loading...

Ayat-ayat Api


I
Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan

di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin
yang langitnya bersih; yang siangnya menawarkan
bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin
di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung

yang lebih suka menunggu sampai penghujan
dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung
(diusir kerumunan bunga dan kawanan burung)

di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga
yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan.


II
(kepada Wislawa Szymborska)

Seorang anak laki-laki
menoleh ke kiri ke kanan
lalu cepat-cepat menyelinap
dalam kerumunan itu
dan tidak kembali.

Tiga orang lelaki separo baya
bergegas menyusulnya
dan tidak kembali.

Lima enam tujuh orang perempuan
meledak bersama dalam api
dan, tentu saja,
tidak kembali.

Agak ke sebelah sana
di seberang jalan
seorang penjual rokok
membayangkan dirinya duduk
di depan pesawat televisi
takjub menyaksikan
sulapan itu.


III
Ada seorang perempuan
diam saja berdiri
di dekat tukang rokok
di seberang jalan raya itu.

Ada satpam memperhatikannya
dari ujung gang itu
ada polisi sekilas melihatnya
dari dekat gardu telepon itu
ada anak tetangga sebelah
menyapanya
ada guru SD
yang masih mengenalnya
menepuk bahunya
ada neneknya di rumah
yang sudah suka lupa -

Ada suaminya ada anak-anaknya
(yang
mungkin
saja
sedang
memikirkannya
juga)
yang kini
(tentunya
mungkin
moga-moga
saja
tidak!)
berada dalam sebuah toko besar
(atau
tidak
lagi
bisa)
yang sedang terbakar.


IV
“Entah kenapa, pagi ini,
seluruh tubuhku terasa gemetar,
tidak seperti biasanya. Dulu
kau pernah berkata,
kita ini bagai daun tua
gemetar sebelum disapu angin
gemetar karena menguji diri sendiri
apakah kita masih kuat bertahan
di dahan
sebelum angin terakhir
sebelum siang terakhir
sebelum tik-tok terakhir -
tapi sudahlah,
aku toh harus juga ke kantor
sehabis tetek-bengek pagi: segelas kopi,
setangkep roti.
Hari ini akan mendung tanpa hujan,
kata ramalan cuaca.
Aku akan pulang cepat nanti
sebelum makan malam.”

Tapi tukang sulap, entah kenapa,
ternyata punya kehendak lain.


V
Di antara yang meretas dalam kepala kita
dan api yang berkobar di seberang sana
melandai beberapa patah sabda

di antara yang di kepala, yang berkobar, dan sabda
bergetar ayat-ayat yang kita hapal lafaznya
yang hanya bisa kita tafsir-tafsirkan maknanya.


VI
Ada yang menghitung waktu api
dengan bunyi-bunyi aneh
seperti yang pernah kita dengar
ketika masih dalam rahim ibu.

Ada yang menghitung jam api
dengan isyarat-isyarat ganjil
seperti yang pernah kita kenal
ketika masih dalam kobaran itu

Ada yang menghitung detik api
dengan kedap-kedip pelik
seperti yang pernah mereka lihat
ketika orang-orang memakamkan kita.


VII
Gambar-gambar
di koran hari ini
godaan
bagi kita

untuk tetap
menyisakan
aneka
kata seru.


VIII
di atap rumah seberang jalan
seekor burung gereja mengibas-ngibaskan
sayapnya sehabis gerimis
di pagi (yang bagai mata kena jeruk) itu

kelopak air berguguran ke sana ke mari
sementara di sudut atas gedung itu
di seberang sana, di bekas sarangnya
asap sisa api kemarin masih juga.

IX
Api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya ia tidak bisa
menjadi fosil

Api adalah lambang kehidupan
itu sebabnya kita luluh-lantak
dalam kobarannya.

X
Sore itu akhirnya ia berubah juga
menjadi abu sepenuhnya
sebelum sempat menyadari
bahwa ternyata ada saat untuk istirahat

di antara gundukan-gundukan
yang sulit dipilah-pilahkan
- ah, untuk apa pula
toh segera diterbangkan angin selagi hangat.


XI
Di akhir isian panjang itu
tertera pertanyaan
“apa yang masih terisa dari tubuhmu”

Isi saja “tak ada”
tapi, o ya, mungkin kenangan
yang tentunya juga sia-sia bertahan.

XII
Ia akhirnya menerima perannya
sebagai tokoh khayali; digeser ke sana
ke mari: di halaman koran, di layar televisi,
dan sulapan bunyi-bunyian di radio;

Ia pun harus pandai-pandai
menempatkan dirinya dalam deretan
gagasan, peristiwa, dan benda
yang harus segera kita lupakan.

XIII
Kau tak berhak mengingat apa-apa lagi
dekat perbatasan kaurogoh KTP-mu - tapi untuk apa pula

kau akan menyeberangi kenyataan terakhir
sesudah bentukmu diubah sama sekali

kau tak lagi memerlukan apa pun: sisir, sepatu,
pakaian seragam, bahkan ingatan akan penyeberangan ini

duduklah baik-baik, kau tak berhak mondar-mandir lagi
tak berhak punya maksud apa pun: ini bukan lakon Anoman Obong.

XIV
Kami memang sangat banyak
Astagfirullah

menumpuk di dekat sampah
tak sempat diangkut

tergoda minyak
habis terbakar

kami memang sangat banyak
Astagfirullah.


XV
Waktu upacara hampir usai kau tak ingat
bahwa kuburan di kampung sudah penuh

Mungkin satu-satunya basa-basi yang tersisa
adalah menguburmu sementara dalam ingatan kami.

1998-1999
"Puisi: Ayat-ayat Api (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ayat-ayat Api
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top