Maret 2007
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Pohon Bernapas

Ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap helaannya seratus burung pulang
mendengar cericit anak-anaknya.

Ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap hembusannya seratus warna bunga
berhamburan menyambut godaan cahaya.

"Puisi: Ada Pohon Bernapas (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ada Pohon Bernapas
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ke pantai

Ombak berdesir
Di pantai pasir
Suka lagu
Dicium syamsyu

Mari gerangan adindaku sayang
Mendengar laut memuji cinta,
Waktu datang buat terbayang,
Kalau Laksmi mengikat kita.

Permainan mata,
Ratna permata,
Bunga melati,
Si jantung hati,

Dengar laguku di tepi pantai,
Diayun gelombang cinta kalbu,
Dari kata kuatur rantai,
Mengebat engkau pada jiwaku.

Adindaku mari,
Meriangkan hati,
Melihat mega
Berwarna neka.

Mendam berahi aku memandang
Ke dalam mata mimpi hidupku;
Di tepi laut teduh tenang
Sukma kita menjadi satu.

Desik berdesik,
Bisik berbisik,
Daun kayu
Memuji syamsyu

Berikan daku seperti 'alam
Memuji tungangan dalam ribaan,
Penawar rengsa, sakit di dalam,
Beri gerangan, gadis pilihan.

"Puisi: Ke pantai (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Ke pantai
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Gaun Tidur

Gaun tidurku menyembunyikanmu.
Seperti doa yang ganas,
kau merasuk ke panas darahku.
Gaun tidurku basah olehmu.

2007
"Puisi: Gaun Tidur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Gaun Tidur
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman Hiburan Negara

Ini tempat umum, bung.
Dilarang melamun sembarangan di sini.

2007
"Puisi: Taman Hiburan Negara (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Taman Hiburan Negara
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat dari Yogya

Syamsul, kekasih kita, tiba-tiba raib entah ke mana.
Pada malam terakhir ia terlihat masih tertawa
bersama Saut, temannya minum bir dan bercanda.
Bahkan ia sempat mengantar sepasang turis 
melihat-lihat korban gempa.
Setelah itu ia tinggalkan begitu saja becaknya
di depan rumahnya yang porak poranda.

Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa.
Banyak yang terasa baru, segala yang lama
mungkin akan tinggal cerita,
dan kita tak punya waktu untuk berduka.
Banyak yang terasa musnah, atau barangkali
kita saja yang gagap untuk berubah,
seakan hidup miskin adalah berkah.
Entahlah. Aku hanya lihat samar-samar
sarung Syamsul berkibar-kibar di depan rumah.

Suatu malam becak Syamsul datang ke rumahku:
"Apakah mas Syamsul ada di sini?"
Kubetulkan celanaku, kurapikan sajak-sajakku:
"Syamsul masih ada. Ia tidak ke mana-mana.
Syamsul sudah menjadi nama sebuah kafe
yang baru saja dibuka. Maukah kau kuajak ke sana?"

2006
"Puisi: Surat dari Yogya (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Surat dari Yogya
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Puasa
(untuk Hasan Aspahani)

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan keringat yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

2007
"Puisi: Puasa (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Puasa
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam

Sepi meletus. Suaranya yang lucu
mengagetkan tato macan
yang sedang mengaum di tubuhmu.

2007
"Puisi: Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
“Siapa ini?”, jawabnya cuma “Ini siapa?”

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
“Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
“Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
“Ibu! Ibu di mana?”
“Di dalam.”
“Di dalam telepon?”
“Di dalam sakitmu.”

Ah, malam ini tidurku akan nyenyak.
Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya.

2004
"Puisi: Telepon Tengah Malam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Telepon Tengah Malam
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Tidak Pergi Ronda Malam ini

Aku doakan semoga aman-aman saja.
Kalau nanti bertemu maling,
ajak dia ke rumahku.
Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga.

2007
"Puisi: Aku Tidak Pergi Ronda Malam ini (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Aku Tidak Pergi Ronda Malam ini
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Usia 44

Dua kursi kurus duduk gelisah
di bawah pohon hujan di pojok halaman.

Dua ekor celana terbang rendah
dengan kepak sayap yang makin pelan.
Yang warnanya putih hinggap di kursi kiri.
Yang putih warnanya hinggap di kursi kanan.

Dua ekor celana, dua ekor sepi
menggigil riang di atas kursi
di bawah rindang hujan di pojok halaman
dan berkicau saja mereka sepanjang petang.

2006
"Puisi: Usia 44 (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Usia 44
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Tamu

Di ruang tamu ini, sekian tahun silam, saya menerima
seorang pemuda kurus kering yang datang menawarkan akik.
Saya tidak suka akik. Lebih tidak suka lagi pada bualannya
tentang kesaktian akik. Seberapa pun hebatnya,
akik hanya akan melemahkan iman.
Tanpa basa-basi saya minta anak muda yang tampak
kelaparan itu segera angkat kaki.
Ia pun pamit dengan penuh ketakutan
dan sambil pergi matanya tetap memandang sayu kepada saya.

Tentu bukan karena akik kalau rumah itu terpaksa saya jual
kepada seseorang dan orang itu kemudian menjualnya
kepada seseorang yang lain, demikian seterusnya.
Rumah itu memang angker,
tidak pernah bikin tenteram penghuninya.

Kini sayalah yang duduk terlunta-lunta di ruang tamu ini.
Wah, mewah benar bekas ruang tamu kesayanganku.
Ada pendingin udaranya, ada cermin besarnya,
ada pula lukisan tidak jelas yang pasti sangat mahal harganya.
Cukup lama saya menunggu, tapi si empunya rumah
tidak juga keluar menemui saya. Saya bermaksud
menawarkan obat kuat yang dibuat khusus untuk orang kaya.

Dengan jengkel saya mengintip ke ruang tengah.
Wah, si empunya rumah sedang sibuk bergoyang-goyang
mengikuti irama musik yang ia bunyikan keras-keras.
Setelah saya panggil berulang-ulang dengan suara lantang,
barulah ia sudi menemui saya.

Tidak salah lagi, dia adalah si bekas pedagang akik yang dulu
menghiba-hiba di hadapan saya.
Sayang ia pura-pura tidak pernah kenal saya.

“Masih jualan akik, Pak?” saya coba memancing reaksinya.
Ia menjawab ketus: “Jangan bicara akik dengan saya.
Akik hanya akan melemahkan iman.”
Setelah menimang-nimang seluruh jenis obat
yang saya bawa, dengan sinis ia berkata:
“Maaf, tidak ada yang cocok dengan kapasitas saya.”
Kemudian ia memerintahkan saya segera angkat kaki
dan sebelum saya sempat pamitan ia sudah buru-buru masuk
ke ruang tengah untuk melanjutkan kesibukannya.

Suatu hari saya mendengar kabar bahwa si bekas penjual akik
yang mulai sombong itu sedang terkapar di rumah sakit,
terkena penyakit berat yang entah apa namanya.
Saya menyempatkan diri menjenguknya.
Duh, kasihan juga melihat ia terbaring lemah dengan mata
kadang terpejam kadang terbuka.

Ketika di kamar sakitnya hanya tinggal kami berdua,
saya bisikkan di telinganya: “Rasain lu!”
Serta-merta matanya membelalak dan dengan gagah
ia menimpal: “Prek lu!”
Cukup lama kami beradu pandang, dan kami sama-sama
berusaha tidak tertawa atau malah mengeluarkan air mata.

2001
"Puisi: Sepasang Tamu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sepasang Tamu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dangdut

1
Sesungguhnya kita ini penggemar dangdut.
Kita suka menggoyang-goyang memabuk-mabukkan kata
memburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut.

2
Para pejoget dangdut sudah tumbang dan terkulai satu demi satu
kemudian tertidur di baris-baris sajakmu.
Malam sudah lunglai, pagi sebentar lagi sampai, tapi kau tahan
menyanyi dan bergoyang terus di celah-celah sajakmu.
Kau tampak sempoyongan, tapi kau bilang: “Aku tidak mabuk.”
Mungkin aku harus lebih sabar menemanimu.

2001
"Puisi: Dangdut (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Dangdut
Karya: Joko Pinurbo