New York, Musim Panas 1972


Tak ada yang hendak dibuat
aku hanya duduk dan melihat:

Orang berpasangan, duduk-duduk atau berjalan
asyik berbicara, tertawa, berciuman
menikmati kebahagiaan hingga tandas
dalam hidup-serba-terbatas
yang tak pernah merasa puas.

Tak ada yang ambil peduli
pada seorang asing yang termenung sunyi
sepanjang pagi.

Di sini matahari terbit
tapi entah di mana
Di sini matahari terbenam
tapi entah di mana
Sinarnya tak pernah tiba di bumi
tersangkut di gedung-gedung tinggi.

Di sini hidup keras dan liat
besi pun luluh dan cair
tapi hati tak pernah jadi terharu
melihat nasib malang ayah-bunda
terdampar dalam sepi yang ngilu
menanti-nanti akhir usia.

Dan pada malam hari
orang-orang megap-megap mencari
entah apa, entah bagaimana
lalu tiba-tiba berteriak
memanggil dirinya sendiri
yang jauh tersembunyi
dalam kesibukan rutin sehari-hari.

Ada yang bernyanyi
suaranya parau dan redup
menyenandungkan kerisauan hidup
yang dalam lara dan dukana
penuh gairah dan warna
yang memberi arti
akan setiap hembusan udara yang dia hirup.

Ada yang berjalan
ah, mereka selalu berjalan dan selalu bergegas
hendak menangkap setiap saat yang melintas
untuk membuatnya abadi
terpaku dalam ke-fana-an waktu
agar menjadi bukti kehadirannya
dalam hidup yang singkat ini.
 
  
1972
"Puisi: New York, Musim Panas 1972 (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: New York, Musim Panas 1972
Karya: Ajip Rosidi

Post a Comment

loading...
 
Top