Agustus 2009

Sampai Jumpa di Rumah, Ma!

Seperti yang biasa aku lakukan di akhir pekan, aku ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan. Di sana aku melihat seorang wanita tua dengan gerak-gerik seakan mengikutiku. Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, mengabaikannya dan melanjutkan aktivitasku.

Akhirnya aku pergi ke kasir, tapi dia menghalangi jalanku.

"Maafkan saya... saya minta maaf karena saya menatapmu, saya tau hal itu membuatmu merasa tidak nyaman. Hanya saja, kamu terlihat seperti anak saya, yang baru saja meninggal minggu lalu". ujar wanita tua tersebut.

"Saya turut berduka", jawab saya merasa iba.

"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk Ibu?", sambungku lagi.

Wanita itu menjawab, "saat saya pergi, tolong katakan 'sampai jumpa di rumah, Ma!'. Itu akan membuat saya merasa jauh lebih baik".

Permintaan yang aneh, tapi tidak ada salahnya menyetujui.

Seraya wanita tua itu mendahuluiku ke kasir, aku memilih berputar lagi melihat-lihat sesuatu yang mungkin bisa aku beli. Lalu aku melihat wanita itu pergi, jadi aku mengucapkan, "sampai jumpa di rumah, Ma!".

Karena tidak ada lagi orang di kasir, aku melangkah ke sana. Dan yang membuatku merasa aneh adalah saat semua barangku dihitung, ternyata totalnya adalah Rp 1.850.000.

Tentu hal itu membuatku heran, aku hanya membeli odol dan beberapa cemilan, "Bagaimana bisa semahal itu?".

Petugas kasir itu menjawab, "Ibumu mengatakan bahwa kamu yang akan membayar semua yang ibumu beli".

"Cerita: Sampai Jumpa di Rumah, Ma!"


|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Di Atas Kuda Balap

Berpacu dengan keledai
menghalang cita-cita. Jangan
pelihara mimpi sialan itu

Gersang, sawah tak beri padi
Kering, sumur tak beri minum
Mati, tak mungkin bagi kerakap. Boleh
camkan tanda-tanda alam ini

Letih membuat kita ngantuk
mata berlayar menuju hitam
terpejam, o surga
terbuai bagai diayun
mendengar suara ibu, Nina Bobo

Di atas kuda balap
kita tidak tidur
kita karungi cita-cita
mendengar suara bapak, Tete Manis
mata berhenti di titik putih
tercelik, o surga, surga.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiDi Atas Kuda Balap
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Catatan Langgar Peteng

Bukan kampus megah
Lantai kaca dengan mesin udara
Tempat kami mengeja huruf waktu
Dan jejak cahaya
Mengaji air mata
Mengeja kitab-kitab tua
Yang tergadai dari kisah-kisah menjelang malam
Bertelungkup sakit, melumpuh di atas dampar sempit.

Rembang, 2008
"Puisi Raedu Basha"
PuisiCatatan Langgar Peteng
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||