Bisnis

header ads

Puisi: Balada Para Penggarap (Karya Diah Hadaning)

Balada Para Penggarap

Seorang penggarap berpesan pada
istri dan kedua anak lelakinya:

Ingatan tentang merdeka masih
mengental di kopi pahit
kian hari makin pahit lantaran
kebun tebu peninggalan canggah moyangmu
telah ditumbuhi tiang-tiang beton
sementara anak-anak mulai menghitung langkah
mengukur jarak antara rumah dan sawah
bertanya-tanya tentang bajak dan tanah garapan.

Jika tumbuh jamur di desa Segaramakmur
dan orang lupa antara Krawang-Bekasi
diganti dengan Tarumajaya Bekasi
yang lambat tapi pasti semakin mengiris hati
lantaran lidah dan lengah hilang daya
penggarap nasib terkatung hari marimba
gumam macapat tanah merdeka
jika tiada tanah di bumi
penggarap mengolah tanah di hati.

Bogor, 1996
"Puisi: Balada Para Penggarap (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Balada Para Penggarap
Karya: Diah Hadaning

Posting Komentar

0 Komentar