April 2007
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kuhitung Detak Jam

Kuhitung detak jam
berlari
sedang kata-kata belum juga menepi
menetak harap
kuusung ke pusat hari

Kenapa kenang
diam-diam mampirkan sangsi
kenapa sepi
padaku seakan menagih janji

Sedang kata-kata belum juga menepi
sedang kata-kata belum juga bisa kuakhiri.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kuhitung Detak Jam
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat Mobil Paman Si Toni

Ton,

Berhati-hati dalam bersikap dan berucap itu biasakan
Di peralihan pemerintahan yang dalam konfigurasi kekuasaan
Belum jelas, bagai merenungi buah catur di papan
Berpikirlah dalam delapan kemungkinan langkah ke depan
Dan posisi skak-ster, selalu dikhtiarkan

Bugatti 1929 dua kursi dua pintu tanpa atap, Citroen 11 CV 1930-an front- wheel-drive rem hidraulik mesin 1302 cc; Benz 1905 “Taurenwagen” 40 tenaga kuda empat kursi tanpa atap; Austin 1954 A 30 dua pintu setir kanan 803 cc; kamu tahu ini semua sudah ada Pakde masih penasaran Ford 1915 model “T” belum dapat-dapat sudah mengejar-ngejar sampai tahun keempat tapi keluaran 1926 nyaris sama boleh juga masih tawar-menawar dengan relasi  pakde di Colorado sana

Kamu jangan terlibat demo langsung begitu
Apalagi dalam perencanaan strategi macam-macam ini-itu
Informan akan mengawasi dan mencatat namamu
Bukan saja adresmu tapi juga silsilah dan biodatamu
Jangan nyetir ke luar rumah Mazda atau Honda Civicmu itu
Dalam kerusuhan massa resiko dilempar atau dibakar besar
Kalau terpaksa ya pakai hardtop tua saja
Yang suka sok-sokan naik atap mobil ‘kan mahasiswa
Walau hardtop, kalau dinaiki sepuluh orang bisa jadi peot
Hindari pula konser musik di lapangan terbuka
Massa bisa beringas dan sekali ada yang menyulut
Blup! Terbakar lalu main lempar-lemparan
Mobil kamu yang diparkir kacanya konyol berpecahan
Mengindari resiko, naik saja taksi meteran

Kumat Pakde sudah agak reda tidak sangat tergila-gila pada model coupe-cabriolet yang atapnya bisa dilipat ke belakang gaya tahun 1920-an tapi stabil double berlina yang langsing panjang itu begitu chic bagaimana bisa melupakannya belum lagi landautte dua kursi beratap lipat-pasang wah alit  dan begitu selesai dalam perfeksi, jadi toni, Pakde sangat bahagia kamu ikuti nasihat Pakde studi disain industri maka di semester tahun 1999 ambil S-2 di mana kamu mau you just name it pelajari katalog lovejoy tahun akademik akan datang yang Pakde sudah kirimkan masa depan industri otomotif bukan pada mesin tapi pada disain sekali lagi pada disain bodi maka ton kejar ilmu disain industri otomotif dan kamu sejak kecil sudah Pakde perhatikan kreatif menggambar kamu 'kan dulu mau masuk senirupa gila apa bakatmu belum tentu selutut affandi, sadali, zaini atau basuki hari depan nanti susah duitnya susah sudahlah

Susahnya lagi kamu sekarang aktif dalam gerakan
Ya bolehlah sementara untuk beberapa bulan
Seperti katamu hitung-hitung cari pengalaman
Tapi jangan terlalu menonjol usahakan
Pakde khawatir kalau sainganmu pegang kekuasaan
Kamu nanti sengsara habis ditekan-tekan
Sori ya, memang ini generasi Pakde punya kesalahan
Kami mewaris-wariskan politik kedendaman
Tapi Pakde ‘kan tak mau jadi korban
Catat di saat gawat Si-Ai-E pasti melibat
Sebagai Siskamling Dunia yang kurang pekerjaan
Dengan pesuruh mata-mata lama algojo pejagalan
Pembantai sangar jagoan dalam diteil perencanaan
Rapi tersembunyi dalam eksekusi pelaksanaan
Dan Pakde tak mau kamu di pinggir jalan jadi korban

satu Mercedes Mannheim produksi 1931 75 tenaga kuda mobil sport dua pintu berhidung panjang; dua Jaguar merah padam SS90 karya William Lyons dengan garis kontur sangatlah elegan; tiga Ferrari 5125 Speciale yang didisain Pininfarina dengan kemiringan 78 derajat edan-edanan; empat Lamborghini Diablo kuning bening berpintu gulotin dari 0 sampai 97 kilometer per jam dalam empat detik pertama dengan kecepatan setan

Karena ketagihan koleksi mobil begini gila
Kamu tahu Pakde sampai cerai dengan Budemu sudah lama
Mungkin karena kami tak punya anak juga
Kamu tahu Pakde tersinggung betul pada suatu ketika
Budemu bertanya tentang halal-haramnya rezeki dan harta
Bukan saja bertanya malah menggugat pula
Budemu ‘kan tahu suaminya Pejuang Empat Lima
Dan kalau aku berbisnis ketika boom minyak dunia
Mengatur tanker, gas bumi, konsesi hutan dan tambang lainnya

Wajarlah kalau Pakdemu jadi sangat kaya
Wajar ‘kan Ton, wajar saja di dunia kesatu kedua atau ketiga
Argumentasi logis ini Budemu itu tidak bisa terima
Sampai-sampai titik airmatanya
Ya itulah, sehingga ketika ultimatum ditembakkannya
Pilih koleksi mobil atau pilih dia
Kamu sudah tahu putusan Pakde pada akhirnya

Keponakanku Toni
Orde boleh datang orde boleh pergi
Presiden bisa tumbang presiden bisa berdiri
Pakdemu selamat karena profil rendah sekali
Inilah rumus kehidupan camkan dalam di hati
Hiduplah pragmatis, sesekali saja kutip filosofi

Kau tahu Pakde menikmati hari tua jauh di luar kota
Di tempat koleksi mobil tersembunyi dan terpelihara
Kau pernah lihat basement parkir luarbiasa lapangnya
Tapi Pakde sangat khawatir pada kecemburuan mata
Mudah-mudahan barang kesayangan Pakde selamat saja

Semuanya ini Toni, untukmu bila Pakde mati
Surat wasiat sudah Pakde tulis dengan rapi
Tersimpan di bank dalam kotak sekuriti
Pengolah kata Macintosh dokumen dilaminasi
Dan uang tabunganku yang tersembunyi di empat negeri
Berapa trilyunnya kau baca saja di testamenku nanti
Sementara itu Toni, ambil S-2 disain industri
Khususkan otomotif jangan yang lain lagi
Di Stanford, Cornell atau Em-Ai-Ti
Lalu jangan kepalang teruskan S-3 sekali
Tulislah tesis tentang interior kayu jati
Yang serba plastik kini mesti diganti
Apalagi di mobil ratusan ribu dolar sangat tidak serasi
Polypropylene selama ini terlalu dominasi

Toni,
Peluk cium dari Pakdemu ini
Kirimlah pamanmu fax sekali-sekali.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Surat Mobil Paman Si Toni
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Brazil Lawan Belanda

Ketika pertandingan delapan Juli Brazil lawan Belanda
Saya lah penonton peragu tak bisa tegas memihak mana
Saya suka Brazil karena sama-sama negara blok ketiga
Kecantikan permainannya terkenang-kenang senantiasa
Tapi suka juga Belanda karena merah putih warna seragamnya
Icak-icaknya PSSI yang masuk perempat final Piala Dunia
Lalu saya memihak Brazil karena sama-sama punya hutan rimba
Tiba-tiba saya sedih karena hutanku dibakar hangus membara
Lantas kupihaki Belanda karena pada Ajax dan Feyenoord saya terpana
Oper-operan bolanya kencang, tak pernah ragu, berbentuk segitiga
Tapi lihat Ronaldo gundul, kaki kirinya menyurukkan bola gol pertama
Stadion hampir pecah karena penonton Brazil meledak gembira
Hati saya menyebelah pada kesebelasan Amerika Latin ini pula
Cuma ketika pemain hitam membobol gawang balasan Belanda
Patrick Kluivert dengan sikap badan indah menanduk bola
Saya pun tak urung pada adegan puitik itu terpesona
Begitulah bolak-balik pendirianku pindah ke sini dan ke sana.

Lalu kuperhatikan cara anak-anak Brazil itu mengoper-oper bola
Yang semua orang bilang itu adalah gaya Samba
Aku tak melihat itu. Pernyataan itu dilebih-lebihkan saja
Sebuah kata sifat perlu untuk gaya permainan mereka
Jadi dipas-paskanlah irama terkenal negeri mereka lagu samba
Begitulah kuamati selama 3-4 pertandingan Piala Dunia
Misalkan PSSI masuk ke perempat final sejagat raya
Karena gesit, kencang, banyak gol dan terkenal ke mana-mana
Cara oper-operan bola PSSI pastilah gaya dangdut namanya.

Setelah perpanjangan waktu tibalah tendangan penalti dua kali lima
Bagi penonton fanatik ini tes berat kestabilan jiwa
Tak baik bagi jantung lemah dan pengidap tekanan darah
Tapi adegan tegang ini bagi saya oke-oke saja
Karena saya tak berpihak pada salah satu dari yang dua
Atau karena berdiri di tengah, berpihak pada kedua-duanya
Kalau mau sastra terdengarnya, ya berpihak pada puitika sepakbola.

Demikianlah, ringan saja kotonton enam gol berikutnya
Inilah adegan penalti gergasi dalam sejarah Piala Dunia
Semua ingat tendangan Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga
Dan Var der Sar yang kerja keras menjaga gawang negerinya
Dan Claudio Taffarel kiper pahlawan menepis dua tembakan Belanda
Lalu stadion Marseilles yang nyaris belah karena sorak gempita
Kostum berwarni-warna, pipi bercat warna bendera negara
Inilah adegan musim panas pantai Eropa Mediterania
Lapangan hijau rumput sintetis di sebuah kota selatan Perancis
Lelaki-lelaki Brazil, berteriak tak habis, bertelanjang dada
Gadis-gadis jelitanya, bergoyang menarikan samba gembira
Bendera mereka dan gendang ditabuh tak putus-putusnya
Sementara pemain Belanda berjalan keluar lesu bersama
Bendera merah-putih-biru tertunduk letih pula
Para penonton Tanah Rendah itu mengemasi kesedihan bangsanya
Dan lihatlah Mario Zagallo, pelatih Brazil itu menyeka mata
Bersama Pele dulu dia, veteran pendekar di lapangan bola
Pele, penyair besar Brazil yang menulis puisi dengan kakinya
Dan stadion itu alangkah tertib beradab suasana penontonnya
Yang kalah tak bringas marah, melempar ke sana dan ke sini

Demikianlah saya menonton semifinal Piala Dunia di TV Singapura
Seperti empat tahun yang lalu, kebetulan di kota yang sama
Di rumah sastrawan Suratman Markasan, ada Danarto juga
Sambil mengunyah kacang Mexico pistachio, kegemarannya
Keesokannya ketemu Djamal Tukimin, penyair Singapura asal Jawa
“Bagaimana demo mahasiswa di Jakarta, kok sepi-sepi saja?”
Saya pun menyahut asal jawab sekenanya
“Mahasiswa tidur sampai siang, ngantuk nonton Piala Dunia,
Jadi sampai habis pertandingan final, kau tunggu saja.”

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Brazil Lawan Belanda
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pekalongan Lima Sore

Kleneng bel beca
Debu aspal panggang
Sangar jalan pelabuhan
Terik kota pesisir
Tik-tik persneling Raleigh
Bungkus sarung palekat
Sungai kuning coklat
Nyanyi rumah yatim
Pejaja es lilin
Riuh Kampung Arab
Jembatan loji karatan
Genteng rumah pegadaian
Keringat pasar sepi
Kumis Raj Kapoor
Sengangar lilin batik
Deru pabrik tenun Bal-balan
Bong Cina Harum tauto
Tjarlam Sirup kopyor dingin
Gorengan kuali tahu
Percikan minyak kelapa
Sisa bungkus megono
Panas teh melali
Tik-tok kuda dokar
Dengung DKW Hummel
Peluit sepur bomel
Klakson Debu Reuolusl.

1961
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pekalongan Lima Sore
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sahur di Lautan Lumpur

Bau embun, basah tanah
dan segar udara
yang pulang dari malam kembaranya
ke fajar rumahnya
tak lagi teman makan sahur kami.
Kini, asap asing dan bau misteri
sebagaimana merahasianya nasib, selalu berkelebat
berlarian di sela kerumunan
mengusutkan tikar, memainkan bayang-bayang
di dinding-dinding barak pengungsian
sesekali,
ada yang menyeringai di antara wajah anak istri
ada yang jumpalitan menjelma sayur dan nasi
ada yang merebut niat pasrah ke Ilahi
sepanjang waktu sahur kami
ada pula yang menjelma sesal
dan umpatan
entah kepada setan atau untuk Tuhan.
Sementara pagar halaman, atap, dan wuwungan
yang kemarin dilumur lumpur dengan perlahan
seolah memanggil lemah dari kedalaman
tak menjelma riak, tak merupa gelombang
hanya diam
sediam waktu makan sahur kami
sediam waktu yang tak kunjung berlalu
melalangkan pilu demi pilu.
Solo
27 September 2006
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Sahur di Lautan Lumpur
Karya: Sosiawan Leak