loading...

Dua Nukilan dari Odyssey

(I)
Kemudian daging pun cair, pandang mem
beku, jantung hening detak
Dan pikiran agung membubung ke puncak kemerdekaan asri
Menggelepar dengan sayap-sayap terbuka, membelah dada angkasa
Menoktah tinggi dan melepas diri dari sangkar terakhir
Sangkar kemerdekaannya
Segalanya mengabut tipis hingga selengking teriak dahsyat
Menggunturi perairan tenang dan hitam
“Majulah anak-anakku, berlayarlah, karena angin Maut meniup haluan!”

(II)
“Engkau si dungu, mengapa kau tega kehilangan
Lelaki teragung yang hidup dan bertempur memberimu bentuk?
Kau tuang hati kami dengan ratap dan nafsu hewani
Lalu pekaplah telinga dari semua
Tapi jiwa insan terus berjuang, kau pengecut, tanpa tolongmu!”

Hatinya melambung noktah tak hirau
Ajal Dan di angkasa hitam membina
Seribu ruang tempat berkebar seribu sayap
Dan menjerit bak rajawali, berjuang mengungkai simpai takdir.

1 Juli 1959
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Dua Nukilan dari Odyssey
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top