Januari 2010
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gumamku, ya Allah


Angin dan langit dalam diriku,
gelap dan terang di alam raya,
arah dan kiblat di ruang dan waktu,
memesona rasa duga dan kira,
adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!

Serambut atau berlaksa hasta
entah apa bedanya dalam penasaran pengertian.
Musafir-musafir yang senantiasa mengembara.
Umat manusia tak ada yang juara.
Api rindu pada-Mu menyala di puncak yang sepi.

Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu.
Agama adalah kemah para pengembara.
Menggema beragam doa dan puja.
Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.
 


Jakarta
28 Mei 1983
"Puisi: Gumamku, ya Allah (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Gumamku, ya Allah
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Panca Sila dalam Sajak

Azan dan lonceng gereja
Kelenteng dan perasapan dupa
Terjalin mesra dalam satu makna:
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Warna putih dan merah
Sejarah dan tetesan darah
Jiwa dan bahasa
Adalah milik dan kebanggaan bersama.

Derap dan langkah kaki
Dari rakyat yang berani
Menumpas kezaliman
Dan menendang tirani
Dari mimbar kedaulatan.

Karena manusia di mana-mana
Adalah saudara seibu-sebapa
Yang bermula pada hikah Ilahi
Menjelma ke dalam putihnya hati nurani.

Dan kitalah itu, jutaan rakyat
Pewaris yang sah dari tanah air ini
Yang harus membina dengan tabah dan berani
Kebenaran, keadilan dan kesejahteraan.
  
1966
"Puisi: Panca Sila dalam Sajak (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Panca Sila dalam Sajak
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sekhak

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar "sekhak".
Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20.
Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah
langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang
hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu - ia tak berwajah - berdiri di
sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang
berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam.
Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau
busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

"Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib." Siapa orang yang
bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di
antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang
meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah.
Ster. Sekhak. "Jangan serahkan kami pada nasib."

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok.
Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada
derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda
kanon didorong. "Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!"

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat
berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-
bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak
mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung.
Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah
fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran
pertama dan kau dengar "sekhak".

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.

2010
"Puisi: Sekhak (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sekhak
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Teleskop
Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut
menyentuhmu.

Itu sebabnya, nak, pada suatu sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat
kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak
menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang
bergetar berulang kali.
Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur
ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari
jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang
memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu di saku jaketnya.

Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan
pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin
kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di
tanganmu, yang selamanya mengejutkan.
2009
"Puisi: Teleskop (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Teleskop
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Kemah


Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan-
potongan pendek interupsi – lima menit, tujuh menit, empat … Dan aku akan
menatapmu dalam tidur.

Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita
terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk
sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur,
hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil.
Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap napasmu:
kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.

Aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.

2010
"Puisi: Dalam Kemah (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Dalam Kemah
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Skhak
Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar "skhak."
Seperti bunyi waktu.

Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dan bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada
langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah
perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan,
ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca:
"Akulah pion yang gugur pertama."

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu - ia tak
berwajah – berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa
bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak
tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya
api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau
busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

"Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib." Siapa orang
yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di
petak kanan, di antara kesatria dan kavaleri, putih, hitam,
sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak
seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Skhak.
"Jangan serahkan kami pada nasib."

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa
dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan
yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan terompet
infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong.
"Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!"

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah
datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan
tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang
berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan
pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa
menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan
mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau
dengar "skhak."

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.
2010
"Puisi: Skhak (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Skhak
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Kastil Terakhir
- Cerita untuk Dulcinea

Ia menghitung umurnya
dari cermin
pada pintu kastil terakhir,
lalu menetakkan pedangnya
ke permukaan yang
menakutkan itu.

"Selamat tinggal."

Kaca itu pun menghilang. Dan ia
melangkah ke luar.

Di bentangan ladang gandum, ia lihat gulungan jerami
telah disusun, berjajar,
seperti nisan ke arah bukit.

Waktu itu belum terasa matahari.
Hanya pagi yang merayap
di pohon-pohon gabus.

Pagi adalah depresi yang dingin, Dulcinea,
juga ketika daun menahan kegaduhan burung
pada ulat mati: rangsang-rangsang yang tak akan
kekal,
seperti ingatan makin pendek
yang menyentuh kita.

"Kau harus pergi," laki-laki itu bergumam,
"kau harus pergi dari sini."

Ia mungkin lelah. Ia semakin tahu cinta yang tak
pernah jelas telah ditahbiskan jadi mimpi, dan mimpi
telah ditahbiskan jadi dosa, dan ia takut, atau mungkin
malu, untuk kembali ke kastil itu.

Ketika matahari mulai
tampak, ia pun bersandar
pada perisainya yang tak
lengkap. Ia dengar sarapan
disiapkan. Bukan untuknya.
Ia ingin tidur.
Ia bayangkan di kedai itu,
seseorang mengoleskan selai
pada roti dan pada serbet
meja terbentuk huruf sisa
negasi dinihari.

2010
"Puisi: Di Kastil Terakhir (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Kastil Terakhir
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gandari


Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal ....

Ia, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:

Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.

Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.

Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.

"Mereka lari dari koloni kusta," kata Gandari dalam hati,
"dan mereka lihat warna hitam
yang berhimpun di atas bukit."

Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.
Air naik deras ke langit:
sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,
menghantam danau.

Dan angkasa gemetar
Dan mengubah diri ke dalam putting beliun.

*

Kemudian malam. Malam yang sesungguhnya:
Pada halaman langit
Bintang membentuk asteris,
yang merujuk ke nama yang tak ada
juga nama seorang dewa yang
susut.

*

Dan guruh berkejaran dengan hujan
sepanjang terowongan langit
yang merendah.

Kemudian kering. Kemudian gerimis,
seperti silabel yang lebat,
berdegup, bergegas, berdegup, dari pinggir galaksi,
membentuk kata, kata, kata ...

Tapi perempuan yang sedih itu tak memberinya arti.

*

Di luar aula para dewa, ketika angkasa kosong,
Brahma mencipta Kematian.
"Kali akan datang," katanya,
"dan akan melambaikan tangannya yang ungu.
Tenanglah, semua tak akan apa-apa."

Di dalam ruang, tak ada yang ingin bicara.

Dan dari bulan yang lambat
Maut meloncat ke kerumunan mega.
Ia menari. Di pelukannya yang putih, ada mayat
yang terpenggal.

*

Malam itu para dewa pun diberitahu,
itulah tarian Kali yang pertama.

*

"Aur mengisut, air surut,
cahaya jadi sepa, dan dari langit
tak ada lagi apa-apa. Hanya di malam-malam tertentu
dewa-dewa menciptakan teks mereka
yang panjang, sepanjang ribuan makam."

"Mereka menghendaki aku, Kematian,
Mereka menghendaki aku."

*

Mungkin Gandari mendengar kata-kata itu.

Tapi kemarin di balairung itu,
bersama Destarastra yang berkabung,
ketika ia dengar "pyuuu" kepodang hutan,
ia tak tahu isyarat apa
yang telah disampaikan.

Itu adalah hari kesendirian mereka yang ke-7.
Suami-isteri di ruang selatan: sepasang tahta tua;
dinding yang terlindung gordin; sepetak lantai
dengan medan catur yang panjang; bidak-bidak berat
yang berdiri berjauhan: ksatria asing, pion-pion yang bungkam,
para pendeta yang angkuh, benteng bujur-sangkar.

Gandari pernah menyukai semua itu: "Dulu aku
memimpikan makhluk imajiner di hitam-putih senjakala."

Tapi tiap malam Destarastra, suaminya,
hanya bisa mengkhayalkan pelbagai unggas
dengan bulu yang ia sebut hijau.

*

Tapi tidak di malam itu. Dari plafon
yang dipahat gambar naga,
cahaya makin tak berarti.
Lampu ke-3 tak ada lagi.

Ketika itulah raja yang buta itu berkata,
"Aku membau amis empedu."

Meskipun semalam
tak seorang pun mempersembahkan
hewan korban.

Orang-orang bersenjata
telah meninggalkan mereka.

*

Pada pukul 7:45 perempuan itu pun menggeruskan kuku
tangannya
pada kain lena lengan kursi.

Ia dengar degup kaki kuda
yang lelah itu lagi, seperti kemarin, seperti kemarin,
dan seorang prajurit luka yang setiap senja berkata kepadanya:
"Hamba membawa kabar dari peperangan, Ratu."

Gandari hanya memandang ke halaman. Ia seakan mendengar
kalamakara di gerbang itu bergerak
Bersama suara katak yang mengigau.

*

Mari kita pergi.
Ke sebuah kota di mana nujum
tak dibaca. Di mana anak-anak
tak tumbuh. Di mana masa lalu adalah masa kini.
Di mana "aku" hanya
kata sebelum amnesia.

Mari kita pergi ke sebuah kota
di mana kabar adalah tafsir
yang terlambat.

*

Tapi ia tahu, hanya ada sebuah kota yang tinggal.
Di Dhenuka. Di perbatasannya yang kering, Kali berdiri
dengan satu kaki, selama 15 ribu tahun.
Parasnya yang gelap seperti Semeru malam
memandang ke 700 rangka
yang terhantar. "Paduka tak memberiku cermin.
Hanya bisa kulihat wajahku
pada langit sekeruh tembaga.
Paduka tak memberiku warna
meskipun pada perak pagi."

Brahma tertawa: "Tapi kau kematian.
Kau Mertyu."

"Ya, aku kematian."

"Aku suka gerak burung di pohon yang pucat.
Aku suka bau tahi sapi yang separuh terbakar.
Aku suka - "

*

Mungkin juga Gandari cuma bermimpi
tentang dewa-dewa yang bodoh.

Kini ia ingin duduk.

"Jangan kau hanya diam," suaminya berkata.
Ia lihat jari kisut lelaki itu
meremas kain kasar yang terjela
dari sisi mahligai;
karena ia sebenarnya gemetar.

Ketika itu,
utusan itulah yang bersuara.

"Bhisma gugur, dengan 100 liang luka."

"Dan ketika orang tua itu rubuh
di bawah bukit-bukit Kurusetra,
perang berhenti sebentar,
dan senjata diletakkan.
Dan di kedua perkemahan
orang-orang menunduk:
'Bhisma gugur/ mereka berbisik,
dengan 100 liang luka'."

*

"Katakan kepada saya,
apakah yang paling menyakitkan
dari perang? Kekalahan?
Atau kebencian?"

Gandari ingin mengatakan kalimat itu, tapi
di sudut halaman yang gelap,
utusan yang letih itu
hanya memejamkan matanya.

Ratu itu seperti melihat bidak-bidak catur bergerak.


2010
"Puisi: Gandari (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Gandari
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mandi Demokrasi


Di panggang gunung kidul ini ada sebuah jurang batu
luweng kera namanya luweng itu tempat pembantaian
dan pembuangan orang-orang Partai Komunis Indonesia
termasuk saudara-saudara bapak dan saudara ibu
temanku yang dituduh terlibat dan sekarang dia
bersama bapak ibunya tinggal di desa ini dagang sembako
setiap sore kami mandi bareng dengan warga lainnya
di telaga gandu yang butek airnya laki perempuan
anak-anak orang dewasa orang tua sapi kambing dan
anjing tak ketinggalan kami mandi demokrasi di sini.

Sementara mahasiswa-mahasiswi yang KKN memilih mandi
di petoyan yang airnya jernih sejernih kulit mereka
dan sok belajar makan thiwul tapi karena tak biasa
perut mereka terasa panas lalu diam-diam mereka jajan
tongseng Kang Sadi
melihat cara mandi dan menu makan kami mereka hanya
geleng-geleng kepala padahal sejak lama kami telah menikmatinya
untuk itu jangan beri kami solusi kalau
hanya dalam bentuk skripsi apalagi kalau skripsi-nya
dapat beli.

Di panggang gunung kidul ini banyak orang kota datang
dengan gaya borjuasi mereka 'nginap di rumah Pak Camat
kadang anak-anak melempar pandang penuh keheranan
dan mereka membalas dengan bangga serta senyuman
malamnya kami disuruh kumpul mendengarkan obrolan
politik sambil makan ubi jalar yang tumbuh subur
di atas gundukan tanah kuburan mereka bilang rasanya
renyah serenyah hidup kami yang mandi demokrasi.



Panggang

"Puisi: Mandi Demokrasi (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Mandi Demokrasi
Karya: Acep Syahril
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Tulis Pamplet ini
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – I – ya – an.
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi.
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi mara-bahaya,
menjadi isi kebon binatang.
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair.
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku.
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
Kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari air mata yang berderai menjadi api.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
Yang teronggok bagai sampah.
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
Karena kawan dan lawan adalah saudara.
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca:
Ternyata kita, toh, manusia!



Pejambon, Jakarta, 27 April 1978
"Puisi: Aku Tulis Pamplet ini (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Aku Tulis Pamplet ini
Karya: W.S. Rendra