Perjalanan Anak Musim

Kau yang selalu menghitung batu koral
dan guguran bunga mahoni sepanjang jalan setapak
di kota tua hilang nuansa
memungutinya satu-satu sambil menyebut nama ibu
lalu hari terasa lebih panjang dari sebelumnya
manakala orang-orang tua mulai membuka
pintu rumahnya, mengundang pejalan kaki hilang arah
kau menyimpan dalam kenangan paling panjang
gambaran kebijaksanaan
meneruskan perjalanan sambil terus mengukir
nama-nama yang kaya makna
kau terus berjalan menghitung bayang-bayang
pohon di hutan-hutan jauh
menghitung angan-angan mulai melepuh
tapi jangan pernah berhenti, wahai
anak musim bernafas angin
anak musim berpeluh darah.

Jakarta
Desember, 1989
"Puisi: Perjalanan Anak Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan Anak Musim
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top