loading...


Cenala

I
Saya sedang tamasya di sebuah halaman buku puisi.
Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri
di bawah pohon beringin di alun-alun kota.

Saat duduk-duduk di bawah judul puisi, saya terpikat
pada kata celana. Saya penasaran dan segera mendekatinya.
Ternyata itu sebuah tabir besar berbentuk celana.

Saya buka tabir itu dan tahu-tahu saya sudah berdiri
di depan jurang yang merah menganga.
Saat itu juga saya berteriak tolong, tolong....
Karena panik, saya tak sempat menutup kembali tabir itu
dengan sempurna seperti semula.

Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu kaget
mendengar jeritan tolong tolong. Lebih kaget lagi
melihat kata celana telah berubah menjadi cenala.
Ia menoleh ke kanan ke kiri, lalu buru-buru pergi,
persis saat senja sedang terjun ke jurang cakrawala.

II
“Bu, mengapa saya diberi nama Cenala?”
“Waktu itu bapakmu sedang di kamar mandi,
sementara aku sedang berjuang melahirkanmu,
ditemani dukun bayi. Bapakmu terlalu gembira
mendengar tangis pertamamu dan ingin segera melihatmu.
Ia tergesa-gesa mengenakan celana sampai-sampai
celananya terbalik. Itulah sebabnya, kau dinamai Cenala.”
“Tapi cenala itu artinya apa, Bu?”
“Jangankan aku, kamus pun tak tahu artinya.
Bapakmu juga tak pernah menjelaskannya.”
“Lalu bagaimana saya dapat mengetahuinya?”
“Almarhum bapakmu punya teman baik,
seorang pengumpul barang-barang antik,
yang pandai membaca tanda. Dia tinggal di Yogya.
Tapi dia sulit ditemui dan belum tentu mau ditemui
secara orangnya tak kalah antiknya. Sebelum wafat,
bapakmu sempat menitipkan sejumlah rahasia padanya.”

III
Saya berada kembali di sebuah halaman buku puisi.
Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri
di bawah pohon mangga di belakang rumahnya.
Saya lihat kata cenala telah kembali menjadi celana.
Saya masih penasaran dan ingin membuka lagi tabirnya.

Tabir terbuka dan tahu-tahu saya sudah terdampar
di sebuah trotoar. Saya lihat beberapa orang pegadang
sedang duduk-duduk mengobrol, bercanda, ngopi
di warung angkringan di remang cahaya.
Saya bertanya-tanya dalam hati: inikah Yogya?

Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu heran
menemukan kata cenala telah berubah menjadi celana.
Ia tertawa antara waras dan gila.
Dan ia lupa bertanya siapakah saya sebenarnya.

2010
"Puisi: Cenala (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Cenala
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top