Januari 2011
Doa


Allah menatap hati.
Manusia menatap raga.
Hamba bersujud kepada-Mu, ya Allah!
Karena hidupku, karena matiku.

Allah Yang Maha Benar.
Hamba mohon karunia dari kebenaran
yang telah paduka sebarkan.
Jauhkanlah hamba dari hal-hal buruk menurut paduka
dan dengan begitu akan buruk pula bagi hamba.
Dekatkanlah hamba kepada hal-hal baik menurut paduka
dan dengan begitu akan baik pula bagi hamba.

Ya, Allah, ampunilah dosa-dosa hamba
supaya bersih jiwa hamba.
Sehingga dengan begitu mata hamba
bisa melihat cahaya-Mu.
Telinga hamba bisa mendengar bisikan-Mu.
Dan nafas-Mu membimbing kelakuanku.

Amin, ya robbal alamin.


Depok, 7 November 2002
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Doa (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Doa
Karya: W.S. Rendra
Nasihat Ramadhan
Buat A. Mustofa Bisri

Mustofa,
Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan
Ramadhan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi
atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang
menggerakkan lidahmu begitu.

Mustofa,
Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu. Darimu hanya
untuk-Nya dan Ia sendiri tak ada yang tahu apa yang akan dianugerahkan-Nya
kepadamu. Semua yang khusus untuk-Nya khusus untukmu.

Mustofa,
Ramadhan adalah bulan-Nya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu
serahkanlah semata-mata pada-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersalatlah
untuk-Nya. Berpuasalah untuk-Nya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri
untuk-Nya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.
Sucikan tanganmu. Berpuasalah.
Sucikan mulutmu. Berpuasalah.
Sucikan hidungmu. Berpuasalah.
Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.
Sucikan telingamu. Berpuasalah.
Sucikan rambutmu. Berpuasalah.
Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kakimu. Berpuasalah.
Sucikan tubuhmu.
Berpuasalah.
Sucikan hatimu.
Sucikan pikiranmu.
Berpuasalah.
Suci
kan
dirimu.

Mustofa,
Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang
mengingatkan kedhaifan dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata hanya penunggu
atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan kelamin, lebih tahan
sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu
hasrat dikekang untuk apa dan siapa.

Puasakan kelaminmu
untuk memuasi Ridha
Puasakan tanganmu
untuk menerima Kurnia
Puasakan mulutmu
untuk merasai Firman
Puasakan hidungmu
untuk menghirup Wangi
Puasakan wajahmu
untuk menghadap Keelokan
Puasakan matamu
untuk menatap Cahaya
Puasakan telingamu
untuk menangkap Merdu
Puasakan rambutmu
untuk menyerap Belai
Puasakan kepalamu
untuk menekan Sujud
Puasakan kakimu
untuk menapak Sirath
Puasakan tubuhmu
untuk meresapi Rahmat
Puasakan hatimu
untuk menikmati Hakikat
Puasakan pikiranmu
untuk menyakini Kebenaran
Puasakan dirimu
untuk menghayati Hidup.

Tidak.
Puasakan hasratmu
hanya untuk Hadhirat-Nya!

Mustofa,
Ramadhan bulan suci katamu, kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.
Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian
keserakahan ujub riya takabur dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari
comberan hatimu?
Mustofa,
inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati.

Mustofa,
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu
yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
kau puja selama ini.
Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini
seperti Ramadhan-ramadhan yang lalu.
  

Rembang,
Sya'ban 1413 H
"Puisi: Nasihat Ramadhan (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Nasihat Ramadhan
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Labyrinth

Wasangka yang mengintai di balik hatiku
Menggelengkan kepala karena dunia dera mendera
Gebalau yang riuh telah menelan seluruh lagu
Kalut kemelut tak tentu lagi arah.

Berdukalah, karena kebenaran akan tinggal terpendam
Pada mereka yang bersunyi, menjauhi kesumat dendam
Walau malam kelam, walau senja suram
Namun ia lanjut bertahta di hati yang tenteram.

Wasangka mendendam pada dunia karena curiga
Ketika kulalui lorong kota yang luka terbuka
Karena kutuk adalah induk dari segala bencana
Dalam diriku: timbul amarah serta hiba.

Bersyukurlah, demi mereka yang berhati damai
Demi semua anak yang belum lagi bersalah
Yang dengan jamahan tangannya lembut membelai
Kapan berakhir tikai di tanah tumpah darah.
  
1963
"Puisi: Labyrinth (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Labyrinth
Karya: Aldian Aripin
Nina Bobok

Tidurlah, bocah, di atas bumi yang tak tidur
Tidurlah di atas rumput, di atas pasir, di atas ranjang
Tidurlah bersama rama-rama, ombak laut atau lampu temaram
yang terus menyanyi, terus menyanyi perlahan-lahan.

Tidurlah bocah, sampai ketukan di tengah malam
sampai engkau bangkit dan seluruh pulau mendengarkan:
Bahwa bom yang pecah membagi bumi
tak bisa mencegah engkau menyanyi, "Di timur matahari."
1964
"Puisi: Nina Bobok (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Nina Bobok
Karya: Goenawan Mohamad
Lacrimosa

Akhirnya mereka temukan kotak hitam itu
70 meter di timur kawah.

Akhirnya aku dengar suaramu.

***

Seseorang memanggilmu seperti mendesak
dan kau menyahut, dari dalam kokpit,
agak gemetar, 'Abu itu
membentuk langit.'

***

Dan kau coba untuk tak berdoa.

***

Hanya ada sebuah rekuiem
dari CD. Belum selesai:
'Lacrimosa dies illa...'

Beri hari
air mata

yang akan hilang,
seperti luka.

Lalu dentuman.
Lalu guncangan
Logam-logam retak.

Tak ada yang berteriak.

***

Perjalanan, Wresti, selalu melintasi
detik yang putus
di tiap pelabuhan.

Tapi tak seorang pun
yang percaya.

Mungkin cerita
memang tak bisa berhenti.

***

Lima pekan setelah itu
regu SAR menemukanmu
di antara sebelas jasad
yang mengering hitam

seperti coretan tinta cina
pada paranada.

Aku bayangkan sebuah orkes
memainkannya:
not-not yang tersandar
di lahar dingin,

di sebuah ruang
di mana Ajal berdiri,

dan kau berdiri,
dan kur menyeru
ke arah awan tua
yang melintas
yang tak berisi
apa-apa.

'Lacrimosa dies illa...'

***

Biarkan hari
memilih abu
dan air mata
yang akan tak ada.

2011
"Puisi: Lacrimosa (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Lacrimosa
Karya: Goenawan Mohamad
Hikayat Sri Rama

KUMBAKARNA

Ayah itu bercerita tentang seorang penidur yang sakti,
seorang tambun yang bertapa di bukit,
yang mendengkur dan ingin bermimpi
tentang negeri yang tak punya raja.

'Ia bernama Kumbakarna.'

Anaknya hanya memahat kayu, mungkin
separuh mendengarkan. Ia tahu cerita itu akan berakhir
dengan kematian; ia ingin pahat itu tak melukai
tubuh ikan yang dibentuknya, karena sedih akan jadi
panjang dan umur (ia merasa begitu) hanya pendek.

"Aku menunggumu, Alengka, di jalan yang tak mudah,"
kata Kumbakarna sebelum berangkat.

Meninggalkan tujuh pengawal yang menemaninya,
si tambun pun menyeberangi
bentangan hutan. Dan sejak pagi itu,
di Alengka semua berhenti. Kata-kata,
selalu dimaksudkan, selalu didesakkan,
berubah seperti defile prajurit yang berputar.
Tak ada lagi garis depan.

Esoknya, dari tepi selat, orang melihat 1000 makhluk aneh
melintasi laut. Hanya samar. Kabut membentuk
berpuluh-puluh cerita. Seorang pengintai mengatakan
ada musuh datang dari Kiskenda, tapi tak ada yang tahu
benarkah ada negeri Kiskenda.

Kumbakarna berbisik, "tidak,"
dan ia pergi ke lekuk bukit.

Di luar cerita, anak itu meraut sirip
dan membayangkan arus yang biru gelap,
di mana tak ada yang tak bergerak,
juga kematian.

Ayahnya pun menutup ceritanya, lelah:
'Di jalan yang tak mudah,
Kumbakarna bermimpi
tentang sebuah negeri yang tak punya raja.'


TRIJATHA

Aku akan mencintaimu, monyet tua,
karena engkau adalah lelaki
yang memalsukan diri.

Kudengar kesedihanmu. Tapi juga
aku tahu apa yang kau percayai.
Telah kau katakan kepada senja yang hujan:
'Aku Kapi Jembawan yang tak akan berakhir;
aku mengubah,
aku seperti curah air;
aku mungkin trembesi
yang tak ditakdirkan.'

Saat itu langit pasti mendengar,
seperti bumi mendengar
derum guruh.

Jangan takut. Meskipun kau tahu: pada tiap datang gelap
dan nyanyian katak dari semak yang tergenang,
aku memang inginkan dengus seorang pangeran
yang telah bersumpah
akan menolak tubuhku.
Leksmana, pangeran Ayudhya yang menang,
ingin menghilang kembali ke dalam hutan.
Ia adalah ajal, bisiknya kepadaku,
yang mengikatkan diri.

Kau tahu kita semua bisa menangis

Maka sentuhkan rambutmu yang menakutkan, monyet tua,
ke bibirku. Apak, kusut, kering. Tanpa berahi, ranjang
tetap akan menutupkan selimutnya
sebelum lampu padam.
Relief pada tembok
tetap tak akan selesai bercerita
tentang seorang dewa
yang melepaskan zakarnya.

Kita semua
bisa menangis.


SUGRIWA

'Aku telah berkhianat,' kata kera merah itu.
'Apa yang terjadi?' tanya sang pertapa.
'Aku tak mengerti: telah datang dua orang asing dari Ayudya
yang membunuh saudara kandungku, dan aku memeluk mereka
sebelum aku memeluk tubuh saudaraku, dan mereka berkata
dengan suara yang tenteram, "ada keadilan"'

'Aku takut,' sambung kera merah itu pula.
'Kita tak perlu takut kepada yang ada dan bisa jelas.'
Empat malam sebelumnya, dari sebelah tenggara hutan
pertapa itu mendengar jerit: 'Namaku Subali!'.
Ia pun berjalan mendekat. Bulan hanya sebelah.
Dalam terang yang terbatas, ditemukannya genangan darah
dan sehelai daun tal yang tergeletak. Seekor burung pungguk
memandangi dari gelap - merasa lebih mengerti tentang malam
dan jejak yang terhapus.

Keadilan dan kematian begitu sederhana di semak kosong ini.
Juga sesal dan suara sedih. 'Aku memang ingin
ia tak ada,' kata kera merah itu pula,
'tapi aku tak ingin membunuh Subali.'

'Kau tak membunuhnya, Sugriwa. Ada perang
dan keinginan yang selalu bukan milik kita.'


SITA

Letakkan pelan kesunyianmu, Rahwana, di sisi
kesunyianku. Hanya ada pohon nagasari
yang tumbuh hitam
di sudut taman.
Kota separuh hangus.
Dan di takhta yang kosong
di dalam, jauh di dalam, ingatan
telah jadi bekas.


EPILOG

Anak itu selesai meraut hiu dari kayu
dan melontarkannya ke danau.

Ia tak mengatakan apa-apa,
tapi ayahnya tahu, di pahat itu
hikayat memilih arahnya sendiri.

'Dongeng adalah metamorfosa, ayah,
karena kiasan berhenti
dan Sita menolak
perjalanan ke Ayudya lagi.'

'Apa yang terjadi dengan Sita?' tanya sang ayah.

'Ia terjun ke telaga
mencari ikan terbang
yang menentang kematian.'

Tapi di sebuah hutan, jauh dari istana Rama yang pulih,
dua pangeran piatu yang menyingkirkan diri
membentuk busur bambu dan urat daging:
"Kami Kusya dan Lawa,
pembangkang yang berkabung,
yang tak ingin
siapa pun mati."

Tapi dalam mimpi mereka
mereka bunuh ayah mereka.

Dengan rahang mengetam mereka berbisik,
"Jangan Paduka sentuh ibu kami: permaisuri
itu telah lama bertopang di punggung hiu,
mencari arah ikan terbang"

Dan dalam cerita saya ini, ayah itu pun
menatap cemas
mata anaknya.
'Kita tak pernah mengerti Sri Rama,'
katanya.


Dimuat di Kompas, 18 Desember 2011 
"Puisi: Hikayat Sri Rama (Karya Goenawan Mohamad)"
Hikayat Sri Rama
Karya: Goenawan Mohamad
Di Ujung Bahasa
Kita menunggu malam
dengan Hp yang diam.
Mungkin akan jatuh bunyi 'tidak'
bersama dering yang dimatikan.

Dan cinta kita
bersembunyi
di ujung bahasa
yang tak dilanjutkan
di mana Entah mendaku waktu
dan ruang
dan kita akan berkata-kata,
dan akan berpura-pura
mengertinya.

2011
"Puisi: Di Ujung Bahasa (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Ujung Bahasa
Karya: Goenawan Mohamad
Di Prosenium
They live their lives
in sad cafes and music halls

- Janis Ian.


Di kursinya yang hitam,
ia masih belum juga bernyanyi.

Di prosenium yang setengah terang itu
ia memandang ke utara. Matanya mabuk.
Tutup piano itu mengkilap seperti dahinya
yang berkeringat. Mulutnya mabuk.
'Daud...', tiba-tiba nama itu disebutnya.
Suara itu keras, tapi tak lurus.

Di gedung itu penonton senantiasa murah hati.
Dalam gelap, teater menunggu: seorang diva,
sebuah cerita panjang yang mungkin akan dinyanyikan,
koridor yang berwarna seperti harapan,
ruang konser yang mulai tua,
bunyi langkah yang takut tapi terbujuk,
dan sebuah suara viola yang sedang dicoba.

Beberapa menit berlalu.
Tuts itu pun mulai bergetar.

Perempuan di prosenium itu menyebut lagi, 'Daud..',
meskipun ia tahu yang dipanggilnya tak di sana.
'Daud....' - lalu terdengar baris pertama,
'Bintang datang bintang pergi,
seperti sisa singkat matahari.'

Dan piano itu memberinya melodi.

Siapa Daud, sebenarnya?

Seperti kau dan aku, barangkali,
sebuah komposisi,sebuah lagu yang seperti arus
mengikis tebing
dan mendapatkan namanya kemudian,
setelah selesai digumamkan.

Di dalamnya Daud berjalan dari kota ke kota,
bersama band yang lusuh,
di lorong music hall dan bar yang sedih,
dan berangkat lagi, tiap kali.
Sebelum tepuk tangan.

'Kau tak akan sampai di prosenium
Kau tak akan sampai di prosenium
Mawar kering sebelum harum.'

Barangkali ia tahu, di sebuah bangku stasiun
Daud duduk malam itu
dengan gitar yang terbungkus.

Dan kereta lewat.


2011
"Puisi: Di Prosenium (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Prosenium
Karya: Goenawan Mohamad
Guru yang Tak Mengerti Bumbu Dapur
guru kami ada karena dibutuhkan negara karena negara menginginkan
rasa aman lalu guru kami belajar memahami dan menyelesaikan tiap
persoalan tapi kadang mereka lupa bumbu dapur seperti kemiri buah pala
bunga lawang laos dan kapol mereka tau kembang gula tapi tak faham logika
padahal kami lebih menginginkan daun mengkudu karena sejak dulu
kami cuma minta dikirim keadilan tapi selalu saja mereka paketkan kecemasan
akhirnya kami marah pada negara tapi anehnya negara malah mengirim kami
ke penjara sungguh sebenarnya kami bingung karena guru kami kenyataannya
tak pernah mengajarkan kami untuk memiliki rasa aman dan sejak itu
kami tak mau celaka seperti guru.

Indramayu, 2011

"Puisi: Guru yang Tak Mengerti Bumbu Dapur (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Guru yang Tak Mengerti Bumbu Dapur
Karya: Acep Syahril
Guru yang Selalu Menyimpan Palu
semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu meski setiap
saat hidupnya tak lepas dari palu kadang berkali-kali dia pukulkan palunya
ke meja dengan wajah hitam selain sering kami pergoki mengenakan lipstik
dan deodoran dengan penampilan menawan di hadapan para pesakitan
sehingga tak jarang guru lalai sampai lupa memukul tangannya sendiri
ketika beliau terbuai oleh imajinasi-nya dan melayang-layang ke suatu
tempat atau tertidur lelap di lajunya veyron fiat dan di mercedes benz
dengan rumah mewah yang sebentar lagi dia tempati bersama anak
istrinya semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu tapi
di otak sebelah kirinya ada sebuah kantung yang dia siapkan untuk
menyimpan palu serta memastikan kalau besok masih selalu ada jadwal
baginya untuk membebaskan para maling negara yang bisa mengakses
hidupnya atau membunuh waktu si miskin dengan menjatuhkan palu
di mejanya demi memperpanjang kepercayaan negara pada dirinya
semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu oleh karena itu
beliau tak bisa membedakan mana kayu mana besi dan mana batu
demi Allah kami bersumpah tak mau sesat dan bejat seperti guru.
2011

"Puisi: Guru yang Selalu Menyimpan Palu (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Guru yang Selalu Menyimpan Palu
Karya: Acep Syahril
Gurunya Digergaji Waktu
Gurunya yang satu ini adalah pencari buku bekas
dia hidup di setiap pulau yang mengajarkannya cara merawat kasur dan kamar tidur
serta membuatkan pekerjaan dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya
meski sebenarnya dia lebih tertarik pada barang-barang bekas dingin malam dan angin terminal
guru yang tak pernah lelah mengikuti jalan waktu dan nasibnya
sungguh darinya dia banyak belajar
dari rambutnya yang putus asa
dan dari kakinya yang pernah menyimpan panjang harapan
dia belajar untuk tidak menjadi sesat
padanya dia belajar untuk tidak menjadi lupa padanya
lalu diam-diam dia bersyukur walau menyayangkan sikap gurunya yang tak pernah mau belajar dari kebodohan yang bertahun-tahun terus digergaji waktu
kini gurunya itu semakin hari semakin bertambah banyak
dan semakin membuatnya bingung.
Dia tak habis pikir mengapa di negara ini guru dan murid sama banyaknya.


2011

"Puisi: Gurunya Digergaji Waktu (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Gurunya Digergaji Waktu
Karya: Acep Syahril
Silet


Dengan silet kusayat biji mata kamu karena kamu
tak gerah memandang kebodohan kemiskinan bertumpu
padahal keterpurukan dan kehancuran seperti
gadis cantik yang sedang diintai para pemburu.

Dengan silet kusayat otak banak kamu karena kamu
dengan licik mencipta api dan tangan-tangan besi
memasang telinga di seluruh tembok dan dinding
rumah kami lalu diam-diam kamu jerat dan kamu pasung
seluruh hak kami.

Dengan silet kusayat dada dan kantung hati kamu
karena kamu selalu tampil dengan segala atas nama
menjual segala yang kami harap dan suka lalu
demi kedudukan kamu tiup partai jadi surga.

Dengan silet kusayat kedua sudut mulut kamu
karena kamu sering memberanakkan kata-kata tanpa
pernikahan rasa najis dan haram jadah karenanya
kami selalu tertipu dengan janji-janji kamu.

Jambi

"Puisi: Silet (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Silet
Karya: Acep Syahril
Sajak Burung-burung Kondor
Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani-buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani buruh bekerja,
berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan di malam hari mereka terpelanting di lantai,
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan di sana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ke tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit,
di batu-batu gunung menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang siap menembaknya.


Yogya, 1978
"Puisi: Sajak Burung-burung Kondor (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Burung-burung Kondor
Karya: W.S. Rendra
Kepada MG


Engkau masuk ke dalam hidupku
di saat yang rawan.
Aku masuk ke dalam hidupmu
di saat engkau bagai kuda
beringas
butuhkan padang.
(Dan kau lupa siapa nama mertuamu)
Kenapa bertanya apa makna kita berdekapan?
Engkau melenguh waktu dadamu kugenggam.

Duka yang tidur dengan birahi
telah beranak dan berbiak.
Ranjang basah oleh keringatmu
dan sungguh aku katakan:
engkau belut bagiku.
Adapun maknanya:
meski kukenal segala liku tubuhmu
sukmamu luput dari genggaman.

Telah kurenggut engkau
dari kehampaanmu
dari alcohol kota New York
dari fantasi lampu-lampu neon
dan dari pertanyaan-pertanyaanmu
yang lesu naik turun elevator.
Engkau kuseret
kulekapkan pada keperawananku
pada kemuakanku terhadap lapar
pada filsafat pemberontakanku
pada sangsiku.
Astaga, rambutmu yang blonda
sungguh asing
dan membawa gairah baru padaku.

Sebagai bajingan
aku telah kau terima.
Engkau telah menyerah.
Sebagai perahu kaubawa aku
mengarungi udara yang gelisah
kerna nafasmu yang resah
dan tubuhmu yang menggelombang.

Hidup telah hidup dan menggeliat.
Waktu gemetar dalam ruang yang gemetar.
Ketika bibirmu mongering dan memutih
dan kuku-kuku jari-jarimu menekan pundakku
kupejamkan mataku.

Hidupku dan hidupmu
tidak berubah karenanya.
Masing-masing punya cakrawala berbeda.
Masing-masing punya teka-teki sendiri
yang berulang kali mengganyangnya.
 
 
"Puisi: Kepada MG (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Kepada MG
Karya: W.S. Rendra