Mei 2007
Sajak Bulan-bulanan
(Catatan 15 Agustus 1997)

Di atas Monas bulan mengintip
nonton pejabat baca puisi
di seberang Monas
orang besar bermain bulan
menendang ke kanan
menyepak ke kiri.

Bulan agustus bulan upacara
saatnya bangsa mengenang pahlawannya
Bulan agustus bulan krisis ekonomi
bulan mantan pejabat melarikan dolarnya
ke luar negeri, agar menjadi
pahlawan bagi duitnya sendiri.

Wanita datang bulan
verbodenlah ia
Pegawai tanggung bulan
menumpuklah tagihannya
Bulan yang dijual di kaki lima
kue terang bulan namanya.

Di atas Monas tersenyum bulan
nonton pejabat baca sajak perjuangan
di luar Monas
orang besar bermain bulan
orang-orang kecil
yang menjadi bulan-bulanan.

Agustus, 1997
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiSajak Bulan-bulanan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Selat Sunda

Menumpang ferry
ke Bakauheni. Saat
menyulut rokok
sambil menunggu 
kopi dingin. Gelombang
dan angin kencang
pekikan camar
lompatan ikan terbang,
dan tanya besar
: akankah sampai
di seberang? Hembusan
nafas yang sangsai
asap krakatau,
sel magma bawah laut
: Gempa, letusan
serta tsunami
kapankah akan bangkit?
Saat lintaskah?

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Selat Sunda
Karya: Beni Setia
Tol

Sampai berapa
kecepatan mobilmu?
Kalau terlampau
lamban, disilakan
ke museum, ke jalanan
siput di udik
kampung, leladang
becek dikepung sampah
- tanah marjinal
: kami membentang
tidak boleh terganggu,
penguasa raya
yang membelesur
- tidak bersalah kalau
menabrak orang
sampai matipun -
di jalanan berbeyar
khusus supercar.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Tol
Karya: Beni Setia
Jakarta

Semakin dekat
ke pesisir, semakin
rapat bangunan
danau ditimbun,
tapi pantai diolor,
- air sumur surut
saat penghujan
tiba, kota tenggelam
terhempas banjir
kenapa masih
betah? Bertahan. Yakin
akan sentosa?
meski dengan
merampok dan korupsi?
Lupa silsilah
wasiat awal
tetua - hidup dan mati
dengan bertani.


Catatan:
Diolor, dari (tanah) oloran = tanah endapan/delta di muara sungai.
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Jakarta
Karya: Beni Setia
Soreang, Silsilah

Kenapa pohon-pohon membentuk canopy daun,
tudung bagi batang tegak dan hunjaman akar?

Melengkung bagai tenda café halaman dengan
menú es krim dan steak sapi, dengan lelampu
temaran dan sepasang mata yang bersipergok
- dan jari-jari berjalin bagai anyaman tas rotan.

Seperti payung ibu ketika pulang dari pasar,
seperti parasut pasukan komando yang mau
menyusup ke sarang teroris, seperti selendang
di antara sejoli sehati diijabnikahkan penghulu.

Tapi kenapa pohon-pohon itu merontokkan daun
sebelum batang kerontang dan akar mengering?


"Puisi Beni Setia"
Puisi: Soreang, Silsilah
Karya: Beni Setia