Bincang Sebuah Jembatan Gantung

Selamat pagi anak manusia
tapak-tapak kaki kecil menyentuh
kuakrabi berbilang windu
ada yang patah ada yang menyulam
tak sampai goyahkan kesetiaan
20 tahun aku selalu menyapa
menghantar kalian
ke kebun karet di seberang
20 tahun aku selalu menjaga
kalian pulang dari pasar dan ladang.

Rinduku
pada pilar-pilar penyangga
Rinduku
pada terang lampu di atasnya
Rinduku
pada cantik kampung Mangkahayu
Rinduku
pada riak-riak sungai Balangan
adalah bisik peladang
di seberang jembatan
adalah bisik perempuan
mendekap anak tersayang.

Selamat pagi anak manusia
aku masih setia menjaga Mangkahayu
selamat pagi masa depan kebun karet
selamat pagi masa depan pasar ladang
saku tembangkan
hari-hari kalian dibawa angin
menyusuri pinggir Mangkahayu
menyusuri atap rumah camat Paringin
mengusap lembah hati orang kota
mengusap janji lama orang tetua
kelak di sini
tak lagi kau dapati
kayu patah di rentangku
tali plastik pengikatku
jika kawat rapuh oleh karat
tak ada cemas mengusik
langkah melenggang tenang
percaya pada kebijakan Sang Pemangku
satu saat tiba juga
cantik semarak di Mangkahayu
di sini setia
langkah-langkah anak Indonesia
di sini setia
bisik-bisik cinta merdeka.

Jakarta
Agustus, 1986
"Puisi: Bincang Sebuah Jembatan Gantung (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Bincang Sebuah Jembatan Gantung
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top