Januari 2008
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Politisi Itu Adalah


Para politisi berpakaian rapi.
Mereka turun dari mobil
langsung tersenyum
atau melambaikan tangan.
Di muka kamera televisi
mereka mengatakan
bahwa pada umumnya keadaan baik,
kecuali adanya unsur-unsur gelap
yang direkayasa oleh lawan mereka.
Dan mereka juga mengatakan
bahwa mereka akan memimpin bangsa
ke arah persatuan dan kemajuan.

"Kuman di seberang lautan tampak.
Gajah di pelupuk mata tak tampak."
Itu kata rakyat jelata.
Tapi para politisi berkata:
"Kuman di seberang lautan harus tampak,
Gajah di pelupuk mata ditembak saja,
sebab ia mengganggu pemandangan."

Ada orang memakai topi.
Ada orang memakai peci.
Ada yang memakai dasi.
Ada pula yang berbedak dan bergincu.
Kalau sedang berkaca
menikmati diri sendiri
para politisi suka memakai semuanya itu.

Semua politisi mencintai rakyat.
Di hari libur mereka pergi ke Amerika
dan mereka berkata
bahwa mereka adalah penyambung lidah rakyat.
Kadang-kadang mereka anti demokrasi.
Kadang-kadang mereka menggerakkan demonstrasi.
Dan kalau ada demonstran yang mati ditembaki,
mereka berkata: itulah pengorbanan
yang lumrah terjadi di setiap perjuangan.
Lalu ia mengirim karangan bunga
dan mengucapkan pernyataan dukacita.

Para politisi suka hari cerah,
suka khalayak ramai,
dan bendera-bendera.
Lalu mereka akan berkata:
"Kaum oposisi harus bersatu
menggalang kekuatan demi perjuangan.
Dan sayalah yang memimpin kalian."

Ada orang suka nasi.
Ada orang suka roti.
Tapi politisi akan makan apa saja
asal sambil makan ia duduk di singgasana.

Memang tanpa mereka
tak akan ada negara
Jadi terpaksa ada Hitler,
Netanyahu, Amangkurat II,
Stalin, Marcos, dan sebagainya.
Yah, kalau melihat Indonesia dewasa ini,
para mahasiswa dibunuh mati,
dan lalu
politisi hanya tahu kekuasaan tanpa diplomasi,
sedang massa tanpa daulat pribadi,
maka politik menjadi martabak atau lumpia.

Lalu ada politisi berkata kepada saya:
"Mas Willy, sajakmu seperti prosa.
Tidak mengandung harapan,
tidak mengandung misteri.
Cobalah mengarang tentang pemandangan alam
dan misteri embun di atas kelopak melati."

Sampai di sini
puisi ini saya sudahi.

Cipayung Jaya
19 November 1998
"Puisi: Politisi Itu Adalah (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Politisi Itu Adalah
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Variasi atas Babad Tanah Jawi


Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17..., di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, "Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan."

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.

Debu kembali ke tanah.
Jejak sembunyi ke tanah.
Sukra diseret ke sana.
Seluruh Kartasura tak bersuara.

Sang bapak menangis kepada angin.
Perempuan kepada cermin.
"Raden, raden yang bagus,
pelupukku akan hangus!"
Justify Full
Apa soalnya? Kenapa aku mereka tangkap tiba-tiba?
Para prajurit itu diam, ketika mataku mereka tutup.
Kuda-kuda bergerak. Aku coba rasakan arah dan jarak. Tentu
saja tak berguna.

Pusaran amat panjang, dan tebakan-tebakan amat
sengit, dalam perjalanan itu.
Sampai akhirnya iringan berhenti.
Tempat itu sepi.

"Katakanlah, kisanak, di manakah ini."
"Diamlah, Raden, tuan sebentar lagi
akan mengetahuinya sendiri."

Ada ruang yang tak kulihat.
Ada gema meregang di ruang yang tak kulihat.

Kemudian mataku mereka buka. Lalu kulihat pertama kali
gelap sehabis senja.

Aku pun tahu, setelah itu
tentang nasibku. Malam itu Pangeran, Putera Mahkota
telah menghunus kehendaknya.

Siapakah yang berkhianat
Kelam atau kesumat?
Kenapa nasib tujuh sembilu
Menghadang anak itu.

"Tahukah kau, Sukra, kenapa kau kuperintah dibawa kemari?"
(Suara-suara senjata berdetak ke lantai)

"Tidak, Gusti."
"Kausangkau kau pemberani?"

Aku tak berani. Mata Putera Mahkota itu tak begitu nampak,
tapi dari pipinya yang tembam kurasakan geram saling mengetam,
mengirim getarnya lewat bayang-bayang.

Suara itu juga seperti melayang-layang.

"Kau menantangku."

Kuku kuda terdengar bergeser pada batu.

"Kau menghinaku, kaupamerkan kerupawananmu, kauremehkan
aku, kaupikat perempuan-perempuanku, kaucemarkan
kerajaanku. Jawablah, Sukra."

Malam hanya dinding
Berbayang-bayang lembing.

"Hamba tidak tahu, Gusti."

Bulan lumpuh ke bumi
Sebelum parak pagi.

"Pukuli dia, di sini!"

Duh, dusta yang merah
Kau ingin cicipi asin darah

"Masukkan semut ke dalam matanya!"

Seluruh Kartasura tak bersuara.

 
1979
"Puisi: Variasi atas Babad Tanah Jawi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Variasi atas Babad Tanah Jawi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Agama


Agama
adalah kereta kencana
yang disediakan Tuhan
untuk kendaraan kalian
berangkat menuju hadirat-Nya.

Jangan terpukau keindahannya saja
Apalagi sampai
dengan saudara-saudara sendiri bertikai
berebut tempat paling depan.

Kereta kencana
cukup luas untuk semua hamba
yang rindu Tuhan.

Berangkatlah!
Sejak lama
Ia menunggu kalian.
 
  
"Puisi: Agama (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Agama
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kepada Penyair


Brentilah menyanyi sendu
tak menentu
tentang gunung-gunung dan batu
mega-mega dan awan kelabu
tentang bulan yang gagu
dan wanita yang bernafsu.

Brentilah bersembunyi
dalam simbol-simbol banci.

Brentilah menganyam-anyam maya
mengindah-indahkan cinta
membesar-besarkan rindu
Brentilah menyia-nyiakan daya
memburu orgasme dengan tangan kelu.

Brentilah menjelajah lembah-lembah
dengan angan-angan tanpa arah.

Tengoklah kanan-kirimu
Lihatlah kelemahan di mana-mana
membuat lelap dan kalap siapa saja
Lihatlah kekalapan dan kelelapan merajalela
membabat segalanya
Lihatlah segalanya semena-mena
mengkroyok dan membiarkan nurani tak berdaya.

Bangunlah
Asahlah huruf-hurufmu
Celupkan baris-baris sajakmu
dalam cahya dzikir dan doa
Lalu tembakkan kebenaran
Dan biarlah Maha Benar
yang menghajar kepongahan gelap
dengan Mahacahya-Nya.
 
  
1414 H
"Puisi: Kepada Penyair (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kepada Penyair
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak pada Suatu Hari Libur

Kadang-kadang
Aku rindu menyatu kembali dengan alam
Mereguk air kelapa dan mendengarkan musik
Angin yang menyentuh dahan
Membiarkan diri dikecup matahari
Dan bulan yang mengarungi awan
Timbul tenggelam

Kota yang hingar
Telah memenjarakan daku
Dari kecintaan. Dan Tuhan
Kendati ada di mana saja
Jangan cari di bawah lampu jalanan
Atau di toko-toko barang imporan
Karena itu aku kembali kepada alam
Dan Tuhan meniupkan musiknya yang merdu.
  
1964
"Puisi: Sajak pada Suatu Hari Libur (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Sajak pada Suatu Hari Libur
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Hujan

Di luar hujan memahat kaca jendela
Di luar hujan membubuhkan warna senja
Di luar hujan membisikkan talking purba
bagi seorang Pemimpin, di hari kemarin
Disalibkan dunia.

1963
"Puisi: Lagu Hujan (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lagu Hujan
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dari Gurun Orang Tartar


Dari gurun orang Tartar,
apa yang diharapkannya?
Dari luas yang mengancam,
apa yang dikhayalkannya?

Di Entah itu, Sancho Panza
kita cuma nunggu.

Jangan, jangan mengeluh.
Berdirilah kau
di dekatku.

Sebab para ksatria hanya tanda:
angan-angan dan epilepsi
yang tak ingin selesai.



2008
"Puisi: Dari Gurun Orang Tartar (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Dari Gurun Orang Tartar
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sehabis Mimpi


Tak seorang akan tahu
kur siapa yang nyanyi
pada sebuah magrib
dalam mimpiku.

Tak seorang akan tahu.

Tujuh orang hitam ikut menangis
untuk seorang gubernur
yang menghilang dengan sebuah tangga listrik
yang berjalan dalam mimpiku

Tak seorang akan tahu.

Aku pun ikut sedih. Hari sudah gelap,
tanah airku. Dan serombongan pemain debus
meramal buruk
tentang perang saudara dalam mimpiku.

Tak seorang akan tahu.
 
 
"Puisi: Sajak Sehabis Mimpi (Karya Goenawan Mohamad)"
Sajak Sehabis Mimpi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orang-orang Miskin


Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kami abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya.
karna orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya terompah dan belacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tidak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu hindarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik jadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
di buku programa gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah:
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim.


Yogya, 4 Februari 1978
"Puisi: Orang-orang Miskin (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Orang-orang Miskin
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Seonggok Jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar …
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kuwe jagung.

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja.

Tetapi ini:

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
"Di sini aku merasa asing dan sepi."


TIM, 12 Juli 1975
"Puisi Sajak Seonggok Jagung (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Seonggok Jagung
Karya: W.S. Rendra