Juni 2009
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Ruang Ini
(- wsp)

Di ruang ini
hatimu masih tertinggal

Derai sepi
adalah sisa puisi kita semalam.

Tegal
Oktober, 2009
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Di Ruang Ini
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Suaramu
(- wsp)

Suaramu kadang terdengar
lirih memanggilku
di sela helai mimpiku
mengalun menguntai sepi.

Jakarta
Oktober, 2009
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Suaramu
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Matahari Gelisah

Matahari gelisah,
ingin segera pulang ke senja,
rumahnya.

Tegal
November, 2009
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Matahari Gelisah
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Engkaukah itu

Engkaukah itu
yang mengunci langkahku
dengan lirih suaramu
di helai mimpiku
mengalun menguntai sepi.

2009
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Engkaukah itu
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rubuh dalam Peluh
(Bagi: Dharmadi)

Tersungkur pada subuh
yang bergema memecah pagi beku
rubuh dalam peluh kepada sang teduh
semoga hati ini tetap utuh.

"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Rubuh dalam Peluh
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Ingin Menangis di Pelukanmu.
(Violet)

Aku ingin menangis di pelukanmu, katamu padaku. 
Di sebuah ruangan yang sangat dingin dan sepi. Karena hanya ada aku, kau dan airmata. 
Kita bercerita tentang hujan yang tak juga melahirkan pelangi padahal matahari masih t
erbit dari balik bukit di dadamu. 
Matahari itulah yang mambuatku selalu hangat setiap kali di sampingmu. 
Mendekapmu, dan sesekali kau memberikan ciuman singkat di pelipis waktu.

Vi, kau kenapa? Tanyaku padamu s
embari menyapu gerimis yang membasahi pipimu m
embentuk anak sungai kecil, dan matamu berbinar. 
Kerudung ungumu berkibar karena angin mencoba menghibur hatimu yang galau, a
kh tidak, tapi hati kita, karena kau dan aku masih merasakan sisa kesakitan yang dulu.
Yah, dulu sekali, saat almanak masih mendetakkan cinta kita, dan kita diminta menunggu detik-detik 
yang mendenyutkan rindu kita, di sebuah ruang tunggu, di sebuah penggalan episode paling
 dramatis. Paling puisi.

Seandainya waktu tak merenggut kisah cinta kita. Katamu memenggal sepi. 
Akh, aku tak mampu menjawabnya. Kata-kata yang telah kususun s
eketika itu berjatuhan dari bibirku. 
Lalu kau tegarkan aku dan kau punguti kata-kata itu. 
Dan kau buatkan puisi darinya. 
Dan kau bacakannya di hadapku. 
Dan aku menangis. 
Dan kau pun menangis. 
Dan kita berpura tegar. 
Dan kita berpelukan.

Hujan turun dengan sempurna. Ruangan masih sepi, 
hanya ada aku, kau dan airmata. 
Akh, tidak masih ada satu yang belum kau sebutkan. Katamu lirih. 
Apa? Tanyaku sambil mengusap kerudungmu yang basah karena hujan, d
an pipimu yang basah karena airmata. 
Puisi. Yah puisi yang dulu memepertemukan kita d
i tikungan waktu. Saat hari-hari hanya milik kita, dan kita basah-basahan dalam hujan. 
Puisi itu kini datang dan menancap di hati ini. 
Maukah kau mencabutnya dan  membacakannya untukku? Untuk kali terakhir, s
ebelum kita benar-benar berpisah selamanya. Sebelum waktu menuruti keegoisannya.

Lalu, airmata menyeret tubuhmu dari dekapanku. 
Kau menjauhiku, padahal puisi belum usai kubacakan. 
Dan kau berlari sekencang-kencangnya. 
Dan aku tahu kau masih menangis. 
Dan aku berteriak di dalam diam. 
Dan aku memanggil-manggil namamu dengan airmata yang segera luruh bersama hujan, 
membasahiku, dan menenggelamkanku dalam sunyi yang paling.

Vi, aku ingin menangis di pelukanmu. Sungguh.

2012
"Dimas Indiana Senja"
PuisiAku Ingin Menangis di Pelukanmu
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fragmen Doa Dalam Hujan

(1)
Dari hujan yang tak mampu kau dan-ku tepis ini
Awal mula segala sabda
Sejak kata-kata tak habis kau baca
Sejarah kau dan-ku tertulis juga
Dalam tengadah rumah doa

(2)
Di senja berikutnya hanya ada sebait doa
Bersemayam dalam kitab cinta
Juga di lesung pipimu yang sumringah
Betapa hujan menginginkan jarak kau dan-ku
Tak lagi menyiksa

(3)
Hujan ini hanya ada kosong
Seumpama kau dan-ku tanpa pertemuan.
Barangkali rindu tak berapi-api, dan
Tak kan memangkas kewarasanku
Yang makin tanggas.

Duh, kekasih yang
mengisi hidupku dengan nyanyian seruling
dimana sajak-sajaknya tak lagi berbait,
puisi tak lagi bernama puisi,
mungkin lebih tepat sebagai mimpi tak bertepi!

(4)
Kata-kata yang kurangkai dalam semalam
-Bersama angin melelehkan duapuluhsatu lilin, yang
Setiap satunya meneteskan doa- ini selalu
Tentang kau dan-ku, tentang hujan
Yang mempertemukanku dengan cahaya.

2011
"Dimas Indiana Senja"
PuisiFragmen Doa Dalam Hujan
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Semoga

Kuarung-arungi sajalah
Garis airmu,
Lantas dayung mencukupi arusnya,
Hingga sampan tak
Lagi tertahan untuk melabuhkan tuannya,
Kau dan aku
Berdoa dalam semoga.

10/12/2010
"Dimas Indiana Senja"
PuisiSemoga
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||