November 2008
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gugur


Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Tiada kuasa lagi menegak.
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
ke dada musuh yang merebut kotanya.

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Ia sudah tua
luka-luka di badannya.

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya.
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya.

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antara anaknya.
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya.

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata:
"Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah;
tanah Ambarawa yang kucinta.
Kita bukanlah anak jadah
kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.

Orang itu kembali berkata:
"Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah
kita akan berpelukan
buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun akan berkata:
- Alangkah gemburnya tanah di sini."

Hari pun lengkap malam
ketika ia menutup matanya.
 
 
"Puisi: Gugur"
Puisi: Gugur
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Jahat


Malam dengan langit tanpa buahan
dan suara itu bukanlah angin puputan
tersebar ratapan perempuan sial
bagai merayap di atas jalan yang kekal.

Lelaki keluar ambang sendirian
Burung hitam banyak hinggapan
sekali melangkah kakinya besi
dituruti jalan sangsi yang abadi.

 
 
"Puisi: Malam Jahat"
Puisi: Malam Jahat
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wajah Dunia yang Pertama


Ketika bulan pudar
ia bawa pengantinnya
ke atas bukit itu.
Keduanya telanjang.
Tak punya apa-apa.

Pada awal segalanya
alam pun telanjang
kosong, dan tanpa dusta.
Gelap bertatapan dengan sepi.

Dan sepi tenggelam
dalam waktu yang dalam.
Lalu datanglah cahaya,
kehidupan mahluk,
insan dan margasatwa.
Pada awal segalanya,
semua telanjang
kosong dan terbuka.

Kedua mempelai yang remaja itu
telah menempuh jalan yang jauh.
Melalui subuh penuh khayalan
dengan langit penuh harapan
dan sungai penuh hiburan
mereka pun memasuki siang bagai tungku
keringat mengucur ke kaki mereka.

Dan kaki mereka di atas bumi karang gersang.
Maka lalu datang malam
yang membawa mimpi
dan ranjang istirah
penuh merjan gemerlapan.
Mereka menengadahkan wajah.
Di langit bintang selaksa.
Bagai jumlah keturunan mereka.
Selaksa dan lagi selaksa.
Takkan tumpas selamanya.

Ketika bulan pudar
ia bawa pengantinnya
ke atas bukit itu
keduanya telanjang
wajah dunia yang pertama.
 
 
"Puisi: Wajah Dunia yang Pertama"
Puisi: Wajah Dunia yang Pertama
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Serenada Merah Padam

Sekawan kucing
berpasang-pasangan
mengeong di kegelapan.
Sekawan kucing
mengeong dengan bising
mengeong dengan panas
di kegelapan.
Manisku! manisku!
Sekawan kucing
berpasang-pasang
saling menggosokkan tubuhnya
di kegelapan
Seekor kucing jantan
manyapukan kumisnya yang keras
ke bulu perut betinanya.
Maka yang betina berguling-guling
di atas debu tanah.
Menggeliat dan berguling-guling
tak terang pandang matanya.
Serta dari mulutnya
keluar suara panjang
kerna telah dilemahkan
seluruh urat badannya.
Manisku! Manisku!
Dengarlah bunyi kucing
mengganas di kegelapan.
Seekor kucing jantan
menggeram dengan dalam
di leher betinanya.
Maka
selagi sang betina kecapaian
ia pun menyeringai
di kegelapan.
 
 
"Puisi: Serenada Merah Padam"
Puisi: Serenada Merah Padam
Karya: W.S. Rendra