ada orang jalan sendirian
Di malam-malam sangsai, di hujan-hujan renyai.

Membenam dendam di kalbu kelabu
Walau di wajah tulus setuju.

(Terhadap soal yang tak tersesalkan selalu
Karena ada yang sudah mendahulu)

Bulan yang duka. Ia duka. Akupun duka
Dan duka memang beserba.

Betapa pun pusang, betapa nyaman
Ia jalan sendirian.

XII
Ke balai aku telungkup, seluruh lamunan 'ku tutup
Dan dari jiwa yang 'ku tekan pecah teriakan:
Ya Rasul, ya Tuhan!

XIII
Keluh kesah terbawa diri yang rebah
Bagai angin malam di luar masih gelisah
Dan ini jiwa dari tubuh yang resah
Kalut kemelut tak menemu arah.


XIV
Tiada lagi terdengar langkah
Tinggal jejak di tanah basah....
  
1958
"Puisi: Gerimis Bulan Penuh (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Gerimis Bulan Penuh
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Waktunya Semua Adalah Puisi


Pada waktunya semua adalah puisi
Hujan yang renyai menghambat langkah
Dan hati pun gelisah. Pada suatu senja
Dalam bulan Juni. Kutulis sajak ini.

Pada waktunya apapun puisi. Tak perlu kau ragu
Tentang ilham yang tak mau datang. Kendati
Berjam kau nanti dalam kantuk yang panjang
Pada waktunya apapun puisi. Apapun puisi.

Kerja yang terbengkalai, menjengkelkan hati
Tak usah kau sesali. Karena percayalah
Pada waktunya apapun puisi. Apapun puisi.
 
  
1967
"Puisi: Pada Waktunya Semua Adalah Puisi (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Pada Waktunya Semua Adalah Puisi
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Obo

Ada sebuah obo
dimainkan hantu hutan
dan malam jadi hijau
sesenyap lukisan.

Di bawah bulan ekstase
dan ayun awan
meremang ritme
tenung di pebukitan.

Musik terbaik, Adik,
mungkin membius beratus detik
suara genta dan gerimis
pada pohon-pohon tropis.

Maka pagi tak jadi pagi
hari tak jadi hari
hanya angin dan orkes
saling menggores.

Bahkan nada yang jatuh
ke biru kolam
dipungut balik
burung-burung malam.

J.S. Bach, mantera manakah
yang akan mengakhiri ini?

1985-1986
"Puisi: Lagu Obo (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lagu Obo
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Akan Tugur


Aku akan tugur sepanjang malam
di Puri Tua itu, Dulcinea.
Menjaga mimpimu,
meski kau tak pernah ada.

Jalan putih, bulan putih,
fajar jauh, aku sendiri
seperti tonggak
sebelum gempa.

Kutulis sajak yang lelah,
mungkin
di pelana dingin
seperti somnabulis terakhir.

yang menempuh pasir, sepanjang malam
dari tingkap itu, Dulcinea,
dengan kasut sedih
kata-kata.

 
  2007
"Puisi: Aku Akan Tugur (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Aku Akan Tugur
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hari Terakhir seorang Penyair, Suatu Siang


Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu-satu
Tak ada bumi yang jadi lain: daun pun luruh, lebih bisu
Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan hari menunggu
Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku.

Kemudian Engkau pun tiba, menjemput sajak yang tak tersua
Kemudian hari pun rembang dan tanpa cuaca
Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku hibuk dan cinta berangkat dalam rahasia.


1964
"Puisi: Hari Terakhir seorang Penyair, Suatu Siang (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Hari Terakhir seorang Penyair, Suatu Siang
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
30 Menit Sebelum Sayid Hamid


30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli
menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa
sesuatu tengah terjadi.

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah
San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia
melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak
kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak
ada lagi rasi salib selatan.

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang
tak pernah memanggilnya.

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena.
Ia berbisik, seperti berdoa: "Jika aku boleh memilih,
Sayid, aku tak ingin di sini lagi."

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan
di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut
mengambil alih percakapan.

Barangkali kita hanya sebuah
parodi, ia ingin berkata lagi,
tapi ia tak yakin kepada siapa,
Sancho, teman yang setia itu,
hanya memandangi gerak
sungai. Ia mungkin telah
merasa, hari tak akan lagi
berani sia-sia: Dulcinea adalah
cinta yang gagu, tuanku,
imajinasi adalah kabut pagi.

Dan selebihnya sunyi.

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid
Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan
dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti
melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya sederet
epilog yang berbahagia: "Dan Don Quixote pun
melihat, pahlawan terakhir itu telah direnggutkan
jantungnya."

"Ya, di jurang gua."

2007
"Puisi: 30 Menit Sebelum Sayid Hamid (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: 30 Menit Sebelum Sayid Hamid
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Justru


Justru karena tenung, telah
diselamatkan kita dari jemu zaitun
dan warna tua pohon-pohon encina.
Memang masih ada sore yang hanya
itu dan dusun yang tak berubah.
Tapi ternyata hari bisa berkelindan
dengan mimpi, dan kau dan aku
lahir kembali, tercengang dalam
cinta yang fiktif, percaya pada harap
yang tak bersungguh-sungguh.

Justru karena tenung, aku tak akan
membebaskanmu.

Kemarin 'ku cambuk sendiri tubuhku, sakit, agar bangun,
tapi apa yang terjadi? Mimpi itu hanya berubah sedikit:
balur di kulit itu jadi garis biru, seakan huruf pertama Sayid
Hamid, sang pencerita yang membuat kita ada. Sejarah memang
bisa seperti luka gores. Tapi lihat, hidup adalah tenung:
aku milik sahibul hikayat, engkau kisah Cervantes.

Dan kita berbahagia. Dan kita berpura-pura.


2007
"Puisi: Justru (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Justru
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Duduklah di Tempat Ini


Duduklah di tempat ini, Sancho. Di pulau imajiner ini
waktu adalah gurau. Orang-orang berbincang tentang apa arti
soka bila ditanam di dekat tanjung, apa arti ranting
yang disunting dengan sajak, apa arti korsase
yang disematkan pada topi - dengan kata lain, mereka ingin
berkata, hidup terkadang tak sia-sia, ada kerja, ada politik,
dan sedikit amal ketika Tuhan tampak dari lobang langit
dan sorga seperti lantai sehabis dipel, hijau, hijau, hijau ....

Duduklah di tempat ini, Sancho.



2007
"Puisi: Duduklah di Tempat Ini (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Duduklah di Tempat Ini
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ke Arah Balkon


Ke arah balkon itu Don Quixote de La Mancha
bertanya, "Ke manakah jalan ke kastil yang
dulu ada dan kini tidak?"

Seorang perempuan menengok ke bawah
sebentar. Rambutnya yang lurus, hitam,
membuat bayang pada langsat pipinya.
Matanya kecil, mengingatkannya pada punai
yang terbidik.

"Engkau ketakutan!"

Dan laki-laki yang merasa dirinya gagah itu
pun turun dari kudanya.

Ia berjalan mendekat. Ia melihat, sekilas,
tangan Peri Kesepian
mengangkat tubuh rapuh itu ke dalam sebuah
gumpalan mega,
di mana setiap perempuan akan ditinggalkan.

"Jangan!"

Don Quixote menghunus
pedangnya yang retak. Tapi
semua bergerak pelan.


2007
"Puisi: Ke Arah Balkon (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Ke Arah Balkon
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya



Telah 'ku ikuti seorang
yang murung, Teresa,
ke dalam hutan panjang
sebelum Murcia: ia
yang menorehkan
pedangnya
ke pohon-pohon
di batas ngarai.

Aku tahu ia terbujuk
soneta yang sedih
dan kecewa
pada repetisi sungai.

Berhari-hari ia berjalan
seperti ksatria Amadis
menyimpan kesetiaan
dan serenade
yang 10 baris.

Seakan-akan ada
khayal dan kata
yang menghukumnya.

Tapi ia tak mengacuhkannya.

Tiap pagi ia lafalkan
nama seorang gadis
yang dikenalnya
dalam kaligrafi
di porselen yang berakhir pada X -
X yang tak diketahui,
atau X dari "Xin,"
X yang berarti ‘hati.’

Dan ia ucapkan itu, Teresa,
dengan jurang
di matanya.

"Sementara Maut orang Mur
mengejarnya
dari pantai,
hitam dan tajam,
seperti sabit tua,
meskipun ajal itu
pernah berkata,
'Surga telah melupakanmu, Don Quixote
neraka tak mengenalmu.'"

2007
"Puisi: Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat Buat Isterinya
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ia Menangis


Ia menangis untuk lelaki
di atas kuda kurus yang
akhirnya sampai pada teluk
di mana fantasi adalah hijau
hujan
yang hilang ujung
di laut asing.

Ia menangis
dan lelaki itu
mendengarnya.

"Aku Don Quixote de La Mancha
majenun yang mencarimu."

Tubuhnya agak tinggi, tapi
rapuh dan tua sebenarnya.
Ia berdiri kaku.
Cinta tampak telah
menyihirnya
jadi ksatria dengan luka
di lambung.
Tapi ia menanti perempuan itu
melambai
dalam interval grimis
sebelum jalan ditutup
dan mereka mengirim polisi,
tanda waktu,
kematian.


2007
"Puisi: Ia Menangis (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Ia Menangis
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Persetubuhan Kunthi
Untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo


Semakin ke tengah tubuhmu
yang telanjang
dan berenang
pada celah teratai merah.

Ketika desau angin berpusar
ikan pun
ikut menggeletar.

Dari pinggir yang rapat
membaur ganggang.
Antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu apu
yang timbul tenggelam
meraih
arus dan buih.

Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu
dan kau teriakkan
jerit yang merdu itu
sesaat sebelum kulit langit biru
kembali, jadi biru.

Engkau dewa? Kau bertanya
Engkau matahari?

Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah tersembunyi.

Yang tak pernah kau miliki, Kunthi
tak akan kau miliki.

 
"Puisi: Persetubuhan Kunthi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Persetubuhan Kunthi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sebotol Bir
Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan pembangunan sepuluh desa!
Peradaban apakah yang kita pertahankan?

Mengapa kita membangun kota metropolitan,
dan alpa terhadap peradaban di desa?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan alam.
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.

Di manakah jalan lalu lintas yang dulu?
Yang menghubungkan desa-desa dengan desa-desa?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalan lalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
tidak untuk petani,
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti sampai di sini?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan...
harus senantiasa menghasilkan...
dan akhirnya memaksa negara lain
untuk menjadi pasaran bagi barang-barang kita?
………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata?
Apakah pemikiran ekonomi kita
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme?

Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira?
Apakah kita hanya akan hanyut saja
di dalam kekuatan penumpukan
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia?
……………………….

Kita telah dikuasai suatu mimpi
untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
dan menghamba ke Jepang,
Eropa, atau Amerika.
Pejambon, 27 juni 1977
"Puisi: Sajak Sebotol Bir (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Sebotol Bir
Karya: W.S. Rendra