Februari 2010
Keberangkatan

Sebab waktu pun tambah tua, dan 
Kalender di dinding tinggal ke lantai
Aku harus berangkat. Seandainya ada
Yang harus kuucapkan
Mungkin hanya, "selamat tinggal!"
Sebelum perahu bertolak
Dan tinggal ombak putih berbuncah
Dalam padangmu.

1987
"Puisi: Keberangkatan (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Keberangkatan
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Semesta Luka

Matahari menghitung sendiri luka yang kucuri
setiap pagi. Pedihnya mengirimkan ribuan cahaya
yang merajam tubuh waktu. Aku tak mampu menuliskan kesedihan
itu ajal demi ajal yang selalu tiba-tiba.
aku terkurung dan tak bisa melompat lewat
sejuta pintu terbuka.

Segugus galaksi menangkap airmata matahari
bintang dan ribuan planet memburu detak jantung
sepinya. Kutanam tunas cintaku. Berapa ratus milyar
depa lagikah kubutuhkan untuk membalut perihnya?
Sementara janinku membesarkan matahari lain.
ayahnya ribuan penjagal waktu. Ia menunggu
semua pintu dan jendela. Tak ia inginkan
tangis pertamanya meninggalkan ruang luka.

Bayi itu lahir. Kita menuliskan sejarah
dalam abad bencana!

Berlin, 2003
"Puisi: Semesta Luka (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Semesta Luka
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sumpah Orang Lapar

Aku anak perempuan Ki Suto Kluthuk
lahir oleh bumi yang sedang sakit.

Aku selalu lapar tapi memilih diam puasa
karena laparku telah bersumpah.

Akan menjadi lapar abadi
jika untuk buang lapar aku hilang budi.

Makan gunung dan makan hutan
makan sawah dan makan lahan.

Makan pulau dan makan tambang
makan kota dan makan nasib sesama.

Jika aku lapar kumangsa lapar sendiri
jika tuan lapar keringat kerja aku beri.

Jika lapar ruh hitam teknologi
haruskah kulepas gunung adi?

"Puisi: Sumpah Orang Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sumpah Orang Lapar
Karya: Diah Hadaning
Tembang Padang Ilalang

Dilihatnya rumah bambu Romo Mangun
berubah jadi pendaringan rindu
insan kota yang banyak kehilangan.

Saat segala pun hilang
selagi lintasi padang ilalang
kerabat tua berdialog dengan bintang.

Kehangatan itu api kecil
tercipta dari kristal nurani
muncul saat bumi penuh melati

Kehangatan itu sapa lirih
seiring tumbuhnya benih
saat terdengar derik pedati.

Sibak mendung langit musim basah
tepis debu udara kota musim resah
nyanyian itu menyusupi kisi jendela.

Jakarta
Desember, 1985
"Puisi: Tembang Padang Ilalang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Padang Ilalang
Karya: Diah Hadaning
Kabar dari Teluk

Pada siapa kutitipkan pagi ini tadi
begitu tergesanya aku membawa lari anak-anak
dari menantu yang terjebak dalam terungku
padahal matahari belum sempat kubasuh dengan doa-doa
agar Tuhan memberkati anak-anak manusia
yang menciptakan kunci-kunci penjara bagi hasratnya
siapa yang melintas cepat itu
di antara bayangan kapal-kapal dan barisan serdadu
kalau saja dapat kutangkap jubahnya
akan kutahan langkahnya agar kami saling bicara
tentang daun zaitun dan oase-oase yang menjanjikan
kenyamanan dan kenikmatan tiada hitungan
Sheik, Sheik, kulihat tanah leluhur
telah tersiram air berkumur.

Jakarta
September, 1990
"Puisi: Kabar dari Teluk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kabar dari Teluk
Karya: Diah Hadaning
Kepada Perempuan Gisik

Ketika legenda tak lagi
cerita santun di dusun-dusun
panggil badai meruntuhkannya.

Ketika mata lensa tak lagi
memberinya mahkota tapi garis paha
panggil gempa untuk menimbuninya.

Karena dia ibu segala ibu
karena dia penyerang Melaka Portugis
tutunya tombak hasratnya mimis
lalu dunia kita yang amis
melumuri boreh birahi
hilangkan citra sejati
pualam tertutup legenda buram
hanya perempuan gisik hati akik
membesut titik keris
membalut luka linggis.

Bogor
Mei, 1992
"Puisi: Kepada Perempuan Gisik (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kepada Perempuan Gisik
Karya: Diah Hadaning
Catatan Oktober

I
Kain putih telah direntang
nama-nama telah dituliskan
menjadi ombak pada laut
menjadi warna bagi bendera
menjadi pijar pada api.

Kami masih bersamamu
lestarikan cinta nusa
sepanjang hayat ya hayat
sepanjang kurun ya kurun.

Kami yang lahir dari rahim resah
korban cacah korban jarah
tapi langkah tak pernah henti
batu-batu dasar di tangan kami
sangga-sangga pilar di kaki kami.

Pengorbanan yang bertimbun
membuat hidup jadi anggun
sepanjang hayat ya hayat
sepanjang kurun ya kurun.

II
Kucatat kesetiaanmu
tak pernah berubah
pada pertiwi bundamu satu

Bendera tetap melambai
sejak ia dikibarkan
sumpah tetap kukuh
sejak ia diikrarkan
jiwa tetap menyatu
sejak ia dibuhulkan
dalam kebersamaan
pahit getir perjuangan

Luka nganga tanah bunda
kau balut smangat merdeka
tangis menjadi tawa
pulau merjan bertebaran
sepanjang lini katulistiwa
karunia sepanjang masa

Kucatat kesetianmu
tak pernah berubah
pada pertiwi bundamu satu

III
Lidah api menggaris langit
juang tak tuntas menggaris jiwa
derita terus disuarakan
tuntutan terus dikumandangkan

Hujan Oktober mengguyur kota
poster-poster smarak nyata
jiwa meraung di tempat sama
tepat Hari Sumpah Pemuda

Kusimak geliat murkamu, Jakarta
saat janji-janji dicuatkan
kudengar parau erangmu, Jakarta
saat ‘rang muda rasa terluka

Semua baur semua lebur
dalam warna-warna bendera
selalu akan diulang
selama kota dipenuhi berhala

Jika api dinyalakan
untuk hangati jiwa tertekan.

Oktober, 1998
"Puisi: Catatan Oktober (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Oktober
Karya: Diah Hadaning
Amsal Sejarah

Kaji ulang perjalanan panjang
saat saudara se-nusa
masih terpisah-pisah
terhempas-hempas badai sejarah
kau hadir dari lubuk zaman
menyatukan nada-nada
di bawah kibar satu bendera
maka sejarah adalah:
guru bagi kehidupan
ajaran bagi arah pandang
nafas bagi kebenaran.

Saat orang ubah arah
saat garis di-bengkok-kan
Sang Pencipta meluruskan
lewat getar perjuangan
melubuk dari jiwa anak bunda
mengangin dari seru anak bapa
dan hukum semesta berlakulah
maka sejarah adalah:
neraca kehidupan
antara petik dan tanam
wujud keseimbangan.

Oktober, 1998
"Puisi: Amsal Sejarah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Amsal Sejarah
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Bilik

Orang-orang arif mencari amsal
praktisi memberi makna
lima aksara jadi bilik
lima nuansa dari bilik
lima nuansa geliat jiwa
hasrat perubahan.

bermula dari bilik
berkembang dari bilik.

kemerdekaan pasang sayap
kebebasan rentang urat.

bilik telah menjadi 
selembar simbol.

selembar simbol 
telah menjadi bilik.

yang signifikan, tanya praktisi
orang-orang bingung kembali.

Juni, 1999
"Puisi: Abstraksi Bilik (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Bilik
Karya: Diah Hadaning
Tembang Tombong-Tombong

Tombong-tombong setia menunggu
di Wenco ada bahasa ladang
di Wenco ada senandung garam
di Wenco ada asin perkawinan
marak musim 
marak hari
marak mimpi
mimpi lelaki ladang garam
mimpi perempuan di pematang
kalau saja tanah merdeka tanpa noda
caping runcing ganti mahkota.

Bogor
Oktober, 1999
"Puisi: Tembang Tombong-Tombong (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tembang Tombong-Tombong
Karya: Diah Hadaning
Di antara Tarian Naga

Orang-orang yang mengaku anak keelokan
tertawa pongah saksikan naga menari
geraknya bahasa alam
getarkan matahari dan rembulan
naga terus menari tarikan kehidupan
sambil mewartakan irama jagad
orang-orang asyik menipu diri
panjati menara tinggi
tetap merasa paling elok
sementara badai datang dari ufuk barat
seakan tabur kuntum anggrek larat
sebenarnya bentangkan jerat.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Di antara Tarian Naga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Tarian Naga
Karya: Diah Hadaning
Proyeksi dari Sentani

Gerimis pagi Bekasi melukis bias wajah
Lelaki tua dari Sentani lama - Yan Yapo
Memadat di wajah coklat tua
Dua anak muda Papua
Di lembab Januari
Tempat kakek moyangnya kini
Menjaga bumi Papua sejati.

Yan Yapo, tak bisa kuterjemahkan
Yan Yapo, tak bisa kuuraikan
Sendainya di tanahmu
Terjadi keajaiban usung perubahan
Seandainya di hari-harimu
Papua tak lagi ulang-ulang lagu "sorata"
Yamdena tak disapa bencana kering memasir
Tambang-tambangmu tak disentuh gadai
Yang lamanya puluhan tahun, wahai...

Yan Yapo, gunung hijau jadi lembah terburai
Kulihat lekat di wajah gelap
Dua anak muda Papua di Panti
Yang tak mengerti arus sejarah tumpah darah
Tergerogoti aneka sewa-menyewa
O, biji emas ada saatnya ludas
O, perubahan jangan jadi kano kandas.

Bekasi
Januari, 2010
"Puisi: Proyeksi dari Sentani (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Proyeksi dari Sentani
Karya: Diah Hadaning
Mengenang Bapa

Tak harus menangisinya
jika bapa pergi ke lembah abadi
jika tak tahu di mana pusara
kirim saja bunga di bubungan atap
tabur saja bunga di jalan simpang empat
semua sampai Gusti itu Maha Kasih
perempuan sunyi mengenang sendiri.

Bulan Sura hadir kembali
sebentuk kotak ukir warisan nan tunggal
saatnya dibersihkan
diganti pula bunga isinya
tanda kasih dan setia
pada sang bapa pengukir jiwa
aku tak 'kan menangis lagi, bisik
perempuan itu menatap ukiran tua
karena masih kugenggam pesan itu
buktikan angan dan mimpimu
jangan henti di jalan berbatu
satu hari dunia dalam genggaman
senyum bapa membayang di udara
saat Sura hari pertama.

Bogor
Maret, 2004
"Puisi: Mengenang Bapa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Mengenang Bapa
Karya: Diah Hadaning
Ziarah
Terkenang Sultan Hasanudin

Ah debu namanya
Yang menyanyikan daunan gugur
Gelisah ranting-ranting terasa
Pada siang di pekuburan
Dan gadis-gadis datang
Menjelma selendang ungu
Sementara di perbukitan
Menderu burung derkuku
Ah, debu juga namanya
Yang mengabarkan Ziarah itu
Siang jadi berarti
Dalam busukan kembang-kembang
Badik yang tidur akan bangun 
Hanya menunggu Sangkakala.

"Puisi: Ziarah (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Ziarah
Karya: D. Zawawi Imron
Di Atas Angkasa
Siapa yang perkasa di sini?
Bahkan laut dan langit tak jelas batasnya
"Mungkin Tuhan
menggantung nasib kita
pada sebutir sekrup,"
'ku ingat omongan teman bernama Agus.

Tapi kami terlanjur naik
Begitu pintu ditutup
tak mungkin turun balik
Kami jadi doa di hati setiap sekrup.

Terbang di atas Persia yang subuh
seperti memeluk kitab tasawuf
kalau pesawat jatuh
pintu sorga belum terkatup.

Di angkasa ini
ruh seperti cuma separuh
Ke timur sedikit Afganistan
yang bermain antara cinta dan angkuh
"Selamat pagi, Afganistan!"
"Selamat pagi," sebuah sekrup menyahut
Jawaban yang bukan basa-basi.

Senyum pramugari yang menyajikan kopi itu
Tak mampu mencerminkan kedalaman laut
E, sorry, kedalaman Maut.

"Puisi: Di Atas Angkasa (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Di Atas Angkasa
Karya: D. Zawawi Imron
Kupu Malam dan Biniku


Sambil berselisih lalu
mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak 'noleh ke belakang
Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang.

Barah ternganga.

Melayang ingatan ke biniku
Lautan yang belum terduga
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu.

Barangkali tak setahuku
Ia menipuku.


Maret, 1943
"Puisi: Kupu Malam dan Biniku (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kupu Malam dan Biniku
Karya: Chairil Anwar
Mengawan
Rengang aku dari padaku, mengikut kawalku mengawan naik.
Mewajah ke bawah, terlentang aku, lemah lunak,
Kotor terhampar, paduan benda empat perkara.
Datang pikiran membentang kenang,
Membunga cahaya cuaca lampau,
Menjadi terang mengilau kaca.
Lewat lambat aku dan dia, ria tertawa, bersedih suka,
Berkasih pedih, bagai merpati bersambut mulut.
Tersenyum sukma, kasihan serta.
Benda mencintai benda ...
Naik aku mengawan Rahman, mengikut kawalku membawa warta.
Kuat, sayapku kuat, bawakan aku, biar sampai membidai-belai
Celah tersentuh, di kursi kesturi.

"Puisi: Mengawan (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Mengawan
Karya: Amir Hamzah
Hanya Satu
Timbul niat dalam kalbumu;
terban hujan, ungkai badai
terendam karam
runtuh ripuk tamanmu rampak.

Manusia kecil lintang pukang
lari terbang jatuh duduk
air naik tetap terus
tumbang bungkar pokok purba.

Teriak riuh/redam terbelam
dalam gagap/gempita guruh
kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi.

Terapung naik jung bertudung
tempat berteduh Nuh kekasihmu
bebas lepas lelang lapang
di tengah gelisah, swara sentosa.
 
Bersemayam sempana di jemala gembala
juriat jelita bapaku Ibrahim
keturunan intan dua cahaya
pancaran putera berlainan bonda.

Kini kami bertikai pangkai
di antara dua, mana mutiara
jauhari ahli lalai menilai
lengah langsung melewat abad.

Aduh, kekasihku
padaku semua tiada berguna
hanya satu kutunggu hasrat
merasa dikau dekat rapat
serupa Musa di puncak Tursina.
"Puisi: Hanya Satu (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Hanya Satu
Karya: Amir Hamzah
Di Engkelili, Suatu Pagi

Empat lelaki menyusur pinggir kali
Nasibnya mengalir bersama air menghilir
Di mana mereka bertemu?
Ke mana mereka kan pergi?
Dalam hati yang mengerti
Menuju ufuk kelabu
Di kuala terbuka
'Pabila mereka berangkat
Dan kapan akan kembali?
Telah tetap setiap saat
Menempuh arus waktu
Tidak terhingga
Empat lelaki berdiri di pinggir kali
Nasib bagaikan air: Selalu luput dari genggaman.
   

"Puisi: Di Engkelili, Suatu Pagi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Di Engkelili, Suatu Pagi
Karya: Ajip Rosidi