Maret 2011
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet: X

Siapa menggores di langit biru
Siapa meretas di awan lalu
Siapa mengkristal di kabut biru
Siapa mengertap di bunga layu

Siapa cerna di warna ungu
Siapa bernafas di detak waktu
Siapa berkelebat setiap kubuka pintu
Siapa mencair di bawah pandangku

Siapa terucap di celah kata-kataku
Siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku
Siapa tiba menjemput berburu
Siapa tiba-tiba menyibak cadarku

Siapa meledak dalam diriku
: Siapa aku.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet: X
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Daun-Daun Jatuh

Daun-daun jatuh selembar demi selembar
kaupun tengah menyaksikannya lewat jendela
Mereka semua para tetangga kita, yang selalu mengangguk
setiap kita menyingkapkan tirai jendela;
barangkali pernah kukatakan sesuatu yang buruk
tentang nasib kita (tanpa kusengaja tentunya),
dan barangkali kaupun pernah mengeluh
tentang cuaca yang membuatmu batuk dan selesma,
pastilah mereka telah mendengar itu semuanya.
Pernah kaudengarkah mereka mempercakapkan kita?
Daun-daun jatuh selembar demi selembar
setelah terlampau banyak tahu tentang tingkah-laku manusia;
pastilah mereka saksikan bunga-bunga yang mekar dari cinta kita,
mereka dengarkan igauan-igauan selama kau tidur,
dan mereka cium mau busuk dari mimpi-mimpi kita.
Sapulah saja bangkai-bangkai itu
sebelum membusuk dan mengotori pekarangan rumah kita;
ketika angin keras menggoncang entah dari mana
daun-daun itu gugurlah sebab hanya bertumpu pada cuaca yang fana,
tetapi kita, sayangku
tetapi kita tetap mengeluh, tetap bermimpi, tetap mengigau
akan tetap bertahan sebab kita berjejak
pada Alam yang diluar raih tangan kita.

1966
"Puisi: Daun-Daun Jatuh (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Daun-Daun Jatuh
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 4

“Hidup terasa benar-benar tak mau redup
ketika sudah kaudengar pesan:
suatu hari semua bunyi rapat tertutup”.
Penyanyi itu tuli. Suaranya terdengar perlahan.

Tapi bukankah masih ada langit
yang tak pernah tertutup pelupuknya,
yang menerima segala yang terbersit
bahkan dari mulut si tuli dan si buta?

Penyanyi itu buta? Kau tampak gemetar;
kita pun diam-diam mendengarkannya,
“Cinta terasa baru benar-benar membakar
ketika pesa kaudengar: padamkan nyalanya!”

Kita pun menyanyi selepas-lepasnya,
sepasang kekasih yang tuli dan buta.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 4
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Matahari

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Tentang Matahari
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Nopember

Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan
siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada anak cucu kami;
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu lobang
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling lantang ditiup
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari kubur
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu
tanpa tahu siapa kami ini
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut, meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan
dan kami tak lain baja yang membara hancur
oleh pukulan
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba giliranmu
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman dan bapa
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak
ingat untuk apa kamu pergi
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya
jawablah : ya
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan
bahasa dan kehendak kami
sudah kau dengarkah suara napas kami
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak
tapi toh tak ada bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya :
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal pertaruhan
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi
meski kami pernah kau kenal atau tidak
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan yang pasti
walau tak pernah kembali.

Kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati
kami telah mati
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami
kami telah berkelahi; dan mati
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami
dan mengatakannya kepada siapa pun
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi sekali
dan berjalan tanpa nama dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan selalu lahir
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu berkelahi
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja hari ini
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta.


November, 1962
"Puisi: Sajak Nopember (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak Nopember
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gonggong Anjing
(untuk Rizki)

Gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?" tanya sunyi.

1982
"Puisi: Gonggong Anjing (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Gonggong Anjing
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ziarah Batu

1
Kami memutuskan untuk memulai ziarah
menjenguk perigi dekat gua
meski air di sana tak lagi
memantulkan wajah kami

Kami sudah menguasai peta hari ini
tak akan tersesat ke kanan atau ke kiri

Sekarat adalah bagian dari adegan yang nanti
kata-kata bijak yang mengalir di musim hujan
lewat begitu saja di sela jari-jari kami
tak sempat kaufahami setetes pun
kami saksikan sembilu mata itu

Dongeng agung yang pernah kami bangun
bergoyang sebentar sebelum rubuh ke arus
yang tak baik jika kami ukur derasnya

Sebuah tonggak yang kacau aksaranya
adalah satu-satunya saksi perhelatan ini.

2
Kami dulu suka menciptakan dewa-dewa
mereka-reka nama-nama yang susah dieja
dan merekamnya di jajaran batu
untuk menentramkan huru-hara

Penatahnya tak kami ketahui lagi di mana

Deretan sosok dewa tanpa kepala
adalah ajakan yang penggal di angan kami

Pernah adakah sebenarnya rasa tenteram?

Kami pernah suka merangkai perangai kesatria
agar kelak anak-anak bisa menafsirkannya

Siapa telah menciptakan puna-kawan?

3
Jiwa yang mencari bayang-bayangnya
menabrak cermin
terserak berkeping-keping

Watakmu aksara yang tanpa petanda
gambar yang tak hendak dideretkan
dalam tontonan yang digelar hari ini
sebelum sirak-sorai usai menutup tirai

Jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya
bergetar di kelir yang tumbang

Sendirian saja

Ya, jiwa kami hari ini.

4
Kami telah memutuskan hubungan
dengan juru gambar itu

Tak ada lagi yang percaya pada jiwa kami

Gulungan kertas yang tertinggal di gudang
telah memalsukan perangai kami
meriap pasukan rayap menyobek-nyobeknya
berbaris membawanya ke lubang
yang tak mempercayai sejarah

Kami telah memutuskan hubungan
dengan juru gambar itu

5
(mereka melecut ribuan kuda ke arah barat
jangan sampai keduluan matahari terbenam!
bentak sang senapati)

Tak terdengar ringkik dalam gambar
yang dilukis oleh orang yang tak kami kenal
yang konon hanya senyampang saja
turun dari jung untuk membisikkan dongeng
kepada nelayan yang berangkat ke laut

Kami tak kenal kuda
kami tak pernah mendengar lecutan
hanya teriakan yang segera dihapus ombak laut

Dan orang-orang yang turun dari perahu
membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda
di lembah-lembah perbukitan

Dan orang-orang asing yang hanya tinggal sebentar
mencatatnya di kitab-kitab
sekedar bukti bahwa mereka memang pesiar

Dan para pesiar yang hanya tinggal sebantar
mengawini istri dan anak-anak kami

6
Perempuan-perempuan menanti kami
di pantai: membayangkan keringat dan mani
tapi yang berlabuh adalah para pelawat
tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti

Kami masih mengayuh jauh di laut
semakin sayup semakin sepi

Kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu
adalah anak-anak yang lahir dari benih
yang menetes bersama anyir keringat kami

Betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta
dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa

7
Kami diajari berdoa dengan irama ganjil
sambil mendirikan kuil demi kuil
agar sogra tak teram-temaram
ketika mendengar permohonan kami

Kurban yang selalu memuntahkan sendawa

Di dinding kuil kami semburkan gambar
yang senyampang dipamerkan pelawat
yang tidak sepenuhnya bisa kami maknai
sapuan dan garisnya, warna dan aromanya

Tidak kami temukan sawah dan margasatwa

Mereka menyebutkan kitab yang dibisikkan
dari angkasa purba

Nun jauh di sana.

8
Jerit pedang dan denting darah dan jilat api
berloncatan dari babad
yang ditata dalam larik-larik rapi di kitab
rekaan juru tulis di kala senggang
ketika tak ada lagi sisa teriak perang dan kebodohan
di sela-sela pesta raja dan sembah punggawa

Kami tidak mendengar sendawa dewa

Ia tinggal di kuil yang jauh terpisah
dari menara tempat senapati menanti
kekasih dari samudra

9
Di urat darah berseliweran ikan pari
kalau ombak menyeret perahu kami:
lukisan yang ditorehkan dengan jampi-jampi
di sekujur pinggirnya
ternyata tak mampu bernyanyi

(ah, yang menjadi saksi hanyalah lintah
ketika kami menanam benih di sawah)

bergantian kami bernyanyi
butir demi butir menetes dari atap rumah

kami tak lagi mempercayai janji pembebasan itu.

10
Dewa ternyata tak ikhlas berbagi
doa yang kami persembahkan adalah kurban
membusuk di kuil yang dibangun agak ke bukit
sesuai tata cara yang dulu menciptakan langit
sesuai tanda yang berupa gundukan bumi

Jiwa kami adalah layang-layang berekor
yang talinya ditarik, disendal, dan diulur
oleh anak laki-laki yang akan kami kurbankan.

11
Beberapa gunduk pasir, ikan-ikan berkelejotan
(deretan galur, cacing yang padah di mata bajak)
amis keringat, langit yang terhapus sebagian
adalah latar yang direka dalam janturan

Sekarat kami meloncat-loncat dalam sabetan
ketika kelir tumbang -
doakan agar kami tenteram

12
Jejak yang bergeser-geser
di sela-sela kata
tidak untuk dieja, ternyata.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Ziarah Batu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Old Friends
How terribly strange 
to be seventy.
(“Old Friends,” Simon & Garfunkel)


Perempuan, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan, laki-laki berhimpitan di bangku-bangku panjang ruang tunggu rumah sakit umum yang menerima askes.

Mereka sudah saling kenal. 
Dokter biasanya baru datang 
pukul sembilan, mereka tahu. 
Seorang bangkit menuju sudut ruangan; 
mungkin membaca poster tata cara rumah sakit 
yang pasti sudah ia hafal.

Seorang lagi tampak susah-payah mengunyah berita di 
koran tentang masalah pembuangan sampah. 
Suara juru rawat mulai memanggil pasien 
satu demi satu: 
akhirnya!

“Bapak Simon,” terdengar jelas 
penyebutan nama itu
Alhamdulillah, tiba sudah giliranku.

"Puisi: Old Friends (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Old Friends
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kenangan

1
Ia meletakkan kenangannya
dengan sangat hati-hati
di laci meja dan menguncinya
memasukkan anak kunci ke saku celana
sebelum berangkat ke sebuah kota
yang sudah sangat lama hapus
dari peta yang pernah digambarnya
pada suatu musim layang-layang.

2 
Tak didengarnya lagi
suara air mulai mendidih
di laci yang rapat terkunci.

3 
Ia telah meletakkan hidupnya
di antara tanda petik.

"Puisi: Kenangan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kenangan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada yang Bernyanyi

And of course there must be something wrong
In wanting to silence any song.
(Robert Frost)

Ada yang bernyanyi. Ada
yang tidak bernyanyi. Ada
seekor burung. Dan tak ada burung.
Kausiasati pohon itu ketika duduk
di beranda depan rumahmu.
Menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya
kembali pelahan-lahan, kaucoba menyingkirkan
kenangan: sebuah tempat tidur
yang sia-sia. Hanya dengkur.
Kaudengar ada yang bernyanyi,
kaudengar ada yang tak bernyanyi –
siapakah yang tak lagi duduk
di sebelahmu, yang mengibaskan waktu
ketika kau sadari tak ada lagi
yang masih menunggu?

Mungkin nyanyian adalah sekedar sayap
yang membawa kita terbang;
tapi ketika tak ada yang bernyanyi
kau pun menyusup dalam-dalam ke langit
mencari jejak sayap yang tak berbulu lagi.
Kau telah bangkit dari sebuah tempat tidur
yang sejak lama tak mendengar
bisik-bisik itu lagi.

Ada yang bernyanyi, mengejek rambutmu
yang kacau. Ada yang tidak bernyanyi,
tidak mengejek apa pun, juga kenangan
akan tempat tidur yang kusut,
yang tidak lagi hendak menyimpan apa pun
kecuali nyanyian burung yang meluap
setiap kali kaubuka jendela
setiap pagi. Dan tak ada yang bernyanyi.

Ada yang bernyanyi. Ada
yang tak bernyanyi. Ada yang bergerak
di pohon itu: mungkin sebuah nyanyian,
mungkin bukan sebuah nyanyian –
hanya semacam kenangan
yang mengibaskan waktu. Ada
yang bernyanyi. Ada yang tidak bernyanyi.
Ada nyanyian yang hendak kauusir
dari pohon itu pada suatu pagi.
Barangkali.

"Puisi: Ada yang Bernyanyi (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Ada yang Bernyanyi
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepasang Sepatu Tua

Sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu...

Yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat
jalan berlumpur sehabis hujan - keduanya telah jatuh
cinta kepada sepasang telapak kaki itu.

Yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat
sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang
kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk
sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama
makanan sisa.

Sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya
bisa mereka pahami berdua.

1973
"Puisi: Sepasang Sepatu Tua (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sepasang Sepatu Tua
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sehabis Percakapan

Sehabis percakapan pendek
warna-warna menyisih
ke putih; tamasya yang di luar
sia-sia menunggu.

"Puisi: Sehabis Percakapan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sehabis Percakapan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Majapahit

Aku memandang tersenyum arah ke bawah:
Bandung mewajah di dalam kabut.
Jauh di sana bermimpi Gede-Pangrango,
Seperti pulau dalam lautan awan.

Langit kelabu,
Alam muram.
Dan ke dalam hatiku,
Masuk perlahan
Rindu dendam.

Jiwaku meratap bersama jiwa
Gembala yang bernyanyi dalam lembah.

Ratap melayang bersama suara
Kedalam kemuraman
Kehilangan.


"Puisi: Majapahit (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Majapahit
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Sebentar

Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu,
seperti embun hinggap di pucuk perdu.

Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
Semoga semakin nikmat perihmu.

"Siapakah kamu yang rela berlinang di mataku?"
"Aku sebutir doa yang berasal dari tetes keringatmu."

Tiga bentar lagi aku akan sampai di bibirmu.
Lenyapkan aku, habiskan aku dalam hausmu.

2010
"Puisi: Sebentar (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Sebentar
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kucing Hitam

Kucing hitam yang ia pelihara dengan kasih sayang
kini sudah besar dan buas.
Tiap malam dihisapnya darah lelaki perkasa itu
seperti mangsa yang pelan-pelan harus dihabiskan.

“Jangan anggap lagi aku si manis yang mudah terbuai
oleh belaianmu, hai lelaki malang.
Sekarang akulah yang berkuasa di ranjang.”

Lelaki perkasa itu sudah renta dan sakit-sakitan.
Tubuhnya makin hari makin kurus, sementara kucing hitam
yang bertahun-tahun disayangnya makin gemuk saja
dan sekarang sudah sebesar singa dan ngeongnya
sungguh sangat mengerikan.

Si tua yang penyabar itu lama-lama geram juga.
Tiap malam si hitam gemuk mengobrak-abrik ranjangnya
dan melukai tidurnya.

“Sebaiknya kita duel saja,” si kurus menantang.
“Boleh,” jawab si gemuk hitam. “Nanti
tulang-belulangmu kulahap sekalian.”

“Ayo kita tempur!”
“Ayo kita hancur!
“Jahanam besar kau!”
“Jerangkong hidup kau!”

Parah. Tubuh lelaki itu telah berwarna merah,
wajahnya bersimbah darah. Gemetaran ia berdiri
dan diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi.
“Hore, aku menang!” teriaknya lantang, lalu disepaknya
bangkai kucing maut itu berulang-ulang. “Jahanam besar kau!”

2000
"Puisi: Kucing Hitam (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kucing Hitam
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Asu

Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit
saya berpapasan dengan anjing besar
yang melaju dari arah yang saya tuju.
Matanya merah. Tatapannya yang kidal
membuat saya mundur beberapa jengkal.

Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang
menjadi korban gigit anjing gila.
Mereka diserang demam berkepanjangan
bahkan ada yang sampai kesurupan.

Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah.
Dulu saya sering menemani Ayah menulis.
Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul
mesin ketiknya dan mengumpat, “Asu!”
Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,
Ayah tersenyum senang dan berseru, “Asu!”
Saat bertemu temannya di jalan,
Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu.

Pernah saya bertanya, “Asu itu apa, Yah?”
“Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.
Kemudian ganti saya ditanya,
“Coba, menurut kamu, asu itu apa?”
“Asu itu anjing yang suka minum susu,” jawab saya.

Sementara saya melangkah mundur,
anjing itu maju terus dengan nyalang.
Demi Ayah, saya ucapkan salam, “Selamat sore, asu.”
Ia kaget. Saya ulangi salam saya, “Selamat sore, su!”
Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.
Dari belakang sana terdengar teriakan,
“Tolong, tolong! Anjing, anjing!”

2011
"Puisi: Asu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Asu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Sebuah Mandi

Di sebuah mandi kumasuki ruang kecil
di senja tubuhmu. “Ini rumahku,”
kau menggigil. Rumah terpencil.

Tubuhmu makin montok saja.
“Ah, makin ciut,” kau bilang, “sebab perambah liar
berdatangan terus membangun badan
sampai aku tak kebagian lahan.”
Ke tubuhmu aku ingin pulang.
“Ah, aku tak punya lagi kampung halaman,”
kau bilang. “Di tubuh sendiri pun aku cuma
numpang mimpi dan nanti numpang mati.”

Kutelusuri peta tubuhmu yang baru
dan kuhafal ulang nama-nama yang pernah ada,
nama-nama yang tak akan pernah lagi ada.
“Ini rumahku,” kautunjuk haru sebekas luka
di tilas tubuhmu dan aku bilang,
“Semuanya tinggal kenangan.”

Di sebuah mandi kuziarahi jejak cinta
di senja tubuhmu. Pulang dari tubuhmu,
aku terlantar di simpang waktu.

2000
"Puisi: Di Sebuah Mandi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di Sebuah Mandi
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelajaran Puisi

Ia sering bingung: apa yang harus ia lakukan untuk
murid-muridnya saat ia memberikan pelajaran puisi.
Susah-susah amat. Ia bentangkan saja puisi di papan
tulis atau di dinding kelas.
“Puisi itu hutan rimba,” ia memulai pelajaran. “Kalian
mau jadi anak rimba?” Meskipun sebagian besar
muridnya anak-anak kota, mereka ternyata mau
mencoba menjadi anak-anak rimba. “Kota juga rimba,”
cetus pak guru yang pandang matanya seluas rimba.
Setelah menunjukkan beberapa celah untuk masuk
rimba, ditambah sedikit penjelasan tentang peta rimba,
ia meminta murid-muridnya segera menjelajahi rimba.
Semula ada yang takut-takut, namun setelah dilecut-
lecut akhirnya berani juga. Ada pula yang belum-belum
sudah bergidik: “Kalau ada ular, bagaimana?” Pak guru
merasa geli: “Jangankan di hutan, di kamar mandi pun
kadang ada ular.”
Ribut sekali. Mereka berhamburan ke dalam rimba
sambil bersorak-sorak: “Rusa jantan berlari masuk
hutan….” Kemudian ada yang menimpal: “Curang!
Memangnya hanya rusa jantan yang bisa berlari masuk
hutan? Rusa betina juga bisa. Ayo balapan!”
Guru puisi itu tampak tenang-tenang saja, tapi waspada.
Ia sudah sangat sering masuk hutan dan tahu rahasia
rimba. Ia sibuk berjaga-jaga, siap memberikan
pertolongan darurat bila, misalnya, ada muridnya yang
linglung atau tersesat.
Tiba-tiba suasana berangsur senyap. Tak terdengar lagi
derai tawa dan suara bernyanyi bersahutan. Ia mulai
panik. Jangan-jangan mereka benar-benar tersesat.
Jangan-jangan ditelan gelap. Jangan-jangan ada yang
masuk jurang. Jangan-jangan ada yang digigit ular. Ia
ingin sekali mencari dan menemukan mereka, tapi sama
sekali tak ada sinyal suara. Malah ia sendiri tiba-tiba
takut tersesat. Takut pada yang tak terlihat.
Ia masih tercenung gundah ketika murid-muridnya satu
persatu muncul dari dalam rimba. Ada yang pakaiannya
kusut dan kotor. Ada yang wajahnya belepotan tanah.
Ada yang lecet-lecet, bahkan luka-luka. Ada yang pantat
celananya jebol. Ada yang kehilangan tas dan kamera.
Ada yang pura-pura kesurupan dan sakit jiwa.
Setelah semuanya berkumpul kembali, dengan nada
murung ia berkata: “Maafkan saya ya, tadi cuma
menunjukkan jalan masuk rimba, tapi tidak memberi
tahu jalan keluar rimba. Aku ingin menjemput kalian
sebenarnya, tapi khawatir kalian merasa dikira anak
manja.” Seorang murid yang rambutnya jadi mirip
rimba menukas: “Jangan terlalu sensi(tif) dong Pak.
Kami baik-baik saja. Lihat nih, kami masih utuh.”
Tiba-tiba matanya berbinar-binar kembali. Lalu ia agak
kewalahan mendengarkan celoteh murid-muridnya. Tadi
saya hampir terperosok ke jurang lho Pak. Saya
berpapasan dengan ular. Saya malah sempat mandi di
pancuran. Saya ketemu pelangi di sungai. Tadi ada
monyet naksir saya lho Pak. Saya terjatuh tanpa sebab.
Saya terguling di tebing. Saya anak rimba!
Bel berbunyi. Bubar. Pelajaran puisi (untuk sementara)
selesai. “Terima kasih ya Pak.” “Lho, jangan berterima
kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada puisi.” Ia
baru sadar bahwa tadi ia tidak sempat sarapan sehingga
perutnya kembung. Agak terburu-buru ia meninggalkan
ruang kelas. Langkahnya kelihatan goyah. Tubuhnya
kelihatan ringkih. Tapi ia adalah raja rimba. Ia kepalkan
dan acungkan tangannya: “Hidup puisi!”
Gerimis berderai membasuh rambutnya yang keperak-
perakan. Gerimis siang. Seperti ribuan diksi dan imaji
berhamburan dari pohon hayat yang rimbun dan tinggi.
Seperti ribuan morfem dan fonem bertaburan dari
pohon waktu yang tak pernah mati. Dan ia berjalan
tergesa dengan perut lapar dan kembung. Nun di
belakang sana murid-muridnya berdiri dan bernyanyi:
“Rusa jantan berlari masuk kantin ....”

"Puisi: Pelajaran Puisi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pelajaran Puisi
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kamar 1105

Pada akhir pekan saya menyepi di sebuah hotel tua
di pinggiran kota. Petugas hotel mengantar saya
ke kamar nomor 1105. “Sudah lama kamar ini
tidak dihuni. Tak ada yang berani menginap di sini.”

Kamar itu lumayan besar, dilengkapi empat
meja bundar. Saya bersiap lembur,
menunaikan kerja menggambar.

Di meja-1 jokpin-1 menyulut sebatang rokok,
melamun sebentar, kemudian mulai menggambar
mobil jenazah. Supaya tidak tampak seram,
mobil jenazah itu diberi warna biru langit
dan dikasih tulisan “Mati untuk Hidup Abadi”.

Di meja-2 jokpin-2 sibuk menggambar sopir
mobil jenazah sambil dengan khidmat
menyedot rokok. Sopir mobil jenazah itu berusia
sekitar 55 tahun, kulitnya hitam manis, berkopiah,
berbaju batik, dan bersepatu sendal. Ia sopir
yang lugu dan sopan. Ia punya cara khas
untuk menghormat jenazah yang diantar masuk
ke dalam mobilnya: membungkuk, terpejam,
menempelkan telapak tangan kanan ke dada.

Di meja-3 jokpin-3 suntuk menggambar peti jenazah
sambil sesekali mempermainkan asap rokok.
Peti jenazah bikinannya sederhana saja,
tanpa ukiran dan hiasan. Ia tidak ingin
peti jenazah itu tampak lebih mewah
dari jenazah yang akan ditidurkan di dalamnya.

Di meja-4 jokpin-4 bertugas menggambar jenazah.
Ia tampak sangat gelisah sampai-sampai tanpa sadar
dimatikannya rokok yang baru separuh dihisapnya.
Berkali-kali ia membuat sketsa, tak ada satu pun
yang jadi. Ia ingin jenazah buatannya terlihat
tenang dan riang seperti orang habis mandi.
Lebih bagus lagi jika jenazah itu terbaring
damai sambil mendekap sebuah buku puisi.

Menjelang dinihari saya dikagetkan suara
kecipak air di kamar mandi. Dengan waspada
saya buka pintu kamar mandi. Kulihat jokpin kecil
sedang mandiri (mandi sendiri) sambil bermain
telepon genggam. Telepon genggam mainan.

Jokpin-1, jokpin-2, dan jokpin-3 tertidur di kursi,
sementara jokpin-4 masih terlihat bingung
dan pusing, jidatnya seperti puisi setengah jadi.

Pagi-pagi petugas hotel mengetuk pintu,
memberitahukan ada seorang tamu berkopiah,
berbaju batik, bersepatu sendal menunggu saya
di lobi. “Dia bilang mobil jenazahnya sudah siap.”

Jokpin-4 bangkit berdiri: “Katakan kepada sopir
mobil jenazah itu bahwa jenazahnya belum jadi.
Tolong persilakan dia pergi.”

Suatu malam saya diundang pesta puisi
di balai kota. Di halaman gedung pertunjukan
saya melihat mobil jenazah berwarna biru langit
terparkir di antara mobil-mobil lain yang tentu saja
bukan mobil jenazah namun bila diamati
dengan mata ketiga sebenarnya mirip
mobil jenazah juga. Sopir mobil jenazah
tahu-tahu sudah berdiri di hadapan saya.

Dengan hormat ia membungkuk, terpejam
sambil menempelkan telapak tangan kanan di dada.
Saya tarik lengannya: “Hai, aku masih hidup, tahu?”
Ia cuma tersenyum: “Maaf, tuan, maaf, tuan.”

Di lorong remang menuju kamar mandi
saya dihadang seorang wartawan: “Seperti apa
rasanya menulis puisi?” Saya teringat jokpin-4
yang menggambar jenazah tak jadi-jadi.

Saat saya menunggu taksi untuk pulang,
sopir mobil jenazah mendekati saya lagi.
“Taksinya mogok. Mari ikut mobil saya saja.”
Dengan halus saya menolak tawarannya
dan mempersilakannya pergi. Saya tak ingin
melihat mobil jenazahnya lagi. Biarlah
saya dengar jerit sirenenya saja di malam sunyi.

Puisi ini belum jadi mesti diakhiri sebab saya
harus segera menerima telepon dari sopir
mobil jenazah itu. Ia mengabarkan dirinya
baru saja dapat lotere. Nomornya tembus.

“Memang kamu pasang nomor berapa?” tanya saya.
Dari seberang ia menjawab riang, “Nomor 1105.”

2010
"Puisi: Kamar 1105 (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kamar 1105
Karya: Joko Pinurbo