April 2009
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orang Pendaki

Pejalan langit memanggili diri dari setiap puncak
bagi kota celaka yang tuntun langkahku
aku tanam ajalku dalam setiap gelindingan batu

tarian tanah ini, kekasihku
tarian luka setiap pendaki dalam jalan gunung

Sambil membenci dunia: hayo mendaki!
mendaki!
menanam langit dalam kakiku
memuja kebesaran manusia dalam lolongan sunyi

Membakar langit
bagi segala yang kudaki
tak ada.

Puncak tertawan dari segala hari.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Orang Pendaki
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kesepian di Lantai 5 Rumah Sakit

Lelaki itu menatapku setelah selesai mengucapkan doa. Keningnya seperti mau berkata, apakah aku sedang membuat dusta? Aku menghampirinya, dan mencium bibirnya. Tubuh manusia itu sedih dan menyimpan bangkai masa lalu. Tetapi keningnya mengatakan, bahuku sakit dan bisa merasakan ciuman dari seluruh kesepian. Aku kembali mencium lelaki itu, seperti jus tomat yang tidak tahu kenapa lelaki itu berdoa dan sekaligus merasa telah berdusta. Aku memeluk lelaki itu di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu melihat ambulans datang dan menerobos begitu saja ke dalam jantungnya. Dia tidak yakin apakah ambulans itu apakah jantung itu.

Lalu aku melompat dari lantai 5 rumah sakit itu, lalu aku melihat tubuhku melayang, batang-batang rokok berhamburan dari saku bajuku. Aku melihat kesunyian meledak dari seragam seorang suster, lalu aku tidak melihat ketika tiba-tiba aku tidak bisa lagi merasakan waktu: tuhan, jangan tinggalkan kesepian berdiri sendiri di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu tidak tahu apakah kematian itu sebuah dusta tentang waktu dan tentang cinta.

Lelaki itu kembali menatapku setelah selesai mengucapkan kesunyian, dan membuat ladang bintang-bintang di kaca jendela rumah sakit. Ciumannya seperti berkata, kesunyian itu, tidak pernah berdusta kepadamu. Aku lihat wajah lelaki itu, seperti selimut yang berbau obat-obatan. Perangkap tikus di bawah bantal. Dan kau tahu, akulah tahanan dari luka-lukamu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Kesepian di Lantai 5 Rumah Sakit
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Setelah Aku
(:eyelight)

Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai 
reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang-
gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang 
mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas 
kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para 
petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu 
bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh. 
Berenang, dalam  yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati 
di mataku.

Ketukan-ketukan kecil, putaran di kening, lembah-lembah yang 
belum pernah kulihat. Aku berdiri melihat garis bibirmu dari 
matamu, garis yang dilalui sebuah truk. Seorang perempuan 
menyetirnya dengan lengan kirinya yang patah. Ia gulingkan 
cermin-cermin busuk ke dalam kaca: aku pada batas-batas 
berakhirnya aku. Perempuan yang kecantikannya melumpuhkan 
batas-batas militer. Parit-parit bekas peperangan, membuat mata 
rantai baru ke telaga. Bebaskanlah aku, bebaskanlah aku dari 
kultur yang menawan kebinatanganku.

Ia bergerak, kejutan-kejutan pendek dari setiap bayangan puisi. 
Garis pantai lurus dari matanya, semakin lurus dalam horizon 
keheningan: batas setelah manusia menyerahkan dirinya kembali 
sebagai binatang. Perempuan yang kecantikkannya menyihirku 
sebagai lelaki setelah lelaki, sebagai aku setelah aku. Kecantikan 
yang mengisi kembali botol-botol kosong dalam puisi, setelah 
kekejaman di luar tutup botol.

Aku ambil kembali manyatku dari lidahnya. Perempuan yang 
kecantikannya terus menerus merajut pecahan-pecahan kaca. Aku tak 
percaya, tubuh penuh jahitan setelah aku di depanku. 
Perempuan yang kecantikannya membangun sebuah hutan di 
mataku, siang-malam, mengisinya dengan binatang-binatang 
kecil, pagar jiwa dalam cincin yang mengusir kehancuran makna. 
Gua bagi pemuja tubuh dan burung-burung dalam kicauannya. 
Di dalam sarangnya, aku dan waktu menjadi purba.

"Afrizal Malna"
Puisi: Aku Setelah Aku
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebutir Telur di Belakang Punggungku

Kau telah menjadi air ketika melihat semua kejadian yang berlangsung di belakang punggungmu. Kita menginap di sebuah hotel murah, dekat bandara. Hari ini kau berulang tahun. Aku bergegas membersihkan kamar. Kau sibuk membeli coklat, roti, jeruk dan minuman kaleng. Kau bilang kau sedang 'ngobrol dengan ayahmu tentang seorang perempuan yang matanya terbuat dari sebuah pantai. Tapi ayahmu bilang kau sedang tak di rumah.

Di kotamu aku seperti bisa melihat mataku sendiri dengan mataku. Hati-hati berjalan di situ. Ada kepiting yang sedang menggali lubang di dalam pasir. Pantai itu, seperti sepasang kelopak mata yang tak pernah terpejam. Karena orang terus berdatangan, karena pesta belum berakhir. Kepiting dalam lubang itu terus menggali, dan menemukan laut yang lain di punggungku. Menurutku bukan laut, itu sebutir telur. Sebutir telur tempat ibuku dikuburkan. Tapi kukira itu juga bukan sebutir telur, itu buah semangka yang tumbuh di lapangan bola. Aku tak pernah tahu, siapa saja yang telah membakar diriku dalam pesta itu.

Lalu aku buat sebuah bantal, sebuah bantal dari waktu-waktu yang berjatuhan untuk tidurmu. Pesta belum berakhir, hingga punggungku berwarna putih. Putih seperti musim dingin.

"Afrizal Malna"
Puisi: Sebutir Telur di Belakang Punggungku
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Antri Uang di Bank

Seseorang datang menemui punggungku
Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu,
seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai.
Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku


"Afrizal Malna"
Puisi: Antri Uang di Bank
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tiga Komposisi

(1)
Keindahan tersusun dari alis tebal yang hitam kecokelatan 
Hidung bertindik serta bibir yang retak-retak mirip tembaga 
Kemerduan terdengar dari rintih kesendirian, dari lenguh kesepian 
Dari ketabahan yang senantiasa berjaga sekitar ranjang dan sofa 
Saat-saat genting akan tiba ketika suku kata menghadirkan semua bunyi 
Pada setiap ucapan. Dan keheningan segera mengendap jika kalimat 
Menenggelamkan seluruh hurufnya menjadi konsonan-konsonan 
Yang hanya bisa dibaca serta dipahami oleh kediaman pagi

(2)
Keanggunan memahat bukit karang menjadi patung telanjang 
Dengan payudara besar yang menyerupai monumen purba 
Keseimbangan mengukir lekuk gelombang pada lebar pinggang 
Pada lingkar pinggul. Berdirilah di ujung senja tanpa kata-kata 
Dan saksikan bagaimana ajal melenggang layaknya seorang balerina 
Penari tua yang begitu riang menebarkan pesona sekaligus bencana 
Ke tengah dunia. Keindahan dan ajal bersahutan melempar suara 
Yang terus memantulkan gema dari samudera ke samudera

(3)
Kekhusyukan seperti pemanjat tebing yang merayapi rambut ikal 
Menapaki sulur-sulur kekekalan. Dan maut seperti peselancar nakal 
Yang menerobos lorong darah, menyusuri celah napas serta melintasi 
Selasar jantung. Kepasrahan tergambar dari bangsal rumah sakit 
Dari ruang persalinan. Kelahiran dan kematian adalah saudara kembar 
Yang berbeda wajah dan lama terpisah, namun mereka akan bertemu 
Pada saatnya. Seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan berjauhan
Seperti cinta dan maut yang ternyata saling merindukan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Tiga Komposisi
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Sebuah Taman

Setiap kusaksikan kaki langit yang jauh
Kubayangkan waktu akan terus berkobar
Bersama dendam. Dari perut senja yang terbelah
Darah segar mewarnai sebagian langit
Sedang kemurunganku mewarnai sebagian lainnya
Ingin kusaksikan dosa pertama tumpah
Ketika manusia memahami dirinya
Sebagai ancaman bagi sesamanya

Aku duduk di antara meriam-meriam
Yang berdentuman. Di antara reruntuhan kota-kota
Kusaksikan tahun-tahun lepas dari almanak
Seperti orang-orang yang terbunuh dan kemudian
Membusuk dalam got. Lalu kureguk anggur
Ketika sejarah kembali mengirimkan ribuan peluru
Pada mataku. Kulihat bintang-bintang berhamburan
Darah segar mewarnai seluruh langit

Bertahun-tahun aku duduk di taman dunia
Menyaksikan kaki langit yang jauh. Bertahun-tahun
Aku duduk membayangkan waktu dan dendam
Seperti gelap dan terang. Kureguk anggur
Ketika pesawat-pesawat tempur membakar ufuk
Kureguk anggur dan aku mabuk di antara bom-bom
Yang berjatuhan serta bumi yang pelan-pelan
Ditenggelamkan para pemujanya.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Sebuah Taman
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Montmarte
(Buat Agam Wispi)

Sesuatu yang mirip bukit, bertangga-tangga
Sesuatu yang mengingatkanku pada punggungmu
Yang tak rata. Rintik gerimis, remang kabut
Rumah-rumah kotak yang berlinangan cahaya
Sebuah kastil putih yang runcing atapnya
Jalan kecil yang menanjak, melingkar-lingkar
Dan berujung di sebuah tanah lapang

Di mana para pelukis dengan baret dan sal
Para seniman tak dikenal, para pelancong kasmaran
Juga gantungan-gantungan kunci, kerudung warna-warni
Patung-patung perunggu serta sekian daptar menu
Menjadi bagian dari kesepianku. Aku seperti melihatmu
Ketika seorang sinterklas membagikan permen dan cokelat
Pada anak-anak. Kulewati poster-poster di dinding
Dan perutku tersentuh gemerincing koin:
Bau kebab tercium dari jendela sebuah restoran

Para pengamen itu menyanyikan sajak-sajak
Dengan suara serak, dengan iringan gitar dan tamborin
Musim dingin menampakkan parasnya yang ngungun
Berjalan gontai meninggalkan kedai minum
Sesuatu yang kemudian mengingatkanku padamu
Karena mulutmu penuh anggur dan napasmu
Terengah seperti burung hantu -
Dengan cuping hidung yang selalu basah
Serta kening mirip sebuah kubah yang dibelah.

"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Montmarte
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Belum Singgah

Kulihat matahari menenggelamkan dirinya
Dingin menyebarkan harum gandum, dan angin
Kenangan lama yang terus memusar
Di jantung udara. Salju belum singgah
Langit diselimuti mendung
Perahu-perahu terapung
Restoran-restoran berlampu redup
Museum-museum tutup. Tak ada malaikat
Tak ada penjual kembang gula itu
Hanya seorang wanita
Dengan pakaian warna-warni
Seorang wanita dengan giring-giring
Di kakinya. Desember yang sangsai
Akhir tahun yang ngungun
Berjalan gontai ke arah kedai minum

Sambil menghirup udara
Menyusuri gang-gang berbatu
Aku melaju dalam pikiran ganda
Seperti mencium lagi bau tinta, tumpukan kertas
Potongan tembaga, mesin cetak yang tua
Di sebuah atelier. Tercium juga kakus umum
Stasiun kereta, deretan sepeda unta dan sebuah pub kayu
Di pinggiran kota

Salju belum singgah
Daun-daun menguning di atap rumah
Rumah-rumah bertumpuk
Seperti kotak suara. Sebuah gereja menjadi rumah
Dan orang-orang berdoa di mana saja
Sembahyang di mana saja, bercinta
Di mana saja

Aku berputar
Dan terus berputar
Mengikuti dentang lonceng
Yang membongkar sisa keyakinananku
Pada sesuatu yang tak ada. Salju belum singgah
Malaikat-malaikat belum lewat
Kematian bagai serpihan planet hijau
Yang melayang-layang. Tak ada percakapan
Tak ada kabar dari kepulauan
Hanya ujung sepatuku
Yang terantuk pada trotoar
Telah berbicara atas nama waktu
Dan mengenai waktu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Belum Singgah
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepanjang Roxas Boulevard

Aku terseret pendaran cahaya lampu
Setelah bergelas-gelas anggur yang menawarkan sunyi
Kureguk langsung dari mulutmu. Dan kau menggeliat
Dalam tarian kegelisahan yang panjang
Mengisi setiap ruang kosong pikiran dan perasaanku
Dengan gerakan-gerakan lembut dan teramat liat

Manila yang menjulang dalam cahaya suram
Seakan membara dalam matamu. Aku yang terbakar
Hanya bisa menandai udara dengan kepulan asap
Dari mulutmu telah kureguk kelaparan demi kelaparan
Dalam ungkapan paling liar. Lalu kau meronta
Menarikan pertemuan kita yang maya.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sepanjang Roxas Boulevard
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah Yang Terbuka

Jarum penglihatanku memasuki seluruh pori-pori
Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali sering menjelma api
Yang menyalakan sumbu urat-urat darahku
Aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
Untuk kunyanyikan diam-diam. Tanganku meraba ayat-ayat
Tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
Aku selalu ditenggelamkan sinar bulan.

Mengupas kemolekanmu dengan pisau pikiran
Adalah sia-sia. Keindahan hanya bisa kurasakan getarnya
Seperti cinta yang membakarku tiba-tiba
Aku menggali cahaya dari kuburan-kuburan kenanganmu
Untuk kunyalakan dalam jiwa. Dengan kaki telanjang
Kumasuki rumah batinmu yang terbuka
Di lantai pualam aku bergulingan sepanjang malam.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Rumah Yang Terbuka
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Arco Etrusco

Kesunyian kita
Dibangun dari tumpukan batu
Dan terowongan-terowongan gelap
Lengkung-lengkung tiang dan menara-menara
Katedral. Kesunyian kita
Berlumut pada tembok-tembok
Dan menjadi undakan-undakan waktu
Yang terus menanjak

Lebih terjal dari karang manapun
Juga dari perasaan yang menjulang
Ke angkasa. Kita menghitung jejak
Dan menemukan isyarat-isyarat
Perjalanan menjadi jauh dan terlunta
Bintang-bintang tak tumbuh di langit tembaga
Sedang taman-taman telah lenyap
Ke balik bumi. Hanya jurang-jurang menganga
Dengan anak-anak yang berterjunan ke sana

Terbaca pada dinding angin
Kebisuan mega dan hujan yang tertahan
Di udara. Lalu kita menyaksikan semuanya
Gedung-gedung dibangun dan dirubuhkan
Jalan-jalan melingkar seperti kata-kata
Pohon-pohon meregang dan menyusut
Tapi matahari tetap membakar lubuk tanah
Dan mayat-mayat tegak dari kematiannya
Semuanya kesunyian kita

Disusun dari tumpukan rumah
Dan kebisuan pintu-pintu
Lorong-lorong perkampungan dan labirin
Tanpa ujung. Kesunyian kita
Menghitam pada patung-patung
Dan menjadi kalimat-kalimat gelap
Tapi senantiasa dibaca waktu
Dengan matanya yang retak-retak.

1992
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Arco Etrusco
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Senza Titolo

(1)
Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting
Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku
Asing dan sunyi di antara tembok-tembok tua
Perlahan kudengar lonceng gereja
Seperti mengisyaratkan jarak
Yang tak terjengkal. Perceraian kita
Lebih perih dari perpisahanku dengan dunia
Atau selamat tinggalku pada benda-benda -
Ranjang kita hangus dibakar waktu
Nafsumu berkobar di belahan yang jauh
Sedang kesabaranku tertimbun salju
Dalam kebisuan yang mengeras.

(2)
Kita telah sama-sama melupakan sorga
Sejak pertama luka kita torehkan
Hingga mengalir sungai darah yang deras
Tempat kita mandi dan minum sepuasnya
Sambil terus membuat borok-borok lain
Sebagai kegembiraan. Tapi semuanya lampau
Kini aku menggigil karena tahu ada yang lebih indah
Selain dosa. Sesuatu yang hanya bisa dibayangkan
Sebab antara kita masih berkobar dendam -
Sebuah buku yang dipenuhi sajak-sajak protes
Dengan gambar-gambar kemarahan yang menggugat
Bahwa neraka tak di mana pun.

(3)
Ada darah mengalir di atas timbunan salju
Ia membentuk dirinya menjadi susunan huruf-huruf
Dan kubaca sebagai kesepian yang mengerikan
Kesepian yang tak pernah terlintas
Dalam sajak-sajakku. Hidup telah kupermainkan
Seperti juga aku telah dipermainkan hidup
Kini semuanya saling berhadapan dengan pemahaman
Yang berbeda. Darahku terlalu tawar untuk dunia ini
Dan hanya akan bergolak jika dicampur darahmu -
Sebuah perkawinan antara minyak dengan api
Kita akan saling membakar
Kita akan saling menyalakan

(4)
Henny Hendrayani, catatlah ini:
Seperti daun-daun yang luruh, ranting-ranting
Yang lepas oleh angin. Demikianlah kutempatkan diriku
Asing dan sunyi. Kulihat awan-awan yang bergerak
Langit penuh tarian dan arakan awan-awan
Di sana kulihat tubuhmu masih nampak lebih ringan
Dari cahaya yang menari-nari -
Tapi lupakanlah, lupakanlah semuanya
Dunia kita telah hangus dibakar pertikaian
Menangislah pada puing-puing jauh di seberang
Di sini aku akan menjerit membangun patung-patung
Dari timbunan kesabaranku yang membeku


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Senza Titolo
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Hari Kelahiran
(Catatan 28 Pebruari)

Kota pun jadi basah
Lantai pun jadi bersih
Hari ini
Adalah duapuluh tahun silam

Akukah Adam?
Sementara letih ini terduduk
Angin merunduk
Sesaat memandang cemas
Langkah-langkah lama yang bergegas

Langkah-langkah dulu yang pernah mengejar
Yang merangkak sepanjang duka dan gemetar
Ketika dingin ini mengusir, pelahan
Hujan sepanjang jalan

Akukah Acep?
Berjalan lewat usia, dari rindu ke rindu
Dan menunggu, setia menunggu
Sebelum sampai ajalku
Sebelum selesai seluruh waktu.

1980
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sajak Hari Kelahiran
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Surat dari Lampung

Tegineneng, 8 Juli 1959 (km 37, Tanjungkarang)
Yth. Sdr. S.N. Ratmana Lingga 16, Semarang

(I)
Salam bahagia, Rat apa kabar kau di Jawa 
adakah sehat sejahtera
Alhamdulillah kami di Lampung wal-afiat sekeluarga

Ladang kami telah terang berbulan 
merambah lalang padi 
rawa pun habis dituai padi gadis berjumbai-jumbai penating lumbung setahun paya bencah 24 rantai kambing kacang selalu bunting-bunting sapi pun tambah besar antara rerumputan dan semak petai cina randu durian 'kan mulai berbunga.

Di selatan kebun jeruk berputik rata rindang-rindang bagai perawan muda hijaunya di bumi melandai dibuai kulik elang kelepak burung podang.

(II)
Sekali-sekali singgah datuk berbaju belang bengkarung tak berbunyi menyelami laut lalang dalam pelintasan malam atau topan yang menghalau bukit dan memutar berjuta daunan babi liar yang membuat sawan dengan moncong tembilang.

Anak-anak menangis malam ditenggeri flu dan malaria istriku matanya makin dalam luruh dari kehidupan kota.

(III)
Tapi bila malam lembayung dan antara kapas langit bulan berdayung temaram di atas tetangkai jeruk rawa dengan wajah kaca hitam mengunjur dan menggeliat ke hulu bagai perempuan berahim subur dan angin yang mengaliri pepohonan membawa nafas Tuhan
dan kami beranak-pinak di atas tikar pandan, berdiam setelah berimam empat rakaat mendengungkan Qur'an dan shalawat.

Doa syukur dipanjatkan
doa pelindung dipagarkan
doa berkat ditanamkan.

(IV)
Rat, kapan kau mau datang berlepas lelah dari kehidupan kota yang panas dan mengering
di sini randu rambutan mulai berbunga di padang lalang kita berburu kijang dan siul burung kutilang rawa, perempuan subur itu menggeliat di ranjangnya bencah.

(V)
Dan bila langit memicingkan matanya biru hitam kita 'kan mengunjur.
Terlena dibuai istirah yang dalam

10 Oktober 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Surat dari Lampung
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fajar

Fajar, hanya padamu sendiri istirah
Ajalku pengap
Hanya padamu jasmaniku yang resah
Menemu lelap Seperti sungai berprahara
Semula menubuh siksa
Tiap gelap menyelubung
Sia-sia aku bertarung
Di wajahmu, yang mendekat
Diam-diam
Seperti mempertakuti
Mengintip, menyelinap
Hantu tersamar
Fajar beku bercadar
Kengerian mengaduh, iblis lari
Maut, pengawal
Hitamku yang gigih
Jauh pontang-panting
Berkaki pencuri.

Lalu aku bangkit dan merenggut
Diriku dari gelombang bayang
Pelan-pelan aku terlena
Pulas bagai karang.

Duh fajar, duh fajar damai
Laut cahaya tak bernama
Kau pangku setiap sungai.

2 September 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Fajar
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dua Nukilan dari Odyssey

(I)
Kemudian daging pun cair, pandang mem
beku, jantung hening detak
Dan pikiran agung membubung ke puncak kemerdekaan asri
Menggelepar dengan sayap-sayap terbuka, membelah dada angkasa
Menoktah tinggi dan melepas diri dari sangkar terakhir
Sangkar kemerdekaannya
Segalanya mengabut tipis hingga selengking teriak dahsyat
Menggunturi perairan tenang dan hitam
“Majulah anak-anakku, berlayarlah, karena angin Maut meniup haluan!”

(II)
“Engkau si dungu, mengapa kau tega kehilangan
Lelaki teragung yang hidup dan bertempur memberimu bentuk?
Kau tuang hati kami dengan ratap dan nafsu hewani
Lalu pekaplah telinga dari semua
Tapi jiwa insan terus berjuang, kau pengecut, tanpa tolongmu!”

Hatinya melambung noktah tak hirau
Ajal Dan di angkasa hitam membina
Seribu ruang tempat berkebar seribu sayap
Dan menjerit bak rajawali, berjuang mengungkai simpai takdir.

1 Juli 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Dua Nukilan dari Odyssey
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kemarau di Desa Bangkirai

Seekor anjing melolong larut di lereng bukit bertubir
Bulan merah di sungai bulat mengapung. 
Hangus dan pijar
Kurus lembah kuning patah daun tebu didukung punggung gunung
Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh

Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh
Kemarin tengah hari udara meleleh di Padang Panjang
Kerbau si Sati, kambing coklat mengah-ngah
Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus

Di ladang padi sekeping bumi kering makin retak-meretak
Di jantung penghuni rindu dan dahaga tetak-menetak

Kami terbaring di pondok pelupuh Malam Ramadan ngilunya lagi
Ketika teriakan siamang bertalu membelahi lembah
Sati melompat bangkit menerjang daun jendela:
Hitam kental mencat daerah sangsai

Lereng huma padi mendenting kehausan
Musim manis 'pabila tiba?

Hari berhujan sayang subuh berasap tungku tengguli

Tapi malam kemarau belah teriakan siamang bertalu-talu
Menopan ke jantung penghuni mengentali deru
Musim hujan datang! Musim hujan datang!

Hujan oooi, hujaaaaan!
Hujan oooi, hujaaa – aaa aa – aaan!

Juli 1955
=======
Penduduk sekitar Baruh di kaki gunung Singgalang bertahayul, bahwa apabila di larut malam siamang berteriak-teriak, maka keesokannya tentu akan terjadi apa-apa yang luar biasa.
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kemarau di Desa Bangkirai
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Orang Hutan

“Perkenalkan anak-anak, saya hewan!
Nama saya Orang Hutan
Hobi saya di pohon berayun-ayunan
Alamat saya hutan Kalimantan.”

Anak-anak sekelas jadi heran dan gelak-gelak
Ada orang hutan lepas dari Kebun Binatang?
Tapi dia nampaknya baik dan tidak galak
Bentuknya memang seperti orang

Pak guru menerangkan di depan kelas
Pelajaran ilmu hewan supaya jelas:
“Memang di kalangan para hewan biasa
Orang Hutan paling mirip manusia”

“Tangannya ini panjang sekali, dua kali tinggi badan
Sering dipakai berayun dari dahan ke dahan pepohonan
Kakinya pendek, tapi jari kakinya pandai menggenggam
Sangat berguna di hutan siang dan malam”

Kemudian pak guru ilmu hayat berkata pula:
“Dia ini gemuk tak terkira
Kira-kira delapan puluh kilo berat badannya
Bulunya berwarna coklat tua”

Lantas dengan sopan dia minta permisi akan pergi segera
Bersalaman dengan guru ilmu hayat dan anak-anak dilambainya
“Selamat jalan Orang Hutan, baik-baik di jalan ya.”
Dia pulang ke Kebun Binatang, lompat lewat jendela.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Orang Hutan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mana Aku Kenal Rakyat Itu

Siapa itu rakyat? Dimana alamat mukim mereka, bagaimana potret nafkah mereka, tunjukkan konfigurasi kesehatan mereka, tolong perjelas status mutakir demografi sesungguhnya.

Karena itu di masa puncak kelaparan saya dengan ringan bisa makan di pesta perkawinan yang satu porsi tagihan lima puluh ribu rupiahnya, setara untuk mengisi perut 50 orang miskin perkotaan dan pedesaan, dengan musik Kopi Dangdut bising memecah gendang telinga.

Siapa itu rakyat? Kalau tak silap rakyat adalah kumpulan selugu-lugu wajah, gampang dibariskan, mudah dicatat sebagai sederetan angka, menerima saja dihujani sejuta kata-kata dengan perangai tak banyak tingkahnya.

Karena itu di waktu satu bangsa ditebas sengsara saya enteng-enteng saja melahap daging bulat smorgasbord Skandinavia dan rijstafel Hindia Belanda seporsi seratus ribu rupiahnya, setara untuk melepaskan pedih lambung sekali makan 100 orang miskin kota dan desa, sementara daun telingaku di acara ulang tahun itu dipijat-pijat lagu Kukuruku Amerika Latin yang merdu itu.

Siapa itu rakyat? Di mana kawasan geografi mereka, bagaimana lapisan asli populasi mereka, peragakan patologi pencernaan mereka, lalu perinci naik-turun tensi rohani orang-orang itu yang sesungguhnya.

Sebagai penimbang rasa betapa saya luar bisa pendusta.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mana Aku Kenal Rakyat Itu
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Disumpahi Jabatan

Burung tekukur menyampaikan bunyi
Yang bagaimana manafsirkannya
Bila bergesekan dengan semak ilalang di ujung halaman
Yang tumbuh liar, mempermainkan cahaya
Di beranda pendopo rumah seorang pensiunan
Lihat dia sedang menghitung perimbangan
Huruf hidup dan huruf mati, dalam ucapan
Sementara anak-anaknya mengikat gugusan kata benda
Di atas meja ukir kayu jati marmar bundar bentuknya

“Sesudah ibu kalian tak ada,” kata
Lelaki yang lumpuh kiri itu seraya
Memainkan tangkai rem kursi roda
“Sesalku seperti bayang-bayang tak habis mengejar
Matahari lepas waktu asar
Imaji yang goyang bergoyang secara gaib
Matahari tergelincir masuk magrib
Kursi roda ayah menggulir ke timur mata angin
Pedalaman penuh kabut dan angin dingin...”

Dia menatap anak-anaknya di sekitar meja marmar
Semua siap dengan tameng penangkis huru-hara
Garis-garis fana mencuat dari lampu gantung tua
Berkas guratan yang diikhtiarkannya bulat sempurna

“Sesalku bagai geraham berbisul di distal kiri
Dengan elemen nyeri tak tercantum di senarai patologi
Seraya melepasku memenuhi panggilan bandar udara
Terimalah tembakan mitraliur pengakuan ayahmu ini
Testamenku dulu kubatalkan sama sekali.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menaikkan tameng penangkis huru-hara
Menutup pandangan agar tembakan tak terkena

“Ayah tak tahan dikejar bayangan ibu kalian
Tentang kebersihan rezeki debat berkepanjangan
Sejak masih hidup, sampai jadi ruh sudah tiga bulan
Dari dulu mamamu tak habis mempertanyakan
Setiap habis mengurus sertifikat atau bentuk usaha apa
Atau ekaun di bank yang menggelembung tiba-tiba
Kami selalu bertengkar diam-diam tapi runcing dan tajam
Kamu semua tak tahu orangtuamu lama terancam perceraian
Tapi selalu mengalami penundaan demi penundaan
Sungguh semua itu sandiwara nyaris sempurna
Menunggu dulu anak-anak selesai sekolah
Lalu menunggu anak-anak selesai kuliah
Kemudian menanti anak-anak satu-satu menikah
Lalu menunggu datangnya cucu-cucu
Yang ternyata setiap satu lucu-lucu
Sementara itu karir ayah melesat maju
Eselon demi eselon, jabatan dami jabatan
Lalu meja kerja yang masuk dalam fokus tembakan
Di kabinet, sebuah kursi jati ukiran, seperti sudah disiapkan
Kalian jangan terkejut ibumu apa kalian kira gembira
Jangankan sujud syukur, dia malah istigfar tiga kali
Mas, kata ibumu, aku khawatir jangan-jangan kamu nanti
Disumpahi jabatan.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menurunkan tameng penangkis huru-hara
Membuka pandangan menatap mata ayah mereka

“Kata ibu kalian, keluarga kita sudah terlampau kaya
Sebagai pegawai negeri, sangat menyolok mata
Walaupun ditutup-tutupi ketahuan senantiasa
Ketika bermuka-muka tentu orang enggan bicara
Waktu itu pada ibumu ayah marah luar biasa
Isah, jangan itu diulang juga, ayah berkata
Di semua eselon kawan-kawanku berbuat serupa
Yang lebih menyolok lagi banyak pula
Tetapi ibumu membantah tetap berani saja
Cuma di depan anak-anak kami seperti tak ada apa-apa
Tapi di dalam kalbuku pergolakan luar biasa
Kemudian ibu kalian meninggal tiba-tiba.”

Burung tekukur kini berbunyi-bunyi lagi
Pesan apa dari pohon sawo dan semak ilalang ini
Keletak kuda andong dan bel beca yang aneh sunyi

“Testamen ayah dua tahun lalu, kini kubatalkan total
Rumah di Kemang, Bintaro, Blok M, Tanah Sareal
Jalan Den Pasar, Warung Buncit, Menteng dan Kuningan
Usaha pom bensin, apotik, bengkel mobil dan percetakan
Angkutan antar pulau, helikopter berikut konsesi hutan
Jasa asuransi, rumah produksi lalu studio rekaman
Ruko, rental video, kios internet yang disewa-sewakan
Pabrik kosmetik, jamu tradisional serta biro konsultan
Tanah di Pluit, Karawaci, Bogor Baru dan Batam
Deposito di Jakarta, Singapura dan Amsterdam
Delapan atau sembilan perusahaan berbentuk saham
Apartemen di Johor Bahru, San Francisco dan Boston
Yang semuanya akan kalian terima sebagai warisan
Kini aku batalkan secara keseluruhan
Dan penjualan itu semua disegerakan
Sekitar satu triliyun dalam taksiran penjumlahan
Lalu pikirkan cara kepada bangsa dikembalikan
Dan jangan satu rupiah pun singgah ke tangan kalian.”

Burung tekukur, sepasang, mengirimkan bunyi
Hinggap pada cakrawala suara tanpa bayang-bayang
Pesan apa dalam panorama ketika ditanyakan makna

“Kini berikutnya inilah yang ayah risaukan
Tentang asal usul pembiayaan pendidikan kalian
Bertujuh anak bertahun-tahun dikirimkan
Ke Pantai Barat, Pantai Timur, Texas dan Michigan
Ibumu dulu sebenarnya tak setuju modus begini
Karena terdedahnya nampak jadi menyolok sekali
Kalian memegang kartu kredit emas bahkan nyetir Ferrari
Demikianlah kalian dapat S-1, S-2 sampai Pi-Eic-Di
Semua berasal dari dana taktis, hasil Komisi dan Upeti
Sangat jelas tak mungkin berasal dari struktur gaji
Ayah sebenarnya lebih memajukan kepentingan diri sendiri
Rahasia negara bagi ayah kecil tak berarti
Selama itu bisa terhadap mata uang dikonversi
Rakyat pun hanya kata benda dalam kalimat melengkapi
Ayah menerima kickback dengan mata tertutup kanan dan kiri
Dari para pemasok proyek bertimbun-timbun hadiah dan upeti
Ayah bekerja tidak jujur tapi berhasil mengkreasi imaji
Citra pekerja keras, lugu dan populis sejati
Tapi di muka ibumu ayah tak bisa berpretensi
Dan ibumu tak bangga kalian sekolah di luar negeri
Dan untuk membersihkan kekotoran rezeki ini
Ayah tak mungkin mengembalikan dengan bekerja lagi
Ayah minta ampun dengan istigfar Nabi Yunus beribu kali
Semoga ayah terlempar ke luar dari sumur dalam segelap ini…”

Ketika semua anak-anak menitikan air mata mereka
Mendengar pengakuan sang ayah yang begitu terbuka
Aib keluarga yang disimpan sudah demikian lama
Kini sunyi penuh tensi diisi cahaya datang dari mana
Berbunyilah burung tekukur mungkin dengan  makna
Sang ayah capek bicara, terkulai di sandaran kursi roda
Ketika itulah Maut pelahan melayang membawa nyawanya.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Disumpahi Jabatan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mendoakan Khatib Jumat Agar Mendoakan

Berminggu-minggu debu Galunggun menyusupi kota-kota
Beratus-ribu saudara kita jatuh sengsara
Di Kalimantan berjuta hektar hutan terbakar
Asapnya menutup Asia Tenggara, apinya berbulan menjalar-jalar
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka

Ada perang panjang di Palestina, Kashmir, Afghanistan dan Filipina Selatan
Beratus-ratus perempuan, lelaki dan kanak-kanak digilas penderitaan
Di atas Baghdad pesawat pembom menderu berminggu-minggu
Membuat puing dan kawah di tengah kota, mencecerkan bahan mesiu
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka
Tak kudengar qunut nazilah dibacakan imam pada raka’at kedua

Banjir besar melanda Jawa Tengah, pesisir sebelah utara
Banjir paling dahsyat Bangla Desh melanda desa-desa yang papa
Gempa bumi menggoyang Flores, Liwa dan Gamalama
Beratus dan beribu orang tercabut nyawa, punah dalam nafkah
Aku masuk sebuah mesjid suatu Jum'at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka

Berjuta penduduk yang miskin dicekik permainan judi
Beribu warung menderetkan beratus-ratus botol alkohol
Saudara kita yang tak berpunya semakin tertelungkup miskin
Mereka bukannya pemalas, cuma sempit dalam rezeki
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka

Marsinah dibunuh, masuk kubur, keluar kubur dan lagi masuk kubur
Siapa itu yang digusur, digusur dan lagi-lagi digusur
Upah kerja yang sangat rendah, tebing tergelincir kufur
Saudara kita yang melarat tergelepar, makin tertelungkup miskin
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Mengapa tak kudengar khatib mendoakan mereka
Mengapa khatibku tak pernah mendoakan ummat yang miskin tertindas itu?

Dua tahun derita Bosnia, dua puluh ribu perempuan diperkosa
Dua ratus mati, dua juta manusia mengungsi
Dan seminggu Bihac dihancur-luluhkan sementara dunia bisu
Gunung Merapi meletus, lahar mengalir, awan panas menjalar-jalar
Badai api menggeletar, mayat-mayat saudara kita hangus terbakar
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum'at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka
Mana itu qunut nazilah pada raka'at kedua

Berbulan ekonomi ambruk, lima belas juta kehilangan kerja
Tangan-tangan menggapai harga, menggantung di awan sana
Lapar dan sengsara tak pulih dibarut dengan kata-kata
Ibu-ibu berdemo susu bayi di depan hutan yang terbakar kembali
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum'at tengah hari
Tak kudengar qunut nazilah dibaca, penolak bala penyeka air mata
Tak kudengar khatib menghibur
Berjuta-juta umat yang menganggur

Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam
Dadakku nyeri, paru-paruku sesak dijepit tulang-dada
Sumpek, mampat, di ruang sempit hampa ukhuwah
Begini sajalah
Aku ingin kita sama-sama berdoa
Mendoakan khatib-khatib setiap sebelum shalat Jum'at
Agar mereka tidak lupa mendoakan penderitaan umat manusia
Ummat yang jauh, terutama umat yang dekat
Supaya kita bisa
Supaya aku bisa
Ikut
Mengaminkannya.

1991, 1995, 1997
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Mendoakan Khatib Jumat Agar Mendoakan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pacuan Kuda
(Kepada Arief Rachman, Hudori Hamid, Dipo Alam, A.M. Fatwa, Toto Tasmara, Lukman Hakim, dan semuanya di Kampus Kuning)

Ketika cahaya sudah disiapkan,
sehingga atmosfer terang tembus
bagai 
cairan bening kimiawi
dan awan diserakkan seperti busa sabun cuci,

Ketika suhu sudah diatur,
sehingga cuaca khatulistiwa bagai subtropika
dan tekanan uap air berbanding keringat
badan terasa sangat 
sepadan,

Ketika debu usai disapu,
lengan dan jari selesai dihapus hama lalu rata 
dicuci,

Ketika gelanggang habis dibeton tulang, disemen, dikapur, dicat,
dibangkui, diatapi, dirumputi, diloketi lalu dipagar logami,

Ketika kuda pacu habis dikaji silsilahnya, dikandangkan,
diransum gizi 
tinggi serta zat mineral,
dibereskan otot-otot gerakannya,
lalu 
diakrabkan pada medan pacuan,

Ketika penonton berduyun, 
berjajar,
duduk bersentuh bahu dan suara 
tambur bertalu-talu,

Ketika pistol dibunyikan, debu beterbangan,
garis-garis jejak berjajar, 
dan mulailah pacuan tak putus-putusnya,

Ketika para penonton bersorak serta-merta,
kemudian teratur, 
makin 
lama makin diatur,
dan terdengarlah tepukan yang tak habis-
habisnya,

Ketika gelanggang rumput mengembang dari cetak biru jadi kawasan pacu,
teramat luas tak tampak batas, kebun tanaman keras, ladang minyak,
tambang logam, lahan industri dan hutan rimba eksplorasi,

Ketika kawanan kuda terus berpacu dari pulau ke pulau,
melangkaui menara 
dan anjungan lepas pantai, antena stasiun transmisi,
dalam derap tak 
putus-putusnya, ditingkah semangat tepukan tak habis-habisnya,

Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun menonton pertandingan yang semakin kencang,

Ketika pelana joki telah bertatah batu akik, butir zamrud dan intan, kepingan
logam mulia, mata berlian serta berbagai koin emas dunia,

Ketika pacuan makin kencang, penonton bersorak
dan bertepuk prok-prok 
tak putus-putusnya:

Tanah! Prok-prok-prok!
Kebun! Prok-prok-prok!
Tambang! Prok-prok-prok!
Pabrik! Prok-prok-prok!
Hutan! Prok-prok-prok!
Uang! Prok-prok-prok!
Maha! Prok-prok-prok!
Esa! Prok-prok-prok!

Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun-tahun menonton pertandingan yang semakin
garang, kuda berpacu-pacu mengepul-kan gumpalan debu,
dan tiba-
tiba si Toni mengacungkan tangannya yang kecil,

Ketika  sekonyong-konyong semuanya berhenti, para joki yang perkasa
menarik kendali, kuda-kuda balap meringkik kedua kaki depan 
meninggi,
semua penonton menengok ke arah anak yang mengirim 
sunyi,

Ketika anehnya semua tiba-tiba sepi, si Toni tetap mengacungkan lima 
jari,
kata-katanya disimak dengan teliti, tatkala suaranya lantang 
begini:

“Apakah itu tidak keliru,
Karena kedengarannya kurang anu,
Tidak cocok dengan ajaran bapak guru?”

Ketika tiba-tiba pohon besar itu tumbang, anak-anak tak berkarcis
yang 
bergelantungan menonton pacuan terjatuh bergelimpangan,
ada yang tersangkut di pagar sekolahan, ada yang langsung
jatuh di atap markas pertahanan,

Ketika sunyi sudah mati, kembali penonton bertepuk teratur bertalu-
talu,
mereka duduk berjajar bersentuh bahu,
sementara joki-
joki yang gagah 
menggusah kuda tunggang
dan mereka 
berpacu lagi dengan kencang,

Ketika debu turun naik kembali, suhu turun sub-tropika lagi,
sorak tepuk 
saling bersahutan:

Keuangan Yang Maha Esa adalah Kalimat Yang Pertama!
Prok-prok-prok!
Pacuan kuda, satu tak terpisahkan dengan kuda pacuan!
Prok-prok-prok!
Sepanjang kebun dan tambang, pabrik dan hutan!
Prok-prok-prok!

Ketika  pacuan kuda kembali jadi sangat semarak,
diiringi sejuta tepuk 
dan sorak,
tersiram debu dan terlanggar balap,
penonton 
kanak-kanak cedera parah dan patah-patah,
dan si kecil yang 
mengajukan tanya kini terkapar tanpa kata-kata,

Si Toni kecil, gegar, terkulai dipeluk bapak gurunya.

1979
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pacuan Kuda
Karya: Taufiq Ismail