Balada Para Penari

Para penari bersemangat mega gunung
bernafas angina lereng hutan pinus
tak pernah henti tariannya
oleh kilatan cahaya dari layar kaca
tiap saat silaukan mata dan sebar radiasi
sementara banyak orang kehilangan
sementara banyak orang tak kebagian.

Mereka terus menari dan menari
diiring ritmis gending ngalun dari nurani
kucari siapa di antara mereka
yang jantungnya matahari
yang matanya bara api
yang senyumnya bening kali
yang rambutnya tempat angin bersarang kini
yang nafasnya aroma gandasuli.

Aku menunggu dengan kesetiaan lumut candi
para penari terus meliuk dan mainkan langkah
bunga dan buah mereka hadirkan dalam imaji
bumi subur loh jinawi
semesta penuh geletar cinta
ketika mereka tembangkan ‘smaradhaha
hamparan pedang terbuka istirahkan angin
hidup terasa tenteram cacian gurinda,
ketika jemari penari menjaring angan
menyulam pandang orang-orang
aku masih menunggu ketika seorang penari mendekati
perempuanku, engkau tengah mencari
mari kita berbagi matahari
selama ini di jantungku ia terpatri
disibaknya dada muda tempat tumbuh, bibit mulia
kulihat pijar terangi bumi silaukan langit
bersamanya hati-hati kukembalikan
bias cahaya ke gunung wingit.


Bogor, 1996
"Puisi: Balada Para Penari (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Para Penari
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top