loading...

Sahur di Lautan Lumpur

Bau embun, basah tanah
dan segar udara
yang pulang dari malam kembaranya
ke fajar rumahnya
tak lagi teman makan sahur kami.
Kini, asap asing dan bau misteri
sebagaimana merahasianya nasib, selalu berkelebat
berlarian di sela kerumunan
mengusutkan tikar, memainkan bayang-bayang
di dinding-dinding barak pengungsian
sesekali,
ada yang menyeringai di antara wajah anak istri
ada yang jumpalitan menjelma sayur dan nasi
ada yang merebut niat pasrah ke Ilahi
sepanjang waktu sahur kami
ada pula yang menjelma sesal
dan umpatan
entah kepada setan atau untuk Tuhan.
Sementara pagar halaman, atap, dan wuwungan
yang kemarin dilumur lumpur dengan perlahan
seolah memanggil lemah dari kedalaman
tak menjelma riak, tak merupa gelombang
hanya diam
sediam waktu makan sahur kami
sediam waktu yang tak kunjung berlalu
melalangkan pilu demi pilu.
Solo
27 September 2006
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Sahur di Lautan Lumpur
Karya: Sosiawan Leak

Post a Comment

loading...
 
Top