Mei 2008
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Soundtrack untuk film Twilight: Original Motion Picture resmi dirilis pada tanggal 4 November 2008. Single utama untuk album ini adalah Decode yang dibawakan oleh Paramore. Dan sabagai sedikit informasi tambahan, pada tahun 2010, lagu ini dinominasikan di ajang besar Grammy Awards. Dan berikut adalah daftar lagu lainnya untuk soundtrack film ini.

"Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Twilight"
Daftar Kumpulan Lagu Soundtrack Film Twilight

Lagu ini bawakan oleh Muse

2. Decode
Lagu ini bawakan oleh Paramore

Lagu ini bawakan oleh The Black Ghosts

Lagu ini bawakan oleh Linkin Park

Lagu ini bawakan oleh Mutemath

Lagu ini bawakan oleh Perry Farrell

Lagu ini bawakan oleh Collective Soul

Lagu ini bawakan oleh Paramore

Lagu ini bawakan oleh Blue Foundation

Lagu ini bawakan oleh Robert Pattinson

Lagu ini bawakan oleh Iron & Wine

12. Bella's Lullaby
Lagu ini bawakan oleh Carter Burwell

Lagu ini bawakan oleh Robert Pattinson

Lagu ini bawakan oleh Royal Philharmonic Orchestra

15. Clair de Lune
Lagu ini dibawakan oleh The APM Orchestra

Lagu ini dibawakan oleh O.A.R.

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Rinai Hujan

Rintik hujan itulah
yang senantiasa menyampaikan
kasihmu padaku, dan ikan-ikan
selalu mendoakan keselamatanku.
jika kau tanya makna goyangku
goyangku zikir tersempurna
di antara para kekasih jiwa
angin mengusap bening air telaga
mengazaniku sujud ke pangkuannya
burung-burung itulah
yang selalu menyampaikan
salamku padamu, ketika angin senja
mengusap suntuk zikirku
jika kau tanya agamaku
agamaku agama keselamatan
jika kau tanya makna imanku
imanku iman kepasrahan
hidupku mengakar di jantung tuhan
sukma menyala menyibak kegelapan.

Pandanglah putik bungaku
nur muhammad mekar sepenuh jiwa
pandanglah daun-daunku
jari-jari tahiyat terucap
tiap akhir persembahan
zikirku zikir kemanunggalan
diri lebur ke dalam tuhan.

Jakarta, 1998
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Doa Rinai Hujan
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sticky Fingers

Sticky Fingers. Jari-jari logam bergeser pada snar
gitar listrik. Pengeras pun mengumandangkan gaung.
Di kamar: Pada pendengaran minor menetas. Engkau
menangis. “Bagaimana agar kita bisa bahagia?” Itu!
Sebuah lengkingan. Hantaman drum. Derap langkah di
lorong. “Musim rontok, musim rontok” teriak pastor
dan kita pun jadi daun gugur, dan terpusing-pusing
dalam jurang musim dingin.

“O!” lenguhmu - jauh. Pelan dan pilu. Jauh. Jauh!
Ya. Meski kita saling menatap. Meski kita saling
mengusap. Nyatanya kita hidup sendiri-sendiri. Ya!
Engkau rindu Katmandu. Aku rindu Greenwich Village.
“Kita berpisah saja” teriakmu. Dinding mengangguk.
Aku menggelinding bersama Rolling Stones. Terkapar.
Hitam bagai Jimi Hendrix.
Hitam.
1982

CATATAN:
Puisi ini berasal dari Buku Legiun Asing, tidak memiliki judul. Admin yang memberikan judul untuk puisi ini.
"Puisi Beni Setia"
PuisiSticky Fingers
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Out of Dream

Di antara punya uang dan punya
utang terhampar padang impian:
pengharapan empat varian angka
dari empat belas kali pacuan kuda.

Menjelang subuh terbayang
di kabut pagi, tengah hari
terpampang: "yang sejati itu dari gua,
pohon krowak atau pelupuk mimpi?"

"Mana yang mungkin?" katamu. Primbon
dan empat belas tafsir impen menyatakan:
mesjid itu pertanda kemakmuran. Aula bagi
jamaah yang senantiasa kenyang sendawa.

Petang hari aku melihat kamu pasang
jerat di cabang lurus pohon durian,
di surut matahari kamu menenggak portas
: menantang kereta tanpa talqin dan takbir.

Katamu, "sajak ini ditulis saat utang menggila
dan di luar: debt collector geram menunggu"

2008
"Puisi Beni Setia"
PuisiOut of Dream
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Renokenongo, Memo

Bila surat itu tak sampai - tak terbaca
karena tersangkut di meja birokrasi

: Duka akan berteriak - sampai urat leher
putus. Dan bila masih tak juga sampai

: Duka menjadi angin - setiap saat
mengusap kening. Mengingatkan
akan rumah yang lenyap ditelan lumpur

Setiap saat akan mengetuk jendela mimpi
melulurkan dampak bencana pada kantuk.

"Puisi Beni Setia"
Puisi: Renokenongo, Memo
Karya: Beni Setia