Februari 2007
Tarian Rumput

Siapa bernyanyi mengubur sunyi
di antara angin gunung
dan lembah-lembah.

Tarian rumput menggetarkan padang.
bunga-bunga terbang di sayap-sayap
burung.

Aku sendirian di semak-semak
: mendirikan ibadah dalam ayat
dan kata-kata.

"Puisi: Tarian Rumput (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Tarian Rumput
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Matahari yang Mengalir

Rupanya gema yang tadi kuterima, cuma gerit pintu
terbuka. Usia yang kembali terpenggal, dan terlepas
abad-abad terluka, mengental di lantai, cuma gerit
pintu yang terbuka; dan bayangan-bayangan terlepas
dari bingkainya.

Rupanya gema yang tadi kuterima,
sesudah terbuka liang bagimu, cuma desis? Pidato
pemberangkatan - dan getar tetes air mata
rupanya bayangan daun telah rebah ke tanah yang fana,
lantas kubuka kembali daun jendela, kukemasi abad-abad
dalam kalender, pada dinding (kesaksian yang membatu)
dan rumah-rumah yang nestapa.

1988
"Puisi: Matahari yang Mengalir (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Matahari yang Mengalir
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sekar Gisik dan Perempuan Durga

Perempuan durga penghuni pulau karang
terus berputar, memilih dan mencakar
simbol pengkhianatan dan kerakusan
namun di mata lelaki wajah wayang, nampak mawar
walau rupa kasar langkah nyasar
membuat lelaki hilang nalar
tenggelam dalam nikmat durga penuh mantera
membuat pandang rabun hati bara
lalu malaikat dan burung putih kirim warta
dusta leleh pijar lava kerak luka
sekar gisik perempuan hilang mosaik
anak pawang jiwa retak ingin beraksi
siapa menabur akan menuai
hukum karma tak pernah lalai
meski sembunyi di balik doa subuh dan magrib.

Bogor
2006-2008
"Puisi: Sekar Gisik dan Perempuan Durga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sekar Gisik dan Perempuan Durga
Karya: Diah Hadaning
Di Tikungan Musim

Para perempuan menangisi cakrawala
air mata membanjir jadi rawa-rawa
hujan salah musim jadi elegi
tanpa tanda tanpa kata
bukit longsor
laut pasang
gempa melanda
kota luka
para demang bersaluang
yang tersisih mengerang-erang
para dajal hunus pedang.

Para perempuan 'ratapi danau suci
yang raib bersama riuh suara perawan
ramai mabuk suka serahkan mahkota purba
melangkah pejam lupa pintu lupa jendela
dajal bersalam menyamar lelaki anak zaman
bersarang dalam diri memimpin alpa
yang lupa di rumah ada perempuan setia
o, kota tua, negeri tua, zaman tua
sesiapa tertatih mencari mahkota
kebenaran sisa peradaban
saat bumi retak laut gelegak.

Teratak Gondosuli
September, 2007
"Puisi: Di Tikungan Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Tikungan Musim
Karya: Diah Hadaning
Pertanda

I
Seorang lelaki membiuskan cerita lama
kepada perempuannya yang sederhana
dan didustai sekian lama
atas nama fatamorgana
seorang lelaki picingkan mata meniti wajah
yang di masa silam diraih siang malam
tapi musim cepat berubah
diam-diam surat suci berlumur nanah
sementara di kota-kota
derita anak manusia semakin parah
jadilah perempuan yang baik
bisik lelaki menggiring
masa silam aksaranya: jadilah segala bagiku.

Lelaki mencoba senyum sembunyikan dosa:
(perempuan telah tahu namun membiarkannya
kali ini diam ternyata emas)
para perempuan akhirnya diam kaku
kaki mereka berubah jadi pohon
wajah berubah jadi cahya ajaib
terkurung dalam lampion-lampion merah
tragedi tanah tumpah darah.

II
Kelelawar tak sabar di ambang fajar
ciptakan tanda atau hanya fatamorgana
fajar dini hanya bias purnama di kali
obat gaib bagi jiwa lukisan aib
jarum jam karat cipta dengus sekarat
sekadar tanda?
tanya orang muda mengaku lahir dari batu
kusumpah pengukir jiwa yang jahanam kan terkutuk
karena membuat bunda remuk
kusumpah alam murka kan gulung para pendosa
tragedi buah anggur
tanpa belati pun hancur.

Teratak Gondosuli
September, 2007
"Puisi: Pertanda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pertanda
Karya: Diah Hadaning
Balada Sebuah Nusa

I
Lagukan SORATA agar lusa tak lagi duka
sorata-sorata-ooooo-sorata
di bening danau Sentani
di lereng pegunungan Kumafa
di bayangnya teluk Wao dan Bira
tepian duka Papua duka Nusantara
rawat kasih Papua kasih Nusantara
tegakkan prasasti suci: satu malam kurun jaman
sinar timur bersinarlah
cahya jiwa bercahyalah
menembus ruang dan waktu
memekarkan doa-doa
mewangikan musim di pulau-pulau
sepanjang urat nadi nusantara
ujung barat sampai Papua
satu jiwa satu rasa satu karsa
semilyar serat cahaya, ya ondoafi
getar semesta sirna duka tahun silam
hasrat sungsang akan hilang
usung semangat hari datang 

II
O, tak lidah mampu ucap kata
tak kata mampu ucap rasa
tak rasa mampu urai misteri
saat ondoafi basuh Papua dengan air danau sentani
pesannya dibawa gelombang angin teluk dan tanjung
jika melangkah salah arah
jika menembang salah nada
jika berdoa salah kata
jangan salahkan mata air jadi air mata
jangan salahkan tanah air jadi air tanah
tumpah kemana-mana jadi bencana
orang-orang berdiri sepanjang pantai
menyanyikan SORATA sepanjang malam
agar lusa tak lagi ada duka
matahari terangi tanah Yamdena
matahari terangi tanah Yamdena
matahari beningkan danau Jamoer dan Sentani
beningkan semua danau Nusantara
bunga-bunga mekar dari segala gunung
simpan harapan orang-orang sederhana
simpan bias cahaya hati semua saudara
datang, datanglah, cahaya di hati
bawalah imanku kembali, datang, ho!

Jakarta
Desember, 2007
"Puisi: Balada Sebuah Nusa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Sebuah Nusa
Karya: Diah Hadaning
Catatan Tua dari Pungkuran

Jepara makin tua
ombak panjang tak pernah reda
angin utara di kota bersarang
meneteskan harapan-harapan
dan perempuan-perempuan sederhana
tetap percaya hari lusa
hari pembaruan.

Mentari siram cahaya
ke setiap padang jiwa
hidup tak lagi gersang sabana
namun lembah hijau kemilau
langkah panjang tlah awali
hari-hari tanpa duri
siring putusnya belenggu tua.

Nasib tak lagi tergadai
nafas telah menyatu angin
nadi getarkan ingin
denyut itu irama kehidupan
wibawa yang ditegakkan
langkah yang satu arah
meski Jepara makin tua.

Jepara
April, 2005
"Puisi: Catatan Tua dari Pungkuran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Tua dari Pungkuran
Karya: Diah Hadaning
Pesan Aneh Dalam Kidung

Adalah kidung, tentang hidup lara
adalah lara, karunia Yang Maha Kuasa
dan akhirnya, meratap senantiasa
hilang kiblat karena hilang martabat
jadi manusia bangga serba
tatanan diubah karena hasrat suka
takut tiada, walau hukum alam balik suasana
ingat tiada, akan doa orang-orang pasrah
hidup jadi korban dicacah.

Mengadu pada biyung
aduh biyung, biyungku telah tiada
mengadu pada bapa
aduh, bapaku telah pergi jua
mengadu pada petinggi
aduh, petinggiku nyaris alpa
lebih baik mengadu pada Yang Maha Kuasa
aduh, Gusti, mohon ampunan.

Terdengar pesan aneh dalam kidung
pesan sang arif hati mulia
tamba hati lima pasal
insya Allah Tuhan akan memberkahi
jika bisa jalani salah satunya.

Cimanggis, 2005
"Puisi: Pesan Aneh Dalam Kidung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Aneh Dalam Kidung
Karya: Diah Hadaning
Gambilagu, Seribu Cerita Jadi Satu

Ceritakanlah pada mereka
lelaki-lelaki ingkar yang jahanam
di sini pusat pasar jual beli
manakala bulan jatuh atas tilam
menggeliat dalam nafsu yang mengental
dan bisikan-bisikan jalang:
selamat malam, manisku sayang.

Ceritakan pada mereka
perempuan-perempuan sopan dalam rumah
di sini terjalin kerja sama pada satu titik batas
begitu harga harus dibayar lunas
peduli itu dosa atau bencana
dan hari-hari menyadap dosa abadi.

Ceritakan pada mereka semua di tanah ini
tentang biaya eksploitasi
tentang injeksi yang bikin alergi
tentang rindu dan nafsu
yang terkubur, ada di situ.

Jakarta, 1979
"Puisi: Gambilagu, Seribu Cerita Jadi Satu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Gambilagu, Seribu Cerita Jadi Satu
Karya: Diah Hadaning
Perjalanan Anak Musim

Kau yang selalu menghitung batu koral
dan guguran bunga mahoni sepanjang jalan setapak
di kota tua hilang nuansa
memungutinya satu-satu sambil menyebut nama ibu
lalu hari terasa lebih panjang dari sebelumnya
manakala orang-orang tua mulai membuka
pintu rumahnya, mengundang pejalan kaki hilang arah
kau menyimpan dalam kenangan paling panjang
gambaran kebijaksanaan
meneruskan perjalanan sambil terus mengukir
nama-nama yang kaya makna
kau terus berjalan menghitung bayang-bayang
pohon di hutan-hutan jauh
menghitung angan-angan mulai melepuh
tapi jangan pernah berhenti, wahai
anak musim bernafas angin
anak musim berpeluh darah.

Jakarta
Desember, 1989
"Puisi: Perjalanan Anak Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan Anak Musim
Karya: Diah Hadaning
Balada Nelayan Pantai Srandil

Laut pantai Srandil mengirim ombak-ombaknya
mengirim harapan berkepanjangan
mengirim ikan-ikan
mengirim senyuman hujan
lewat mimpi nelayan
lelaki-lelaki anak laut
lelaki-lelaki cucu angin
sahabat musim-musim.

Ganas ombak laut pantai Srandil
tak pernah membuat lelah
semangat orang-orang laut
dunianya bentang laut
harapannya hanya laut.

Jakarta, 1991
"Puisi: Balada Nelayan Pantai Srandil (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Nelayan Pantai Srandil
Karya: Diah Hadaning
Yamdena Mimpi Bencana

Yamdena yang kau sapa
bayang perempuan Saumlaki hilang tifa
ketika angin laut tak lagi
bersarang di lebat hutan
rimbun hijau tinggal tanah bebukitan
Yamdena yang kau sapa
Yamdena sama getirnya.

Yamdena yang kau tatap
bayang lelaki Saumlaki hilang keringat
mengusung keluh anak pulau
mengusung irama bencana ke seberang
barangkali ke pulau Larat
barangkali ke pulau Selaru
barangkali ke Wuliaru dan Selu
cari mawar buat jantung Tanimbar
terbabat gergaji rancangan anyar.

Di antara suara hati terluka
kata-kata menjadi mimpi bencana
Tanimbarku dengan lelaki hati akar
Tanimbarku dengan luka yang terbakar
kubawa dalam setumpuk kata
mengetuk langit Jakarta
karena hutan menjadi musim perkabungan
karena hijau dikelupas dari tanah sejarah.

Bogor
Juli, 1992
"Puisi: Yamdena Mimpi Bencana (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yamdena Mimpi Bencana
Karya: Diah Hadaning
Catatan Sebuah Aula

Ada orang-orang menangisi budayanya
Koran telah memindahkannya dalam kolom-kolom
Menjadi bagian dari komunitas paras-paras
Kehidupan hanya sejarah dari nama-nama
Kenapa tak kalian bangkit dan terjang nama-nama
(sebuah suara bikin bintang-bintang
rontok dari langit dan berjatuhan di sebuah aula)

Dan aku menangisi sajak-sajakku tentang perdamaian
yang tertinggal dari kemasan
di aula orang-orang pilih sajak-sajak kenes dan arogan
terasa sebuah kehilangan menyapa persahabatan
malam-malam pulang dengan setumpuk titipan salam
Din Rayes jua selalu setia
menunggu datang kereta di setasiun tua
batuknya berirama ia tetap bertahan
(Bapa, berkahi saudara tuaku budiman)

Tegal, 1994
"Puisi: Catatan Sebuah Aula (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Sebuah Aula
Karya: Diah Hadaning
Balada Para Penari

Para penari bersemangat mega gunung
bernafas angina lereng hutan pinus
tak pernah henti tariannya
oleh kilatan cahaya dari layar kaca
tiap saat silaukan mata dan sebar radiasi
sementara banyak orang kehilangan
sementara banyak orang tak kebagian.

Mereka terus menari dan menari
diiring ritmis gending ngalun dari nurani
kucari siapa di antara mereka
yang jantungnya matahari
yang matanya bara api
yang senyumnya bening kali
yang rambutnya tempat angin bersarang kini
yang nafasnya aroma gandasuli.

Aku menunggu dengan kesetiaan lumut candi
para penari terus meliuk dan mainkan langkah
bunga dan buah mereka hadirkan dalam imaji
bumi subur loh jinawi
semesta penuh geletar cinta
ketika mereka tembangkan ‘smaradhaha
hamparan pedang terbuka istirahkan angin
hidup terasa tenteram cacian gurinda,
ketika jemari penari menjaring angan
menyulam pandang orang-orang
aku masih menunggu ketika seorang penari mendekati
perempuanku, engkau tengah mencari
mari kita berbagi matahari
selama ini di jantungku ia terpatri
disibaknya dada muda tempat tumbuh, bibit mulia
kulihat pijar terangi bumi silaukan langit
bersamanya hati-hati kukembalikan
bias cahaya ke gunung wingit.


Bogor, 1996
"Puisi: Balada Para Penari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Para Penari
Karya: Diah Hadaning
Tangis Bumi Rindu Ruwatan

Saat Sang Pencipta
hadirkan Ibu Bumi Bapa Angkasa
ada sehasrat lidah
mencipta bahagia semesta
lahirnya kehidupan
dalam proses anak zaman.

Abad bicara lain
manusia jadi durhaka
merejam rahim bumi Ibu Kehidupan
mencari Bapa Angkasa
bumi terluka
angkasa tak berdaya
manusia jelma sang kala
memangsa segala.

Wahai Pengasih
masih tersisa peradaban
dalam jiwa tualang
dalam lara ada doa hening
untuk ruwat Ibu Bumi
air jernih bunga putih dari nurani.

Bogor
Januari, 1998
"Puisi: Tangis Bumi Rindu Ruwatan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tangis Bumi Rindu Ruwatan
Karya: Diah Hadaning
Ekspresi Bunga di Semanggi

Tujuh hari masih terdengar
pekik dan nyanyianmu
tujuh hari masih terlihat
kepal tangan dan benderamu
tujuh hari semua datang kembali
menabur bunga di Semanggi.

Kau lihatlah bersaksilah
mereka menangis dan berdoa
Semanggi bukti kekuatan cinta
bunga tabur luruh disebar
setia bakti mewujud ikrar
ada pendar di wajah-wajah
kenangan rindu dan rasa marah.

Bunga-bunga genggam itu
di depan kampus putih diletakkan
seiring gumam doa dilantunkan
getarnya getar
mengalir dari lubuk jiwa
bunganya bunga
mekarnya tak pernah sia-sia.

November, 1998
"Puisi: Ekspresi Bunga di Semanggi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ekspresi Bunga di Semanggi
Karya: Diah Hadaning
Nyanyian Spanduk di Salemba

Ada orasi hari ini
ada gelar ekspresi di sini
tak ada peluru nyasar
tak ada jaket berdarah 
hari ini
selain nyala jiwa.

Salemba simbar dada
spanduk-spanduk melambai
orang-orang trotoar
tirani tirani tirani
pekik sebuah hati
dari celah spanduk di gapura
elegi elegi elegi
spanduk menyahuti
spanduk dan hati bernyanyi.

Ada orasi hari ini
ada nyanyian hari ini
ada tirani mati hari ini
ada tirani baru hari ini
ada aku hari ini
ada sebuah hati hari ini.

Mei, 1999
"Puisi: Nyanyian Spanduk di Salemba (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Spanduk di Salemba
Karya: Diah Hadaning
Pada Selayar Kaca

Diusungnya nuansa-nuansa
musim menuju windu
abad menuju alaf
mata raga terpaku
mata jiwa terpana.

Di penghujung tahun sengkala
diejeknya iblis yang nganggur
jadi buih tahun penuh tawur
tanpa kertarajasa tertelikung
suara-suara terus mengapung
iringi abad yang menikung.

Sesorot pandang redup
suara getarkan sukma
menombak pengkhianatan
atas nama kemerdekaan
wong pinggiran duduk bersila
memandangi layar kaca
rindunya memerciki udara
pada karisma sang raja
siang malam diimpikan
selayar kaca dilipat diam-diam
diusung ke ujung malam kembara.

Bogor
Desember, 1999
"Puisi: Pada Selayar Kaca (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Selayar Kaca
Karya: Diah Hadaning
Pada Sebuah Saung

Saung tua sepi dari sapa
Sembunyi di tepinya Cisarua
memunggungi matahari pagi
seakan bangkit dan berjiwa
dari diamnya diam
mendekap jiwa kembara
tembangkan sari kehidupan
menyatu dalam aura pagi
bahasanya telah kumengerti.

Saung tua sepi dari sapa
saksi sebuah kejayaan
saksi sebuah keruntuhan
saksi sebuah keteduhan
saksi zaman tak bertuan
menatap beburung menggaris gerimis
sementara kabut melayang rendah
lewati bukit hijau Cisarua
saat siang tepis pagi dan matahari.

Kehadiranmu pagi-pagi
silaturahmi tak bertepi
menembus abad dan kurun
dua jiwa bersapa di sepi Cisarua
bisik saung dalam udara menggigil.

Cisarua
Oktober, 2000
"Puisi: Pada Sebuah Saung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Sebuah Saung
Karya: Diah Hadaning
Upacara dalam Kabut

Telah dihitung aksara
ha-na-ca-ra-ka sejumlah air mata
hujan sempurnakan denyut
pematang basah simpan jejak langkah
padi dan pohon disapa anginnya
dihitung kembali aksara
da-ta-sa-wa-la sejumlah getar rasa
tabir kabut turun lereng Merapi
dalam pa-da-ja-ya-nya
urai ma-ga-ba-ta-nga
sempurna upacara
letusnya tertunda.

Kaliurang
Februari, 2001
"Puisi: Upacara dalam Kabut (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Upacara dalam Kabut
Karya: Diah Hadaning
Suara-Suara antara Pahoman-Kalianda

Di antara suara-suara yang mendera
gemuruh lengser dan gelegak banjir
aku mencari karena harus menyapa
ketika angin mati
bersarang di bukit-bukit cadas
antara Pahoman dan Kalianda
samar terdengar desir nadinya
samar terdengar bincang malam di lingkaran
bumi Lampung mengapung
dalam ruang suwung.

Bogor
Februari, 2002
"Puisi: Suara-Suara antara Pahoman-Kalianda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Suara-Suara antara Pahoman-Kalianda
Karya: Diah Hadaning
Parita Jelang Purnama

I
Mengayuh langkah memasuki ruang dan waktu
menata jejak jadi peta perjalanan umur
bunga-bunga kecil menebar wanginya
petik harumnya simpan dalam kalbu
lelaki tua hati tanpa sembilu
getar bunga jadi pengantar parita
menyibak-nyibak karmapala.


II
Tiga puluh purnama lewat
selalu ada purnama berikutnya
parita ke parita lewat
selalu ada parita berikutnya
tak perlu hitung yang tak harus dihitung
tak perlu langkah jika tak harus melangkah
jangan bayangkan doa-doa migrasi dari jiwa
jangan bayangkan Siwa gantikan bayangan Wisnu
semua talah ada tempatnya sendiri.

Parita suci selalu meruang dalam nurani
bayangan Wisnu selalu payungi kalbu
meski perang dan damai silih berganti
menjadi gelar kehidupan
manusia yang tak memahami makna
simak-simak purnama menjelang pula
aku tahu kau selalu siapkan paritanya
dari musim ke musim dari umur ke umur.


Bogor
April, 2003
"Puisi: Parita Jelang Purnama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Parita Jelang Purnama
Karya: Diah Hadaning
Lelaki Mabuk dan Rembulan

I
Berapa laut telah kau teguk
tak juga sirna dahaga
berapa selat kau hisap hari ini
semakin haus, menyiksa jiwa yang bara
sebenarnya
tak raga yang bicara dan menuntut
tapi kerontang jiwa
yang hilang ruh kearifan
jadi belenggu abadi bagi diri.

Makin gering kemarau bulan Agustus
makin liar sulur-sulur hasrat purbamu
menarikan bias rembulan pesisirku
jangan usik biarkan semesta terus menari
biarkan kata-kata bernyanyi sendiri
lagu yang bukan lagumu
tapi tembang pesisiran 
yang kugubah sepanjang windu.

II
Kenapa kau biarkan kendali
dicuri matahari petang tadi.

Sementara sungai selat dan laut
kau biarkan mabuk langit
menolak pigura dan tepis sentuhmu
ketika orang-orang di lapangan
turunkan bendera menimang unggun
kau biarkan bumi memaku tubuhmu
kau mabuk debu mabuk batu
rembulan pun tak lagi menapa
meski kau puji warna emasnya.

Kenapa kau biarkan kendali
dicuri matahari petang tadi.


Jepara
Agustus, 2003
"Puisi: Lelaki Mabuk dan Rembulan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki Mabuk dan Rembulan
Karya: Diah Hadaning
Honocoroku Rahayu Buat Ibu

Agung, Agung, Yang Maha Agung
Harum, Harum, Yang Maha Harum
Maha Agung dan Harum hanyalah ENGKAU.

Ibu dan aku adalah coroko
coroko tanpa sowoto
karena kami saksi jaman
perubahan ke perubahan
alam yang beda makin kekalkan cinta
irama langkah masih senada
iramanya alam semesta
kini gejolak menghentak
rindu janji di siang retak
sambil anyam bayangmu ibu
doa-doa kulantunkan
bunga gurit dan kidung kuulang-ulang
ritus ke ritus dan ritualan
selalu kubatin namamu
yang menyahut gema kidungmu
merayapi tahun dan windu:
Sebutlah Allah Gustimu.

Cimanggis
Desember, 2004
"Puisi: Honocoroku Rahayu Buat Ibu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Honocoroku Rahayu Buat Ibu
Karya: Diah Hadaning
Hujan Tana Toraja

Air jatuh, di tanah berlinang jiwa
oh, dingin rasa hujanku.

Berjuta rintik purbakala
menyiram hutan-hutan perawan
seperti ada bunyi kecapi
mengiringi tarian bayang-bayang
oh, hujan berbisik padaku
tak kudengar
tapi aku tahu maksudnya.

Mari kita bercakap
dengan air yang meresap
jauh ke dalam tanah
dan suka pergi menyusur nadi
menghidupkan arwah pada mimpi.

Sonya, di antara kepungan tapak-tapak hujan
kuingin lelap dalam dekapmu
bukan aku sebagai lelaki
tapi sebagai bayi
yang baru belajar mendengar nyanyi.

Dan nyanyikanlah
bahwa dari ubun-ubun ke bintang
terjadi jarak cuma sejengkal.

"Puisi: Hujan Tana Toraja (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Hujan Tana Toraja
Karya: D. Zawawi Imron
Sarang

Cahaya senja yang merah
Sampai juga ke dalam kamar
Menjagakan kelewang yang tidur
Dari mesjid terdengar zikirmu
Maka perang pun mulai
Bayang-bayang yang kabur pada dinding
Melarikan berita ke ombak gasing
Aku hanyalah kegelapan
Yang mendesah ke hutan-hutan
Oleh bercak-bercak darah
Dalam sarang
Yang kau buat dari kabut
Kelewang itu diam
Menikmati madu di hati danau.

"Puisi: Sarang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sarang
Karya: D. Zawawi Imron
Refrein Lain dari Sebuah Lagu Cinta
Cinta tak bisa ditawar seperti ciuman
Makanya tak kucoba bergandeng tangan
di atas salju
Peram dan tahan!
Sesuatu yang mekar dan baru
mencabut akar ujung beludru.

Kota ini akan bisu
Ngilu akan sampai ke hati buku
Kenapa zaman kesusu
Mengapa bahasa terburu-buru?

Harapan hancur tapi tidak bercerai
Masih ada kenangan buat kaki bertumpu
Hanya di laut buih-buih fasih menderai
Hanya di hati kesungguhan bisa disemai.

"Puisi: Refrein Lain dari Sebuah Lagu Cinta (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Refrein Lain dari Sebuah Lagu Cinta
Karya: D. Zawawi Imron
Di Simpang Jalan
Simpang jalan
Aku tegak
tapi tak mampu setinggi gedung sejarah
yang konon sekian abad tak pernah tua
Mungkin yang kumiliki sejenis trauma
yang diwariskan narasi hati yang luka.

Mengingat Daendels
jadi teringat kakek moyangku
yang mati kerja rodi
membuat jalan dari Anyer ke Panarukan.

Masih di simpang jalan
Aku tegak
tapi tak mampu menghitung lada dan pala
yang dulu diangkut ke mari.

Kemegahan ini
mungkin hanya kekosongan
Saat seorang professor berteori
yang kudengar hanya kebohongan.

Dengan cepat kujelma burung merpati
di udara kunyanyikan puisi
untuk melupakan wajah-wajah gagah yang bengis hati.

"Puisi: Di Simpang Jalan (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Simpang Jalan
Karya: D. Zawawi Imron
Persinggahan


I
Kalau sudah jadi yakin
akan kehadiran orang lain
kalau sudah jadi ketetapan
ia pacu diri di lembah pegunungan.

tiba pada riba tersandar senja
bercerita kota-kota tepi laut di jantung benua.

II
Karena terlalu meminta
lenyap setiap bahagia.
 
   
"Puisi: Persinggahan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Persinggahan
Karya: Ajip Rosidi
Kusaksikan Manusia


Kusaksikan manusia dendam-mendendam
Kudengar denyut ketakutan mengejar siang dan malam
Kuyakinkan mereka akan kebaikan manusia
Tapi kusaksikan pula kesetiaan pun dikhianati.

Kukatakan: Ini tanah kita, orang lain tak usah campur!
Tapi kulihat mereka mengangkat senjata,
lalu menggempur:
Berikan segala tanah, semua punya kami!
Yang menang pun mengibarkan panji-panji.
 
  
1957
"Puisi: Kusaksikan Manusia (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Kusaksikan Manusia
Karya: Ajip Rosidi
Perumpamaan
Di antara belalang
Kaulah burung Brenjang
Yang mengisi tembolok
Tak kunjung kenyang.

Di antara ayam
Kaulah musang kelaparan
Dengan rahang tajam
Menerkam dan menerkam.

Kalau di sungai
Kaulah buaya
Tak pernah menolak bangkai.

Kalau di darat
Kaulah serigala
Mengancam segala hayat.
   

"Puisi: Perumpamaan (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Perumpamaan
Karya: Ajip Rosidi