Mei 2009
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Bayang-bayang

Jadikan bayangku pada tembok
persis lekuk tubuhku
agar aku mudah mengukurnya
Lukiskan wajahku pada cermin
persis wajahku
agar aku mudah mengenalnya
Lahirkan hatiku lewat mata dan mulut
persis hatiku
agar aku mudah menggenggamnya.

Tuhan, kenapa selalu Kauciptakan misteri
di dalam lautan kehidupan ini
bahkan di dalam lautan sempitku
gelombang jiwaku sulit kumengerti.

Tuhan, beri aku kekuatan
membongkar misteri itu
sampai tak lagi bertanya-tanya
dan meraba-raba
pada dinding-dinding tanpa pintu.

1980
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Doa Bayang-bayang
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Maret 2009

"Berikan suaramu, kepadaku," teriak iring-iringan
- orang itu. Yang potret senyumnya dipakukan di
batang-batang pohon sepanjang jalan, yang warna
bajunya serupa penjor dan bendera sepanjang jalan
tapi bagaimana bisa memberikan suara kepadanya
bila di tengah hari dengan sengaja memaku batang
tapi bagaimana bisa memilih yang tak dikenal bila
hanya lewat dengan menunjukkan kaus warna bendera?

"Mereka serupa hujan," kata reranting garing, "hanya
turun dari langit dan meminta dikembalikan ke langit"

"Kita tidak mengenalnya," kata aspal yang terkelupas
- menyerukan persatuan sambil memaku luka di dada.

2009
"Puisi Beni Setia"
PuisiMaret 2009
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Liburan

Kabut tipis menghalangi matahari
pagi. "ini saat yang tepat untuk
tidur melungker," kata kucing di
keset beranda - dari jauh tercium
wangi kopi dan sisa ruap keringat petani

: Pasangan kasmaran akan senantiasa malas
menyibak selimut. Tapi lelaki rembang usia
itu memakai sepatu dan mulai menyusuri
setapak. Mau menghabiskan dingin pagi dengan
langkah cepat dan debur jantung pekerja pabrik

Setelah riol ia memilih belok ke kiri - ke
arah setapak berbatas sawah dan ladang,
lantas pohon beringin di ladang bambu,
turunan dan deru arus sungai selepas hujan
semalam. Desah sia-sia meraih bibir tebing

"Saat yang tepat untuk kembali,"
kata benalu. Bungalow di tebing,
panorama kota di utara dan angin
sia-sia mengajak ke selatan. Kini dingin pagi
mengabarkan usia lewat tunas tunggul randu.

2008
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Catatan Liburan
Karya: Beni Setia
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tea on the Rock

Kenangan padamu bagai butiran es
mengambang dalam segelas teh tawar.
Dan rambut malam tergerai menyergap bulan
yang tersipu di seprai cakrawala. Kuseduh
teh hangat keemasan: manis dan kental.
Namun selalu saja butiran-butiran es menjelma
di dalamnya, berenang-renang seperti kenangan,
melarutkan tubuhku ke dalam tubuhmu
yang kekal. Kenangan padamu
membuat lautan menjadi teh tawar
dan ikan-ikan menjelma butiran es berlarian
kian kemari dalam nadiku. Hari-hari kita yang jingga
melambaikan tangannya dari jauhan
luput dari genggaman. Aku pun harus membuka kembali
kitab-kitab sejarah dari abad-abad silam
kadang mengembara ke gua-gua
mengeja rajah-rajah purba di sana
untuk menemukan kembali degup rindumu,
kudus senyummu, rinai tawamu,
hangat pelukmu, yang baru kemarin berlalu.
"Dan manakala sejarah menggemakan kembali
malam-malam asmara, cinta pun menjelma
menjadi butiran-butiran es
yang meleleh di sela-sela jemari
menetes pada tawar hari-hari
yang mengigaukan namamu tak henti-henti.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Tea on the Rock
Karya: Agus R. Sarjono