Lelaki di Persimpangan Jalan

Tak ada yang bisa kau lakukan
kata-kata telah khianati aksara
bagaimana mungkin menata ulang
mengalunginya dengan merjan-merjan
karena perhatianmu sebenarnya
buih-buih dalam gelas kaca
yang dituang sambil tertawa.

Lalu malam mengirim angin
menyapamu dengan sentuh dingin
anak siapa sebenarnya dirimu
tembang apa dulu mengiring tidurmu
kau tak mendengar semua itu
karena irama tawa aneh menggelitik sukmamu
siapa titipkan tawa itu hari pertama
kau mengenal nada
tiba-tiba kau marah tapi juga menangis
Jepara tak juga mengirim gerimis
sekadar usap kulitmu.

Kota terbelah
dari rekahnya beterbangan lelawa merah
dari sayap-sayapnya berjatuhan gelas kaca
menumpahkan buih-buih
makin banyak dan menggenang
indahnya, kau berseru ingin berenang
fatamorgana, kau henti ingin meditasi.


Jepara
Agustus, 2003
"Puisi: Lelaki di Persimpangan Jalan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki di Persimpangan Jalan
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top