Juli 2007
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pademawu

Renta tahun dalam dekapmu
tubuhku semakin gigil gemetaran
setiakah kusimpan bunga-bunga cendawan
kala pelukmu kau lepaskan?

Aku takkan memeras tangis dari lelubang kulitku
seperti pancuran hujan di sudut-sudut bangunan
dalam tengadah tangan aku mengemis
setetes madumu lebur meresap ke runduk khusyukku
kecuplah keningku
restui kembara ini kulanjutkan ke jauh waktu.

"Puisi Raedu Basha"
PuisiPademawu
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Minuman untuk Guru

Dik, pagi ini tak usah berangkat sekolah
guru-guru sedang demo minta naik gaji
belajar di rumah saja.

Di kamar mandi kau bebas beronani
jika cairan putih dan kental
ke luar dari kemaluanmu
simpanlah dalam gelas.

Besok berikan pada gurumu
sebagai tanda terima kasih.

"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiMinuman untuk Guru
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bibir di bawah Bantal
(Untuk si pemilik bibir)

Ada bibir perempuan terjatuh dari genting yang bocor. Pluk.
Bibir itu terjerembab di kasur rumahku. Kelopak bibir itu
basah merekah. Merah seperti delima. Kelopak itu
menengadah, seperti pasrah. Pasrah kepada siapa? Sedang
aku tak tahu ini bibir siapa?

Di luar, langit hijau semata karena tertutup hujan yang turun
tergesa. Pemandangan kabur. Pohon-pohon tampak baur
ditiup angin. Aku termangu dan bertanya-tanya, siapa
kiranya si pemilik bibir. Jangan-jangan ia seorang perempuan
yang sedang duduk di kedai kopi, yang geram kepada
suaminya sehingga bibirnya terlempar ke udara lalu masuk ke
rumahku. Atau ia seorang perempuan yang sedang kesepian
lalu mengerang sehingga bibirnya meloncat ke langit, dan
masuk ke dalam jendela kamar tidurku. Jangan-jangan ia
malah sengaja mencopot bibirnya, lalu melemparkannya ke
arahku untuk mengusik tidurku. Apa salahku? Sedang aku
tak tahu ini bibir siapa?

Aku termangu, menatap bibir itu dari bawah bantal,
sementara hujan terus turun berayun-ayun dari langit
berembun.

21 Januari 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiBibir di bawah Bantal
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tuhan Sedang Menguji Kehebatan Saya

Seorang perempuan mengirimi saya bunga. Aku mencintai 
kamu, katanya membuat saya ternganga. Diam-diam hati 
saya berbunga-bunga. Gila. Dari orang sedunia, dia hanya 
mencintai saya. Bukankah ini gila?

Rupanya perempuan itu 
menceritakan kehebatan saya pada temannya. Kehebatan apa, 
saya hanya menduga-duga. Yang jelas temannya itu lalu ikut 
menggilai saya. Sekarang dua perempuan tergila-gila saya 
pada waktu yang sama. Gila. Bagaimana hati saya tidak 
berbunga-bunga?

Dan ternyata, perempuan kedua ini juga 
mengabarkan pada teman-temannya tentang kehebatan saya. 
Sudah bisa diterka, dalam waktu seketika enam perempuan 
menggilai saya. Setiap hari saya harus mendengar dering 
telepon, dan membalas ratusan pesan singkat. Kuping saya 
lelah, tangan saya jontor dan hati saya kelu. Dari orang 
sedunia, ternyata Tuhan hanya ingin menguji nyali saya 
sebagai seorang pengumpul bunga.

5 Juli 2010
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiTuhan Sedang Menguji Kehebatan Saya
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||