Pertanda

I
Seorang lelaki membiuskan cerita lama
kepada perempuannya yang sederhana
dan didustai sekian lama
atas nama fatamorgana
seorang lelaki picingkan mata meniti wajah
yang di masa silam diraih siang malam
tapi musim cepat berubah
diam-diam surat suci berlumur nanah
sementara di kota-kota
derita anak manusia semakin parah
jadilah perempuan yang baik
bisik lelaki menggiring
masa silam aksaranya: jadilah segala bagiku.

Lelaki mencoba senyum sembunyikan dosa:
(perempuan telah tahu namun membiarkannya
kali ini diam ternyata emas)
para perempuan akhirnya diam kaku
kaki mereka berubah jadi pohon
wajah berubah jadi cahya ajaib
terkurung dalam lampion-lampion merah
tragedi tanah tumpah darah.

II
Kelelawar tak sabar di ambang fajar
ciptakan tanda atau hanya fatamorgana
fajar dini hanya bias purnama di kali
obat gaib bagi jiwa lukisan aib
jarum jam karat cipta dengus sekarat
sekadar tanda?
tanya orang muda mengaku lahir dari batu
kusumpah pengukir jiwa yang jahanam kan terkutuk
karena membuat bunda remuk
kusumpah alam murka kan gulung para pendosa
tragedi buah anggur
tanpa belati pun hancur.

Teratak Gondosuli
September, 2007
"Puisi: Pertanda (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pertanda
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top