November 2007
Hari Hujan

I
Hujan datang tersurah hujan
uang satu perak menggigil pulang abang becak
ditendang pintu rumah tumpah marah pada istri.

II
Hujan datang tercurah hujan
darahnya laki-laki diciumnya perempuan tandas sekali
tiada dikatakannya ia cinta

III
Hujan datang tercurah hujan
menggelar tikar menembang minum kopi
lega ruah tanah rengkah sawah-sawah, katak-katak nyanyi.

IV
Hujan datang tercurah hujan
orang-orang tidur, pulang tukang kacang
masih bocah suka mimpi, besok pergi lagi.

V
Hujan datang tercurah hujan
di teras took anjing angkat satu kaki
bertambah lagi air di bumi
(Sehembus nafas kurang kerja)  
 
"Puisi: Hari Hujan"
Sajak: Hari Hujan
Karya: W.S. Rendra
Pisau di Jalan


Ada pisau tertinggal di jalan
dan mentari menggigir atasnya.
Ada pisau tertinggal di jalan
dan di matanya darah tua.
Tak seorang tahu
dahaga getir terakhir
dilepas di mana:
Tubuh yang dilumpuhkan
terlupa di mana.
Hari berdarah terluka
dan tak seorang berkabung.

Ajal yang hitam
tanpa pahatan.
Dan mayat biru
bakal dilupa.
Tanpa air siraman.
Tanpa bua-buah lerak
kulitnya merut berdebu.
Awan yang laknat
dengan maut-maut di kantongnya
melarikan muka
senyum laknat sendirinya.
Ada pisau tertinggal di jalan
dan mentari menggigir di atasnya.
 
 
"Puisi: Pisau di Jalan"
Puisi: Pisau di Jalan
Karya: W.S. Rendra
Mata Anjing


Mata anjing penuh sinar nafsu maling.
Bila malam jahat di langit penuh mata anjing.
Sorot mata penuh duga dan cedera
maksud-maksud dalam kedok dan kata bermakna dua.

Mata anjing muncul di malam tak terelakkan.
Mata anjing menatap dengan rahasia tanpa ungkapan.
Wahai, Gadis yang tak kucinta dan menangis berguling
dalam ciuman kulihat padamu dua sorot mata anjing.

 
 
"Puisi: Mata Anjing"
Puisi: Mata Anjing
Karya: W.S. Rendra