Maret 2010
Padang Pasir

1
Mengapa menggigil tiba-tiba?
Kau berhenti di lampu merah
waktu gadis kecil itu bernyanyi
di balik jendela mobilmu.

suaranya seperti yang kaubayangkan
ketika menempuh padang pasir itu
dan mendengar: di padang pasir
tidak ada larangan memakan pasir

tetapi pernahkah kau menempuh padang pasir
seperti kau sekarang ini mendengar
nyanyian gadis kecil itu? Pernahkah kau merasa
terkunci dalam sebutir sel darahmu?

Ketika lampu itu hijau kau seperti tak peduli
bahwa baik mendengarkan setiap nyanyian
bahwa tidak usah saja membayangkan
padang pasir - di kota yang hampir tenggelam.

2
Memang harus ada yang dipadamkan,
katamu. Sepanjang jalan permainan neon
dan warna - dan kata. Dan gambar perempuan
seperti menutupi langit malam

menggodamu ke suatu tempat
yang kausembunyikan di dalam otakmu.
Tapi kau berkata tentang apa sebenarnya?
Kaubalas sendiri pertanyaanmu itu.

3
Kau lupa mencatat alamat itu; tengah malam
berhenti di ujung gang menerka-nerka
mungkin memang tidak perlu mencatat
alamat itu - toh tidak pernah ada, pikirmu

apakah memang benar kau tidak harus mencari
alamat itu? Pada suatu saat toh harus
menemui seseorang yang dulu pernah kaukenal
atau yang tak pernah kaubayangkan ada

di ujung gang kau memandang lurus
jalan yang basah bekas hujan sore tadi;
rasanya pernah kaukenal satu-dua bayang-bayang
daun yang berpusing jatuh ke bumi

apakah kau memang tidak perlu mencari alamat itu
dan sekedar begitu saja berada di situ? Tidak ingin bertemu
dengan seseorang yang tak habis-habisnya
menyiasatimu, di padang pasir itu?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Padang Pasir
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kami Mendengar Nyanyian

Pagi ini kami mendengar nyanyian dalam sebutir telur: kami berdiri di bawah sebatang pohon tua, ranting-rantingnya ranggas. Aku ini sebutir nyanyian, tak ada burung yang berani mengeramiku. Sudah sekian lama kami menunggu kabar itu; kami harus berangkat pada hari ketika kabar itu sampai. Tak ada di antara kami yang berani menerka bahwa mungkin kabar itu ada di dalamnya. Ketika matahari sepenggalah ranting-ranting pohon mulai bertunas, sekujur pohon penuh luka, masih kami dengar telur itu, kalian bukan milikku, kabar itu hanya bermakna bagiku. Tetapi kami tidak tuli. Adakah telur yang yang bertugas merawat keheningan dalam nyanyian? Ketika sore hari akhirnya tiba kami saksikan matahari terakhir berkilau kemerahan di ujung telur itu. Kami tak berani membayangkan apa yang terjadi jika cahaya itu nanti tiada, jika matahari tinggal berupa aroma mawar, dan tak ada kabar. Aku ini sebutir nyanyian, tak ada burung yang akan mengeramiku, dan rupanya kami pun harus tetap menunggu sepanjang malam berdiri di bawah pohon yang mendadak menjadi begitu rimbun. Mungkin kabar itu tiba besok pagi, ketika pohon meranggas dan kami mendengar telur itu kembali.

"Puisi: Kami Mendengar Nyanyian (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kami Mendengar Nyanyian
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepatu

Kau tak merasa sepatumu telah menginjak
kerikil dan daun tua di jalan kecil itu;
kau tak mendengar pembicaraan yang bijak
antara daun dan kerikil itu tentang sepatumu.

"Puisi: Sepatu (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sepatu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Ayat-ayat Api


I
Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan

di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin
yang langitnya bersih; yang siangnya menawarkan
bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin
di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung

yang lebih suka menunggu sampai penghujan
dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung
(diusir kerumunan bunga dan kawanan burung)

di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga
yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan.


II
(kepada Wislawa Szymborska)

Seorang anak laki-laki
menoleh ke kiri ke kanan
lalu cepat-cepat menyelinap
dalam kerumunan itu
dan tidak kembali.

Tiga orang lelaki separo baya
bergegas menyusulnya
dan tidak kembali.

Lima enam tujuh orang perempuan
meledak bersama dalam api
dan, tentu saja,
tidak kembali.

Agak ke sebelah sana
di seberang jalan
seorang penjual rokok
membayangkan dirinya duduk
di depan pesawat televisi
takjub menyaksikan
sulapan itu.


III
Ada seorang perempuan
diam saja berdiri
di dekat tukang rokok
di seberang jalan raya itu.

Ada satpam memperhatikannya
dari ujung gang itu
ada polisi sekilas melihatnya
dari dekat gardu telepon itu
ada anak tetangga sebelah
menyapanya
ada guru SD
yang masih mengenalnya
menepuk bahunya
ada neneknya di rumah
yang sudah suka lupa -

Ada suaminya ada anak-anaknya
(yang
mungkin
saja
sedang
memikirkannya
juga)
yang kini
(tentunya
mungkin
moga-moga
saja
tidak!)
berada dalam sebuah toko besar
(atau
tidak
lagi
bisa)
yang sedang terbakar.


IV
“Entah kenapa, pagi ini,
seluruh tubuhku terasa gemetar,
tidak seperti biasanya. Dulu
kau pernah berkata,
kita ini bagai daun tua
gemetar sebelum disapu angin
gemetar karena menguji diri sendiri
apakah kita masih kuat bertahan
di dahan
sebelum angin terakhir
sebelum siang terakhir
sebelum tik-tok terakhir -
tapi sudahlah,
aku toh harus juga ke kantor
sehabis tetek-bengek pagi: segelas kopi,
setangkep roti.
Hari ini akan mendung tanpa hujan,
kata ramalan cuaca.
Aku akan pulang cepat nanti
sebelum makan malam.”

Tapi tukang sulap, entah kenapa,
ternyata punya kehendak lain.


V
Di antara yang meretas dalam kepala kita
dan api yang berkobar di seberang sana
melandai beberapa patah sabda

di antara yang di kepala, yang berkobar, dan sabda
bergetar ayat-ayat yang kita hapal lafaznya
yang hanya bisa kita tafsir-tafsirkan maknanya.


VI
Ada yang menghitung waktu api
dengan bunyi-bunyi aneh
seperti yang pernah kita dengar
ketika masih dalam rahim ibu.

Ada yang menghitung jam api
dengan isyarat-isyarat ganjil
seperti yang pernah kita kenal
ketika masih dalam kobaran itu

Ada yang menghitung detik api
dengan kedap-kedip pelik
seperti yang pernah mereka lihat
ketika orang-orang memakamkan kita.


VII
Gambar-gambar
di koran hari ini
godaan
bagi kita

untuk tetap
menyisakan
aneka
kata seru.


VIII
di atap rumah seberang jalan
seekor burung gereja mengibas-ngibaskan
sayapnya sehabis gerimis
di pagi (yang bagai mata kena jeruk) itu

kelopak air berguguran ke sana ke mari
sementara di sudut atas gedung itu
di seberang sana, di bekas sarangnya
asap sisa api kemarin masih juga.

IX
Api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya ia tidak bisa
menjadi fosil

Api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya kita luluh-lantak
dalam kobarannya.

X
Sore itu akhirnya ia berubah juga
menjadi abu sepenuhnya
sebelum sempat menyadari
bahwa ternyata ada saat untuk istirahat

di antara gundukan-gundukan
yang sulit dipilah-pilahkan
- ah, untuk apa pula
toh segera diterbangkan angin selagi hangat.


XI
Di akhir isian panjang itu
tertera pertanyaan
“apa yang masih terisa dari tubuhmu”

Isi saja “tak ada”
tapi, o ya, mungkin kenangan
yang tentunya juga sia-sia bertahan.

XII
Ia akhirnya menerima perannya
sebagai tokoh khayali; digeser ke sana
ke mari: di halaman koran, di layar televisi,
dan sulapan bunyi-bunyian di radio;

Ia pun harus pandai-pandai
menempatkan dirinya dalam deretan
gagasan, peristiwa, dan benda
yang harus segera kita lupakan.

XIII
Kau tak berhak mengingat apa-apa lagi
dekat perbatasan kaurogoh KTP-mu - tapi untuk apa pula

kau akan menyeberangi kenyataan terakhir
sesudah bentukmu diubah sama sekali

kau tak lagi memerlukan apa pun: sisir, sepatu,
pakaian seragam, bahkan ingatan akan penyeberangan ini

duduklah baik-baik, kau tak berhak mondar-mandir lagi
tak berhak punya maksud apa pun: ini bukan lakon Anoman Obong.

XIV
Kami memang sangat banyak
Astagfirullah

menumpuk di dekat sampah
tak sempat diangkut

tergoda minyak
habis terbakar

kami memang sangat banyak
Astagfirullah.


XV
Waktu upacara hampir usai kau tak ingat
bahwa kuburan di kampung sudah penuh

Mungkin satu-satunya basa-basi yang tersisa
adalah menguburmu sementara dalam ingatan kami.

1998-1999
"Puisi: Ayat-ayat Api (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ayat-ayat Api
Karya: Sapardi Djoko Damono
Pagi

Ketika angin pagi tiba kita seketika tak ada
di mana saja. Di mana saja bayang-bayang gema
cinta kita
yang semalam sibuk menerka-nerka

di antara meja, kursi, dan jendela? Kamar
berkabut setiap saat kita berada,
jam-jam terdiam
sampai kita gaib begitu saja. Ketika angin

pagi tiba tak terdengar "Di mana kita?" -
masing-masing mulai kembali berkelana
cinta yang menyusur jejak Cinta
yang pada kita tak habis-habisnya menerka.

"Puisi: Pagi (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pagi
Karya: Sapardi Djoko Damono
Candra

Badan yang kuning-muda sebagai kencana,
Berdiri lurus di atas reta bercaya,
Dewa Candra keluar dari istananya
Termenung menuju Barat jauh di sana.

Panji berkibar di tangan kanan, tangan kiri
Memimpin kuda yang bernapaskan nyala;
Begitu dewa melalui cakrawala,
Menabur-naburkan perak ke bawah sini.

Bisikan malam bertiup seluruh bumi,
Sebagai lagu-merawan buluh perindu,
Gemetar-beralun rasa meninggikan sunyi.

Bumi bermimpi dan ia mengeluh di dalam
Mimpinya, karena ingin bertambah rindu,
Karena rindu dipeluk sang Ratu Malam.

"Puisi: Candra (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Candra
Karya: Sanusi Pane
Penyair Muda

Masa muda telah ia rangkum dan ia masukkan 
ke dalam tas gendongnya, dua puluh kilogram beratnya.
Pagi-pagi sekali ia pamit kepada pacarnya:
“Aku akan pergi ke puncak Merapi 
mencari batu kata paling murni. 
Akan kupersembahkan padamu nanti.”

Menyilangkan tangan di dada, si pacar terpana. 
“Tega sekali kautinggalkan aku 
hanya untuk berburu kata-kata. 
Kau tak tahu, kata-kata tak bisa menaklukkan hatiku. 
Hanya hati kata yang dapat membuat 
dadaku berdenyut dan mataku menyala.” 

Tanpa cium berangkatlah ia memburu mimpi.
Tertatih, terjungkal, ia panjati tebing terjal
dan terus mendaki ke puncak tinggi.
Di bawah sana pacarnya galau menanti: 
akankah ia kembali atau terperosok ke jurang sepi?

Di sebuah Minggu yang hangat pulanglah ia.
Tubuhnya kusut, wajahnya kumal.
Rambutnya yang lurus berubah ikal.
Di bawah pohon mangga ia bertemu pacarnya.
“Mana batu kata paling murni untukku? 
Akan kujadikan hiasan kalungku.”
Ditagih janji, ia tertunduk malu. 
“Gunungnya keburu meletus 
sebelum aku berhasil mencapai puncaknya. 
Aku cuma bawa abunya, dua puluh kilogram banyaknya.”

Antara geli dan haru, si pacar teringat abu 
yang dibubuhkan di dahinya di sebuah Rabu. Rabu Abu.
Ia ambil sejumput abu dari tas gendong kekasihnya,
ia oleskan pada jidatnya seraya berkata,
“Puisi pertama adalah abu.“ 
Merapat sedikit, ia goreskan sebaris ciuman di bibirnya. 
“Malam ini kau resmi jadi penyairku,” ucapnya
dan selembar daun mangga jatuh di atas rambutnya.

“Maaf, buah mangganya sudah habis, 
tapi aku masih menyimpan kulitnya.” 

2010
"Puisi: Penyair Muda (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Penyair Muda
Karya: Joko Pinurbo

Cenala

I
Saya sedang tamasya di sebuah halaman buku puisi.
Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri
di bawah pohon beringin di alun-alun kota.

Saat duduk-duduk di bawah judul puisi, saya terpikat
pada kata celana. Saya penasaran dan segera mendekatinya.
Ternyata itu sebuah tabir besar berbentuk celana.

Saya buka tabir itu dan tahu-tahu saya sudah berdiri
di depan jurang yang merah menganga.
Saat itu juga saya berteriak tolong, tolong....
Karena panik, saya tak sempat menutup kembali tabir itu
dengan sempurna seperti semula.

Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu kaget
mendengar jeritan tolong tolong. Lebih kaget lagi
melihat kata celana telah berubah menjadi cenala.
Ia menoleh ke kanan ke kiri, lalu buru-buru pergi,
persis saat senja sedang terjun ke jurang cakrawala.

II
“Bu, mengapa saya diberi nama Cenala?”
“Waktu itu bapakmu sedang di kamar mandi,
sementara aku sedang berjuang melahirkanmu,
ditemani dukun bayi. Bapakmu terlalu gembira
mendengar tangis pertamamu dan ingin segera melihatmu.
Ia tergesa-gesa mengenakan celana sampai-sampai
celananya terbalik. Itulah sebabnya, kau dinamai Cenala.”
“Tapi cenala itu artinya apa, Bu?”
“Jangankan aku, kamus pun tak tahu artinya.
Bapakmu juga tak pernah menjelaskannya.”
“Lalu bagaimana saya dapat mengetahuinya?”
“Almarhum bapakmu punya teman baik,
seorang pengumpul barang-barang antik,
yang pandai membaca tanda. Dia tinggal di Yogya.
Tapi dia sulit ditemui dan belum tentu mau ditemui
secara orangnya tak kalah antiknya. Sebelum wafat,
bapakmu sempat menitipkan sejumlah rahasia padanya.”

III
Saya berada kembali di sebuah halaman buku puisi.
Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri
di bawah pohon mangga di belakang rumahnya.
Saya lihat kata cenala telah kembali menjadi celana.
Saya masih penasaran dan ingin membuka lagi tabirnya.

Tabir terbuka dan tahu-tahu saya sudah terdampar
di sebuah trotoar. Saya lihat beberapa orang pegadang
sedang duduk-duduk mengobrol, bercanda, ngopi
di warung angkringan di remang cahaya.
Saya bertanya-tanya dalam hati: inikah Yogya?

Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu heran
menemukan kata cenala telah berubah menjadi celana.
Ia tertawa antara waras dan gila.
Dan ia lupa bertanya siapakah saya sebenarnya.

2010
"Puisi: Cenala (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Cenala
Karya: Joko Pinurbo
Kunang-Kunang

Ketika kecil ia sering diajak ayahnya bergadang
di bawah pohon cemara di atas bukit. Ayahnya
senang sekali menggendongnya menyeberangi sungai,
menyusuri jalan setapak berkelok-kelok dan menanjak.
Sampai di puncak, mereka membuat unggun api,
berdiang, menemani malam, menjaring sepi. Ia sangat
girang melihat kunang-kunang berpendaran.

“Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?”
“Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang.”
Ia terbengong, tidak paham bahwa ayahnya sedang
mengajarinya bermain kata.

Bila ia sudah terkantuk-kantuk, si ayah segera
mengajaknya pulang, dan sebelum sampai di rumah,
ia sudah terlelap di gendongan. Ayahnya
menelentangkannya di atas amben, lalu menaruh
seekor kunang-kunang di atas keningnya.

Saat ia pamit pergi mengembara, ayahnya membekalinya
dengan sebutir kenang-kenang dalam botol.
“Pandanglah dengan mesra kenang-kenang ini saat kau
sedang gelap atau mati kata, maka kunang-kunang
akan datang memberimu cahaya.”

Kini ayahnya sudah ringkih dan renta.
“Aku ingin ke bukit melihat kunang-kunang. Bisakah
kau mengantarku ke sana?” pintanya.

Malam-malam ia menggendong ayahnya menyusuri
jalan setapak menuju bukit.
“Apakah pohon cemara itu masih ada, Yah?”
tanyanya sambil terengah-engah.
“Masih. Kadang ia menanyakan kau dan kukatakan
saja: Oh, dia sudah jadi pemain kata.”

“Nah, kita sudah sampai, Yah. Mari bikin unggun.”
Si ayah tidak menyahut. Pelukannya semakin erat.
“Tunggu, Yah. Kunang-kunang sebentar lagi datang.”
Si ayah tidak membalas. Tubuhnya tiba-tiba memberat.
Ia pun mengerti, si ayah tak akan bisa berkata-kata lagi.

Pelan-pelan ia lepaskan ayahnya dari gendongan.
Ketika ia baringkan jasadnya di bawah pohon cemara,
seribu kunang-kunang datang mengerubunginya,
seribu kenang-kenang bertaburan di atas tubuhnya.
“Selamat jalan, Yah. In paradisum deducant te angeli.”

2010
"Puisi: Kunang-Kunang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kunang-Kunang
Karya: Joko Pinurbo
Sudah Saatnya

Sudah saatnya jam yang rusak diperbaiki. Kita pergi ke
bengkel jam dan kepada pak tua penggemar jam kita
meminta, “Tolong ya betulkan jam pikun ini. Jarumnya
sering maju-mundur, bunyinya sering ngawur”. Semoga
tukang bikin betul jam tahu bahwa ia sedang berurusan
dengan penggemar waktu.

***

Sudah saatnya kita periksa mata. Kepada dokter mata
kita bertanya, “Ada apa ya dengan mata saya, kok sering
terbalik: tidak melihat yang kelihatan, malah melihat
yang tak kelihatan?” Mudah-mudahan dokter mata
paham: ya memang begitulah jika mata kita pejamkan.

***

Sudah saatnya celana yang koyak direparasi, pantat yang
congkak didisiplinkan lagi. Kita temui ahli filsafat
celana, kita tanyakan, “Mengapa celana dan pantat
sering tidak dapat bekerja sama; ada kalanya celana
bikin eksis pantat, ada kalanya pantat benci celana?”
Dapat diduga bahwa jawabannya tidak terduga,
misalnya: “Kita perlu menciptakan situasi nircelana.”

***

Sudah saatnya jiwa yang janggal diselidiki. Kita
konsultasi ke pakar psikologi: “Saya bingung. Saya
sering mengalami situasi di mana saya tidak tahu pasti
apakah sedang berada di masa lalu, masa depan atau
masa kini. Tapi saya masih waras. Sungguh. Awas kalau
berani menganggap saya gila.” Jika ia memang ahli,
seharusnya ia mengerti: ya begitulah jika tubuh kena
teluh puisi.”

***

Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang
pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan
molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi
birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan
berbuah lagi.

"Puisi: Sudah Saatnya (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sudah Saatnya
Karya: Joko Pinurbo
Di Hadapan Rahasiapa
untuk Adimas Immanuel

Seorang penyair muda meninggalkan kotanya
dan pergi jauh ke kota impiannya. Foto dirinya
tersenyum manis di dinding kamarnya: "Hati-hati
di jalan. Jalanmu adalah sajak terpanjangmu."

Di manakah kota impiannya tersembunyi?
Di sebuah surga yang hampir cantik macetnya
atau di sebuah hati yang belum ia temukan kodenya?
Ia tak mengerti sebab pergi adalah mencari.

Kadang ia bertanya, di hadapan siapa ia menulis.
Di hadapan kata-kata, itu pasti. Di hadapan
yang tak terucapkan kata-kata, itu lebih pasti.
Ia curiga, jangan-jangan jawab terbaik terselip
di senyum manis foto dirinya di dinding kamarnya.

Kata-kata datang dan pergi, meninggalkan bunyi,
menyisakan sunyi. Ketika jam berdentang
memukul waktu, ia teringat sebuah lagu keroncong
yang dinyanyikan seorang penyanyi Solo:
"Engkau mengalir sampai jauh, akhirnya ke aku."

2016
"Puisi: Di Hadapan Rahasiapa (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di Hadapan Rahasiapa
Karya: Joko Pinurbo
Orang Gila Baru

Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri.
Setiap saya membaca sajak yang saya tulis, dari balik
gerumbul kata-kata tiba-tiba muncul orang gila baru
yang dengan setengah waras berkata,
"Numpang tanya, apakah anda tahu alamat rumah saya?"

Kuantar ia ke rumah sakit jiwa dan dengan lembut kukatakan,
"Ini rumahmu. Beristirahatlah dalam damai."
Gila, ia malah mencengkeram leher baju saya dan meradang,
"Ini rumahmu, bukan rumahku."

Pernah saya mendapatkannya sedang berlari-lari kecil
di jalanan panas, lalu mendadak berhenti, mendongak ke langit,
menghormat matahari. Kali lain saya menemukannya
sedang tercenung di pinggir jalan sambil tersenyum terus,
seperti orang malang sedang menertawakan nasibnya sendiri.
Saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga ia tidak pulang
ke dalam sajak-sajak saya.

Mungkin cara terbaik untuk mencegah kemunculannya
dan terhindar dari gangguannya adalah berhenti menulis.
Tapi kawan saya bilang, "Tanpa dia, sudah lama kamu mati."

2010
"Puisi: Orang Gila Baru (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Orang Gila Baru
Karya: Joko Pinurbo
Ya Tuhan, Pelajaran Apa ini?

Ya Tuhan, pelajaran apa ini?
Kau kurniakan kepada kami ironi-ironi
yang mengusik pikiran dan nurani:

Kau kurniakan hamba buta yang mengetahui apa saja
dan sekian banyak tokoh tak buta yang tak mampu melihat apa-apa
Kau kurniakan hamba yang tertatih-tatih dituntun sambil menuntun siapa saja
dan sekian banyak tokoh yang sanggup berlari sendiri tapi tak jelas arah-tujuannya.

Ya tuhan, pelajaran apa ini?

Kau beri bertumpuk sakit yang membuat fakirmu kian perkasa
yang tak pernah merasa sakit hati diludahi dan dicerca
oleh sekian pengaku pembelamu yang jumawa.

Ya Tuhan, pelajaran apa ini?

Khalifah-Mu yang kau pilih telah ditolak mereka
dan kini mereka ikut larut atau terpana
oleh jutaan hamba yang Engkau gerakkan hatinya
untuk mengangkatnya setelah mangkatnya

Ya Tuhan, pelajaran apa ini?

Rembang
9/1/2010
"Puisi: Ya Tuhan, Pelajaran Apa ini? (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Ya Tuhan, Pelajaran Apa ini?
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)