Bisnis

header ads

Puisi: Lebah Ratu (Karya Nirwan Dewanto)

Lebah Ratu

Ribuan peminang mengepung ia setiap waktu. Tak mampu 
menyigi wajah mereka satu demi satu, ia bimbang apakah harus 
memuaskan atau membunuh mereka. Bila ia merasa lapar, 
mereka jatuh birahi kepadanya; bila ia menghalau mereka, justru 
mereka kian terhisap olehnya.

Gaunnya yang tampak selalu meluas seperti telaga itu tak 
pernah bisa menyelimuti seluruh tubuhnya. Bahkan panggulnya 
kian berulir dan berkilau-kilau. “Wahai junjungan, kami adalah 
serdadu dan penari terpilih dari segala penjuru,” para peminang 
itu berseru. Padahal mereka sekadar peminta-minta yang terlalu 
angkuh untuk menadahkan tangan.

Di sekitarnya terdapat juga ribuan dayang yang selalu memaku 
gaunnya ke arah matahari. Para peminang itu tak tahu. Bagi 
mereka, dedayang itu seperti bayangan mereka belaka: ben
tangan putih-kelabu yang membuat tubuh batu-sabak mereka 
tak lagi terlalu hitam muram.

Ia selalu hendak melepaskan diri dari ruang segi enam yang 
serupa dengan reruang di sekelilingnya. Tapi apa beda di sini 
dan di sana, di dalam dan di luar? Ia merasa dedayang itu selalu 
memasuki wujudnya. Ia percaya sudah bertahun-tahun ia men
coba bertahan di singgasana kabut itu, meski tiba-tiba ia merasa 
baru kemarin ia membinasakan ibunya (atau kembarannya, ia 
tak yakin).

Berkatalah para dayang itu, “Engkau tak pernah membunuh, 
wahai junjungan. Yang gugur adalah bayang-bayangmu sendiri, 
yang mencoba lebih nyata ketimbang citramu. Bayang-bayang 
yang hendak menaklukkan kami. Kaulah wujud yang meliputi 
seluruh kami, bahkan seluruh seterumu. Kaulah yang terindah 
sebab kaumuliakan kami.”

Bila ia berdandan, ia membakar gaunnya, agar para peminang 
itu muak kepadanya. Tubuhnya ikut hangus, namun para 
dayang itu tak henti menjilat-jilat kepalanya, berusaha mencekuh 
jantungnya; mereka menebarkan getah emasnya ke seluruh 
buana, sehingga lebih berlimpah lagi peminang yang datang, 
yang baru saja selamat dari sergapan air bah darah.

“Masukkah. Lekaslah. Sebelum kalian habis terbakar,” ia berkata 
kepada kaum jantan yang dahaga itu. Menghunus senjata atau 
menari, para peminang itu tak yakin apakah mereka menatap 
ke cermin atau memasuki farjinya yang bersinau-sinau. Di tero
wongan hijau-biru, akhirnya mereka berkeping-keping terben
tur  pada tiang api atau dinding pasir seraya menguar, “Kamilah 
milikmu, wahai junjungan, sebab kami tak mampu mempeso
namu atau membunuhmu.”

Ia pun tahu bahwa selama ini ia telah keliru. Ternyatalah mereka 
bukan kekasihnya. Mereka cuma kantung mani yang mengorban
kan diri (atau harus disesapnya terpaksa dan tergesa-gesa) agar 
ia mampu menghadiahkan ribuan telur yang berisi gambaran 
jantungnya, alih-alih jantungnya sendiri, kepada para dayang 
yang gemar mengaji itu. Dan agar ia mulai belajar menghapus 
wajahnya sendiri.

“Maafkan aku,” ia berkata kepada kaum jenazah yang teramat 
lega itu. “Aku akan menyimpan kalian dalam museum sebab 
kalian telah menari dan tikam-menikam demi aku. Akan kuingat 
selalu bahwa setiap kali aku hendak mematikanmu, aku jatuh 
birahi; bahwa setiap kali kalian memasuki aku, mendekatlah 
aku kepada maut. Aku cemburu kepadamu, wahai pencinta buta, 
maka akan kulahirkan lagi ribuan kau yang lain.”

Ia kecewa sebab tak tahu apakah satu atau seribu yang dalam 
sekarat sungguh-sungguh memandang wajahnya. Tapi sejak itu 
ia tahu ranahnya meluas dan meluas lagi. “Inilah koloni di mana 
kami makan roti terbaik di dunia. Roti yang terasa seperti daging 
matahari,” kata kaum serdadu yang tersisa, yang tak tahu lagi 
bagaimana mengasah zakar dan menyaru sebagai penari.

Seperti telur-telur yang keras kepala itu, ada yang selalu menetes 
dari dalam dirinya, seperti bayangannya sendiri, salinannya yang 
sempurna, yang membesar terus oleh bening gaunnya, oleh 
hujan mani para peminang berikutnya. Ia tak tahu apa bedanya 
kuburan dan museum, sebab ia terlalu bahagia. Ia bimbang apa
kah kakinya terbenam ke samudra tepung sari atau kaki langit 
ketika ia telanjang sepenuhnya.

Tapi ia tahu bahwa ruangnya tak lagi segi enam. Para dayang 
sepuh itu membangun ribuan ruang lain dari cermin yang lebih 
cemerlang, sebab mereka tak mampu lagi membedakan ia 
dengan tiruannya (atau pantulannya,  mereka tak yakin) yang 
kian berlipat ganda. Sampai suatu hari para pedandan yang 
mulai remaja itu bertarung satu sama lain, dan tiba-tiba ia ber
ada di antara mereka, bertahan, sampai salah satu, yang bergaun 
seluas telaga, yang berpanggul ulir, yang bertangan kidal seperti 
ia, berseru kepadanya, “Aku akan membunuhmu, Ibu.”

Dan ia berkata, untuk terakhir kali, “Jantan atau betina, mereka 
akan mengawetkanmu. Serdadu atau penari, mereka akan meng
hisapmu. Dayang-dayang atau mata-mata, mereka akan membu
takanmu. Roti atau koloni, itu akan menghapus namamu. Istana 
atau museum atau mausoleum, semuanya telanjur segi enam. 
Kau telah lama mengimpikan aku. Selamat datang, wahai 
kembaran. Selamat jalan, wahai junjungan.”

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiLebah Ratu
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar