loading...

Sajak Bulan Purnama
Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang tengah malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubuk-gubuk kaum gelandangan
kota Jakarta.
Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar,
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi supir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.
Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran:
"Kemari, kamu!" kata tuannya.
"Tidak, tuan, aku takut nyonya!"
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya.
Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan kepada tamu negara
yang haus akan hiburan.


Yogya, 22 oktober 1976
"Puisi: Sajak Bulan Purnama (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Bulan Purnama
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top