Sajak Burung-burung Kondor
Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani-buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani buruh bekerja,
berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan di malam hari mereka terpelanting di lantai,
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan di sana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ke tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit,
di batu-batu gunung menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang siap menembaknya.


Yogya, 1978
"Puisi: Sajak Burung-burung Kondor (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Burung-burung Kondor
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top