Bisnis

header ads

Puisi: Neraca Tanah Pemabuk (Karya Raedu Basha)

Neraca Tanah Pemabuk

Tiba-tiba semua meledak
padahal tak ada tanda tadi malam
entah mimpi buruk atau isyarat burung hujan.

Dan alkohol yang dibeli dari Washington
telah mendidihkan nadi air tanah kita
atau lumpur daging menggembur
sehingga setiap tangkaian detak
seketika meruntuh.

Tiba-tiba semua meletus
meratakan sepenuhnya dengan api
kota-kota kita kini dilumat kobaran kegetiran
di sepanjang tapak jalan dan ruang yang kita huni
terperam mata-mata yang menyala
entah menatap apa
entah menatap siapa.

Sedangkan bendera yang berkibar di ujung atmosfer
dalam teguk demi teguk
diam-diam berlamur darah
tahu-tahu ada yang merobeknya atas nama tanah kita
sehingga mabuk
batuk-batuk
dalam tegukan alkohol yang dibangga-bangga.

Apakah Tuhan akan datang?
Bisikmu di tengah gempa
sedangkan kau terus saja sakau
laiknya siulan penggendam tanpa dosa
padahal di belakangmu masih ada pemabuk yang lebih trance
: mereka - yang di lehernya ada dasi-dasi sumbu peledakan ini
yang di perutnya ada rangkaian mortir
yang menembak tanah ini kala sepi.

Lalu di mana malaikat bersembunyi?
Gelisahmu dalam kerangkeng berita
sedangkan kau juga minum sebagaimana aku insomnia
berharap bobok nyenyak dalam malam yang tiada henti.

Tiba-tiba semua terjaga
bagai ada kabar yang tak terduga.

Kebakaran - banjir - tsunami - lumpur - diskriminasi
vulkanik - lumpur - longsor - korupsi ...

2010
"Puisi Raedu Basha"
PuisiNeraca Tanah Pemabuk
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar