April 2008
Aku Baru Saja Mengepel Lantai

Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor lagi oleh telapak kakiku. Di dalam kamar, aku lihat tubuhmu telah menjadi genangan air yang dasarnya tak bisa kulihat lagi. Bagaimana aku bisa memelukmu kalau tubuhmu telah menjadi air? Bagaimana aku bisa menciummu kalau keningmu telah menjadi air? Aku pikir aku harus menjadi ikan agar bisa berenang di dalamnya. Tapi aku bukan ikan. Ikan juga berpikir dirinya bukan diriku. Ikan tidak bisa mengepel lantai dan berjalan dengan ujung jari-jari kakinya. Aku juga berpikir aku tidak bisa dipancing seperti ikan lalu dijual di pasar lalu digoreng. Ikan juga berpikir tidak terbayang ada yang mengepel dan suara tangisan di dasar laut. Aku juga berpikir tidak mungkin ada kehidupan ikan di dalam pikiranku.

Aku bukan laut. Aku yakin aku bukan laut. Ikan juga tak akan pernah percaya bahwa akhir hidupnya ada dalam tubuhku. Tetapi aku tetap memelukmu. Lalu aku memelukmu. Dan aku memelukmu pagi itu. Lalu aku tenggelam. Dan aku tenggelam. Hati-hati, biarkan aku tenggelam. Biarkan aku menjadi air untuk memanggilmu.

2008
"Afrizal Malna"
Puisi: Aku Baru Saja Mengepel Lantai
Karya: Afrizal Malna
Daftar Indeks

Dan berjalan. Dan tidur. Dan melupakan. Dan menyapu. Dan makan. 
Dan mengambil jemuran. Dan memotret pernikahan orang lain di 
sebuah kafe di Shanghai. Dan membaca. Dan memotong kuku. Dan 
memotret kucing kawin di rumah Lely. Dan menengok kuburan 
temanku di surabaya. Dan anaknya sudah kuliah. Dan anaknya men
girim sms, siapa bapakku? Dan anaknya tidak tidur dalam kamar 
ibunya. Dan namanya Dya Ginting. Dan membakar sampah. Dan 
memotong rumput. Dan mengambil kantong plastik yang dibuang 
orang di pinggir jalan. Dan mencium anak anjing. Dan menengok 
teman yang menangis di depan laptopnya. Dan ingin hidup dalam 
suara Maria Callas. Dan tak punya uang. Dan menunggu honor dari 
puisi. Dan bertemu mayat Caligula dalam bahasa. Dan mandi. Dan 
ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah mengatakannya.

"Afrizal Malna"
Puisi: Daftar Indeks
Karya: Afrizal Malna
Kucing Berwarna Biru

Sudah tiga malam ini seekor kucing sakit, selalu tidur 
di depan pintu rumah saya. Ia mengeluh dan mengerang. 
Suaranya seperti keluar dari rumpun gelap di halaman 
rumah. Kadang seperti makhluk halus yang sedang 
membuat perjanjian dengan pohon nangka di halaman 
rumah saya. Orang bilang kucing itu kena teluh. Saya 
mencoba mengusirnya. Tetapi kucing itu menatap saya 
seperti mata ibu saya. Katanya, dirinya adalah roh saya 
sendiri yang sedang sakit. Ia mohon agar bisa tidur 
dalam kamar saya. Saya tak tega mengusir kucing itu.
Bulu-bulunya seperti kenangan saya pada kasih sayang.

Malam berikutnya saya mulai terganggu. Keluhnya 
berbau darah. Ia mulai menginap dalam pikiran saya. 
Setiap malam, seperti ada rumpun gelap dalam diri saya, 
menyerupai kucing yang sakit itu. Suara gaib di depan 
pintu. Setiap malam, seperti ada pohon nangka yang 
berjalan-jalan dalam tubuh saya, menyerupai kucing 
yang mengaku sebagai roh saya yang sedang sakit itu. 
Akhirnya saya membunuh kucing itu. Menjerat lehernya 
dengan tali plastik. Matanya seperti kematian yang 
mengetuk kaca jendela.

Besok pagi saya temukan mulut, telinga dan lubang 
hidung kucing itu telah mengeluarkan tanah, berwarna 
merah. Rumput-rumput tumbuh di atasnya. Saya lihat 
ikan-ikan juga telah berenang dalam perut dan tengkorak 
kepalanya. Dan seperti seluruh surat kabar, matahari 
tidak terbit pagi itu.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: Kucing Berwarna Biru
Karya: Afrizal Malna
Le Poete Maudit
(Buat Saini K.M.)

Mengurung diri dalam tungku
Dibakar cinta dan rindu
Api memercik dari setiap tetes darah
Tubuhku yang luka. Dan iman pun menyala
Di tengah hamparan gurun tak bernama

Pasir-pasir hanyut
Dalam sujudku. Batu-batu
Tumpah
Mataku buta oleh tangis seratus tahun

Pada puncak tiang salib
Gairahku menari. Gerobak sejarah
Lewat
Menyeret Sodom dan Gomorah

Kata-kata mengalir
Dari setiap desah napas
Tahajudku. Dan iman pun membara
Mengobarkan pertempuran tanpa akhir:
Kematian melahirkanku kembali, mengulangku
Berkali-kali.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Le Poete Maudit
Karya: Acep Zamzam Noor
Kepada Ria Soemarta

Menggapai tepi cakrawala
menggoretkan namamu di udara

Melepaskan hari senja
ketika bintang-bintang memasang nyala

Sepi semesta jiwaku
meniti perjalanan puisi

Hari-hari yang lusuh
jatuh bersama keringat di tubuh

Kata-kata tanpa makna ini:
untukmu hidupku terbuka.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kepada Ria Soemarta
Karya: Acep Zamzam Noor
VOC

Melintas di Rijswijk dalam lompatan kuantum serasa
Siapa bila yang menetapkan nama rentang ini Djalan Segara
Dalam lalu lintas antara sepenuh warna dan gambar sepia
Tersebutlah VOC yang tidak semata singkatan nama
Vereenigde Oost Indische Compagnie. Dari abad lama
Simakkan telinga derap kereta kuda di jalan berbatu kota Batavia
Beralih tiba-tiba adegan kemacetan kendara di Jakarta Kota
Kantor VOC arsitektur Eropa begitu kukuh dahulu kala
Pelahan fade in berubah rupa jadi Bina Graha
Dengan konstruksi sebuah republik khatulistiwa
Tampak depan kantor dagang kekar bentuknya
Tampak dalam kukuh formasi serta fondasinya

Lalu elang laut melayang dari muara sungai ke pelabuhan
Dan kawanan unggas berhinggapan dari hutan ke perkebunan
Nyanyian perdagangan, reglement, di belakangnya popor senapan
Semua hasil bumi, rempah dan belasting dihisap ke pusat di Batavia
Berkat raja-raja Jawa, kapiten Cina serta centeng kota dan desa
Sesudah ditabuh genderang perdagangan sebagai panglima
Dan politik jadi hulubalang pengawal sangat setia
Kalam berdawat mencatat kolom kiri-kanan dan jelas saldonya
Kapal laut layar-banyak, memuat jarahan menyeberang samudera
Abad lewat abad, bangunan demikian kokoh ajaib roboh
Keropos di dalam, tipu-menipu, saling mencopet sesama Belanda

Elang laut lihatlah kembali melayang dari muara sungai ke pelabuhan
Kawanan unggas berhinggapan dari hutan ke perkebunan
Belibis tegak-tegak di kawasan kilang minyak, putih sangat bulunya
Semua hasil bumi, tambang dan pajak dihisap ke pusat di Jakarta
Lintah raksasa saksikan berdenyut-denyut sedotan darahnya
Daerah asal dibagi hasil seujung jari kelingking kaki kirinya
Bina Graha yang bakhil kedekut, puncak tamak gurita loba
Kuasa Raja Jawa, juragan Cina, bisnismen bermacam bangsa
Maskapai seribu-muka spesialis dalam mematok tarifnya
Nyanyian perdagangan dan regulasi dipahatkan di popor senapan
Excel mencatat setiap fluktuasi harga dan jelas gergasi labanya
Lewat jaringan saiber jarahan melesat pindah tak tampak mata
Bertalu ditabuh genderang perdagangan sebagai panglima
Dan politik jadi hulubalang pengawal sangat setia

Dekad lewat dekad, bangunan demikian kokoh ajaib roboh
Keropos di dalam, tipu-menipu, hutang menggunung tanpa malu
Kantor abad lama VOC pindah ke abad baru Bina Graha
Kendali politik negara berbanding lurus kalkulasi bunyi sipoa
Tak peduli gulden namanya atau pula sebutlah rupiah
Belanda kah Melayu kah, bila berkuasa sama payah serakah
Di depan gardu seorang pejalan kaki lihatlah dia meludah.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: VOC
Karya: Taufiq Ismail
Mikrofon

Aku lihat diriku berubah
di depan mikrofon.

Kukira aku bisa jadi merak
yang sanggup mengibarkan empat warna bulu
kiranya aku cuma tokek
dengan vokal yang bikin orang kesal.

Aku lihat diriku berubah
di depan mikrofon.

Sering kurasakan diriku
seperti seekor kadal yang ingin terkenal
tapi kadang-kadang mirip burung beo
dengan cara berdiri dan bicara
yang senantiasa salah tingkah.

Aku lihat diriku berubah
di depan mikrofon.

Di depan orang banyak aku jadi domba kampung
yang memperindah-indah bahasa
atau monyet genit yang lebar hidungnya
tapi yang paling sial adalah
ketika aku terjemahkan diriku
jadi babi yang lupa diri.

Di depan mikrofon
pada hari Senin aku jadi burung merak
Selasa tokek, Rabu bengkarung, Kemis beo,
Jum'at domba, Sabtu monyet dan Ahad babi.

Sepanjang minggu dalam diriku telah kuciptakan
sebuah kebun binatang.

Aku ingin bertanya pada angin
bagaimana cara dia
menghadapi mikrofon ini.

1992
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mikrofon
Karya: Taufiq Ismail
Turun Malam

Sebuah lembah di depan, sungai menggeliat di perutnya
Di tepi hutan pinus sejenak kita istirahat
Ialah biru yang sepotong, awan menggumpal berkejaran
Gunung benteng terakhir mendukung senja

Matahari terbakar dalam api yang sepi
Garis-garis angin mengucapkan selamat malam
Ke tengah kami tiga regu infanteri
Dalam derap bening akan memasuki lembah

Ada bintang mulai kemerlap membisik cahaya
Sebuah kota di bawah kabut yang jauh
Gunung-gunung bergetar panji malam semakin jelaga
Mengibarkan tangan angin pada dahanan meluruh

Seorang perlahan menyanyikan lagu republik
Bersandar di cemara, laras senjata menunjuk langit
Memicingka mata serta bahu memar mengembara
Rimba akasia di pucuk paling biru

Kutepuk kini pundakmu, bukit benteng setia
Sehabis di punggungmu kami sembahyang dalam doa
Ialah langkah merayap malam penyergapan
Ketika sebutir bintang gemerlap membisik cahaya.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Turun Malam
Karya: Taufiq Ismail