Juni 2008
Kotamu

Kotamu kini sudah tak ramah lagi
ketipak dokar dan aroma kotoran kuda
yang membawa kita dulu,
telah menjelma kepulan asap kendaraan.
gemerincing kaki para penari kuda lumping
berangsur menjauh
oleh datangnya goyangan erotik penari diskotik.
panembrama dari tembang mahakarya tersambar kilat lampu-lampu kafe.
riuh rendah tawar-menawar penjual di pasar tradisional,
tersumpal label-label harga dan transaksi digital.

Di mana pematang sawah tempat kita meniti kenangan?
Di mana lembah yang menyimpan laksa kekayaan?
Kotamu telah mengusir kearifan,
kotamu telah mengusir hati nurani
kotamu telah mengusir kejujuran
kotamu kini jadi museum keangkuhan.

2008
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Kotamu
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Ibu

Secarik doa
terhapus air mata.

2008
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Ibu
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Bulan Berpeluh

Bulan berpeluh meronta
Malam tak pernah menepi.

2008
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Bulan Berpeluh
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Kemarau

(1)
Matahari di atas kepala
satu abad angin tak datang

(2)
Rumput kering
tanah di persimpangan jalan
burung-burung bersedu-sedan
“kemarau kapankah berganti”

2008
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Kemarau
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sajak Pedih

Mawar layu
Sunyi senja
Kau pergi
Tinggalkan sajak pedih.

2008
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Sajak Pedih
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Aku Mencintaimu Tanpa Berharap Semesta Tahu

Aku mencintaimu tanpa berharap semesta tahu. 
Biarlah angin pagi yang kan menerbangkan butiran-butiran rindu. 
Lalu, membuat kisah kita makin mekar dan mewangi. 
Serupa bebungaan di pelataran hati kita. Setiap pagi e
mbunnya menggutasi, membasahi kaki-kaki kita yang telanjang m
enekuri setiap jalan-jalan becek. Hujan sesekali menepi di ujung rambut panjangmu, k
au memintaku mengikatnya, dan  matahari cemburu. 
Berhenti memberi energi kepada d
aun-daun yang kehausan, tersebab sedari malam hingga fajar datang mimpinya tak juga m
ampu diterjemahi.

Lalu aku mengajakmu membuka kamus-kamus yang telah lama tidak kita buka, yang m
engusang bersama cerita-cerita lama. Tentang sawah-sawah di belakang rumah kita. 
Tentang rerumputan. Tentang padang ilalang. Tentang rembulan. Dan tentang malam yang kabut. 
Kau sesekali menanyakan cinta ini, harus dengan apa aku menjelaskannya, kekasih. 
Bila pelangi yang kutebar di langit senja, mampu kau tangkap dan menjadi sebuah puisi, d
an setiap malam, kau meronta, memintaku membacakannya untukmu. Sebagai pengantar tidur! Katamu.

Sayang, semesta mau berbuat apa? Tentang aku, tentang kau, tentang waktu
 yang kita lalui bersama?

Bermain layang-layang, basah-basahan dalam hujan, bertukar bebunga di taman. 
Barangkali lewat catatan ini, kau tak lagi memintaku berteriak sepanjang jalan menuju rumahmu, 
yang begitu menanjak dan berliku. Begitu sunyi dan rahasia. Aku tahu sayang, 
kekasih mana yang merelakan 
rindunya patah?

Merpati selalu kuterbangkan setiap pagi, dengannyalah aku titipkan 
sketsa kerinduan yang amat menyiksa. Harap-harap cemas hati ini menunggu jawaban dari 
wajahmu. 
Maka, aku hanya akan mengatakan
; aku mencintaimu tanpa berharap semesta tahu.

Pondok Pena, 2012
"Dimas Indiana Senja"
PuisiAku Mencintaimu Tanpa Berharap Semesta Tahu
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||