loading...

30 Menit Sebelum Sayid Hamid


30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli
menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa
sesuatu tengah terjadi.

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah
San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia
melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak
kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak
ada lagi rasi salib selatan.

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang
tak pernah memanggilnya.

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena.
Ia berbisik, seperti berdoa: "Jika aku boleh memilih,
Sayid, aku tak ingin di sini lagi."

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan
di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut
mengambil alih percakapan.

Barangkali kita hanya sebuah
parodi, ia ingin berkata lagi,
tapi ia tak yakin kepada siapa,
Sancho, teman yang setia itu,
hanya memandangi gerak
sungai. Ia mungkin telah
merasa, hari tak akan lagi
berani sia-sia: Dulcinea adalah
cinta yang gagu, tuanku,
imajinasi adalah kabut pagi.

Dan selebihnya sunyi.

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid
Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan
dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti
melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya sederet
epilog yang berbahagia: "Dan Don Quixote pun
melihat, pahlawan terakhir itu telah direnggutkan
jantungnya."

"Ya, di jurang gua."

2007
"Puisi: 30 Menit Sebelum Sayid Hamid (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: 30 Menit Sebelum Sayid Hamid
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top