Maret 2009
Hari Pun Tiba

Hari pun tiba. Kita berkemas senantiasa
kita berkemas sementara jarum melewati angka-angka
kau pun menyapa: ke mana kita
tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-daunnya

tiba-tiba terasa kita tak sanggup menyelesaikan kata
tiba-tiba terasa bahwa hanya tersisa gema
sewaktu hari pun merapat
jarum jam sibuk membilang saat-saat terlambat.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Hari Pun Tiba
Karya: Sapardi Djoko Damono
Tiga Lembar Kartu Pos

1
Soalnya kau tak pernah tegas menjelaskan keadaanmu, tak pernah tegas mengakui bahwa harus menyelesaikan perkaramu dengan-Ku. Suratmu dulu itu entah dimana, tidak di antara bintang-bintang, tidak di celah awan, tidak di sela-sela sayap malaikat. Masih Kuingat benar: alamat-Ku kau tulis dengan sangat tergesa, Kubayangkan tanganmu gemetar tanda bahwa ada yang ingin lekas-lekas kau sampaikan pada-Ku.

2
Kau dimana kini? Sebenarnya saja: pernahkah kau tulis surat itu? Pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin ketika kau lihat bayang-bayangKu yang tertinggal di kamarmu?

Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng yang tergantung di dinding itu.

Bagaimanapun Aku ingin tahu dimana kau kini.

3
Anakmu yang tinggal itu menulis surat, katanya antara lain, “...alamat-Mu kudapati di tong sampah, di antara surat-surat yang dibuang Ayah; hanya sekali ia pernah menyebut-nyebut nama-Mu, yakni ketika aku meraung karena dihalanginya mengenakan topeng yang ...”

Rupanya ia ingin mengajak-Ku bercakap tentang mengapa Aku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang tahunmu dulu itu.

Siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Tiga Lembar Kartu Pos
Karya: Sapardi Djoko Damono
Di depan Pintu

Di depan pintu: bayang-bayang bulan
terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang
mengajak pergi
menghitung jarak dengan sunyi.

"Puisi: Di depan Pintu (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Di depan Pintu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Candi Mendut

Di dalam ruang yang kelam terang
Berhala Budha di atas takhta,
Wajahnya damai dan tenung tenang,
Di kiri dan kanan Bodhisatwa.

Waktu berhenti di tempat ini
Tidak berombak, diam semata;
Azas berlawan bersatu diri,
Alam sunyi, kehidupan rata.

Diam hatiku, jangan bercita,
Jangan kau lagi mengandung rasa,
Mengharap bahagia dunia Maya.

Terbang termenung, ayuhai, jiwa,
Menuju kebiruan angkasa,
Kedamaian Petala Nirwana.

"Puisi: Candi Mendut (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Candi Mendut
Karya: Sanusi Pane

Teringat Masa Kecil Saat Bermain Bola di bawah Purnama

Seperti bola pingpong memantul-mantul
di atas kening, bergulir pelan ke tebing tidurku
yang hening, melenting, menggelinding....

2007
"Puisi: Teringat Masa Kecil Saat Bermain Bola di bawah Purnama (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Teringat Masa Kecil Saat Bermain Bola di bawah Purnama
Karya: Joko Pinurbo
Kaki Negara

Kakiku telah kaujadikan kaki kursimu.
Jangan duduk terlalu lama, nanti kakiku patah,
kursimu rebah, pantatmu pecah.

2007
"Puisi: Kaki Negara (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kaki Negara
Karya: Joko Pinurbo
Minggu Pagi di Sebuah Puisi

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami
kisah Paskah ketika hari masih remang dan hujan,
hujan yang gundah sepanjang malam,
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi,
pergi berbasah-basah ke sebuah ziarah.

Bercak-bercak darah bercipratan
di rerumputan aksara di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.

“Ibu akan ke mana?” perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan cari di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjukkan potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu bersimpuh.

Gadis itu Maria Magdalena, artinya:
yang terperkosa. Lalu katanya, “Ia telah
menciumku sebelum diseret ke ruang eksekusi.
Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata
telah menjarah perempuan lemah ini.
Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jari-Nya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang pecah-pecah, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami
kisah Paskah ketika hari mulai terang, kata-kata
telah pulang dari makam, iring-iringan demonstran
makin panjang, para serdadu berebutan
kain kafan, dan dua perempuan mengucap salam:
“Siapa masih berani menemani Tuhan?”

1998
"Puisi: Minggu Pagi di Sebuah Puisi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Minggu Pagi di Sebuah Puisi
Karya: Joko Pinurbo
Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso
dan anaknya lewat depan pintu rumahku.
Ting ting ting. Seperti suara mangkok
dan piring peninggalan ibuku.

Berulang kali ting ting ting, tak ada
yang keluar membeli bakso. Tak ada
peronda duduk-duduk di gardu.
Semua sedang sibuk menghangatkan waktu.

Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah
iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas
mengejar tukang bakso ke gardu ronda.
Bakso! Terlambat. Penjual bakso
dan anaknya sedang gigih makan bakso.

Air mata penjual bakso menetes
ke mangkok bakso. Anak penjual bakso
tersengal-sengal, terlalu banyak menelan bakso.
Kata penjual bakso kepada anaknya,
“Ayo habiskan bakso kita, Plato. Kasihan ibumu.”

Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso.

2004
"Puisi: Penjual Bakso (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Penjual Bakso
Karya: Joko Pinurbo
Antar Aku ke Kamar Mandi

Tengah malam ia tiba-tiba terjaga,
kemudian membangunkan Seseorang
yang sedang mendengkur di sampingnya.
Antar aku ke kamar mandi.

Ia takut sendirian ke kamar mandi
sebab jalan menuju kamar mandi
sangat gelap dan sunyi.
Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi.

Maka Kuantar kau ziarah ke kamar mandi
dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki.
Kau menunggu di luar saja.
Ada yang harus kuselesaikan sendiri.

Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba
peta tubuhmu dan kaudengar suara:
Mengapa tak juga kautemukan Aku?

Menjelang pagi ia keluar dari kamar mandi
dan Seseorang yang tadi mengantarnya
sudah tak ada lagi. Dengan wajah berseri-seri
ia pulang ke ranjang, ia dapatkan Seseorang
sedang mendengkur nyaring sekali.

Jangan-jangan dengkur-Mu
yang bikin aku takut ke kamar mandi.

2001
"Puisi: Antar Aku ke Kamar Mandi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Antar Aku ke Kamar Mandi
Karya: Joko Pinurbo
Obituari Bambang

Bambang adalah teman yang periang dan cerdas.
Ia pandai menghibur kita hanya dengan kesederhanaan wajahnya.
Ia cepat memahami isi hati dan pikiran kita
tanpa harus bertanya dan berkata-kata.
Ia selalu tertawa dalam suka maupun duka.
Bila kita menghardik, bahkan mencaci-makinya, ia hanya meringis
dan tersipu sehingga kita malah terharu olehnya.
Kita sering sedih dan menyesal melihat wajah cepat tua,
sementara ia tetap saja awet muda.

Bambang memang teman yang luar biasa.
Sejak kepergiannya, rumah seperti kehilangan jiwa.
Tak ada lagi yang menemani kesendirian dan ketakutan kita
saat kita bersolek di depan kaca.
Tak ada lagi yang menggantikan wajah kita bila kita bosan
melihat wajah yang maya.

Bambang, topeng kita yang pendiam itu, mungkin sudah dibuang
atau disembunyikan oleh entah siapa di antara kita
yang tidak sanggup lagi bersaing dengan keluguannya.

2001
"Puisi: Obituari Bambang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Obituari Bambang
Karya: Joko Pinurbo
Loper koran

Pagi-pagi sekali loper koran itu sudah nongol di depan pintu,
menaruh koran di pangkuanku seraya berpesan:
“Jangan percaya koran. Koran cuma bohong-bohongan.”

Dan setiap akhir bulan, saat menerima uang langganan,
ia tak pernah lupa mengingatkan: “Jangan percaya koran.
Koran cuma bohong-bohongan.”

Suatu siang loper koran yang tak pernah membaca koran itu
mati ketabrak mobil wartawan. Tubuhnya digeletakkan
di pinggir jalan dan hanya ditutupi selembar koran.
Banyak yang pura-pura sibuk mengurusnya dan, tentu saja,
ada yang diam-diam mengincar dompetnya.

Aku tak tahu siapa yang mengantar pulang jasadnya,
tapi setiap membaca koran aku seperti sedang mengantar
jenazah loper koran yang malang itu, menyusuri gang
demi gang di tengah perkampungan kata-kata yang bising
dan pengap, dan setelah muter-muter seharian akhirnya
kutemukan sedikit tempat untuk menguburkannya.

Setiap Lebaran aku menyempatkan diri ziarah ke makamnya,
menyusuri lorong-lorong gelap di tengah kuburan kata-kata
yang luas dan lengang dan kudapatkan nisan kecilnya
hampir tertutup ilalang. Tak ada bulan di atas kuburan.

2001
"Puisi: Loper koran (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Loper koran
Karya: Joko Pinurbo
Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta
peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

2003
"Puisi: Pacar Senja (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pacar Senja
Karya: Joko Pinurbo
Jurang

Berputar-putar di rimba ranjang, mencari jalan setapak
menuju tubuhmu yang terjal dan curam, sementara hari
mulai gelap dan hujan sebentar lagi datang, awas ada
penjahat siap menghadang, akhirnya aku tersesat
dan terperosok ke dalam jurang.
Tubuhmu terlindung jauh di luar ranjang.

 
2002
"Puisi: Jurang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Jurang
Karya: Joko Pinurbo
Pada Suatu

Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata,
"Kiamat tak akan ada selama kau masih dapat
mengucapkan pada suatu hari atau pada suatu ketika."

Dengan pada suatu hari atau pada suatu ketika
engkau yang kacau dapat disusun kembali,
aku yang beku dapat mencair dan mengalir kembali.

Dalam pelajaran mengarang di sekolah
kau pasti pernah menggunakan pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Begitu pun saya.

"Hidupmu lebih luas dari pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Carilah pada suatu yang lain,"
pesan guru saya saat saya lulus dan berpamitan.

Pada suatu cium surga samar-samar terbuka;
maut tersipu, silau oleh cahaya matamu.
Pada suatu tidur bantal terpental, guling terguling,

dan di atas ranjang yang runtuh doaku utuh.
Pada suatu kenyang piring bersabda, "Nikmat apa lagi
yang kauminta bila lidahmu tak pernah bisa bahagia?"

Pada suatu syukur ada suara burung trilili
yang gemar bermain tralala sepanjang waktu
dan tak pernah bertanya, "Apakah kebahagiaan itu?"

Pada suatu mandi tak ada sumur yang abadi.

2016
"Puisi: Pada Suatu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pada Suatu
Karya: Joko Pinurbo