Februari 2011
Orkes Sunyi

Kumasuki taman lengang
dengan ruh dan luka-luka
bermekaran dalam pot tak berwarna.
kematian, musik-musik paling fana.
perjalanan jauh,
terlepas dari nestapa.

kumasuki taman, rumput-rumput,
dan getar kuncup bunga.
kumasuki jagat sunyi
yang terlipat dalam kenangan purba
-bayangan yang terluput di luar cuaca
kumasuki lukisan-lukisan.
jagat yang menempel pada tembok
dan warna-warna cat, gambar bunga!

1988
"Puisi: Orkes Sunyi (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Orkes Sunyi
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Tambur

menjadi sungai
menjadi batu
menjadi air
menjadi tanah
menjadi ikan
menjadi pendar
menjadi riak
menjadi alir
menjadi bah
menjadi jerit

menjadi pohon
menjadi akar
menjadi daun
menjadi getar
menjadi gugur
menjadi musim
menjadi ringkih
menjadi belantara
menjadi riuh
menjadi lagu

menjadi ratap
menjadi rabu
menjadi tubuh
menjadi liuk
menjadi tari
menjadi bayang
menjadi lenting
menjadi jemari
menjadi tusuk
menjadi tunggu

menjadi taman
menjadi lampu
menjadi bayang
menjadi takut
menjadi sunyi
menjadi bisik
menjadi luka
menjadi tatap
menjadi tiup
menjadi lamat

menjadi diam
menjadi gunung
menjadi waktu
menjadi janji
menjadi sesal
menjadi liku
menjadi arah
menjadi renta
menjadi ruh
menjadi tuhan

menjadi segala
menjadi riak
menjadi lenyap
menjadi bila
menjadi tanya
menjadi tingkap
menjadi aku
menjadi kosong
menjadi gaung
menjadi kalbu

setumpul sembilu ...

Mendut, 2011
"Puisi: Tambur (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Tambur
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Manusia Kerdil

I
Para kerdil itu berkicau seperti  orang-orang pasar
bermain batang pohon raksasa dengan kelingkingnya
menari di riak sungai di batas malam
mencari pesan dari gemintang bintang.

Mereka menyapa kesunyian rimba
surat ditulis dengan akar hutan
dikirim dari gelap dengan sayap gagak
pekiknya melukai sepi para biksu
sejenak kubaca daun gugur dari seberkas isyarat bisu.

II
Mereka berteman dengan hutan
saudara tirinya sungai rahasia
tahtanya cuma seberkas tahyul
omong kosong bagi para penyangkal.

Dunianya seperti angin ribut,
mimpinya cuma selilit akar bahar
tapi sesungguhnya ia mengenalmu
hingga sejarah buyut dan bahkan adam
dari serapah yang tercipta asal dengkimu!

Marires, 2011
"Puisi: Manusia Kerdil (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Manusia Kerdil
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Penggali Sumur

Lelaki itu
menggambar tubuhnya
dengan rute jauh
yang ditempuh.

Sosoknya tegap
menantang musim
mengukur sembarang ujung
sampai limbung.

Di seberang matahari
pada hamparan lapang
mencari detak jantung tanah
atas cinta seumpama bunga rekah.

Di seberang horizon
para musafir dari sembarang gurun
melepas elang pencari
'mekikkan tanda dari langit suwung.

Lelaki itu memanjati umur
bayangnya tak henti menggali sumur
menuju jantung tanah kapur
menembus kedalaman tanpa dasar
merawat angin yang setia
dan mengurai tirai surya.

Jika setiap orang bertanya
inilah sebab embun, kenapa butuh.

Jakarta, 2011
"Puisi: Penggali Sumur (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Penggali Sumur
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kota Bawah Tanah

Tubuh siapakah melukis gelap.
Melubangi cahaya dalam terowongan,
menuju peta buta.

Para pejalan menanti sejuta mil jarak mengkerut.
Dalam perjalanan matahari membeku.
Para pemahat merias wajah kota yang terkubur.
Di bawah tanah terkutuk.

Tubuh siapakah, perempuan yang menangis,
ibu yang kesepian, mengukir abad lelaki,
di lorong-lorong peradaban penuh dendam.

Athena, 2003
"Puisi: Kota Bawah Tanah (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kota Bawah Tanah
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Di antara Matahari, Ombak, Angin adalah Diri

Di antara derap langkah anak bangsa
di antara gelar mozaik cita-cita
di antara pendar cahaya mercusuar
pulau-pulau dalam lingkar nusantara
kami tiupkan mimpi-mimpi bocah
kami lekatkan harapan-harapan tak terbilang.

Tak ada kata henti dalam kamus hati
tak ada kata lelah dalam kamus langkah
kami ikut menuju satu arah
masa depan tanah air jaya raya
merdeka dalam jiwa
melagukan hymne dan mars kehidupan
menjadi bagian dari sejarah
menjadi satu dalam denyut jantung pertiwi.

Matahari di langit tinggi
ombak-ombak di batas cakrawala
desing angina di musim pancaroba
adalah kami yang tak henti bersaksi
atas nama kesetiaan
walau dalam keterbatasan
yang tak melihat tapi MELIHAT
yang tak mendengar tapi MENDENGAR
yang tak melangkah tapi MELANGKAH
dengar, dengarlah suara kami nada tabah
menyusuri padang terbuka, bukit dan lembah
menjadi doa dan lagu mengukir hayat
datang, datanglah cahaya di hati
bawa, bawalah imanku kembali
datang, datanglah kuseru namamu: bapa....

Jakarta, 2007
"Puisi: Di antara Matahari, Ombak, Angin adalah Diri (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Matahari, Ombak, Angin adalah Diri
Karya: Diah Hadaning
Yang Melipir

Digelarnya kelir
dipasangnya belencong
angin berhembus segala arah
lalu dahinya kaca
lalu dadanya baja
lalu darahnya laya
lalu dia bukan kita.

Tak henti dia mencari
mozaik tersembunyi
lembah moyang dusun danyang
dikemas dalam paket
kerabat melipir menjadi kampret
o, perempuan mata lindri
o, lelaki wajah sumantri
o, pendapa agung yang direncah
prasetya telah jadi sejarah
dalam mimpi yang getah
dalam kopi yang darah.

Bogor
Mei, 1992
"Puisi: Yang Melipir (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Melipir
Karya: Diah Hadaning
Getaran Jiwa

Seperti buana yang 
tak pernah lipat luasnya
seperti laut yang
tak pernah mati ombaknya
seniman berjalan sepanjang musim
ekspresikan warna-warna
menganyam aneka nuansa
yang akan menjadi bunga
dalam kebun kehidupan.

Serat kidung berdesir indah
serat doa di ujung lidah
mensyukuri karunia
cahaya Maha Cahaya
ekspresinya bersaksi
jadi terpatri
hiasan dinding hati
sat digelar jadi laut
saat digambar jadi buana.

Getaran jiwa seniman merdeka
pusatnya hasrat keindahan
impian dan kenyataan.

Bogor, 1996
"Puisi: Getaran Jiwa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Getaran Jiwa
Karya: Diah Hadaning
Tragedi Negeri Mimpi

Kota
sisakan plaza
jalanan
sisakan asap

Orang
sisakan erang
harapan
sisakan cemas

Tragedi negeri mimpi
tragedi gerhana matahari

Tragedi negeri mimpi
tragedi di tangan tirani 

Semua
yang lama alpa
segala harus ditebusnya

Semua
mulai sekarat
segala
dimangsa naga jagad.

Mei, 1998
"Puisi: Tragedi Negeri Mimpi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tragedi Negeri Mimpi
Karya: Diah Hadaning
Jakarta Bersaksilah

Bunga-bunga bulan Mei
bermekaran semarak warna
di halaman rumah rakyat
bendera-bendera berkibaran
di tangan berkeringat
karisma yang bangkit
dari liang luka dan sakit 
Jakarta bersaksilah!

Wajah-wajah anak zaman
berbinaran semarak rasa
di halaman rumah rakyat
suara-suara penuhi udara
di jantung ada warna merah kesumba
karisma jadi balada
dalam angin pembaruan
Jakarta bersaksilah!

Mei, 1998
"Puisi: Jakarta Bersaksilah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta Bersaksilah
Karya: Diah Hadaning
Yang Bersaksi

Suara-Mu kah?
Suara-Mu kah?
memanggili namaku
ketika diri bersaksi
di bawah curah hujan.

Aku tak 'kan beranjak
karna telah hilang gagas
kecewa saksikan kiprahmu
memangsa tanah perdikan
memangsa sisa harapan
ketika suaraku parau
serukan jiwa rindu padepokan
telingamu kau tulikan
pandanganmu kau butakan.

Aku tetap bersaksi
di bawah matahari
keruntuhan demi keruntuhan
yang sengaja kau ciptakan
sementara musim terus menggilas.

September, 1998
"Puisi: Yang Bersaksi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Bersaksi
Karya: Diah Hadaning
Abstraksi Pasca

Ada yang diam-diam tertawa
bagaimana hasrat satu jiwa
sedang baca tak satu kata
mau buktinya
ada pasca ada paska
getar nafasnya lain
ini simbol lidah yang lain.

Kini pasca dan paska
menghela angka-angka 
jiwa bisa jadi angkara
lupa diri lupa kawula
hasrat s'lalu jadi bendara
lupa amsal sejarah
lupa amsal cakra menggilingan.

Pasca dan paska kini
jadilah jiwa inti
jadilah kaca sejati.

Juni, 1999
"Puisi: Abstraksi Pasca (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Abstraksi Pasca
Karya: Diah Hadaning
Catatan Juli 99

Semua orang merasa
harus mencari
harus menemukan
dalam gelar
dalam getar
dalam onar.

Hari-hari baru
warna-warna baru
terus diimpikan
dalam lorong labirin kehidupan.

Siapa menandai siapa
telah dieja kata-kata
tak mampu mengusung makna
berhala masih tertawa
hujan di jalan kota
hujan di dalam jiwa.

Juli, 1999
"Puisi: Catatan Juli 99 (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Juli 99
Karya: Diah Hadaning
Menyimak Diam

Diam yang bukan sembarang diam
diam yang bukan berarti sarang
adalah diam yang sekan waktu
adalah diam yang induknya diam
membuat suaraku terdiam
menunggu urainya diam
agar aku tak lagi diam
agar tak hanya memendam diam
agar tak hanya mengipas diam
sementara sungguh kurindukan
gemuruh lautmu
gemuruh sungaimu
gemuruh telagamu
sebelum titik beku
diam itu simpan badaikah
diam itu simpan sansaikah
diam itu simpan dayakah
diam itu simpan arifkah.

Bogor
Oktober, 1999
"Puisi: Menyimak Diam (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Menyimak Diam
Karya: Diah Hadaning
Di antara Dua Pertanyaan

Dari mana awal doa anak manusia
apa beda perang di barat dan perang di timur
seorang petinggi berpikir sepanjang umur
sampai otaknya penuh jamur.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Di antara Dua Pertanyaan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Dua Pertanyaan
Karya: Diah Hadaning
Cakra Manggilingan

Cakra-manggilingan tak henti berputar
menandai perjalanan windu dan abad
seiring gema kidung
dari tanah utara penuh penjor
Sang kaliyuga masih cengkeram angkasa
orang-orang pesisir tak henti
tabur benih jagung
tabur benih ikan, nener dan udang
di tanah perdikan ini 
musim sabar ditunggui.

orang-orang sadar segala akan berubah
bagai cakra manggilingan
yang semula di bawah
bergerak ke atas
yang semula di atas
bergerak ke bawah
begitu selalu dari jaman ke jaman
yang tabur benih akan menuai
yang bertanam akan memetik
semuanya buah perilaku.

Bogor
Januari, 2004
"Puisi: Cakra Manggilingan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Cakra Manggilingan
Karya: Diah Hadaning
Padang Hijau

Sejuk pun singgah
Memeluk nisan demi nisan
Gerimis sore memetik kecapi
Maka tebaklah dalam lautan!
Perahu-perahu tetap terkapar di pantai
Diamku membuat air laut tersibak
Penyair, lewatlah bertongkat sehelai benang!
Bersama Musa dan mereka yang beriman
Mencari sarang angin
Aku serasa terlambat tiba di padang
Di gigir langit, selendang-selendang merah
Berhinggapan di pundak bukit-bukit sejarah
Padang hijau berpusar telaga
Letaknya di jantung Bunda.

"Puisi: Padang Hijau (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Padang Hijau
Karya: D. Zawawi Imron
Kenangan
untuk Karinah Moordjono

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia.
 


19 April 1943
"Puisi: Kenangan (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kenangan
Karya: Chairil Anwar
1943


Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku.
 


1943
"Puisi: 1943 (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: 1943
Karya: Chairil Anwar
Doa Poyangku
Poyangku rata meminta sama
semoga sekali aku diberi
memetik kecapi, kecapi firdausi
menampar rebana, rebana swarga.

Poyangku rata semua semata
penabuh bunyian kerana suara
suara sunyi suling keramat.

Kini rebana di celah jariku
tari tamparku membangkit rindu
kucoba serentak genta genderang
memuji kekasihku di mercu lagu.

Aduh, kasihan hatiku sayang
alahai hatiku tiada bahagia
jari menari doa semata
tapi hatiku bercabang dua.
"Puisi: Doa Poyangku (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Doa Poyangku
Karya: Amir Hamzah
Panorama Tanah Air

Di bawah langit yang sama
manusia macam dua: Yang diperah
dan setiap saat mesti rela
mengurbankan nyawa, bagai kerbau
yang kalau sudah tak bisa dipekerjakan, dihalau
ke pembantaian, tak boleh kendati menguak
atau cemeti'kan mendera;
dibedakan dari para dewa
malaikat pencabut nyawa, yang bertuhan
pada kemewahan dan nafsu
yang bagai lautan: Tak tentu dalam dan luasnya
menderu dan bergelombang
sepanjang masa.

Di atas bumi yang sama
Manusia macam dua: Yang menyediakan tenaga
tak mengenal malam dan siang,
mendaki gunung, menuruni jurang
tak boleh mengenal sakit dan lelah
bagai rerongkong-rerongkong bernyawa selalu digiring
kalau bukan di kubur tak diperkenankan sejenak pun berbaring
dipisahkan dari manusia-manusia pilihan
yang mengangkat diri-sendiri dan menobatkan
ipar, mertua, saudara, menantu dan sahabat
menjadi orang-orang terhormat dan keramat
yang ludah serta keringatnya
memberi berkat.

Di atas bumi yang kaya
manusia mendambakan hidup sejahtera.
Di atas bumi yang diberkahi Tuhan
manusia memimpikan keadilan.
  
1962
"Puisi: Panorama Tanah Air (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Panorama Tanah Air
Karya: Ajip Rosidi