Januari 2009
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng


Seekor kuda sembrani hilang
ke dalam pelepah-pelepah pisang.
Para peri kemudian mencucinya
dengan hujan hampir malam.

Tapi darah itu masih membekas
dari kelangkang di penunggang (yang tewas)
Ibu, telah kau kalahkan aku
Kulihat gerimis itu, dan mimpiku membeku.
 
1978
"Puisi: Dongeng (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Dongeng
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kau dan Aku


Bahagia saat kita duduk di pendapa, kau dan aku.
Dua sosok tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.

Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.

Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama;
Bagai bulan kita bagaikan cahaya terang bagi mereka.

Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi,
menyatu dalam nikmat tertinggi,
Bebas dari cakap orang, kau dan aku.

Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.

Sungguh ajaib, kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia,
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khorastan, kau dan aku.
 
   
"Puisi: Kau dan Aku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Kau dan Aku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Input dan Output


Di mesjid-mesjid dan majlis-majlis taklim
berton-ton huruf dan kata-kata mulia
tanpa kemasan dituang-suapkan
dari mulut-mulut mesin yang dingin
ke kuping-kuping logam yang terbakar
untuk ditumpahkan ketika keluar.

Di kamar-kamar dan ruang-ruang rumah
berhektar-hektar layar kehidupan mati
dengan kemas luhur ditayang-sumpalkan
melalui mata-mata yang letih
ke benak-benak seng berkarat
untuk dibawa-bawa sampai sekarat.

Di kantor-kantor dan markas-markas
bertimbun-timbun arsip kebijaksanaan aneh
dengan map-map agung dikirim-salurkan
melalui kepala-kepala plastik
ke segala penjuru urat nadi
untuk diserap sampai mati.

Di majalah-majalah dan koran-koran
berkilo-kilo berita dan opini Tuhan
dengan disain nafsu dimuntah-jejalkan
melalui kolom-kolom rapi
ke ruang-ruang kosong tengkorak
orang-orang tua dan anak-anak.

Di hotel-hotel dan tempat hiburan
beronggok-onggok daging dan virus
dengan bungkus sutera disodor-suguhkan
melalui saluran-saluran resmi
ke berbagai pribadi dan instansi
untuk dinikmati dengan penuh gengsi.

Di jalan-jalan dan di kendaraan-kendaraan
berbarel-barel bensin dan darah
dengan pipa-pipa kemajuan ditumpah-ruahkan
melalui pori-pori kejantanan
ke tangki-tangki penampung nyawa
untuk menghidupkan sesal dan kecewa.
 
  
1415 H
"Puisi: Input dan Output (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Input dan Output
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Revolusi

Revolusi kita adalah revolusi manusia
Yang bergerak ke segala arah
Siapa yang alpa
Tersisih dari sejarah.

Revolusi kita adalah revolusi rakyat
Yang menegakkan kebenaran, menuntut keadilan
Siapa yang khianat
Tahanlah ujung peluru!

Revolusi kita adalah proses sejarah
Yang membentuk hablur dan kristal
Siapa yang menyerah
Selamat tinggal!
  
1966
"Puisi: Revolusi (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Revolusi
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pagi

Gerimis seperti jarum-jarum jatuh.
Pada seng dan subuh,
seribu gugur dari sebuah jam yang jauh.

Kelelawar pun menjerit luka;
tertusuk pada matanya.
Aku telah lihat darahnya.

Dan bayang pada lari
meskipun tak ada tempat sembunyi.
Meskipun tak ada tempat sembunyi.


1976
"Puisi: Pagi (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Pagi
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Pekerja Malam

Lagu pekerja malam
Di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun.

Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai.

Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
Dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak.

Nada akan terulang-ulang
Dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!

Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi.
1962
"Puisi: Lagu Pekerja Malam (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lagu Pekerja Malam
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di depan Sancho Panza


Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.

Tentu saja Sancho tak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, "Jangan cemas."

Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.

"Semua ini jadi lucu," kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.


2009
"Puisi: Di depan Sancho Panza (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di depan Sancho Panza
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dongeng Sebelum Tidur


"Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens."

Itulah yang dikatakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang
telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.

"Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi."

Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.

Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.

Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri - dengan
pertolongan dewa-dewa entah dari mana - untuk tidak setia.

"Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang
mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?"
 
 
"Puisi: Dongeng Sebelum Tidur (Karya Goenawan Mohamad)"
Dongeng Sebelum Tidur
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tambah Satu 


Syukurlah kawan
usiamu tambah satu sehingga kita masih bisa bercengkrama di kontrakan ini bercerita tentang banyak hal dengan bahasa yang kita punya
gotong royong membersihkan pekarangan dari kejahatan hewan pengerat atau polusi negara yang lebih ganas dari fasciola hepatica.

Karena kita tau tikus adalah hewan paling rajin cari makan sekaligus perusak yang merugikan banyak orang seperti koruptor
maling dengan wajah bercahaya berwibawa dan seolah-olah sangat bijaksana mengancam ratusan juta nyawa
sedangkan cacing hati hanya sejenis parasit kecil tanpa dubur yang hidup meminta di hati hewan dan manusia sejak sebelum hawa dicinta.

Syukurlah kawan
rambutmu tambah satu warna tumbuh bebas dan berubah secara alamiah berproses dari akar yang tertanam di folikel tanpa harus mengikuti mode hingga terasa lebih enjoy berpenampilan di rumah sederhana yang dipercaya pemiliknya dari tahun ke tahun.

Karena hidup berlebihan sangat tidak bagus apalagi banyak biaya yang harus dikeluarkan demi merawat dan menerus-lunaskan kontrakan ini.

Syukurlah kawan
matamu tambah satu lagi ketika dunia kian singkat 'tuk digapai ketika jarak pandang tak lagi menjadi fokus pembicaraan dan ketika mata-hatimu kian peka terhadap belaian tangan-tangan Tuhan.

Karena dunia tak lebih dari elektrokardiogram yang mencatat kerja jantungmu dengan komunikasi yang tak perlu mengeluarkan busa sementara kau makin yakin akan segala kebaikan yang kau semai di sungsum anak-anakmu.

Syukurlah kawan
encokmu tambah satu kerutmu tambah satu
dan terima kasih kawan puisiku juga tambah satu.


Indramayu

"Puisi: Tambah Satu (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Tambah Satu
Karya: Acep Syahril
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Bulan Purnama
Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang tengah malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubuk-gubuk kaum gelandangan
kota Jakarta.
Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar,
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi supir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.
Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran:
"Kemari, kamu!" kata tuannya.
"Tidak, tuan, aku takut nyonya!"
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya.
Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan kepada tamu negara
yang haus akan hiburan.


Yogya, 22 oktober 1976
"Puisi: Sajak Bulan Purnama (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Bulan Purnama
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sebatang Lisong
Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka.

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan.

Dan di langit
para teknokrat berkata:

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun,
mesti di-upgrade,
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor.

Gunung-gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senja kala.
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gebalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………………………………..
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan nyata.

Inilah sajakku.
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan:
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.



19 Agustus 1977
I.T.B. Bandung

Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan dalam salah satu adegan film "Yang Muda Yang Bercinta", yang disutradarai oleh Sumandjaya. 
"Puisi Sajak Sebatang Lisong (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Sebatang Lisong
Karya: W.S. Rendra