April 2010
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Beursplein Amsterdam 1990
(
untuk mahasiswa 
dimana saja
)

Di pasar-bursa diperjualbelikan segala
perut negara dan jantung bangsa-bangsa
boleh tanya, dong: berapa sih harganya
satu kepala manusia di indonesia?

Cendekiawan bilang : orang dayak biadab
memenggal kepala orang untuk kejantanan
apakah diktator militer indonesia itu beradab
menghukum orang seumur hidup lalu dieksekusi
demi mempersolek kekuasaan?

Dan itu ribuan mayat di sungai-sungai?
Dan itu petani yang dirampas atau dibunuh?
Dan itu berondongan peluru terhadap muslim yang
memanjatkan doa kepada tuhan untuk demokrasi
dan itu 1001 razia terhadap rakyat-kecil di jalanan?
Dan anak-anak tapol yang ditindas meski tak tahu
apa dosa orangtuanya?
Bukankah mereka yang menenggelamkan
kedung-ombo, merampas cinta saidja-adindanya multatuli
dan dibikin tenggelam?
Berapa juta dollar harga kebiadaban
kalian di pasar-bursa?

Duapuluh tujuh juta gulden untuk kepala enam orang
boleh tanya: berapa harga itu kemanusiaan?

Di halaman beursplein amsterdam
mereka yang mogok-makan
membela peradaban agar kemanusiaan
tidak dihina dan mati kelaparan

Hangatkan tanganmu di api-unggun keadilan
juga kau yang membubuhkan tandatangan
guna menyelamatkan mereka
yang akan dieksekusi
juga kehadiranmu adalah nafas kehangatan simpati
jika kau santai di rumah dengan secangkir kopi
dan koran-pagi
jangan lupakan nama mereka-mereka ini:
Ruslan Wijayasastra, Sukatno, Iskandar Subekti,
Asep Suryaman, I Bungkus dan Marsudi
kenangkan mereka guna diwariskan kepada tujuh turunan
tentang kebiadaban anjing-anjing gila
dan simpan jauh-jauh ke dalam hatimu.

(Ingatkah kau suami-isteri rosenberg dihukum-mati
di atas korsi-listrik mc carthy?
Lalu jean-paul-sastre mengutuk dalam sajaknya
...., jika anjing-anjing sudah menjadi gila!)

Camkanlah: jika regu penembak berdiri
membunuh si enam-orang
atau siapapun lagi
adalah peluru eksekusi membunuh keadilan
kemanusiaan dan demokrasi.

Cemerlang air kanal di tepi damrak
membersitkan wajah kalian yang akan dihukum-tembak
dan bagimu hatiku meronta duka
dan memberontak.

Amsterdam
12 April 1990
"Agam Wispi"
Puisi: Beursplein Amsterdam 1990
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Khotbah di bawah Tiang Listrik

Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret talinya sendiri. Seorang lelaki, setelah menutup pintu mobilnya, berlari ke tiang listrik. Suara lubang dari tubuhnya terdengar mengerikan seperti suara sel penjara jam 11 malam. Kenapa kau berada di luar khotbah yang kau buat sendiri? Kenapa ada lendir yang menetes dari jam 11 malam?

Lelaki itu adalah jam 11 malam yang meninggalkan khotbahnya sendiri. Adalah jam 11 malam yang baru menemukan lubang sebesar paku di telapak tangannya sendiri, menyeret kesunyian dari leher tuhan yang telah menciptakan lelaki jam 11 malam. Bekas kawat berduri di keningnya, dan sisa-sisa nikotin di jari-jari tangannya. Lelaki itu membersihkan semua vagina untuk menemukan anaknya, khotbah-khotbah yang selalu ditutup dengan hujan yang digantung di tiang listrik.

Benarkah, tuhan, benarkah aku bisa melihat? Benarkah aku bisa mendengar? Benarkah, tuhan, benarkah aku sedang berdiri di bawah tiang listrik ini? Benarkah aku telah menggantikan khotbah dengan kematianku sendiri, bukan dengan kematian orang lain. Benarkah aku sedang berjalan meninggalkanmu, meninggalkan pakaianku di dalam mobil. Benarkah tubuhku telah menjadi lantai dalam gereja itu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Khotbah di bawah Tiang Listrik
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berita Rahasia dari Darmo Gandul

Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia baik ia mengatakan. Dan aku menyimpan lidahku di dahan pohon randu di halaman belakang rumahku aku mengatakan. Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia yang indah ia mengatakan. Dan aku menyimpan mataku dalam sebuah lampu neon di halaman belakang rumahku aku mengatakan. Ia mengatakan 100 tahun, aku ingin jadi manusia yang mengucapkan selamat datang kepada setiap yang datang ia mengatakan. Dan aku menyimpan kakiku dalam sebuah batu tempat hantu-hantu mengenang manusia.

Aku ingin jadi manusia yang mengatakan semoga kamu selamat kepada setiap orang yang ditemui ia mengatakan 100 tahun. Dan aku menyimpan tanganku di sebuah sungai tempat ikan-ikan dan pasir mengenang manusia. Kini tubuhku tanpa mata lidah kaki tangan aku simpan dalam hujan di halaman belakang rumahku. Aku berbisik pada ginjal dan paru-paruku aku berbisik pada jantung dan ususku aku berbisik ... kaulah hujan dari sebuah senja yang belum pernah diciptakan.

Kini kau bawa senja itu sebuah telinga dari keheningan paling bening. Telinga yang terbuat dari rumah yang telah dihancurkan dari tanah yang mengeras angin yang tidak bisa lagi berhembus. Daun-daun membuat pohon dari awan. Aku memasuki berita rahasia untuk melupakan diri sendiri. Dan besok–mari–aku telah menjadi dia yang melupakan bahasa.


"Afrizal Malna"
Puisi: Berita Rahasia dari Darmo Gandul
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Naik Motor ke Suroloyo

Lehernya mengeluarkan warna biru kelabu. Ia coret lagi warna merah di dadanya, seperti stempel pos 50 tahun yang lalu. Besok kita akan ke gunung lagi besok, melihat kabut memindah-mindahkan kaki gunung. Jiwa di puncaknya yang tetap ingin sendiri, yang ingin menggunakan suara-suara serangga sebagai telinganya. Yang ingin kunang-kunang memindahkan bintang-bintang di malam hari. Yang ingin sapi terbang dari bukit-bukit ke bukit. Dan aku memotretmu setelah merapi mengeluarkan kabut merah.

Lehernya mengeluarkan warna biru kelabu. Ia tanam lagi udara dingin di dadanya, bau cengkeh dan tembakau dari mulut anjing. Besok kita akan menjadi kunang-kunang, menziarahi orang- orang gua dari mata air. Melihat kabut perak turun seperti sihir dari kesunyian. Yang mendengar air mata menyelimuti tempat tidurnya. Yang mendengar bau gunung dari dongeng- dongeng tua. Yang mendengar suara motor membelah bukit. Yang mendengar bau bunga melati di telapak tangannya. Dan aku memotretmu dari atas bukit ini ke bawah, ke bawah, ke bawah, tempat kunang-kunang menanam bintang.

"Afrizal Malna"
Puisi: Naik Motor ke Suroloyo
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Stasiun Terakhir
(Untuk Slamet Gundono)

Aku hanya gombal yang tergeletak di lantai 230 kg namaku. Nama yang setengahnya terbuat dari air mata dan azan subuh. Gombal yang bisa tertawa dan bernyanyi dari hidupku sendiri. Gombal dari tembang-tembang pesisiran yang membuatku bisa tertawa bersama Tuhan. Melihat surga dari orang-orang yang bertanya, kenapa ada gema kesunyian ketika aku berdiri dan menggapai semua yang buta di sekitarku, kenapa aku bertanya seperti tidak mengatakan apapun.

30 hari aku lupa caranya tidur. Dinding-dinding mulai berbicara, membuat gravitasi terbalik antara tubuhku dan malam yang tersisa pada jam 11 siang. Seluruh dunia datang dan berebut masuk ke dalam telingaku. Aku tarik rem kereta api, berderit, besi berjalan itu berhenti mendadak, berderit, seperti besi besar membentur stasiun terakhir. Aku muntahkan tubuhku bersama dengan suara-suara yang ingin mendapatkan nama dari kerinduan.

Aku hidup bersama Bisma yang berjalan dengan 1000 panah di punggungnya, kesetiaan dan kejujuran buta 23.000 kaki di atas permukaan laut. Kesunyian memukul-mukul 230 kg berat tubuhku. Istana Jawa yang terbuat dari gamelan, seorang perempuan menari dengan air susu yang terus tumpah dari buah dadanya: aku berada antara batu yang akan pecah dan belum pecah.

Telapak tanganku telah penuh cairan ludahku sendiri. Satu mangkuk teh untuk sintren yang tersesat dalam tembangku. Aku lihat tubuhku dalam TV seperti sebuah negeri yang sedang diperkosa rakyatnya sendiri. Gravitasi TV yang membuat tubuhku jadi 2 meter, sompret, kencing dalam celana.

Di stasiun terakhir itu, aku menggambar paru-paruku sendiri, tanah terus mengelupas tak henti-henti mengelupas tanah mengelupas. Hingga aku mencium bau hujan dari wayang- wayang yang bermain sendiri, antara batu yang akan pecah dan belum pecah, antara tembang yang akan mantra dan belum mantra, antara keris yang berjatuhan dari kesunyianku dan belum berjatuhan.

"Afrizal Malna"
Puisi: Stasiun Terakhir
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seminar Puisi di Selat Sunda
(Untuk Goenawan Mohamad)

Sebuah meja malam dari kayu, bekas puntung rokok 
yang hangus di permukaannya. Kita makan bersama. 
Malam yang samar-samar di tengah kota. Sebuah 
revolusi yang berganti kaki, di atas sebuah kapal 
perang yang diparkir di Selat Sunda. Sebuah 
perundingan untuk menjemput diri sendiri: Kaki-kaki 
kanan buntung - kaki-kaki kiri buntung. Tidak tahu, 
atau berjalan atau tidak berjalan. Tidak tahu, atau 
duduk atau berdiri. Bau belerang dari punggung 
krakatau, melukis kembali peta-peta di atas kata-kata 
yang menggerutu.

Sebuah kemerdekaan tidak dirancang dengan 
berteriak: musuh sudah ada di luar pagar, tetapi juga 
sudah ada di dalam pagar. Sebuah republik yang 
terbayang di pintu belakang. Seorang lelaki di pintu 
kaca: tidak tahu, apakah ia berjalan keluar atau 
berjalan masuk. Hilir-mudik para peneliti Indonesia 
yang kurang tidur, dalam bahasa Indonesia yang 
lelah. Sebuah bank di antara tentara-tentara 
perdamaian. Aku bersamamu, dalam satu mobil 
tua, lelaki seperti pohon nangka itu, saling menatap 
tetapi tidak saling melihat. Sebuah buku puisi, 
di pangkuan seorang perempuan.

“Di manakah kita, melihat kata, sebagai kematian 
seorang ibu.”

Sebuah pintu, entah di belakang rumah entah di 
depan rumah. Sebuah pintu kaca untuk melihat 
ke luar untuk melihat ke dalam. Sebuah kata untuk 
membungkam selogan. Seorang Sukarnois yang me
nyimpan kartu pos patung liberty di saku 
mantelnya. Sebuah nyanyian cinta dari Leonard 
Cohen yang parau: Dance me to the end of love. 
Asap rokok tentang pendidikan para pemimpin, di 
antara korek api dan badai sebuah pesta. Seorang 
lelaki yang menggenggam tangisnya di sudut sebuah 
restoran. “Aku melangkah dari sebuah koran lokal,
sejak masa remajaku, di sebuah desa, antara revolusi 
3 kota. Dan sebuah novel tentang kejahatan tentara 
gerilya, di halaman-halaman yang dipasangi alarem.”

Sebuah poster pertunjukan. Di luar atau di dalamkah 
pertunjukan itu berlangsung? Bagaimanakah Kunti 
menghanyutkan anaknya? Karna, bagaimanakah, 
Karna? Bagaimanakah matahari menciptakanmu 
dari anak-anak panah, dan menjemputmu kembali
di sebuah pagi yang merah. Bagaimanakah Caligula 
membenamkan akal sehat ke dalam keuangan 
negara? Ceritakanlah sekali lagi, Caesonia, bagaimanakah 
aku menitipkan cinta dalam pelukanmu, ketika semua 
telah menjadi gila di tangan suamimu. Kekuasaan 
telah mengambil cahaya bulan dari ladang pikiran 
kita. Bagaimanakah puisi membuat kita bisa berjalan 
bersama bayangan sendiri, melewati diri kita sendiri 
yang masih tertidur di sebuah kereta.

Seorang penjaga tiket pertunjukan, juga seorang 
penjual air bersih di sebuah kantor majalah. Seorang 
wartawan yang membidik dengan kata. Sebuah 
kamera di dasar bahasa. Dan seorang lelaki di jen
dela kaca. Sebuah kantor majalah yang 
kontruksinya tertanam di abad 19, sebelum perang 
dunia, sebelum menukar rempah-rempah dengan 
sebuah bangsa. Jalan gula yang membuat jalur kereta 
dari Klaten ke Amsterdam. Lelaki itu, bayangannya 
di luar dan bayangannya di dalam. Bau tembakau 
mengubah kenangan tentang mantel yang dikena
kannya, antara warna tanah dan lebih kelam lagi dari 
warna pasir. Warna yang mengecat sejarah kembali 
ke warna yang sama. Bau tembakau yang menggeng
gam kesedihan dalam sebuah lubang pentilasi.

“Apakah aku telah berdurhaka padamu, ibu, agar 
kau tidak lagi melahirkan seorang pembunuh.”

Udara AC jam 2 malam mengingatkannya tentang 
sebuah hutan kata-kata. Sebuah republik di lantai 
dua, bukan? Dan pertengkaran tentang di mana letak 
tangga itu untuk naik ke lantai dua, antara musim 
hujan dan perkebunan tebu yang sudah kita bakar. 
Sebuah revolusi di antara kaki-kaki yang berganti. 
Sebuah malam yang aku sisipkan dalam buku sejarah 
puisi Indonesia modern. Dingin yang tak tercatat di 
halaman itu. Dan sisa-sisa cahaya bulan sebelum 
gerhana. Cukup dengan 1000 slogan untuk 
menggenggam kesedihan yang menggenang di lantai 
dua. Cahaya matahari pagi bertahan di atasnya. 
Untuk harapan, untuk ibu-ibu penjual nasi bungkus 
di pasar rakyat. Apakah. Apakah materialisme sejarah 
telah mati, dalam sebuah mata kuliah psikologi 
tentang kelas sosial? Apakah. Apakah revolusi telah
dihapus, dalam sebuah kapal dagang yang berlayar 
di jalur api? Menciptakan milisi jadi-jadian untuk 
meruntuhkan daya hidup bersama. Apakah. Tentang. 
Tetapi.

Lelaki itu berdiri di atas tangga dan turun ke lantai 
bawah. Dia seperti terus berjalan di tangga itu. Setiap 
dia melangkah, anak-anak tangga itu seperti terus 
bertambah, hampir lebih cepat dari langkahnya sendiri. 
Langkah yang menciptakan anak-anak tangga 
daripada melalui anak-anak tangga itu sendiri. 
Apakah dia sedang turun - apakah dia sedang naik. 
Menambahkan waktu dalam sebuah kereta pada 
setiap langkahnya. Berikan aku sebuah kata, untuk 
tidak mengatakan apapun tentang luka yang 
tumbuh di halaman pertama sejarah kebangsaan. 
Dan tentang diriku sendiri yang masih mencium bau 
pikiran dari topi yang pernah kau kenakan. Pikiran 
yang berusaha mengubah sebuah tangisan menjadi 
gerimis, sore yang samar-samar di antara daun-daun 
yang tumbuh merambat. Kebebasan yang dirawat 
dalam sebuah perjudian antara Duryudana dan 
Yudhistira.

Aku mengenal lelaki itu. Seseorang yang berjalan 
seperti dengan suara kertas koran yang diremas. 
Suara antara puisi dan puing-puing kata. Dia seperti 
sebuah pagi, di antara kerumunan malam yang 
samar-samar. Dia ingin menjemput kembali revolusi 
itu, dengan sebuah opera tentang kesunyian.

“Kita telah melihat, seorang ibu membuat sebuah 
luka di mulut seekor harimau.” Untuk para sahabat, 
dan sebuah kata yang tidak bisa mengatakan: angin 
yang mengirim garam, menjaga musim hujan di 
Utara. Di sini.

"Afrizal Malna"
Puisi: Seminar Puisi di Selat Sunda
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Negeri Air

Menanam tangan di lubuk laut
Wajahku dipenuhi cahaya keperakan
Siang hari. Lebih jauh tanganku mencari sungai
Gelombang panjang menerjangku ke muara
Seperti kata-kata yang didesakkan langit biru
Menjadi garam di pantai. Di laut aku lebih paham
Segarnya darah dan manisnya sebuah luka:
Negeriku ditaburi bunga, dituangi arak dan tarian
Lalu dibakar upacara demi upacara

Suaraku mencari rumah di pantai dan bukit
Mencari kesabaran di antara patung-patung dewa
Tapi semakin jauh perihku mengembara
Tanganku mengeras seperti kayu
Pelipisku ditumbuhi lumut hijau
Lalu dari mataku yang nanar
Perahu-perahu melaju meninggalkanku:
Kekayaanku tinggallah rasa memiliki buih-buih ini
Ketika semua pakaian dan keyakinanku dilucuti

Ketika pantai-pantai menjadi fatamorgana
Ketika patung-patung dewa rebah dan terkubur
Ketika peperangan menawarkan arak dan filsafat
Gelombang panjangmu ternyata menyediakan sebuah jalan
Untuk lewat. Dengan nyali yang kehilangan sebelah kakinya
Aku melompat dari lubuk laut ke sesaji penuh bunga
Menari, kasmaran dan megap-megap:
Di taji ayam-ayam jantan gairah mistik itu menjadi samurai
Seperti hujan yang menegang dan menjelma anak-anak panah

Antara Sanur dan Candidasa, seperti Ravenna dan Venezia
Aku penuh dalam genggaman cahaya matahari
Melewati sulur-sulur panjang pohonan berusia
Melalui upacara demi upacara. Tanganku menemukan sebuah sungai
Dengan perempuan-perempuannya yang sulit diraba
Di sungai keindahan masih punya bagian tak terkalahkan
Seperti juga kedalaman hidup serta riak-riaknya:
Untukmu ingin kuakhiri baris-baris ini lantas kumasuki
Terowongan di sebuah bukit karang.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Negeri Air
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Selain Hujan

Selain hujan, malam itu ada yang berjatuhan
Benang-benang cahaya yang tunduk pada cuaca
Serta detik-detik yang berpulang
Ke haribaan usia. Selain hujan
Seperti ada yang berloncatan dari rambutmu
Huruf-huruf yang disimpan kerlip lampu
Atau kesepian yang menebar kata-kata
Ke pangkuanku. Lalu kita berpelukan lama
Seperti dinding yang menahan angin dan udara.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Selain Hujan
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bandung

(I)
Aku menggelinding
Hanya debu
Tertiup dari sudut ke sudut
Terseret-seret irama kota yang riuh
Hanya debu aku
Melayang-layang, lalu jatuh, lalu luluh
Lalu turun hujan menggemuruh

Aku kuyup!
Hanya debu, sekedar debu
Dikibas kendaraan lalu
Dan deru angin-Mu

(II)
Aku menggeliat
Matahari tenggelam
Selamat malam!
Kesenyapan dan kegelapan
Tubuhku pecah, tubuhku bongkah-bongkah
Dalam perang brubuh

Aku dikocok-kocok kegaduhan kotaku
Yang redam dan geram
Aku dibanting-banting, dibentur-bentur
Pada dinding-dinding lingkunganku
Diguyur hujan yang lebat
Sia-sia melawan
Sia-sia jadi Pahlawan

(III)
Tak kutemui kamu
Tak kutemukan jua aku
Hanya debu, hanya debu
Menitahkan hidupku

Di manakah kamu
Di manakah jua aku
Hanya debu, hanya debu
Setiap waktu angin menderu

Setiap waktu aku lupa pada-Mu.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Bandung
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
UUD 45

Di negeri tempat pada yang serba sakti
Ada saja orang masih percaya
UUD '45 sudah lama dilantik jadi semacam 
Dewa
Mata rabun menyangka dia memancarkan kesaktian

Dari dia mantera pembangunan digumamkan
Dalam paduan suara yang penuh keteraturan
Haram ada penjamahan, apalagi pelengkapan
Amanat dari penyusunnya dilupakan

Dia harus disempurnakan
Tapi dia jadi Kitab Steril yang dibebas-hamakan
Dia bahkan dinaikkan eselon jadi Tuhan
Kepadanya secara periodik sesajen dihidangkan

Anak-anak kecil sampai anak-anak berkumis dipertakut-takuti
Pikiran mereka dibekukan dan dibebalkan
Ketika 25 pelanggaran dilakukan terang-terangan
Laras pestol ke tengkuk oposisi ditodongkan.

1998
Deliar Noer, 1995
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: UUD 45
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gerimis Putih

Malam Oktober yang panjang, dan turun perlahan
Merisik dedahanan telanjang serta deru tertahan
Dada bumilah yang putih dan terlembut
Di pucuk-pucuk ranting keristal sama berpagut

Malam Oktober yang pucat, pergi perlahan
Pada basah mengambang biru pipi danau
Bumi yang terlentang malas, pesolek berpupur salju
Lidah logam berdentangan jauh lonceng gereja

Dan lengkung langit mengucurkan gerimis putih
Perbukitan tepekur, di lerengnya deretan pohon pina
Tiupan angin ‘tak lagi tajam tapi lembut menyuara
Seperti Emilie tak akan pergi. Seperti dada tak akan pedih
Lengkung langit yang mengucurkan gerimis putih.

1956
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Gerimis Putih
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Formulir Ini

Siapakah dirimu? Sebuah nomor
Sederet huruf resmi
Dalam abjad Latin
Dari loket di ujung antri yang panjang
Engkau bergegas ke luar gedung ini
Di luar telah menanti matahari

Suara dan undang-undang
Sebelum keluar mereka di pintu akan
Membekalimu dengan kertas-kertas
Putih. Dan ransel bahu
Terlampau gegas kau telah keluar dari gedung ini
Di luar telah menanti padang
Garis-garis
Garis angin Garis badai
Garis suara
Garis lurus khayali di ujungnya sebutir
Logam. Siapakah diriku?
Sebuah anti-proses
Sebilah tangan yang teracung
“Berhenti!”
Capung yang gelisah
Srigunfing menukik resah
Gelatik-gelatik lalu bernyanyi

Di pohon-pohon kecil di sawah
Di atas tanggul sejarah
Di luar sungai mengalir
Dalam garis-garis
Garis ilmu bumi Garis tegak lurus
Garis granit.

1965
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Formulir Ini
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seperti Jakarta

Seperti Jakarta
kami diserbu motor dan asap pengendara
yang berloncatan dari para show room
tempat utang-piutang mengecambah
menggasak sawah yang panen muda
dan memamah impian pekerja yang ditelikung umr kota.
sementara mobil mewah melaju di jalur bebas aturan
bermuatan kembang dan hawa pegunungan
menyalip para mikrolet dan bus antar kota
yang dikendarai iblis tak bermata.

Seperti Jakarta
kami ditengok banjir yang hafal rute dan tanda
memburu rumah tanpa halaman yang kehilangan pagar.
Mereka menerobos kamar tidur tanpa permisi
mengirim mimpi buruk sepanjang hari
lantas tidur telentang di ruang tamu hingga sulit dibangunkan.
Kaki tangannya menjulur ke segenap ruang hati
lidah dan kemaluan mereka mengintip ke lubang nurani
sembari menebar mantra busuk ke kamar mandi,
dapur, dan semacam ruang pribadi
menumpahkan cadangan bumbu dan makanan basi
yang kami sisakan untuk esok hari

Seperti Jakarta
kami dipaksa berkawan kekerasan
menghafal yel-yel pembunuhan tak sengaja
atau himne pembantaian tiba-tiba
tanpa sempat latihan bela-diri, mengaji ilmu agama,
apalagi pelajaran budi pekerti.
Di gang dan jalanan
selalu kami jumpa malaikat bergonta-ganti rupa
atau menumbuh-potongkan alat kelaminnya.
para nabi berkeliaran membawa sekeranjang doa
dalam kemasan menggiurkan
namun menjajakannya tanpa kepastian harga.
Para kitab berhalaman tajam
huruf-hurufnya meledak begitu terbaca
memercikkan api abadi kebencian
di sekolahan, diskotik, gedung parlemen juga rumah Tuhan.

Seperti Jakarta
tak ada tempat yang nyaman
kecuali di gambar uang!
Solo
4 Desember 2010
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Seperti Jakarta
Karya: Sosiawan Leak