Bisnis

header ads

Puisi: Brazil Lawan Belanda (Karya Taufiq Ismail)

Brazil Lawan Belanda

Ketika pertandingan delapan Juli Brazil lawan Belanda
Saya lah penonton peragu tak bisa tegas memihak mana
Saya suka Brazil karena sama-sama negara blok ketiga
Kecantikan permainannya terkenang-kenang senantiasa
Tapi suka juga Belanda karena merah putih warna seragamnya
Icak-icaknya PSSI yang masuk perempat final Piala Dunia
Lalu saya memihak Brazil karena sama-sama punya hutan rimba
Tiba-tiba saya sedih karena hutanku dibakar hangus membara
Lantas kupihaki Belanda karena pada Ajax dan Feyenoord saya terpana
Oper-operan bolanya kencang, tak pernah ragu, berbentuk segitiga
Tapi lihat Ronaldo gundul, kaki kirinya menyurukkan bola gol pertama
Stadion hampir pecah karena penonton Brazil meledak gembira
Hati saya menyebelah pada kesebelasan Amerika Latin ini pula
Cuma ketika pemain hitam membobol gawang balasan Belanda
Patrick Kluivert dengan sikap badan indah menanduk bola
Saya pun tak urung pada adegan puitik itu terpesona
Begitulah bolak-balik pendirianku pindah ke sini dan ke sana.

Lalu kuperhatikan cara anak-anak Brazil itu mengoper-oper bola
Yang semua orang bilang itu adalah gaya Samba
Aku tak melihat itu. Pernyataan itu dilebih-lebihkan saja
Sebuah kata sifat perlu untuk gaya permainan mereka
Jadi dipas-paskanlah irama terkenal negeri mereka lagu samba
Begitulah kuamati selama 3-4 pertandingan Piala Dunia
Misalkan PSSI masuk ke perempat final sejagat raya
Karena gesit, kencang, banyak gol dan terkenal ke mana-mana
Cara oper-operan bola PSSI pastilah gaya dangdut namanya.

Setelah perpanjangan waktu tibalah tendangan penalti dua kali lima
Bagi penonton fanatik ini tes berat kestabilan jiwa
Tak baik bagi jantung lemah dan pengidap tekanan darah
Tapi adegan tegang ini bagi saya oke-oke saja
Karena saya tak berpihak pada salah satu dari yang dua
Atau karena berdiri di tengah, berpihak pada kedua-duanya
Kalau mau sastra terdengarnya, ya berpihak pada puitika sepakbola.

Demikianlah, ringan saja kotonton enam gol berikutnya
Inilah adegan penalti gergasi dalam sejarah Piala Dunia
Semua ingat tendangan Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga
Dan Var der Sar yang kerja keras menjaga gawang negerinya
Dan Claudio Taffarel kiper pahlawan menepis dua tembakan Belanda
Lalu stadion Marseilles yang nyaris belah karena sorak gempita
Kostum berwarni-warna, pipi bercat warna bendera negara
Inilah adegan musim panas pantai Eropa Mediterania
Lapangan hijau rumput sintetis di sebuah kota selatan Perancis
Lelaki-lelaki Brazil, berteriak tak habis, bertelanjang dada
Gadis-gadis jelitanya, bergoyang menarikan samba gembira
Bendera mereka dan gendang ditabuh tak putus-putusnya
Sementara pemain Belanda berjalan keluar lesu bersama
Bendera merah-putih-biru tertunduk letih pula
Para penonton Tanah Rendah itu mengemasi kesedihan bangsanya
Dan lihatlah Mario Zagallo, pelatih Brazil itu menyeka mata
Bersama Pele dulu dia, veteran pendekar di lapangan bola
Pele, penyair besar Brazil yang menulis puisi dengan kakinya
Dan stadion itu alangkah tertib beradab suasana penontonnya
Yang kalah tak bringas marah, melempar ke sana dan ke sini

Demikianlah saya menonton semifinal Piala Dunia di TV Singapura
Seperti empat tahun yang lalu, kebetulan di kota yang sama
Di rumah sastrawan Suratman Markasan, ada Danarto juga
Sambil mengunyah kacang Mexico pistachio, kegemarannya
Keesokannya ketemu Djamal Tukimin, penyair Singapura asal Jawa
“Bagaimana demo mahasiswa di Jakarta, kok sepi-sepi saja?”
Saya pun menyahut asal jawab sekenanya
“Mahasiswa tidur sampai siang, ngantuk nonton Piala Dunia,
Jadi sampai habis pertandingan final, kau tunggu saja.”

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Brazil Lawan Belanda
Karya: Taufiq Ismail

Posting Komentar

0 Komentar