Februari 2008
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Bungkam

Di dalam peti tak terdengar lagi
suara mengaduhmu
hanya tinggal ranjang.

Tanpa tepi
jendela tanpa rupa hari-hari
namun di luar tidur, perjalanan hamper
usai
mengekalkan sunyi
lalu dalam terjaga
ada dinding menyekat
mimpi kita
-pandanganmu betapa jauh
memisahkan rindu
dari kesendirian dunia.

1987
"Puisi: Nyanyian Bungkam (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nyanyian Bungkam
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Gua Niah

Orang Semandin dalam angin
panas api jadi dingin.

Tak mantra segaib mantramu
aku datang ngidung mantraku.

Tak kata seelok katamu
aku datang dengan bunga kataku.

Orang Semandin setia menjaga gua
orang Semandin setia getarkan mantra.

Sentuh sesaji terlindung dinding batu
sambut burung walet pulang sarang.

Hadirkan pesona purba dunia wingit
setiap senja menjelang magrib.

Orang Semandin salami jiwa
orang Semandin ajari makna setia.

Serawak
November, 2008
"Puisi: Membaca Gua Niah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Gua Niah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Monolog Burung Lelayang

Mendengar gemerisik kami terbang
semesta jadi hampar tualang
tapi manusia merampas ulang
sarang walet
serat kehidupan.

Cericitnya tak pernah henti
berontak jiwa dengan bahasa tak kita mengerti

Kami pewaris sah kerajaan gua purba
harus relakan sarang-sarang diambil
selagi cinta menetas dalam gigil
sarang walet
serat kehidupan.

Sarawak
November, 2008
"Puisi: Monolog Burung Lelayang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Monolog Burung Lelayang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Gua Kain Hitam

I
Menyimak gua kain hitam
terbayang yang berdendang di Tanjung Baram
terbayang bias pendar sungai Tinjar.

Memandang jalan setapak selepas hujan
menyatu baying rimba dan gua kain hitam.

II
Membaca garis purba warisan
menyatu masa silam dan masa depan
orang-orang gaib bisiknya menyatu bisikku
hidup harus dipagari dalam abad yang tak henti.

Orang-orang dalam baying tiupkan hawa misteri
senyum arifnya perjuangan diam.

Serawak
November, 2008
"Puisi: Membaca Gua Kain Hitam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Gua Kain Hitam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan Gaib di Tikungan Musim

Musim basah selimuti kota
jalan raya jadi bengawan
kampung jadi telaga
murung membelit menyabit
senja gelap simpan hujan
pesannya dibawa angin November

Nusantara itu mutiara kehidupan
karunia kemukjizatan 
di atas bumi hutan-hutan ayu
pulau-pulau pasir kemilau
di dalam bumi tembang-tembang elok
simpan harapan masa datang
kalau saja dilestarikan
Nusantara kembali jaya
sampaikan apa yang harus disampaikan
pada para ulee balang, petinggi dan ondoafi
tebang hutan tak sepanjang musim
sisakan dalam kehidupan windu

Cucu Ki Suto Legowo termangu
pesan gaib mengurai kalbu.

Bogor
November, 2008
"Puisi: Pesan Gaib di Tikungan Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Gaib di Tikungan Musim
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Orkestra Jengkerik

Sejuta jengkerik desir bersama
dalam orkestra gaib di kota tua
getarnya lelapkan detak jam di Cilegon K.8
dan Serang kisahkan erang orang-orang terbuang
ketika senja merupa bias pualam
ketika mantra dan doa mulai dilisankan.

Nyi Ageng tolong beri angin
untuk meniti orang-orang mati langkah
saat taman sari dijarah angkara
dan hidup berubah musim prahara

malaikat penjaga kota tua terus bisik nada-nada
dan sejuta jengkerik desir bersama
Cilegon sunyi hantar bisik-Nya
"Semua kata dan sketsa kembalikan pada-Ku
mozaik dunia hanya se-Serat waktu
jika saatnya pasti bekerja Hukum Semesta-Ku"

Cilegon
Agustus, 2008
"Puisi: Dalam Orkestra Jengkerik (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Dalam Orkestra Jengkerik
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hampir Malam di Bukit Balam

Suara murai
saat mentari jingga
zikir angin lembah
saat bunga mekar merah
langit semakin kelam
menyapa kelepak balam
cepatnya pagi ke malam
kelana menuju 8 arah
berhenti di tempat kepak singgah
dunia penyair rindu dedaun
daun pandan
daun perdu
daun harapan
daun kata-kata
daun imaji
selalu ada pertarungan
lusa dan selanjutnya.

Nglerep-Ungaran
Agustus, 2008
"Puisi: Hampir Malam di Bukit Balam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Hampir Malam di Bukit Balam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Batu-Batu di Lereng Bukit

Batu-batu di lereng bukit menyapa
siapa mengumbar suara malam-malam
kejutkan burung balam
kejutkan baying pohonan
kejutkan mimpi Wong Lerep yang keburu padam
sembunyikan pedang berkarat tak terbilang
sembunyikan pengkhianatan dalam diam.

Sisa-sisanya menyatu pendar cahaya
pun menyusup di semburat mentar pagi
serat-seratnya menyatu di batu lereng bukit
masih terasa getar merdeka di sini
meski di langit tak bulan malam ini
selain gigil angin bukit Ungaran
perlahan memintal angan-angan
para saudara yang berdatangan
mengusung hasrat perubahan

Perempuan El Naan masih setia menunggui
sepanjang malam dan siang
mengeja aksara purba di batu dan hatimu.

Ungaran
Agustus, 2008
"Puisi: Membaca Batu-Batu di Lereng Bukit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Batu-Batu di Lereng Bukit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan Para Peziarah Cinta

Di lelangit gua Selomangleng
di lereng gunung Kelud berkabut
di raibnya telaga raya-tak ada
ramalan itu adakah tersangkut
di angka-angka berhala rimba beton
terwujud dalam keriput hari
orang-orang usiran
orang-orang usiran
orang-orang hilang kata
orang-orang peziarah cinta

: langit hitam wingit kelam
benarkah tak purbani tak purnama
benarkah tak merpati tak garuda
orang-orang terus bertanya kepada gema
suara digulung gaung jagad maya
pasti Sri Prabu sisakan welas asihnya
pasti Sang Sakti tinggalkan bersit ramalannya
mungkin di lelangit goa Selomangleng
atau di baying langit Kelud berkabut.

Para peziarah cinta
menghela perjalanan sepanjang usia.

Kediri
Juli, 2008
"Puisi: Perjalanan Para Peziarah Cinta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan Para Peziarah Cinta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan dari Lereng Kelud

I
Sesaat resapi
indahnya pesan purbamu
sesaat maknai
getar haru pemahamanku
tertegun menatap angin
berabad simpan bayangmu
bayangmu, Sri Prabu
terdengar suaramu memanggil
kudatang dengan sendi simpan gigil
lalu menarikan kehidupan
di bawah matahari yang temaram.

II
Sesaat menari dalam sukma kembara
di tanah pasir, di gigir gunung, di bantaran
mengeja makna hari
yang pernah kau tandai
sang waktu setia mengiring langkah
yang lelah didera windu
musim simpan mawar buat si sabar
perempuan yang mimpinya ambyar
terdengar bisik purbamu:
"ambil batu hitam itu!"

Kediri
Juli, 2008
"Puisi: Catatan dari Lereng Kelud  (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan dari Lereng Kelud
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sepotong Batu Kelud

Sepotong batu di Lereng Kelud
menguat makna celah misteri
abu-abu kehitaman
benarkah sembunyikan getar gebu
karena telah janji setia pada sri prabu
diantara celah abad
diantara misteri takdir dan nasib
musim-musim berlari sendiri
memanggili berjuta nama tersisa
di dinding-dinding purba
tersisip akhirnya dalam sepotong batu
di tanganku ruhmu menyapa:
simak, ingsun sembunyikan windu penuh karat
kupenjara ruhnya sampai bertobat
kau pasti cucu suto legowo yang lama luka
bermantralah ingsun sambut tanganmu
angin berhembus di lereng kelud, lembut
kubisik pada batu hitam kelabu
aku mau hidupku tak batu
aku ingin hati ku tak batu
kutimang SANG yang tembus ruang dan waktu.

Lereng Kelud,
Juli, 2008
"Puisi: Sajak Sepotong Batu Kelud (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Sepotong Batu Kelud
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di antara Getar Ilalang

Menatap gunung berasap
menghitung ilalang di tebing
sepanjang anak tangga tak teraih
suara andika kudengar nyata
menghembus gunung cadas menutup telaga
ilalang meliuk kirim sasmita
langit meredup awan diam
panorama menyusup dalam jiwa :
bicaralah tentang kearifan langit
ajarkanlah tentang kearifan langit
ajarkanlah tentang kesabaran bumi
lama menanti bangkitlah sang resi
Sang sidik yang arahkan getar nadi
menuju muara hati nurani.

Masih menatap gunung berasap
getar ilalang mengirim tambang
langkah terhenti oleh nyeri sendi
saat ruhku menyapamu
seakan berdiri di gapura candi
lalu siang merayap waktu.

Lereng Kelud
Juli, 2008
"Puisi: Di antara Getar Ilalang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Getar Ilalang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tembang Kasmaran 84 Purnama

Kembara tanah selatan
menahan nafas menyimak teratak tua
dari balik dinding muncul sosok aneh
menghela bayang - bayang
pelan diletakkan di ujung kaki lelaki
nampak kembali bayang memanjang
lelaki tertegun dan kasmaran
menyapa: izinkan aku bermukim
menunggu teratak menjaga musim
meski utara pernah mbalelo pada selatan
mari kita bangun jembatan pelangi
angin laut kita jadikan penepis maut 
perang dulu kita catat jadi sejarah baru
musim - musim mereka ikat jadi Satu
baru 84 purnama tembang kasmaran itu
hadir sosok durga menebar jaring
lelaki tanah selatan kena gendam
sumpah dan janji diingkari
cinta dan setia dikhianati 
sejarah anak manusia berulang kembali.

Bogor, 2008
"Puisi: Tembang Kasmaran 84 Purnama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Kasmaran 84 Purnama
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Jam di antara Hujan

Sebusur abad
seruas abad
tak lagi belenggu melekat
alihnya musim itu
selalu berupa nyanyian waktu
dalam nada-nada berat
garpu tala mengetuk lambat
pada sendi-sendi berkarat
o, detik-detik yang jimat.

2006
"Puisi: Catatan Jam di antara Hujan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Jam di antara Hujan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan Gaib Bulan Raya

Suaranya mengusap malam:
perempuan pemilik seribu musim
di jejak kakimu kusimak berita waktu
masa depan lama sudah kutitipkan
yang bagimu sebagian masih angan-angan
kucoba menerka seribu kemungkinan
tiap angina siang bertiup lalu diam
sembunyi dalam dukamu panjang
karena banyak kehilangan
jangan hapus getar dering kereta kuda
dari kota ini segala bermula
doa dan mantera
kusimpan berjuta salam perempuan sederhana
yang setia usung beban kehidupan
menuju pasar-pasar kota
menjaring-jaring berkah Gusti
hari itu telah mengendap dalam sekali
di dasar kaldera purba
antara cinta, mimpi dan perjuangan
perempuanku, penjaga taman pemilik malam
tak alas kaki berjalanlah arah selatan
sapa langit sesudah hujan
sudah kau sentuh hulu keris bertatah intan.

Batas Kota
Januari, 2007
"Puisi: Pesan Gaib Bulan Raya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pesan Gaib Bulan Raya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
 Catatan Ruwat Ari-ari Kartini

I
Di antara lintas cahaya
mekar bunga-bunga misteri-Nya.

Syukurku atas segala keindahan
yang kau siramkan ke haribaan bumi
yang menumbuhkan bibit sari kehidupan
yang membuat semi segala tunas
yang membuat mekar segala bunga

di jagad nyata
di jagad maya.

II 
Kurasakan
makna kehadiranmu, ibu
kugenggam mutiara dan melatimu
dalam setiap gerak langkah
ikuti jejak tapak yang kau petakan 
dalam jiwa mekar sekuntum bunga misteri
mekar di antara lintas cahaya
mekar di antara kelopak suci atas ari-ari
ku hantar dengan zikir doa dalam ruwatan

jadilah tembang dan gurit
sembuhkan segala rasa sakit.

Mayong-Jepara
April, 2008
"Puisi: Catatan Ruwat Ari-ari Kartini (Karya Diah Hadaning)"
Catatan: Ruwat Ari-ari Kartini
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menemukan Jejakmu

Menemukan jejak bunga kota kelahiran
seakan merasakan hangat nafasnya
mengisap tanjung, soka putih dan melati 
seakan menampak kelebat wiru
dalam hiruk pikuk pembaruan 
suaramu mengelus jiwa kepompong
para perempuan tak perkasa namun sombong.

Menemukan jejak purnama di langit purnama
dalam lintas awan di bayang malam
April menyimpan gigil 
ritualan telah memanggil
sang resi, sang wiku, sang pertapa
andika yang berdiri di gapura 
terimalah tembang jiwa 
yuk warih memercik daya
menepis sungkawa.

Sudah sun dengar semuanya
gurit langit tembang dendang doa mantera
tabir kabur jadi terang
teduh damai
segala rimba
gunung dan padang.

Jepara
April, 2008
"Puisi: Menemukan Jejakmu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menemukan Jejakmu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesaksian Linggarjati

Musim telah menjadi windu
windu telah menjadi abad
sirnakan pedang berkarat
dari perjanjian penuh tipu muslihat
hidup adalah kesadaran membela kebenaran
hidup adalah kesetiaan menjaga jati-diri
zikirkanlah sepanjang sejarah
kata-kata yang bertuah
hidup harus 'dipagari'
bangkitlah karena harus bangkit
bangkit dari jatuh yang sakit
jangan ulang bangsa tertipu lagi
Linggarjati jadi saksi
janji wong asing sebatas wacana
sembunyikan hasrat khianat
Linggarjati sejuta arti
jangan lupa sumpah merdeka atau mati
jangan ternoda makna hakiki
bangkit bukan sekadar bangun
bangkit bukan sekadar melangkah
bangkit adalah sadar sepenuhnya
bangkit adalah waspada segalanya
jika lupa sekata makna
akan linggarlah sang jati diri
akan hilanglah sesungguh-sungguh eksistensi
Linggarjati sanepa bangsa pernah didustai
jadikan Linggarjati kini penyadaran
untuk meraih pencerahan, seabad kebangkitan bangsa.

Mei, 2008
"Puisi: Kesaksian Linggarjati (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kesaksian Linggarjati
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mozaik-Mozaik Putih

Seribu melati kami petik hari ini
menjadi mozaik sepanjang April, Kartini
putih warna,
putih makna,
putih cinta,
mata kami masih nyalang menatap cakrawala, Kartini
dan nyalang menatap tentang dirimu
api dan cinta yang menyorot dari matamu
kasih dan harum bunga yang mengembun dari jangatmu
kami sadap bersama sorot pertama matahari
ketika segenap jiwa kami tengah dalam puncak gelora

Kartini, biar saja prahara membunuh matahari
Kartini, apimu penerang hari ini
Kartini, apimu seribu matahari bagi kami.

Jakarta, 1978
"Puisi: Mozaik-Mozaik Putih (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mozaik-Mozaik Putih
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Sebuah Nama

Jepara yang tersenyum
Jepara yang menangis
Jepara yang sepi dan sendiri
Jepara yang menyunting melati
adalah dirimu di sana
Kartini, kau usik angin lautnya
Kartini, kau singkap biang lala
dan memekik nyaring kau menuding
hai wanita penyandang suci tubuhnya
jadikan kota ini pedang pusaka
bermata api
berhulu saga
menyatu dalam seribu kerja.

Jakarta, 1978
"Puisi: Tentang Sebuah Nama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Sebuah Nama
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Merah

Ada apa di kaki bebukitan?
Biri-biri dan petani saling peluk
membagi duka sepanjang musim
bicara cuma dengan kedip mata:
Oi padi, oi rumput semi
berpeluklah bersama kami
merah langit hari ini
merah pula matahari
merah bebukitan
merah pula tubuh keringatan
adakah karena murka Tuhan?
Di kaki cakrawala
perahu dan nelayan saling pagut
membagi tangis sepanjang tahun
berberkayuh cuma dengan nafas keluh:
Oi ikan, oi bayang pelangi
berpeluklah bersama kami
merah langit hari ini
merah pula matahari
merah cakrawala
merah pula duka-duka
adakah karena sesaji kurang lengkapnya?
Hari ini biri-biri dan petani pulang baring
di otaknya hari-hari pun berpusing
hari ini perahu dan nelayan pulang hening
di pintu rumah si bungsu yang lapar jatuh terguling
merah bebukitan
merah cakrawala
merah-merah-merah
di pelupuk mata menggenang darah.

1979
"Puisi: Sajak Merah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Merah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Mutiara dari Utara

Yang bicara lewat ombak-ombak pantai utara
menindih deru angin yang berhembus
dari arah benteng kuno barat penjara
yang berseru tentang belenggu dan gelap itu
juga tentang kebebasan dan surya benderang
kau juga adanya, kau juga adanya

Ibu berbunga putih di kenangmu
yang menatap tanpa kerjap
adalah kami di sini masih bernyanyi hari ini
adalah kami di sini masih berbaris hari ini
ada api ada melati
dalam mata dalam hati
kau lihatlah, ibu mutiaraku
tangan-tangan kami bergenggam dalam padu.

Hari ini kembali kenangan kami menyatu
tentang ombak-ombak yang menyapu kota kecil itu
yang menebar galau duka-duka wanita
yang menjadi cungkup nasib sekian lama
betapa itu pun tak membuatmu sembunyi
di balik pilar-pilar puri Jepara
tapi menghela langkahmu mencari
kami, perempuan-perempuan rindukan cahaya.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Mutiara dari Utara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Mutiara dari Utara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Selamat Malam, Cakranegara

Malam bersalam lewat ketipak kuda
andong tua menawarkan keramahan
mengantar lelaki yang bosan kegaduhan rakyat.

Lelaki memikir dan beridentifikasi
disalaminya kusir tua menyimpan hari dalam keluhan
yang menggenggam kendali dengan setia
seratus rupiah saja, pak, sampai ke Bale Murti
segala souvenir bisa anda nikmati, katanya
lantas berangkat dan bicara bagai sahabat lama

Kusir tua terhenyak dalam renungnya
inilah warna baru kehidupan?
senyum lega dan perut istri identik lembaran uang

Semoga Gusti tahu saja, bisiknya
dan selamat malam Cakranegara.

Jakarta, 1980
"Puisi: Selamat Malam, Cakranegara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Selamat Malam, Cakranegara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Burung-Burung Gagak di Atas Tanah Retak

Colo, Colo, seribu duka
jadi warna merah di langit
matahari jadi kepingan bola api
pijar dan keji
Una Una Pak Tua bungkuk runduk tersuruk
sempat ditelannya segugus kesombongan
anak negeri tanah ini
Colo, Colo, sisa keangkeran
cengkeramkan orang
perut-perut merangkak dalam otak
diburu burung-burung gagak
dan ‘rang kota kirim doa-doa retak
dan ‘rang kota kirim rasa-rasa koyak
dan eak-eak jadi kerak.

Lidah-lidah bengkak
kelopak mata bengkak
bayi-bayi bengkak
jompo-jompo bengkak
takut dipatuk burung-burung gagak
sementara di jantung kota
pekik merdeka menggema galak.

Jakarta
Agustus, 1983
"Puisi: Burung-Burung Gagak di Atas Tanah Retak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Burung-Burung Gagak di Atas Tanah Retak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak-Anak Kota Kelahiran

Laut menagih ombaknya
lama kau simpan ikut langkah
pengembaraan, musim ke musim
menunggu angin bangkiti dari nafasmu
pohon-pohon tua penjaga gerbang kota
lama tak lagi gugurkan daun dan bunga
segalanya telah dibekalkan dulu
saat matamu membakar langit
begitu langkah tinggalkan kota
kau ada di mana-mana
di bukit-bukit dan di langit
sementara laut dan gerbang kota
masih menunggu berita tualangmu.

Bintaro, 1986
"Puisi: Anak-Anak Kota Kelahiran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak-Anak Kota Kelahiran
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Cinta

Jangan pernah tidurkan semangatmu
jeruji besi juga tak pernah tidur, lelakiku
Soweto masih seperti dulu
ada tangis kanak-kanak di luar rumah
ada isu berkeliaran di jalanan
ada pekik orang-orang penyimpan sayang
ada kembang dalam kenangan panjang.

Jangan pernah baringkan harapan
umur buka jangka pengukur, lelakiku
agar selalu rasa hanyut kota kulit hitam
walau mengubah sand-wich jadi sekam
untuk sebuah kesaksian siap kau telan
di mataku hutan Afrika keriting rambutmu
di mataku langit Afrika kerut dahimu.

Musim-musim dan perjuangan
kunyanyikan
merjan-merjan
di leher kuat
sesungguhnya impian merdeka
bincang dunia.

Tengok keluar setiap cintamu lapar
di langit kulukis merpati terbang
di paruhnya kusemati ranting zaitun
berdaun kuncup cinta anak-anak Soweto
yang bermunculan dari rahim waktu
anak-anak yang tak henti mencari bapa
anak-anak yang tak henti menggapai angkasa.

Jakarta
Juli, 1988
"Puisi: Nyanyian Cinta (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Nyanyian Cinta
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senandung Hutan Kayu Perupuk Kalimantan

Burung-burung hutan tropis
bersarang dalam gerungan mesin
telurnya tetaskan bibit dendam
menangisi kesetiaan pohon-pohon
suaranya luruhkan dedaunan berdarah

Hutan-hutan kayu perupuk
pulau Mandul sungai Pimping
angin membawa senandungnya jauh

Sementara kita tak sempat mencatat
burung-burung hutan tropis
bersarang dalam kerakusan kita
membiarkan lelaki perkasa
tak pernah henti tertawa
hitung angka di langit di para.

Jakarta
Nopember, 1990
"Puisi: Senandung Hutan Kayu Perupuk Kalimantan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Senandung Hutan Kayu Perupuk Kalimantan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Lapar

I
Kubungkam laparku
dengan mengunyah batu-batumu
meminum ombak-ombakmu
menghisap-hisap deritamu.

Kubungkam tangisku
dengan mecucup keluhmu
melulur tulangmu
melantun tawakalmu.

Kubungkam dendamku
dengan diamku
suntukku
karena habis segala pada dirimu
ibuku
ibu dari segala penderitaan
lahir matinya kampung harapan.

II
Ketika Tuan lapar
kuberikan keringat kerja
ketika Tuhan lapar
kuberikan dzikir doa 
ketika cinta lapar 
kuberikan kata setia 
ketika teknologi lapar
ingin kuberikan gunung Muria.

III
Aku lahir oleh musim 
yang menyimpan lapar dunia 

karena laparku bukan lapar siapa-siapa 
maka kumakan laparku 
agar aku hilang lapar

laparku bersumpah akan menjadi lapar abadi 
jika aku memakan bukit dan hutan 
jika aku memakan pulau dan lahan 
jika aku memakan laut dan nelayan 
jika aku memakan kota dan kilang 
aku dan laparku 
'kesetiaan' sederhana.

Jakarta, 1991
"Puisi: Sajak Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Lapar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senandung Tanah-Tanah Dayak

Percayalah kepada musim di tanah ini
percayalah kepada adat turun-temurun
percayalah kepada darah ibu dari hulu
kesetiaan dan kejujuran selalu satu.

Sementara orang-orang berdatangan
menyebar kepongahan merenggut lahan-lahan
dan seorang ketua adat dari daerah pedalaman Ketapang
bersaksi pada satu hari
sertifikat kami adalah pohon durian
dan tengkawang yang
sudah berumur ratusan tahun.

Alam bersaksi kehidupan bersaksi
tapi beraninya orang-orang yang datang
bicara sambil membunuh rasa cinta tanah merdeka
katanya: di Kalimantan tidak ada tanah-tanah adat.

Lalu Rifin Ivon ketua suku dayak punan
bersaksi: lihatlah hutan-hutan kami
dengar senandung dan tangisnya
sungai-sungai penuh endapan lumpur

Air yang dulu jernih oleh rimbun hutan kasih
menjadi air mata perih
di mana-mana pembersihan
Kalimantanku menerawang dalam diam
dibawa arus sungai Ambawang.

Bogor
Juli, 1992
"Puisi: Senandung Tanah-Tanah Dayak (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Senandung Tanah-Tanah Dayak
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Pohon-pohon di Muria

Adalah pohon-pohon hutan
yang tumbuh tak kenal musim
matahari pijar dan membakar
tak halangi bunga dan buah
muncul di celah ranting kehidupan
dan bayi-bayi suci
muncul dari rahim perempuan bersaksi.

Pohon-pohon hijau masihkah bertahan
jika kerajaan radiasi berdiri.

Matahari pagi masihkah bening
jika udara jadi sarang embrio bencana.

Reranting hijau di Muria masihkah semi
jika Lemah Abang bangkit meradang.

Gusti pada-Mu jua kami memohon
selamatkan harmoni lembah Utara.

Bogor
April, 1995
"Puisi: Sajak Pohon-pohon di Muria (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Pohon-pohon di Muria
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Para Sufi

Badai menerjang selat dan semenanjung
hembuskan deru angkara ke lembah dan gunung
orang-orang berlarian sambil mencari alam
bumi meradang 
langit luka 
laut geram.

Di surau pinggir kota simpan damai bernuansa
para sufi menasbihkan doa-doa
kehidupan dan kematian adalah perjalanan
masing-masing perlu sentuhan keindahan
yang hadirkan harmoni semesta agung semesta alit
datanglah ke pinggir kota
di sini ada yang tak pernah dihirau orang
ketenteraman lumut di balik jurang.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Para Sufi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Para Sufi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan darah dan Api Tragedi Semanggi

Inspirasi diusung arah semanggi
bendera-bendera menyapu udara
lagu-lagu mengarak senja
seraut wajah merebak basah :
o, Jakarta, o negeri raya
engkau di lembar dada

Dan tangan saling genggam
dan langkah dirapatkan
ah, siapa awali lemparan batu
telah koyak tanda di baju
ah, siapa awali lemparan api
tersulut bara di dalam hati

Asap mulai menggulung senja
Jakarta menangis jiwa muda teriris
di antara desingan mimis
timah jahanam merejam-rejam
luka keji merobek dada
binasa ada di leher dan kepala

O, anak muda pohon trembesi
kau sunting maut dalam bersaksi.

November, 1998
"Puisi: Catatan darah dan Api Tragedi Semanggi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan darah dan Api Tragedi Semanggi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Zaman Edan

O zaman, yang
berjalan di atas zaman
ketika
hati sulit menjadi taman
ketika
nadi sulit menjadi urat pelangi
kabarkanlah pada dunia
saudaraku
di bumi masih ada mahkota
iman dan taqwa.

O zaman, yang
berlaga di atas zaman
ketika 
segala diputar balikkan
ketika
aksara tak bisa diucapkan
kabarkanlah pada Tuhan
saudaraku
di bumi masih ada durhaka
dan segala rupa berhala.

Juni, 1999
"Puisi: Zaman Edan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Zaman Edan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Abstraksi Jalan Raya

Matahari membakar udara
wajah-wajah aneh
berubah topeng-topeng
ekspresi-ekspresi aneh
berubah dungceng-dungceng
mengalir sepanjang siang
hari ke hari.

Hujan mengguyur kota
orang-orang aneh
menatap udara
sambil mengusap wajah
berteriak parau
sambil menyebut
sebuah nama.

Antara panas dan hujan
langkah-langkah sepanjang jalan
bunga-bunga di tangan
mengulur salam
orang muda 
lahir dari segala pasca
mengusung beban dunia.

Juni, 1999
"Puisi: Abstraksi Jalan Raya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Jalan Raya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Monolog Bagi Sang Raja

Sesungguh-sungguhnya raja
Raja di singgasana
Raja di mimbar kaca
Raja di ruang jiwa
Kawula yang ditelikung papa.

Aksara dalam suara
Tiada yang ragukan
Getarnya sampai ke jalan-jalan
Sentuh lurung-lurung padesan
Disapanya elang kehidupan
Terbang di langit pengharapan
O, sarinya geguritan
Menghantar angin zaman
Desirnya pembaruan
Hembusnya perubahan.

Ia yang simpan cahaya di dada
Terangi senyum kawula
Raja harapanmu
Raja kesetiaanmu
Raja penantianmu
Raja pada langkah
Raja pada arah
Raja pada doa
Kawula yang tersia.

Bogor
Desember, 1999
"Puisi: Monolog Bagi Sang Raja (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Monolog Bagi Sang Raja
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jakarta dan Impian Urban

Langitnya sembunyikan bintang-bintang
dari tatapan para urban
laron-laron yang hanguskan diri
untuk lembar mimpi dini hari
terkemas di antara sketsa Semanggi
masa silam terkupas sendiri
sejarah kini keris tanpa melati
sekuntum kebenaran menyatu embun
mimpi membasuh ubun-ubun.

Anginnya tak henti berbisik
pada rumput gading
di balik jembatan layang menebing
kehidupan yang meruncing
berapa lama lagi menunggu
sambil berjalan di trotoar musim
sementara kehadirannya
baur antara ragu dan diunggulkan
Jakarta sang pesolek
makin biru lebam.

Bogor
April, 2001
"Puisi: Jakarta dan Impian Urban (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta dan Impian Urban
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setelah Membaca Legenda Kalinyamat


I
Selembar catatan tua di rumah kuna
dusun kelahiran para perempuan perkasa
yang pernah dibelenggu jiwa rantai ombak utara
akan datang masanya cerita sesat tak lagi
tetap tataplah langit utara
seorang anak manusia datang membebaskan
citra terpenjara
seratus perang nuju Malaka
delapan pulang sisa kekalahan
terpatri jadi prasasti kebanggaan
tonil dan sandiwara sembunyikan itu di balik tabir
kini telah berakhir dan kenyataan hadir

Ombak masih mengiringi musim
angina masih menyalami pohon mahoni tua
dan menggugurkan bunga tanjung di halaman
doa dan tembang pagi masih dilantunkan
meski muara sungai Wisa tak lagi penuh perahu
arusnya telah terlipat dalam wiru
namun Jepara masih ada
Kalinyamat harumi jiwa


II
Kota terus tumbuh seiring perjalanan abad-abad 
selalu tersisa orang-orang yang membaca macapatan
mencoba menangkap jejak cinta sang ratu
pada serat pelangi di langit kota senja hari
pada gurat relief jati simpan cerita misteri kejayaan

Mengawali wajah dalam cermin kuno di pendapa
terbayang para perempuan dan lelaki penerus
sejarah, penabur benih kehidupan masa datang
genduk Si, genduk Si, lambainya dari balik situs benteng
Portugis tua, jangan henti.

2002
"Puisi: Setelah Membaca Legenda Kalinyamat (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Setelah Membaca Legenda Kalinyamat
Karya: Diah Hadaning