Februari 2009
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Sepanjang Rizal Park

Aku bertemu benigno, pada akar-akar rumput.
ia merambat, memberi kehidupan pada semak-semak
yang dahaga, kami menemukan jalan percakapan.
sajak-sajak nestapa yang tak terselesaikan.

Aku bertemu benigno. ia tak mati di jantung
perempuan liar yang merangkak dari lantai-lantai
Lady of Edsa. zat-zat kehidupan menyebar ke akar-
akar pohon. tak membusuk. menyebarkan kebenaran
yang pernah tersumbat.

Aku bertemu sebutir debu di sukma embun yang
bersinar.

"Puisi: Nyanyian Sepanjang Rizal Park (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nyanyian Sepanjang Rizal Park
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Kehilangan

Sebab gorden terbuka.
dan wajahmu mengabur
dalam hujan
di kaca jendela.
dalam usia yang merambat
pada kalender: abad-abad tua
yang terlepas ke lantai.

(dan lukisan itu
kembali menempel pada dinding.
membiaskan batu tanah
yang menyingkir dari dekap
hujan)

Masih kucium amis nafasmu.
memburamkan kaca
pada pigura itu. dan
wajah-wajah di dalamnya
: mengabut. fana!

"Puisi: Nyanyian Kehilangan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nyanyian Kehilangan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nikah Pisau

Aku sampai entah di mana. Berputar-putar
dalam labirin. Perjalanan terpanjang
tanpa peta. Dan inilah warna gelap paling
sempurna. Kuraba gang di antara sungai
dan jurang.

Ada jerit, serupa nyanyi. Mungkin dari
mulutku sendiri. Kudengar erangan, serupa
senandung. Mungkin dari mulutku sendiri.

Tapi inilah daratan dengan keasingan paling
sempurna: tubuhmu yang bertaburan ulat-ulat.
Kuabaikan. Sampai kurampungkan kenikmatan
sanggama. Sebelum merampungkanmu juga: menikam
jantung dan merobek zakarmu, dalam segala
ngilu.

1992
"Puisi: Nikah Pisau (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nikah Pisau
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Tahun ke-85
bagi Sitor Situmorang penyairku

Di antara langkah-langkah
masih kulihat jejaknya
di antara suara-suara
masih kudengar doanya
di antara gaduh kota
masih kusimak kelebat bayangnya
lelakiku saksi jaman
perang dan damai
batu dan mesiu
rumpun kata dalam buku
matahari pun bersarang di rambutnya
rembulan di atas kuburan
diboyongnya dalam kata.

Lelakiku dari tanah seribu nyanyian
tahukah bulan itu sangat setia
purbani dan purnama
di atas laut dan sabana
di atas gedung dan huma
dan di jalan musim senjamu
malam nanti jelang purnama
bersaksi di langit Jakarta

Bagi pemilik hari kedua oktober
kuhening bunga jadi kata
kuhening kata jadi doa
"semoga bahagia"

2 Oktober 2009
"Puisi: Catatan Tahun ke-85 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Tahun ke-85
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesaksian dari Syura ke Syura

Bapa, kesaksian kusimpan dalam nadi
masih kusimpan jua misteri gaib pesanmu
sementara kusimak bayangmu
walau kabut maya
windu-windu nulis obituary
karena hari-hari ada catatan darah
darah sesiapa bercak di matahari
aku ingin mengusapnya
agar cahayanya cipta kembali
bayang memanjang akan sosokmu.

Kendi-kendi yang belum penuh terisi
aku ingin penuhi
ditambah sari bebunga
agar kau tak pernah dahaga
kala jelajah padang gaib
ruang dan waktu.

Bogor
Januari, 2007
"Puisi: Kesaksian dari Syura ke Syura (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kesaksian dari Syura ke Syura
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Peti Ukir Jepara

Peti ukir kayu jati
gambar gajah dan elung bumi
diukir tangan lelaki bernama bapa
kubuka hanya setiap syura.

Pundit-pundi tak pernah kami miliki
orang-orang run-temurun Ki Suto Kluthuk
miliknya hanya ukiran hati
begitu masih ada yang tega mengkhianati
orang bilang ujian bagai kalung merjan
mengingkari leher jenjang kehidupan.

Peti ukir kayu jati tua
hadirkan fatwa maya orang utara
setiap syura bertambah beratnya
oleh setetes air mata.

Teratak Gondosuli
Syura, 2007
"Puisi: Peti Ukir Jepara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Peti Ukir Jepara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Membaca Perubahan Musim

Yang tak terbaca di awal mula
ketika perjalanan itu pertaruhan jiwa
disirnya gigir musim
lalu mulai bermukim
di teratak tua simpan mimpi purba
hari lusa dipercayakan
pada Sang Perawat Kehidupan
pada yang menjaga raga
pada matahari fajar
pada ruh pemancar.

Musim berubah
ada yang melimbah
sampai matahari jadi cawan hitam
mimpi elok jadi biji asam
hadirkan prahara jagat diri
angina perubahan musim
mendesing 'nerobos jeruji hati perempuan
kidungkan kehidupan sebelum hilang rembulan
di ujung pasrah di ujung langkah
mekar bunga misteri-Nya.

Bogor
Agustus, 2007
"Puisi: Membaca Perubahan Musim (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Membaca Perubahan Musim
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Pagi Ujung Negeri

Deraknya sampai di serambi rumah kata
getarnya sampai ke lubuk jiwa
retak bumi retak hati
manakala kota terbelah
sementara seraut wajah
ke Serambi-Mu mencari celah.

Sehembusan nafas
lengan pelindung lepas
hentak jiwa deru gelombang
lenyap segala yang tersayang
retak langit retak mentari
ke Serambi-Mu cari sembunyi.

Pinggir kota
April, 2005
"Puisi: Fragmen Pagi Ujung Negeri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Pagi Ujung Negeri
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menghitung Angka

Lama, lama, menghitung angka
sejak kanak sampai dewasa
lama, lama, menyimak arti
kini aku baru mengerti
banyak rahasia di bilik jiwa
para petinggi yang alpa
beda sumpah beda janji
beda pula yang terjadi.

Eloknya angka jiwa bicara
satu jadi tujuh enam jadi gendam
umur bisa tumbuh jamur
angka berhala tak pernah jujur.

Di tanah ini orang suka bermain angka
hidup angka mati angka lalu amuk massa
ucap jadi asap menembus atap
janji suci bisa pembunuh abadi
karma dinodai sejak jaman Singosari
enam dasa warsa sudah merdeka
masih menisik sisa luka
entaskan kami dari sungai arus duri.

Cimanggis
Juli, 2009
"Puisi: Menghitung Angka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menghitung Angka
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Pintu Gerbang Vredeburg

Apa yang kulihat hari ini
apa yang kudengar hari ini
pada bayang-bayang pintu gerbang Vredeburg
dalam sepi bincang seni dari kerabat muda
karena waktunya yang habis disita
jam-jam kuliah dan tugas kerja
selain bertimbun gelisah kota.

Ketika bergegas menyeberang jalan
siapa melambai di pintu gerbang
dan setia berdiri di teduh bayang-bayang
memanggil dengan tatap mata dan senyuman kembang
adakah kau sendiri yang hari ini kehabisan puisi

Mestinya damba yang sama 
membuat langkah menuju satu arah
mencari Yogya yang berlumur nostalgia
yang terpahat atas dinding pucat gedung tua
yang basah dalam cola-cola, puisi, rindu, dan cinta
kemudian menyatu dalam polusi dan derita kota.

Jakarta, 1978
"Puisi: Di Pintu Gerbang Vredeburg (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Pintu Gerbang Vredeburg
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bayang-Bayang

Hutan-hutan kerinduan yang
menyembunyikan bayang-bayang Yogya
menyembunyikan mimpi-mimpi tentang cinta dan angan-angan
menyembunyikan kenyataan yang lambat laun berlumut
karena matahari yang membuat nafas jadi kabut-kabut jingga
lepas dari jiwa yang senyap
ketika duka meluncur dari arah kota
dan Yogya menjadi sebentuk padang gelap
tiba-tiba kau berdiri di sana
kupikir lebih baik segera belanja
atau menerjemahkan dongeng anak-anak
sebelum jari-jari putihmu mencekik nafas kembaraku.

Jakarta, 1978
"Puisi: Bayang-Bayang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bayang-Bayang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kala Angin Menyibak di Lalang Kuning

Ada angin menyibak di lalang kuning
ketika kau letih terhuyung menuding
o, angin keparat
gersangmu membuat kami sekarat
banjirmu menambah duka melarat
o, kedukaan
o, keprihatinan
berapa lama lagi
mesti bersambut tangan.

Ada angin menyibak di ladang kuning
ketika kau terbanting lalu hening
mendekap sisa hidup yang dekil
mendekap harapan yang ngambang
kalau kau mati malam
kelelawar kembali hinggap di dahan
kalau kau mati siang
burung sawah bergegas terbang
kalau kau mati pagi
yang hidup bergegas pergi
setelah sedikit tanya sana sini
takut kena bakteri
katakan pada Tuhan, Nabi, Dewa
hari ini kemunafikan
masih meraja di bumi.

Jakarta
April, 1978
"Puisi: Kala Angin Menyibak di Lalang Kuning (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kala Angin Menyibak di Lalang Kuning
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Seorang Lelaki

Sukma gemetar pada malam-malam jadi liar
oleh kehilangan sapa tuhan
bayang-bayang pun sembunyi dari segenap sisi
sendiri,
mencari cakrawala mencari surga
lantas tersungkur dalam dekapan yang asing
dari doa semakin berpaling
saat itu dari kepalanya
lepas sudah mahkota Allah.

Lelaki penyangga amanat ibu bumi
yang mencoba membodohi hati sendiri
gelisahnya, gelisah angin tenggara
rindunya, rindu sungai yang menanti matahari berkaca
akhirnya pada padang tanpa batas
jatuh bangun mengejar bayang-bayangnya
sebuah sesal tertuang tuntas.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Seorang Lelaki (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Seorang Lelaki
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak tentang Kemelut

Manakala matahari membakar laut-laut
dan ikan-ikan sembunyi di pukat harimau
manakala matahari membakar gunung-gunung
dan petani sembunyi transmigrasi
manakala matahari membakar kota-kota
dan manusia hangus dalam polusi budaya
manakala matahari membakar cinta
dan perempuan-perempuan manis menjadi pedang bermata dua
siapa menangis-siapa tertawa
siapa bernyanyi-siapa berdoa.

Maka menyatulah debu dan asap dupa
maka menyatulah lumut dan buih laut
maka menyatulah prahara dan angina kembara.

Di bawah putih kaki-NYA
di bawah ufuk pandang-NYA
siapa-siapa memberi makna.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Kemelut (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Kemelut
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Diam

Diam laut
ada damai di hati penghuni kampung nelayan
diam kota
ada gelisah yang menjaring bara-bara
diam dusun
ada resah di kerut kening petani muda
diam bukit
ada rindu bocah-bocah telanjang akan satu perbaikan
tapi diamku dan diammmu, saudaraku
ada malam panjang tanpa kepak kelelawar
ada kelumpuhan yang menggelepar
ada gelas bening yang jatuh ambyar
datanglah ke kamarku yang putih 
jangan sendiri tapi bawa kerabatmu
kita duduk berhimpitan di lantai yang dingin bersih
setelah mengubur diam di belukar sana
kita 'nyalakan api di tungku kecil yang temaram?
atau kita hidupkan neon agar benderang?
dan kita saling senyum-saling jabat-saling pandang
kau lihatlah
diam tak ada lagi di sudut paling kelam dari hati
diam tak ada lagi di ujung jari saling genggam
diam tak ada lagi di ujung kaki saling sentuh
diam tak ada lagi di pelupuk mata saling kerjap
diam tak lagi berarti emas:silent is gold
diam tak berarti mati : silent is death
malam ini kita nyanyikanlah
sayonara dan aloha oe
kepada diam sang penjara sukma.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak Diam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Diam
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Danau ke Toyabungkah

Yang berkabut dingin kelabu
menabir bumi beku sukmaku
'nawarkan kebebasan
'nyelam ke dasar tak bertepi.

Perempuan, di sini jantung sang Bali
tiba-tiba kearifan kugenggam
segala purba-sangkaku
kubasuh dengan airnya diam.

Yang berkabut dingin kelabu
lama kusimpan dalam mimpi
betapa kebebasan
telah membunga di nurani.

1993
"Puisi: Danau ke Toyabungkah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Danau ke Toyabungkah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tembang Sebuah Kota Raya

I
Kota yang berangkat tua
lebih menumpuk
di setiap sudutnya 
orang-orang dungu
kehilangan pintu rumahnya
angsana sembunyikan angin
di bawah setiap lembar daunnya.

Kota yang berangkat tua
bayangnya megah
dengan mahkota matahari
orang-orang urban
selalu punya lapar
disembunyikan gerimis
diam-diam kusutkan kota.

Siapa kita?
Siapa mereka?
Siapa kau?
Siapa aku?

II
Di antara bongkaran jalan
sepanjang musim
dera nasib dan senjata tajam
aku langit disayat hujan.

Di antara barut-barut hitam
anak-anak coba punguti
sisa angan-angan
di teratak hari depan.

Tembang kota saat petang
'nyusup antara gerbong-gerbong jingga.
O, ada yang masih tersimpan
sejarah perjuangan.

Anak-anak siapa
melempari matahari
melempari mimpi-mimpi
tak berkesudahan.

Jakarta
Juni, 1996
"Puisi: Tembang Sebuah Kota Raya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Sebuah Kota Raya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bincang Sebuah Jembatan Gantung

Selamat pagi anak manusia
tapak-tapak kaki kecil menyentuh
kuakrabi berbilang windu
ada yang patah ada yang menyulam
tak sampai goyahkan kesetiaan
20 tahun aku selalu menyapa
menghantar kalian
ke kebun karet di seberang
20 tahun aku selalu menjaga
kalian pulang dari pasar dan ladang.

Rinduku
pada pilar-pilar penyangga
Rinduku
pada terang lampu di atasnya
Rinduku
pada cantik kampung Mangkahayu
Rinduku
pada riak-riak sungai Balangan
adalah bisik peladang
di seberang jembatan
adalah bisik perempuan
mendekap anak tersayang.

Selamat pagi anak manusia
aku masih setia menjaga Mangkahayu
selamat pagi masa depan kebun karet
selamat pagi masa depan pasar ladang
saku tembangkan
hari-hari kalian dibawa angin
menyusuri pinggir Mangkahayu
menyusuri atap rumah camat Paringin
mengusap lembah hati orang kota
mengusap janji lama orang tetua
kelak di sini
tak lagi kau dapati
kayu patah di rentangku
tali plastik pengikatku
jika kawat rapuh oleh karat
tak ada cemas mengusik
langkah melenggang tenang
percaya pada kebijakan Sang Pemangku
satu saat tiba juga
cantik semarak di Mangkahayu
di sini setia
langkah-langkah anak Indonesia
di sini setia
bisik-bisik cinta merdeka.

Jakarta
Agustus, 1986
"Puisi: Bincang Sebuah Jembatan Gantung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bincang Sebuah Jembatan Gantung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Pohon-Pohon

Kita adalah pohon-pohon hutan yang
tumbuh tidak mengenal musim
matahari jajar dan membakar pun tetap
tak menghalangi bunga dan buah muncul
dari celah ranting kehidupan
begitu pun anak-anak bermunculan
dari berlaksa rahim suci pun yang tercemar
sama-sama menyapa Tuhannya.

Kita adalah pohon-pohon yang
tumbuh dan lenyap tergantung perencanaan
selaksa akar-akar elektronika dalam
saluran-saluran kota membuang batang
terbakar, sementara udara penuh racun
membuat layu daun-daun dalam kealpaan

Kita adalah pohon-pohon yang
tumbuh dan mati seiring perjalanan
bintang-bintang, mengalirnya sungai-sungai
kelahiran bayi-bayi, mengganasnya hama-hama
merayapnya dosa-dosa
kita adalah pohon-pohon yang
menjadi bagian dari pahala dan dosa.

Jakarta
Agustus, 1986
"Puisi: Sajak Pohon-Pohon (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Pohon-Pohon
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hari Terakhir Perempuan Mardiyah

Dirujaknya hati perempuan
bagai ramuan buah di meja sajian
saus gula lelehan cinta
menyeret lelaki malam ke malam
mata sebelah perempuan Mardiyah
sisakan warna sedikit manis
lebih-lebih oleh isi koceknya
lelaki ketengan tak lagi peduli cacat matanya
Mardiyah hanya mau secuil kasih
saat umur mulai berjamur

Perempuan berumah malam
sesekali sandar di kursi tontonan murahan
lalu hari-hari menuju usai
bangkrut diri menjadi bangkai
kawan bersuka para lelaki
menengok mayatnya pun tak sudi

Mardiyah belum maria Zaitun
tapi Mardiyah yang terabai
ibarat kue kena hinggap lalat wilis
hanya perawat-perawat manis
dari rumah sakit kecil kota tua
membawa Mardiyah pulang buminya
pohon-pohon kasih sayang
hari ini tumbang di halaman kota
getarnya sampaikah
di sorga apa neraka? 

Jakarta
September, 1987
"Puisi: Hari Terakhir Perempuan Mardiyah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Hari Terakhir Perempuan Mardiyah
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Parang Gupito, Luka di Busur Langit

Ke Kedokan, Nok, ke Kedokan
kau kubur mimpi musim padi
kau kubur mimpi pengantin lelaki
bagai persik di pandan duri
angin kering menyapa
setiap langkahnya
di keruh telaga Kedokan
kuulur-ulur harapan
kukukur-ukur wawasan
kujaring-jaring cinta atasan
Dhenok berkata muram
matahari meleleh di celah dada
telah cair jantung perawan
menyatu pada telaga kubangan
seseorang menabuh gamelan
senja-senja, mencoba mengusir lara
di atas telaga langit kesumba
angin njemput anak musimnya
senja kian menuba, di udara
ada yang nari berpasangan
Gusti Pangeran, itu kembang
Parang Gupito, di telaga tanpa warna
orang-orang memekik panjang
senja mengerang.

Jakarta
September, 1987
"Puisi: Parang Gupito, Luka di Busur Langit (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Parang Gupito, Luka di Busur Langit
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Sebuah Piramida
(bagi Romo dan angkatanku)

Sebuah piramida
dibangun dari batu putih
keringat luka doa-doa
batu-batu dibongkar dari
tebing-tebing semangatmu
manakala ia mulai membaluti
lengan kaki selalu terluka
piramida yang kurang pucuknya
adalah kesepakatanmu.

Jakarta
Maret, 1989
"Puisi: Sajak Sebuah Piramida (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Sebuah Piramida
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Burung-Burung di Hutan Murung

Burung-burung menyiulkan
kerinduan tonggak semi
dan angin yang setia mengabarkan
geriap hari saat pagi
burung-burung menyiulkan
kerinduan suara sendiri
kicaunya tlah masuk kaset rekaman
para bijak tak lagi ungkap yang tersirat
dan burung-burung terus murung
dan hutan-hutan terus kehilangan rahasia
telur-telur 'netas di sarang angan
piyik-piyik tumbuh di semak ingatan
tanda-tanda zaman berkelebatan
burung-burung sahabat hutan
yang masuk dalam kurungan global
burung-burung dan hutannya
mengerut jadi sebutir koral
suratkanlah tembangkanlah
siulnya dalam cemas pagi bertahan
yang sempat tangkap getarnya
hanya jantung kembara kesepian
inikah parodi sebuah era?

Jakarta
Nopember, 1990
"Puisi: Sajak Burung-Burung di Hutan Murung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Burung-Burung di Hutan Murung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aung San Suu Kyi Bunga Perdamaian Myanmar

Dialah Aung San muda
pahlawan legendaris Burma
cintanya pada hidup merdeka
tak pernah berubah sepanjang sejarah
tak peduli negeri berganti nama
Myanmar-Myanmar
selalu dia bisikkan nama itu
selalu dia ulang kata itu
gambaran perjalanan sejarah diri
gambaran perjalanan sejarah negeri.

Apa artinya dikurung dalam rumah
bila perjuangan terus kumandang
apa artinya menang tanpa memerintah
bila semangat tetap hidupkan harapan
merdeka ngembara di luas benua
kabarkan cinta damai negeri permai
hasrat melawan ketidakadilan

Dialah Aung San muda 
pengemban amanat segala penderitaan
tapi Myanmar tak akan pernah tenggelam
meskipun setiap kurun bertambah beban
itu keyakinan Suu Kyi yang mengapi
Myanmar-Myanmar
pagoda pagoda tak akan pernah tumbang
gemerincing genta adalah doa abadi
dunia timur percaya dan bersaksi
setiap saat selalu lahir anak matahari.

Jakarta, 1991
"Puisi: Aung San Suu Kyi Bunga Perdamaian Myanmar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Aung San Suu Kyi Bunga Perdamaian Myanmar
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumput Laut Nusa Lembongan
Tembang Tradisi Telatah Bali

Laut pasang laut surut
Beli Wayan cintanya tak pernah susut
Nusa Lembongan dalam tembangan
bertahun-tahun melukisi ucun-ucun
rumput laut diurai
mimpi akan hari sejahtera digerai
sementara dolar bergemerincing
berjatuhan di sepanjang Sanur, Kuta dan Legian
beli Wayan tetap menembang
Nusa Lembongan, Nusa Lembongan
sampai kapan duduk bertahan.

Bunga sesaji bunga sukla
telah lama dipersembahkan pada leluhur
lewat sanggah lewat sembah
tarian mekar di banjar banjar
rumput laut terus dirunut.

Bogor
Juli, 1992
"Puisi: Rumput Laut Nusa Lembongan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Rumput Laut Nusa Lembongan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Ufuk Timur

Ia lahir dari rahim semesta
muncul dari lubuk kehidupan
tumbuh seiring putik mekar bunga
bersaksi sejarah sepanjang hayat
sentuhan putih Sang Pencipta adalah dia
senantiasa salami buana
berkidung tentang burung, jeruji dan gapura 
bersyair tentang gunung dan samodra
gantikan kehadiran bintang langit tenggara
jadi kekasih kehidupan
dan padang rumput melembut
saat pandangnya menghapus kabut
dusun seni penuh janji
dan langkah-langkah mendaki
dari arah jalan raya
terdengar tutur dan tawa
:kita harus punya sikap pemihakan
anak-anak telanjang mendengarnya
perempuan-perempuan sederhana menyimaknya
lelaki-lelaki sahabat mengenangnya
seperti padi mengenang pematang
seperti bunga rumput mengenang padang adalah dia
senantiasa salami hatimu

Berkidung tentang harapanmu
gantikan mesin dan pedang
dengan bunga kasih sayang
romansa kaum perkasa.

Bogor
Mei, 1995
"Puisi: Di Ufuk Timur (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Ufuk Timur
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Sungai Jepara

I
Ketika senja dan warna
tak lagi beri nuansa
ketika laut dan ombak
pada pantai tak menyapa
seseorang masih bersaksi
di beranda rumah utara
coba tak anjak
saat matahari lunak.

Ketika angin dan burung
tak lagi beri suara
simpan gelisahnya
enggan bersarang
sungai sepi perahu 
seseorang masih diam di beranda
sungai Jepara mengalir di mata
lubuknya sebuah arah titik Utara.

II
Anak siapa menyusuri
sungai Jepara senja-senja
bayang-bayang kota
menyatu dahi tembaga
dan langit sepi
kepak camar lintas kelelawar 
geguritan tercecer di jembatan
selalu ada rasa yang hilang
setiap musim mengundang pulang
hiruk pikuk teknologi jadi api
membakar langit senja
membakar semak sungai
membakar jembatan dan kenangan.

Anak siapa menghitung
pohon-pohon tanpa suara
dan menidurkan Jepara
dalam catatan sungai
bisakah tenang meski
penjajahan kini catatan panjang
sementara kemerdekaan
lebih indah dalam tembang
perlahan menjadi bayang-bayang.

Jepara
Juni, 1995
"Puisi: Catatan Sungai Jepara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Sungai Jepara
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Hujan Pagi

Hujan pagi ini
membawa irama nyanyian bencana
lewati bubungan atap rumah kita
hujan pagi ini
ingatkan masa kanak yang hilang
kita coba menemukannya
lewat tempias di jendela kaca.

Hujan pagi ini
kirim warna kelabu langit
di jalanan ada tangkis orang kebanjiran
sementara langkah kita terjerat
di akar semak perdu kata
sementara hujan terus menderaikan igau
anak-anak yang rindu pelataran hijau.

Bogor
Februari, 1996
"Puisi: Fragmen Hujan Pagi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Hujan Pagi
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Balada Para Penggarap

Seorang penggarap berpesan pada
istri dan kedua anak lelakinya:

Ingatan tentang merdeka masih
mengental di kopi pahit
kian hari makin pahit lantaran
kebun tebu peninggalan canggah moyangmu
telah ditumbuhi tiang-tiang beton
sementara anak-anak mulai menghitung langkah
mengukur jarak antara rumah dan sawah
bertanya-tanya tentang bajak dan tanah garapan.

Jika tumbuh jamur di desa Segaramakmur
dan orang lupa antara Krawang-Bekasi
diganti dengan Tarumajaya Bekasi
yang lambat tapi pasti semakin mengiris hati
lantaran lidah dan lengah hilang daya
penggarap nasib terkatung hari marimba
gumam macapat tanah merdeka
jika tiada tanah di bumi
penggarap mengolah tanah di hati.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Para Penggarap (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Para Penggarap
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Depan Senayan

Pagar-pagar dipasang 
pagar-pagar diroboh ulang
jiwa tak bisa dipagar
merdeka tetap memijar
gedung anggun
ini kami datang kembali.

Selalu ada yang bernyanyi
selalu ada yang mencaci

Barisan panjang
mengusung harapan-harapan
setiap hari tak kenal henti
bukti kesetiaan
gedung megah
ini kami sudah marah

Selalu ada yang bernyanyi
selalu ada yang mencaci

kami merasa disisihkan
setelah angkara ditumbangkan
tapi bendera semakin tinggi
dari hari ke hari.

November, 1998
"Puisi: Di Depan Senayan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Depan Senayan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Abstraksi Waktu

Gelombang sedang diredam
orang-orang yang pawang
orang-orang yang imam
orang-orang yang bunga
memutar kunci-kunci
menyimak rinci-rinci
di antara doa
waktu bersahabatlah
sang kala istirahatlah.

Pohon angsana meliuk di angin
trotoar tanpa plastik
awan berlayar di langit
Jakarta
sebuah lukisan maya.

Sebuah tembang di pinggiran
tidurlah sejenak anakku
menjadi sahabat sang waktu.

Juni, 1999
"Puisi: Abstraksi Waktu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Waktu
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa seorang Lelaki Kepada Pengantinnya

Di antara deru derap para demonstran
dan gejolak murka amuk masa
kurangkai doa purba
tentang karunia
dalam improvisasi waktu.

Pengantinku 
kusimak untai melati di lehermu
kuresapi senyum teduh utuh
redam lidah-lidah api
membakar musim membakar diri
sebuah doa memanik di altar jiwa
genggam tangan genggam jemari
genggam rasa genggam asa
menunggal oleh-Nya.

Di antara langkah-langkah nada-nada
dan raungan luka di jalan raya
kurangkai doa purba
atas nama cinta
dalam geliat pergantian jaman.

Bogor
November, 1999
"Puisi: Doa seorang Lelaki Kepada Pengantinnya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Doa seorang Lelaki Kepada Pengantinnya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Berikutnya

Di kota tak ada yang berubah
kabut dan embun di kaki bukit
pemetang-pemetang memanjang
angin desirkan padang ilalang
simpan seluruh kisah lama
dari generasi ke generasi
sampai hari ini
musim-musim berganti
petinggi datang dan pergi
sebentar dipuji sebentar dicaci
jarum waktu lepas dari porosnya
merjan urai dari rangkaian
sejarah lipatan peristiwa
yang diabadikan kata orang
sesuai pesan kekuasaan.

Anakku semakin dewasa
berulang pergi 'ngembara
ikuti greget jiwa merdeka
aku masih 'nunggu angin bersarang
langit pun layar yang sepi
rembulan hilang dari edarnya
sebuah jeritan panjang
dan berita pun abu.

Bogor
November, 1999
"Puisi: Fragmen Berikutnya (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Fragmen Berikutnya
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Kaki Gunung

Kota meraung
kabarkan pembaruan tak berujung
di kaki gunung perempuan berkidung
ingat tanah perdikan lama
hilang bunga hilang mahkota
konon digadaikan sesiapa
perempuan apungkan segala rasa sakit
kidung merayap serat cahaya
mencari langit leluhurnya.

Kaliurang, 2001
"Puisi: Di Kaki Gunung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Kaki Gunung
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Suatu Hari Mentari Membakar Kota

Kota tua telah penuh bangunan
teluk kehilangan perahu bersandar
sementara para lelaki anak laut menabur jala
jangan sampai kosong hari ini, seru istrinya
tapi ikan-ikan telah pindah habitatnya
berenang dalam pigura di gedung-gedung
apa yang bisa dilakukan kota tua terbakar matahari
bahkan mengirim salam pada laut tak lagi.

Saat matahari tepat siang kota terpanggang
berdatangan pemadam kebakaran
tapi kota semakin bara karena matahari kini ada dalam jiwa
hanguskan hasrat tersisa bukti pernah ada
peradaban yang kini disingkirkan
kota terus terbakar.

2002
"Puisi: Pada Suatu Hari Mentari Membakar Kota (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pada Suatu Hari Mentari Membakar Kota
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak Ki Suta Kluthuk

Bayi merah itu menjadi bunga fajar
lahir seiring suara suluk
pirantinya pisau bambu dan kunyit empu
tangisnya keras pertanda tak takut cadas
setiap malam ibunya selalu berdoa:
Ya Gusti, berkahi si genduk ini
semoga kelak hidupnya berarti.

Pesan purba dari sang ibu
tiba-tiba menyeruak di celah kalbu
ketika purnama di pucuk bambu:

Di dunia ini hanya ada dua rupa
satria yang harum budi
dan banas pati yang menyamar diri
tuk celakai anak manusia yang alpa
maka selalu waspada dalam melangkah
Biyung Agung 'kan memberi perlambang
Gusti Pangeran memberi jalan terang.

Bogor, April 2004


============
Catatan:
Suluk = tembang pembuka dalam wayang kulit 
Biyung Agung = Ibu Agungnya perempuan Jepara, Ratu Kalinyamat.
Gusti Pangeran = Sebutan bagi Tuhan cara Jawa.
"Puisi: Anak Ki Suta Kluthuk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Anak Ki Suta Kluthuk
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Percakapan di Satu Desa

Nanti malam, apa jadi engkau ke rumah?
Isteriku membuat dodol biji mangga
Kita makan di halaman
Berdua kita pecahkan

Besok lusa, tolonglah aku menyabit lalang
Buat pengganti atap gubukku
Ajaklah Sidun, aku senang padanya
Lantaran ketawanya yang menggelegar
Dapat mengganjal jiwaku yang sedang lapar

Nanti malam, apa jadi engkau ke rumah?
Di bawah bulan yang mulai sembuh dari gerhana
Sambil menunggu gerhana bulan
Bagaimana bisa kutebus
Sawah ladangku yang masih tergadai.

"Puisi: Percakapan di Satu Desa (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Percakapan di Satu Desa
Karya: D. Zawawi Imron