Maret 2008
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 8

Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu
kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana?
Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu,
agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata
dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu,
seperti yang sudah dijanjikan sejak purba
ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru
dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya
rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu?
Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat
antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu
dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat.

Mengapa terasa harus ada yang menunggu?
Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 8
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Terbangnya Burung

Terbangnya burung
hanya bisa dijelaskan
dengan bahasa batu
bahkan cericitnya
yang rajin memanggil fajar
yang suka menyapa hujan
yang melukis sayap kupu-kupu
yang menaruh embun di daun
yang menggoda kelopak bunga
yang paham gelagat cuaca
hanya bisa disadur
ke dalam bahasa batu
yang tak berkosa kata
dan tak bernahu
lebih luas dari fajar
lebih dalam dari langit
lebih pasti dari makna
sudah usai sebelum dimulai
dan sepenuhnya abadi
tanpa diucapkan sama sekali.

1994
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Terbangnya Burung
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak-Sajak Empat Seuntai

1
kukirim padamu beberapa patah kata
yang sudah langka -
jika suatu hari nanti mereka mencapaimu,
rahasiakan, sia-sia saja memahamiku

2
ruangan yang ada dalam sepatah kata
ternyata mirip rumah kita:
ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana -
hanya saja kita diharamkan menafsirkannya

3
bagi yang masih percaya pada kata:
diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya -
tapi kapan kita pernah memahami laut?
memahami api yang tak hendak surut?

4
apakah yang kita dapatkan di luar kata:
taman bunga? ruang angkasa?
di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan
di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan

5
apa lagi yang bisa ditahan? beberapa kata
bersikeras menerobos batas kenyataan -
setelah mencapai seberang, masihkah bermakna,
bagimu, segala yang ingin kusampaikan?

6
dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada
huruf yang hilang -
kelak kau pasti akan kembali menemukannya
di sela-sela kenangan penuh ilalang.

1989
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sajak-Sajak Empat Seuntai
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Masih Pagi

Masih pagi begini kamu mau ke mana?
Kemarin kamu bilang sakit,
sekarang pagi-pagi malah sudah bangun,

dan siap-siap pergi.
Wajahmu tampak pucat,
coba saja lihat di cermin.

Kamu tak takut lagi lihat cermin, bukan?
Cermin tidak pernah bermaksud
menakut-nakuti,

sekedar memberi tahu
bahwa kita sudah sampai
di ruas tertentu.

Ya, ketika galur-galur di wajah kita
tampak tambah tegas.
Apa kamu bilang? Tanda sudah tua?

Tentu saja, tapi apa
hubungannya dengan makam?
Siapa yang berhenti?

Maksudku, siapa yang menyuruhmu
berhenti lekas-lekas?
Dan sekarang kamu malah mau pergi.

Ini kan masih pagi.Benar,
katamu cermin semakin menyakitkan,
suka cerewet dan memberi tahu kita

macam-macam yang sebenarnya
tidak kita pahami benar
tetapi yang membuat kita jengkel

sehingga tidak begitu suka lagi bercermin.
Tapi, apa pula urusannya?
Ini masih pagi, kamu mau ke mana?

"Puisi: Masih Pagi (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Masih Pagi
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Akik

Ada sebutir batu akik diletakkan
perlahan-lahan, sangat hati-hati, di hatimu.

Ia sangat tua dan berbintik-bintik hitam
mengkilap setelah puluhan tahun diupam.

Ia ingin seperti layang-layang, tinggi-tinggi
lalu putus dan diperebutkan anak-anak itu.

Ia ingin menjadi surat yang dikirim
ke sebuah rumah yang tak begitu jelas alamatnya.

Tapi ia sebutir batu akik yang diletakkan
perlahan-lahan, sangat hati-hati, di hatimu.

"Puisi: Akik (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Akik
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesadaran

Pada kepalaku sudah direka,
Mahkota bunga kekal belaka,
Aku sudah jadi merdeka,
Sudah mendapat bahagia baka.

Aku melayang ke langit bintang,
Dengan mata yang bercaya-caya,
Punah sudah apa melintang,
Apa yang dulu mengikat saya.

Mari kekasih, jangan ragu
Mencari jalan; aku mendahului,
Adinda kini.

Mari, kekasih, turut daku
Terbang ke sana, dengan melalui,
Hati sendiri.

"Puisi: Kesadaran (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kesadaran
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan ke Surga

Jalan menuju kantor-Mu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku.

2007
"Puisi: Jalan ke Surga (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Jalan ke Surga
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Pemadat

Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu,
hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu.
Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku
sampai menguap di pori-porimu.

2007
"Puisi: Malam Pemadat (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Malam Pemadat
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Selamat Malam, Jenderal

Ia punya tato jenderal di tubuhnya.
Selamat malam, jenderal. Aku mau tidur.
Dengan sigap jenderal kecilnya
segera berkeliling memeriksa tubuhnya.
Kau tak tersiksa tiap malam kuinjak-injak?
Tidak tersiksa, jenderal, malah terhormat.
Dan tidurlah ia, sementara jenderal rindu
yang lucu dan perkasa itu tetap berjaga
sebab siapa tahu berandalan sepi
datang mengobrak-abrik tubuh tuannya.

2007
"Puisi: Selamat Malam, Jenderal (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Selamat Malam, Jenderal
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Demam

Anak lelaki kecil melambai-lambai
dalam ingatan. Ia datang naik sepeda,
menyusuri jalanan kecil di tengah hutan cemara.

Bajunya hijau, celananya hitam,
tubuhnya terlihat ringkih dan ringan,
dan ia bersenandung riang,
kring kring..., sepeda merahnya meluncur pelan.

Awas, jangan melamun, di depan ada tikungan.
Tiba-tiba ia lari dikejar-kejar hujan,
meliuk-liuk menuruni tebing curam,
mau belok ke kiri keliru ke kanan,
oh akhirnya tergelincir ke gigir jurang.

Seperti kudengar suara aduh dari lembah
yang jauh, jeritan waktu dari relung yang dalam.

Dengan kaki dan dahi berdarah,
tahu-tahu ia muncul kembali di atas bukit.
Ia mengayuh sepedanya yang cidera
menuju rumah: si ibu sejak tadi didera gundah.

Setelah minum tiga tetes airmata ibunya,
sakitnya lerai. senja berangkat tidur dengan damai.

2006
"Puisi: Dalam Demam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Dalam Demam
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pembangkang

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Daripada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

2007
"Puisi: Pembangkang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pembangkang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pengamen

Sepuluh orang pengamen menyerbu bus yang sedang lapar
karena hanya diisi seorang penumpang.
Ia orang bingung, duduk gelisah di pojok belakang
membaca peta yang sudah kumal dan penuh coretan.

Para pengamen yang tampak necis dan gagah bergiliran
memetik gitar dan menyanyi lantang kemudian
memungut uang dari penumpang lalu duduk berurutan.
Setelah semua mendapat bagian, gantian si penumpang berdiri
di depan lantas bernyanyi dan bergoyang.

Bahkan para pengamen berwajah seram terheran-heran
lantas bertepuk tangan karena penumpang itu
ternyata dapat menyanyi lebih merdu dan menghanyutkan.
Selesai melantunkan beberapa tembang, ia memungut uang
dari para pengamen lalu berteriak stop kepada sopir kemudian
melompat turun sambil melepaskan pekik kemenangan:
“Hidup rakyat! Hidup penumpang!”

2001
"Puisi: Pengamen (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pengamen
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penagih Utang

Penagih utang itu datang tengah malam.
Ia duduk dengan sopan, kedua tangan ditangkupkan,
baju batiknya yang murahan tampak terlalu kedodoran
untuk tubuhnya yang kurus dan kusam.

“Langsung saja, ada perlu apa?” aku menghentak.
Ia terperangah, badannya mengkerut, dan kopiahnya
yang longgar seakan bergeser dari letaknya.
“Maaf, kalau tidak salah ini sudah jadwalnya.”
“Jadwal bayar utang, maksudnya? Sabarlah, saya sedang
banyak keperluan. Bapak lihat sendiri brankas saya
sedang ludas, kolam renang belum selesai saya perbaiki,
toilet baru akan saya lapisi emas, isteri belum sempat
saya tambah lagi. Mohon pengertian sedikitlah!”

Tamu itu berkali-kali minta maaf, kemudian permisi.
Sebelum meninggalkan pintu, ia sempat berbisik
di telingaku: “Tidak bikin keranda emas sekalian Pak?”
“Dasar rakyat!” dalam hati aku mengumpat.

Entah mengapa, setiap kali melayat orang meninggal
aku selalu melihat penagih utang itu menyelinap
di tengah kerumunan. Ia suka mengangguk, tersenyum,
namun saat akan kutemui sudah tak ada di tempatnya.
Tahu-tahu ia muncul di kuburan, melambaikan tangan,
dan ketika kudatangi tiba-tiba raib entah ke mana.

Dan orang kaya yang banyak utang itu akhirnya
mati mendadak persis saat sedang mencoba keranda emas
yang baru saja selesai dibuat oleh ahlinya.
Mewakili para pelayat, bapak tua berbaju batik itu tampil
menyampaikan kata-kata belasungkawa.
Dalam sambutan singkatnya antara lain ia mengatakan
bahwa kematian tragis almarhum tetap tidak dapat
menebus utang-utangnya. Namun ia mengajak hadirin
untuk mendoakan arwahnya, memaafkan segala salahnya,
syukur-syukur bersedia ikut menanggung utang-utangnya.

2001
"Puisi: Penagih Utang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Penagih Utang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yang

Perjalanan nasib saya tak dapat dilepaskan
dari pesan-pesan indah yang dinaungi kata yang.

Pesan ibu: Yang kauperlukan hanya tidur
yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah.
Pesan hujan: Yang tumpah akan menjadi berkah.
Pesan jalan: Yang jauh akan tertempuh
asal kau sabar mengikutiku selangkah demi selangkah.

Dalam untung dan malang saya selalu teringat
pada kelembutan kata yang. Dan setiap memandang
kata yang, saya merindukan seorang ibu
yang sabar menuai hujan sepanjang jalan.

Berjalan bersama yang kadang memang
terasa lamban dan membosankan, lebih-lebih
jika hidupmu selalu diburu-buru oleh tujuan.
Kau dapat saja mengatakan, "Yang kauperlukan
hanya tidur cukup, pikiran jernih, dan hati pasrah."

Kali lain, tanpa yang, perjalananmu terasa
garing dan tergesa. Karena itu, kau lebih suka bilang
"Aku berlindung pada matamu yang polos dan bibirmu
yang lugu dari godaan rindu yang menggebu"
ketimbang "Aku berlindung pada mata polos
dan bibir lugumu dari godaan rindu menggebu".

Berjalanlah. Jika hatimu macet parah dan endasmu
mau pecah, berserahlah pada kelembutan kata yang.

Pesan ranjang: Yang dedel-duel dalam perjalanan
akan disembuhkan oleh tidur yang cantik dan ramah.

2016
"Puisi: Yang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Yang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mas

Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.

Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin mengajakmu
duduk-duduk di bangku yang menghadap ke laut.
Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair
yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.

Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah
dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggilnya:
"Ke sinilah, mas, jangan mandir-mondar melulu."

Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya:
"Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah 
kanan saya." Ia sedikit terperangah: "Apa bedanya?"
"Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram.
Kanan: belahan jiwa saya yang panas dan berbahaya."

Diam-diam mas memeluknya dari belakang dan berbisik
di telinganya: "Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja.
Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu
yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi."
Perempuan itu merinding dan menjerit: "Maaasss...."

Pantai dan bangku mulai hampa. Senja yang ia panggil mas
lambat-laun sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.

2008
"Puisi: Mas (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mas
Karya: Joko Pinurbo