loading...

Catatan Oktober

I
Kain putih telah direntang
nama-nama telah dituliskan
menjadi ombak pada laut
menjadi warna bagi bendera
menjadi pijar pada api.

Kami masih bersamamu
lestarikan cinta nusa
sepanjang hayat ya hayat
sepanjang kurun ya kurun.

Kami yang lahir dari rahim resah
korban cacah korban jarah
tapi langkah tak pernah henti
batu-batu dasar di tangan kami
sangga-sangga pilar di kaki kami.

Pengorbanan yang bertimbun
membuat hidup jadi anggun
sepanjang hayat ya hayat
sepanjang kurun ya kurun.

II
Kucatat kesetiaanmu
tak pernah berubah
pada pertiwi bundamu satu

Bendera tetap melambai
sejak ia dikibarkan
sumpah tetap kukuh
sejak ia diikrarkan
jiwa tetap menyatu
sejak ia dibuhulkan
dalam kebersamaan
pahit getir perjuangan

Luka nganga tanah bunda
kau balut smangat merdeka
tangis menjadi tawa
pulau merjan bertebaran
sepanjang lini katulistiwa
karunia sepanjang masa

Kucatat kesetianmu
tak pernah berubah
pada pertiwi bundamu satu

III
Lidah api menggaris langit
juang tak tuntas menggaris jiwa
derita terus disuarakan
tuntutan terus dikumandangkan

Hujan Oktober mengguyur kota
poster-poster smarak nyata
jiwa meraung di tempat sama
tepat Hari Sumpah Pemuda

Kusimak geliat murkamu, Jakarta
saat janji-janji dicuatkan
kudengar parau erangmu, Jakarta
saat ‘rang muda rasa terluka

Semua baur semua lebur
dalam warna-warna bendera
selalu akan diulang
selama kota dipenuhi berhala

Jika api dinyalakan
untuk hangati jiwa tertekan.

Oktober, 1998
"Puisi: Catatan Oktober (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Oktober
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top